
Merasa tak enak, Fadilah menemui sang menantu. “Bapak mau minta maaf sekalian juga atas nama Hugo."
“Bapak gak perlu minta maaf segala," balas Kaina.
“Tapi Bapak ayahnya dan Bapak bertanggung jawab atas kelakuannya.”
Kaina pun tak lagi menjawab.
“Tih, kamu urus masalah ini biar hak asuh Kama bisa di dapat Kaina. Untuk Hugo, Bapak serahkan ke kamu. Biar dia dapat pelajaran.”
“Iya, Pak,” jawab suami Kaina.
Kalau begitu Bapak tinggal dulu mau bicara sama mamanya Hugo.
“Saya juga mau antar anak-anak ke rumahnya ayah mereka,” jelas Fatih.
“Minta Adit saja yang antar Kalila. Kalau Kama biar dia di sini saja. Kasihan istri kamu dia pasti masih terkejut. Jadi, temani dia istirahat.”
Fatih mengangguk setuju. Kepergian bapaknya dia duduk di samping Kaina. “Saya juga minta maaf.”
“Karena apa, Mas?”
“Saya keluar dari kamar tanpa ngasih tau kamu. Seharusnya saya sadar kalau di rumah ini ada laki-laki yang bukan muhrim buat kamu.”
“Sudah, Mas. Saya gak menyalahkan siapa-siapa. Malahan saya sedikit bersyukur karena masalah ini hak asuh Kama akan kembali ke tangan saya.”
“Tapi kamu beneran gak papa? Saya takutnya nanti kamu malah trauma.”
“Bener, Mas, saya baik-baik saja. Hugo gak sempat ngapa-ngapain kok cuma ngancam aja.”
“Kalau gitu saya ngomong sama Adit. Minta Kalila di antar pulang ke tempat Candra.”
Kaina mengangguk. “Saya boleh tidur kan, Mas? Capek banget soalnya.”
Fatih terkekeh. “Maaf, ya, tadi saya bikin kamu kerja keras.”
“Apa sih,” kesal Kaina.
“Saya kebawah dulu. Pintu kamar saya kunci dari luar.”
Kaina meluruskan badan dan merebahkan kepala di bantal. “Makasih, Mas.”
"Sama-sama, Kai. Maaf kalau saya gak bisa jaga kamu." Fatih menjawab sebelum melangkah.
__ADS_1
Di balik selimut, Kaina sadar ada alasan kenapa sang suami tak begitu melindungi dan tak memiliki perhatian penuh untuknya. Apa itu? Cinta dan sayang, itu lah yang menyebabkan Fatih bersikap abai padanya. Tak masalah karena memang mereka sudah sepakat untuk tak saling memiliki rasa itu.
...🍒🍒🍒🍒...
Merasa tak enak pada wanita yang sudah melahirkan cucunya ke dunia ini, besoknya Suci pun datang ke rumah Fadilah bersama sang putra. Dia ingin menyampaikan kata maaf sekaligus rasa tak enak hati atas perbuatan anaknya pada Kaina dan Fatih.
“Mari, Bu, kita makan malam dulu,”ajak Kaina.
“Maaf kalau kami datang di waktu yang kurang tepat,”pinta Suci.
“Gak papa, ibu juga keluarga. Ayo!”
Suci dan Hugo ikut menuju meja makan. Di sana Fadilah dan Fatih sudah menyantap makanan yang terhidang.
“Wah, sepertinya lezat semua makanannya,” puji Suci.
“Pasti. Ini menantu saya yang masak,” jawab Fadilah. “Duduk, kamu harus coba masakannya Kaina.”
Ibu si kembar yang tadi beranjak ke dapur datang membawakan piring tambahan untuk tamunya. “Silahkan, Bu.”
“Terima kasih, Kai.”
Kaina membalasnya dengan senyum hangat lalu kembali duduk di samping suaminya.
“Kamu bertanya pada siapa?” Fadilah balik bertanya pada putranya.
“Kama mana, Kai?”
“Lagi di rumah ibu. Bentar lagi pasti diantar Adit.”
Hugo pun hanya mengangguk. Tak ada lagi obrolan di meja makan itu semua tampak menikmati hidangan yang ada. Hanya Kaina yang sesekali bicara, mengajak tamunya untuk menambah isi piring mereka dan mengambilkan makanan yang diminta suaminya.
“Senang, ya, Fatih sekarang di urusin istri,” ujar Suci. “Pinter masak lagi.” Dari meja makan tadi mereka beralih ke ruang tengah.
“Alhamdulillah, Bu,” jawab suami Kaina.
“Oh, ya, ada apa malam-malam kesini?” tanya Fadilah.
