
Kaina dan seluruh keluarga merasakan kekecewaan yang mendalam. Perjuangan mereka belum berakhir sampai di sini. Masih harus bersabar lagi demi mendapatkan bukti yang valid untuk menuntut Brigita agar bisa mencabut hak asuh Kalila.
“Maafkan saya, Kai.” Fatih menghampiri sang istri.
Namun, wanita itu berusaha tersenyum. “Mas, gak salah. Makasih sudah berjuang demi saya dan anak-anak.”
“Kamu jangan nyerah dulu, nanti kita bisa ajukan banding.”
“Iya, saya percaya kalau kamu bisa mendapatkan Kalila. Semua butuh waktu.”
Fatih pun memeluk wanita itu. Memberikan kekuatan agar sang istri dapat bersabar sedikit lebih lama. “Saya janji akan mendapatkan Kalila kembali.”
Brigita yang memenangkan persidangang terseyum bahagia karena Kalila masih tetap menjadi miliknya. “Selamat, ya, Kai, kamu menang atas Kama, tapi tidak dengan Kalila.”
“Kami akan mendapatkannya kembali,” ujar Fatih.
“Oh, silahkan berjuang untuk mencari bukti kalau saya sudah melakukan kesalahan.”
Candra yang juga ikut, tak tahu harus bersikap seperti apa. “Maaf, Kai, aku gak bisa bantu kamu.”
“Saya gak butuh bantuan laki-laki seperti kamu,” ketus Kaina.
“Bukan maksud aku mau dukung Brigita, tapi memang saya gak punya bukti apa-apa untuk di serahkan ke kamu. Jujur saya sebenarnya sangat ingin Kalila di asuh oleh ibu kandungnya.”
“Kamu gak perlu banyak bicara. Sebaiknya kamu pergi dari hadapan saya.”
“Kai, please jangan marah sama aku.”
“Saya gak marah, saya hanya kesal dengan laki-laki tak berpendirian. Ucapan tak sesuai dengan perbuatan.”
“Lalu saya harus apa?”
“Seharusnya kamu bisa jadi saksi kalau Brigita menipu saya, tapi kamu menolak dengan alasan kamu gak tau apa-apa. Kamu itu pengecut,” geram Kaina.
“Bukannya di awal kamu yang minta agar Mas Candra gak tahu soal ini?!” sela Brigita. “Lalu kenapa sekarang kamu marah-marah gak jelas sama suami saya?”
Kaina terdiam. Apa yang dikatakan Brigita benar adanya. Kenapa dia sampai lupa akan hal itu.
“Sudah, sebaiknya kita pulang. Gak ada gunanya kamu bicara sama dia,” ajak Fatih.
“Sorry, Can, kalau aku melampiaskan kekecewaan terhadap Brigita pada Kamu,” pinta ibu si kembar.
“Aku paham kok, Kai,” jawab Candra.
Fatih membawa istrinya keluar dari ruang sidang bersama keluarga yang lainnya. Semuanya pulang menuju kediaman Fadilah.
...🐽🐽🐽🐽...
__ADS_1
“Saya harus bilang apa nanti sama Kalila, Mas?” tanya Kaina.
“Jelaskan saja situasi yang terjadi, Kai. Kalila dan Kama anak-anak yang pintar, mereka pasti bisa mengerti,” jawab Fatih.
“Terus berapa lama lagi dia harus menunggu?” Kaina merasa tak tenang.
“Maaf, Kai, untuk hal itu saya tidak bisa pastikan.”
Dina mengusap punggung putrinya. “Yang sabar, Kai. Jangan kamu desak suamimu! Dia juga butuh waktu, kita sama-sama meminta pada Tuhan agar dalam waktu dekat Kalila bisa kembali bersama kita.”
“Tapi, Bu.”
“Ingat, Kama sudah kembali pada kamu artinya kita harus mengucapkan syukur. Jangan terlalu banyak menuntut.”
Ibu si kembar akhirnya mencoba menenangkan diri.
“Apa gak ada saksi lain yang bisa kita ajukan, Tih?” tanya Fadilah.
“Yang tau kalau hak asuh Kalila di dapat dengan cara curang cuma Brigia dengan kuasa hukumnya, Pak. Kalau kita bisa membawa kuasa hukumnya jadi saksi mungkin Kaina akan mendapatkan Kalila. Tapi mana mungkin,” terang Fatih.
“Sulit juga kalau gitu.”
“Kita berserah diri saja pada yang maha kuasa. Semoga ditunjukkan jalan,” sela Dina.
