Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 103


__ADS_3

Tiba di kediaman mewah nan megah milik Fatih dan Kaina, Dina dan Adit serta Fadilah dibuat kagum oleh dekorasi dan isinya. Suci sendiri memutuskan untuk pulang karena Hugo datang menjemputnya di restoran tadi.


“Ini rumahnya besar sekali, Nak Fatih,” kata Dina.


“Buat Kaina dan anak-anak, Bu.”


“Kita, Mas,” sela Kaina.


“Buat kamu dan anak-anak, Sayang. Aku gak butuh apa-apa, selain kamu dan anak-anak. Hidupku gak akan ada artinya.”


Kaina merasa terharu.


“Kurang apa lagi, Kai?” tanya Fadilah.


“Sudah cukup, Pak. Mas Fatih sudah beli semua perabotan. Nanti kalau Bapak, ibu, dan Adit mau menginap di sini kita udah siapan kamar.”


Dina dan Fadilah merasa senang.


“Terus kapan kalian pindah?”


“Kami udah tinggal di sini dari kemarin," jelas Fatih. "Hari ini Bapak sama Ibuk dan Adit kalau capek bisa istirahat dulu di sini. Besok aja pulangnya."


“Ide yang bagus.” Fadilah pun setuju begitu pula dengan Dina dan Adit.


Si kembar bersorak riang. “Ayah kita boleh lihat kamar kita gak?” tanya Kama.


“Boleh. Tapi karena sebentar lagi Abang sama Kakak udah mau sekolah SD, kamarnya dipisah, ya.” Fatih membawa anak-anaknya menuju kamar mereka sedangkan Kaina mengantar sang bunda ke kamarnya.Fadilah dan Adit sendiri ke kamar masing-masing setelah di tunjukkan Fatih.


\=\=\=\=\=\=


Tak terasa kandungan Kaina menginjak usia tujuh bulan. Persiapan acara tujuh bulanan pun sudah rampung. Karena pas acara pernikahan hanya dihadiri oleh tamu dari sang bapak, kali ini Fatih mengundang sahabat, teman, dan rekan kerjanya untuk mengumumkan kalau kini dia sudah menikah lagi dan akan segera menimang buah hati. 


Perut yang semakin membesar membuat Kaina kesulitan untuk beraktivitas. Membuat Fatih harus siap siaga di samping istrinya. Contohnya saja pagi ini, Ibu hamil itu kesulitan ketika menaikan resleting bajunya bagian belakang.

__ADS_1


“Mas, besok kayaknya aku harus belanja lagi deh. Beli baju yang gampang di pakai aja kayak daster yang tinggal sorong gitu biar gak ngerepotin kamu,”  kata Kaina.


“Memangnya kapan Ayah bilang repot sih, Bun?”


“Ya, gak ada. Tapi akunya gak enak tiap saat manggil kamu terus buat minta tolong ini itu.”


Dirangkumnya wajah sang istri lalu Fatih berkata, “Dengar, ya. Ayah senang kalau Bunda repotin terus, artinya Ayah dibutuhkan. Kalau Bunda bisa semuanya, artinya Ayah ini gak berguna sebagai suami.”


“Jangan ngomong gitu dong. Aku kan cuma ngerasa gak enak aja, Mas.”


“Sama suami sendiri kok ngerasa gak enakan.”


“Hehehe..”


“Udah siap?”


Kaina mengangguk.


“Yuk, kita kedepan. Acara sudah mau dimulai.”


Pertama Sungkeman. Sungkeman dilakukan oleh Kaina kepada sang suami. Setelah itu, ia dan Fatih melakukan sungkeman kepada kedua orang tua mereka. Kedua Siraman. Di mana ibu hamil itu dimandikan. Siraman merupakan simbol pembersihan diri, baik fisik maupun jiwa. Nah setelah siraman, Fatih melakukan tahapan pecah telur. Telur yang digunakan adalah sebutir telur ayam kampung yang ditempelkan terlebih dahulu ke dahi dan perut calon ibu, lalu dipecahkan ke lantai. 


Kemudian Memutus janur/lawe dan brojolan. Lanjut Pecah kelapa. Fatih mengambil salah satu kelapa dengan mata tertutup lalu ditempatkan di area siraman, dan dipecahkan. Setelah siraman dilakukan, Kaina pun mengeringkan badan dan mengganti busana yang sebelumnya digunakan dengan 7 jenis kain.


Pada saat pemakaian kain para tamu undangan akan memberikan tanggapan.


“Kurang cocok …” sorak mereka.


Hingga pemakaian kain yang ke-7 barulah para tamu mengatakan “Cocok.”


Rangkaian acara terakhir yang paling di tunggu-tunggu yaitu jualan cendol dan/atau rujak.


Fatih dan Kaina memeragakan berjualan cendol dan rujak. Di mana si suami memayungi sang istri saat berjualan. Uniknya, uang yang dipakai adalah uang koin dari tanah liat atau kreweng.

__ADS_1


Semua keluarga dan tamu yang hadir tampak ikut larut dalam kebahagiaan yang ditularkan oleh pasangan calon ayah dan ibu itu. Senyuman mekar sempurna di wajah mereka semua. Tawa dan canda mengiri proses jualan cendol hingga Kaina tak merasa lelah atau capek berkeliling menawarkan para tamu cendol dagangannya.


Pengalaman pertama bagi dua keluarga. Mereka benar-benar menikmati semua rangkaian acara dengan penuh suka cita. Tak lupa si kembar Kama dan Kalila pun ikut membantu ayah dan bunda mereka menyuguhkan minuman manis itu kepada para tamu yang terus saja meminta tambah.


Hingga sore menjelang acara pun selesai. Ditutup dengan doa bersama anak yatim piatu dan memberikan sedikit bingkisan kepada mereka semua.


“Akhirnya beres juga,” seru Fadilah.


“Seru dan asik yo, Besan,” ujar Dina.


“ Betul, Bu. Dulu ibunya Fatih sempat pengen bikin acara beginian waktu hamil Fatih, tapi gak kesampaian.”


“Tapi sekarang bisa ikut toh, Pak. Almarhum istrinya pasti senang.”


“Aamiin.”


“Pak, Buk, kalau capek istirahat di kamar aja. Saya juga mau bawa Kaina ke kamar,” sela Fatih.


“Gak papa, kalian duluan aja ke kamar, kita masih mau ngobrol-ngobrol,” jelas Fadilah.


“Abang, Kakak, Ayah antar bunda kekamar, ya.” Fatih berkata pada anak sambungnya.


“Nanti kalau mau ganti baju jangan lupa mandi dulu,” tambah Kaina. “Tolong dibantu, ya, Sus.”


“Baik, Bu,” jawab Suster si kembar.


Fath membantu istrinya berdiri dari sofa dan membimbing Kaina berjalan menuju kamar mereka.


“Capek, ya, Bun?” tanya Fatih.


“Lumayan, Yah.”


“Nanti Ayah bantu pijat kakinya.”

__ADS_1


“Siapin air hangat aja buat aku mandi. Udah gerah banget.”


Fatih mengangguk setuju. Tiba di kamar ia dudukkan sang istri di atas kasur lalu beralih ke kamar mandi. 


__ADS_2