Suci menarik nafas dalam. “Saya mau mengutarakan permohonan maaf pada Kaina dan Fatih. Sekaligus Hugo juga ingin menyampaikan sesuatu.”
Fadilah menatap anak pertamanya yang tertunduk. “Mau ngomong apa kamu?”
“Aku mau minta maaf sama Kaina.”
__ADS_1
“Itu saja?”
Hugo mengangkat kepala lalu menatap istri dari adik tirinya. “Dari hati yang paling dalam saya meminta maaf atas apa yang saya lakukan kemarin. Saya tau saya salah dan perbuatan saya sungguh di luar batas. Saya menyesalinya.”
Nafas panjang dihembuskan Kaina. “Jujur saya gak tau harus berkata apa.”
“Kai, Ibu mohon. Tolong maafkan kelakuan anak Ibu," pinta Suci.
“Maaf, Bu. Bukannya saya tak mau memaafkan Hugo. Masalahnya ini menyangkut harga diri saya dan suami. Dia sama sekali gak menghargai saya dan Mas Fatih,” jelas Kaina.
“Tih, Ibu tau kalau anak Ibu memang bajingan, kurang ajar. Tapi bagaimanapun dia tetap saudara kamu.” Kali ini Suci menghadap pada anak tirinya.
“Apa yang dikatakan Kaina benar, Bu. Maaf bukan saya bermaksud ingin membalaskan perbuatannya terhadap saya. Tapi Hugo memang pantas mendapatkan pelajaran atas perbuatannya. Selama ini dia selalu berlindung di balik punggung Ibu. Sudah saatnya dia mempertanggung jawabkan kesalahan yang dibuatnya,” putus Fatih.
“Oke, sorry gue hampir menodai istri lo. Sekali lagi gue minta maaf. Tapi apa gak bisa masalah ini kita selesaikan dengan cara kekeluargaan?” sela Hugo.
Kaina dan Fatih saling tatap.
“Setidaknya demi Ibu kalian bisa memaafkan Hugo dan membatalkan tuntutan ke pengadilan,” tambah Suci.
Fadilah tersenyum mengejek. “Jadi kamu datang membawa putra kesayangan kamu ini untuk meminta maaf agar dia gak di penjara. Begitu?!”
Suci tampak salah tingkah. Hati kecilnya mengakui apa yang dikatakan oleh sang mantan suami. “Bukan itu, Mas. Saya benar-benar tulus ingin minta maaf sama Kaina dan Fatih. Cuma kalau bisa jangan sampai masalah ini dibawa ke jalur hukum.”
“Memangnya kenapa? Dia ini.” Fadilah menunjuk putra pertamanya dengan tongkat yang selalu dipegang. “Selalu bikin ulah, masalah, dan bertingkah seenaknya. Ketika diminta pertanggung jawaban selalu mengelak dan bersembunyi di balik perlindungan kamu. Dia sudah dewasa bukan anak kecil lagi jadi biarkan dia menghadapinya sendiri.”
“Tapi, Mas.”
“Sudah. Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi sebaiknya kalian pulang,” usir Fadilah.
“Pa, gak bisa gitu dong. Aku berurusan sama Kaina, kenapa Papa yang memutuskan?” protes Hugo.
“Kaina itu menantu Bapak, artinya dia anak Bapak. Jadi, Bapak berhak memutuskan. Bapak gak akan setuju kalau dia memafkan bajingan seperti kamu.”
“Tapi saya juga anak Papa.”
“Tapi kamu gak pernah mendengar omongan saya. Selalu saja membantah dan melawan.” Fadilah jadi emosi. Suara soprannya pun terdengar. “Coba, sekali saja kamu dengar apa yang saya katakan biar hidup kamu itu jauh lebih baik.”
Suci mengelus punggung mantan suaminya. Bagaimanapun dia tak mau pria tua itu sampai naik darah.
“Lihat Fatih, apa yang Bapak ucapkan selalu di turutinya dan sekarang hidupnya gak pernah bermasalah seperti kamu. Bahkan ketika Bapak minta menikah dengan Kaina dia mau. Kini dia di dampingi oleh istri yang baik, selalu di urus, di layani, apa kebutuhannya di siapkan. Apa kamu gak pernah bercermin dengan saudaramu sendiri?” Nada bicara Fadilah mulai menurun.
“Alasan saya bercerai dengan ibu kamu bukan karena dia, tapi karena kamu,” jelasnya. “Setiap hari kami selalu bertengkar hanya karena ulah kamu makanya saya memilih pisah agar hubungan kami tak semakin buruk kedepannya.”
__ADS_1