
Selesai makan siang, Kaina duduk bersama Adit di teras rumah. Menikmati semilir angin yang menerpa kulit.
“Kata Bang Candra supermarket kita digadaikan ke Bank sama istrinya,” jelas Adit.
Kaina membuang nafas panjang. “Aku bodoh banget, ya, Dit, bisa percaya gitu aja dan ketipu dua kali sama dia.”
“Kakak, gak bodoh. Kakak cuma lagi gak bisa berpikir jernih saat tertekan karena situasi.”
“Terus menurutmu kita harus gimana sekarang?”
“Nanti aku coba periksa pembukuan supermarket dulu, kalau dari laba bersihnya kita bisa bayar angsuran maka Kakak gak perlu pusing.”
“Maaf, ya, Dit, aku jadi bikin tambah masalah.”
“Gak kok. Untuk hal ini biar aku yang urus, Kakak gak perlu bilang sama Bang Fatih atau Pak Fadillah. Kita sudah cukup merepotkan mereka.”
Kaina setuju.
“Kalau gitu sekarang Adit ke supermarket dulu.”
“Berangkat sama apa?”
“Motor, Kak. Motor Adit baru saja kemarin di antar orang bengkelnya,” jawab pria itu sembari mengeluarkan motornya dari garasi. “Sampaikan ucapan makasih aku ke Bang Fatih.”
“Iya.”
...🌴🌴🌴🌴...
Empat hari sudah dilalui Kaina dan Fatih dalam ikatan pernikahan. Menjalankan tugas dan kewajiban sebagai seorang istri dan suami, tapi tetap mereka menyadari kesepakatan yang disetujui. Karena pernikahan ini akan berpisah akhirnya maka Fatih dan Kaina sepakat mereka akan menjadi teman. Termasuk menjadi teman di ranjang.
Namun, untuk saat ini mereka memilih untuk saling mengenal satu sama lain. Hanya sekedar bercerita dan berbagi soal hidup pada teman gak ada masalahnya. Semua mengalir begitu saja, hingga hari jumat di minggu pertama mereka menikah pun tiba. Artinya, sore nanti Kaina bisa menjemput kedua buah hati untuk dibawa ke rumah.
“Mas, bisakan temani saya jemput Kama sama Kalila?” Kaina bertanya saat membantu Fatih memasang dasi.
“Jam berapa?”
“Mas, pulang kantor jam berapa?”
“Gak tentu, tapi biasanya jam lima sore.”
“Kesoran itu mah. Biar saya jemput sendiri aja kalau gitu.”
“Ya udah, nanti saya pulang habis sholat jumat aja . Kita jemput anak-anak kamu jam empat sore.”
“Setuju.”
Mereka keluar dari kamar menuju meja makan. Di sana Fadilah sedang menyantap sarapannya sambil menatap tablet di tangan.
“Pagi, Pak,” sapa pasangan itu.”
“Pagi. Oh, ya, Kai, besok weekend kapan kamu jemput anak-anak?”
“Rencananya nanti sore, Pak,” jawab Kaina.
“Hampir saja Bapak lupa. Kamar buat mereka belum disiapkan.”
“Gak usah, Pak, mereka bisa tidur bareng saya dan Mas Fatih nanti.”
__ADS_1
“Jangan dong. Biar nanti bapak telpon orang perabotan sama tukang buat renovasi dikit kamar di samping kamar kalian.”
“Jangan, Pak, gak sempat. Biar mereka sekamar sama saya aja.”
“Gak ada yang repot. Kamu tinggal beres saja.”
“Udah, Kai, kamu sampai kapanpun debat sama bapak gak akan menang,” sela Fatih.
“Ya udah, terserah Bapak saja.” Kaina mengalah.
“Bapak telpon dulu orangnya.” Fadilah beranjak dari sana meninggalkan pasutri itu.
“Bapak itu orangnya gak suka dibantah, jadi kamu ikuti saja apa kata beliau,” jelas Fatih.
“Mungkin karena beliau biasa memerintah anak buah kali, ya, Mas.”
“Bisa jadi. Sulit udah kalau menolak perintahnya bapak.”
“Termasuk nikahin saya?”
“Untuk itu saya gak asal terima, Kai. Banyak pertimbangan yang saya pikirkan dan ada alasannya.”
“Apa itu?”
Fatih menyeruput teh hangat nya lalu lanjut bercerita. “Bapak, rela pisah sama istri pertamanya saat ibu saya meninggal. Waktu itu saya kelas satu SMP, dibawalah tinggal serumah dengan Hugo. Kami gak pernah akur, terutama Hugo gak terima kehadiran saya. Hampir setiap hari dia cari masalah sama saya. Awalnya saya diam, tapi lama-kelamaan saya gak terima sama perlakukan dia.”