“Aamiin. Insyaallah, saya juga akan terus cari cara lain, Bu,” balas si menantu.
“Iya, Bu. Aku akan sabar dan terus meminta.”
“Alhamdulillah kalau gitu. Sana kamu tenangkan hati. Biar nanti pas bicara sama anak-anak mereka bisa mengerti dan gak ikut sedih.”
“ Terus Ibu?”
“Ibu mau pulang.”
“Biar diantar supir saja. Mari, Bu, saya antar ke depan,” ajak Fatih.
...🐸🐸🐸🐸...
Malamnya, Kaina bersama sang anak dan suami menuju rumah Brigita dan Candra. Mereka ingin bertemu dengan Kalila dan menjelaskan keadaan sekarang.
“Nanti kalau adik sedih gimana, Bun?” tanya Kama.
“Abang juga jangan sedih. Kamu harus bisa kuat di depan adik biar dia sabar nunggu ayah kembali ajukan persidangan,” jelas Kaina.
“Tenang aja, kan setiap sabtu minggu Kalila bakalan tetap main ke rumah,” tambah Fatih.
“Tapi benar, ya, Yah, bakalan perjuangan adik biar bisa kumpul sama aku dan Bunda.”
__ADS_1
“Insyaallah. Makanya kamu harus rajin sholat dan doa.”
“Iya.” Kama mengangguk.
“Anak pintar.”
Setibanya di rumah Brigita, mereka langsung disambut tangis sedih gadis kecil itu. Membuat Kaina gegas mendekap sang putri. “Anak Bunda kenapa nangis?”
“Kata Tante Bri aku gak bisa lagi jadi anak Bunda,” jelas Kalila sambil sesegukan.
“Untuk sementara ini iya, tapi nanti kalau Ayah Fatih bisa sidang lagi pasti Kalila bakalan jadi anak Bunda,” terang Kaina.
“Terus kenapa abang bisa jadi anak Bunda sekarang sedangkan aku belum?”
“Karena Ayah butuh waktu buat bisa dapetin Kalila,” jelas Fatih. “Sekarang Kalila harus bisa sabar dan banyak berdoa supaya Ayah bisa menang di persidangan nanti. Kalau sedih terus Ayah jadi gak semangat nih,” bujuknya.
Gadis kecil itu menyeka air mata di pipi. “Tapi gak lama, ya, Yah.”
“Insyaallah. Kalau Kalila terus rajin doa sama solat pasti dalam waktu dekat Ayah bisa menang persidangan. Lagian setiap hari Kalila bisa ketemu bunda di sekolah, pulang juga bakalan di antar Bunda.”
Akhirnya senyum pun terbit di wajah imut Kalila. “Ya udah, aku gak sedih lagi.”
“Anak-anak Bunda memang pintar. Sini peluk dulu dua-duanya.” Ibu dan anak itu saling berpelukan.
“Terima kasih sudah datang buat nenangin Kalila,”ujar Candra. “Dari tadi dia nangis terus.”
“Kalau gak bisa urus anak buat apa pertahankan hak asuhnya,” kesal Kaina.
“Saya sudah bujuk dia, tapi memang dianya aja yang gak mau diam,” balas rigita.
Fatih memegang tangan istrinya untuk tidak menimpali perkataan istri Candra. “Kita kesini mau hibur Kalila. Kamu sabar aja, jangan terlalu bawa emosi.”
“Saya mau bawa anak-anak jalan malam ini. Anggap saja kami lagi cari hiburan buat Kalila.”
“Boleh, silahkan bawa Kai,” kata Candra.
“Pulangnya jangan sampai lewat jam sepuluh malam,” tambah Brigita.
“Saya mengerti.” Fatih dan Kaina pun bangkit dari sofa.
“Kalau begitu kami jalan sekarang,” ujar Fatih.
...🦋🦋🦋🦋...
Kaina bersama anak-anaknya mencoba melewati hari dengan kesabaran penuh. Meski kadang Kalila akan bersikap rewel sepulang sekolah, sang ibu terus memberikannya pengertian agar mau ikut bersama Brigita. Begitu pula dengan Kama, dia jadi lebih suka murung di rumah karena sang kembaran tak ikut bermain bersama.
Ada rasa sedih kala mengingat sang adik tak bisa ikut tinggal bersamanya dan ibunda. Kaina sendiri juga ikut merasakan apa yang ada di hati putranya. Namun, dia mencoba menyibukkan diri dengan mengurus supermarket apa lagi Adit mulai kembali kuliah.
__ADS_1