“Memangnya, Mas, di apain?”
“Dipukul, ditendang, bahkan dia sampai menghina ibu. Saya gak masalah kalau dia benci sama saya, tapi jangan hina ibu saya. Saya tahu kalau ibu salah menikah dengan suami orang, tapi bukan berarti sepenuhnya ibu bersalah. Bapak juga salah karena membuka ruang untuk orang lain.”
“Terus?”
Kaina mengelus punggung suaminya. “Ternyata kamu anak yang berbakti, ya, Mas. Saya doakan semoga kamu nanti juga dikaruniai anak-anak yang soleh dan baik.”
“Aamiin,” jawab Fatih. “Menerima permintaan bapak untuk menikahi kamu juga suudah saya pertimbangkan sebelumnya.”
“Kapan?”
“Saat bapak pulang dari RS setelah kecelakaan beliau mengatakan kalau saya harus menikah dengan kamu.”
“Saya baru tau.”
Sarapannya habis, Fatih meneguk segelas air minum. “Saya berangkat, ya.”
“Iya. Hati-hati nyetirnya, Mas.”
Fatih menganggukkan kepala
...🍄🍄🍄🍄...
Hanya butuh lima jam, kamar untuk si kembar selesai di dekorasi. Fadillah menatapnya dengan senyum merekah.
“Suka, Pak?” tanya Kaina tiba di sana.
“Kamu?”
“Tentu suka, Pak, apalagi anak-anak. Makasi, ya, Pak.”
__ADS_1
“Seharusnya saya yang bilang makasih sama kamu. Saya sudah lama menginginkan kehadiran cucu, tapi …”
“Saya mengerti, Mas Fatih sudah cerita.”
Fadilah berjalan ke arah balkon dan Kaina mengikuti langkah mertuanya itu. “Terus bagaimana tanggapan kamu?”
“Saya?”
“Kamu kan istrinya?”
“Hhhmm gimana, ya, Pak. Saya sih biasa saja gak ada masalah. Bagi saya anak itu rezeki dan datangnya dari Allah. Ada juga pasangan suami istri subur belum dikaruniai anak. Artinya memang belum rejeki.”
Mereka tiba di balkon lantai dua, duduk disana sambil menikmati pemandangan.
“Jadi kamu gak masalah kalau nanti Fatih gak bisa ngasih kamu anak.”
Kaina jadi salah tingkah. “Saya rasa terlalu cepat kami membahas masalah itu. Sekarang kami memilih untuk saling mengenal satu sama lain saja dulu, Pak.”
“Bapak harap suatu saat nanti kamu gak menjadikan hal itu sebagai alasan untuk kalian berpisah.”
“Insyaallah, Pak.”
Dari sana mereka dapat melihat mobil fatih memasuki halaman rumah. Kaina pun berdiri untuk menyambut suaminya. “Pak, saya tinggal dulu.”
“Silahkan.”
Kaina menghampiri Fatih dan segera mengambil alih tas kerja suaminya. “Mau mandi atau makan dulu.”
“Mandi dulu.”
“Bajunya sudah siap di atas kasur, saya siapin makan dulu.”
“Kalau begitu biar saya saja yang bawa tasnya ke kamar.” Fatih kembali mengambil tas kerjanya dari tangan sang istri.
...🌼🌼🌼🌼...
Setelah pamit pada Fadilah, Kaina gegas menyusul suaminya yang sudah duluan ke mobil.
“Kita kemana dulu?” tanya Fatih.
“Tempat Candra aja, Mas.”
Fatih menginjak pedal gas, membawa keretanya melaju.
“Awal-awal mungkin saya akan kelihatan kaku sama-anak kamu. Tolong dimaklumi, ya, tapi saya akan coba mengakrabkan diri.”
“Santai aja, Mas. Cukup jadi diri kamu sendiri.”
“Saya cuma gak mau nanti kamu kira saya benci atau gak suka anak-anak.”
“Saya gak begitu. Mas, kali yang suka negatif thinking sama orang.”
“Bukan negatif thinking, tapi waspada. Bisa saja orang yang kita kira baik ternyata punya niat jahat.”
“Nah itu kelemahan saya, Mas. Saya kira semua orang itu baik, ternyata …”
“Kamu tertipu?”
__ADS_1
“Begitulah. Makanya hak asuh kalila bisa jatuh ke tangannya Brigita tanpa saya ketahui.”