
Mereka tiba di tujuan tepat pukul sepuluh pagi. Semua turun dan langsung memasuki area kebun binatang. Karena Ragunan itu sangat luas, Fatih memutuskan untuk menyewa kereta keliling yang dapat membawa semua keluarga agar tak lelah jika berjalan kaki.
Masuk lewat pintu utara, mata mereka semua disuguhkan pemandangan yang indah. Kumpulan burung Pelikan yang sangat cantik. Si kembar sangat antusias sekali dan mereka ingin turun agar dapat melihat lebih dekat.
Fatih dan Kaina pun akhirnya memutuskan untuk turun sebentar menemani anak-anak. Puas di sana, mereka lanjut melihat kumpulan primata seperti Siamang, Owa, dan Lutung dengan suaranya yang heboh dan menggelegar sehingga menarik perhatian pengunjung tak terkecuali si kembar tentunya.
Lanjut berkeliling, mereka melihat berbagai jenis burung, harimau, singa, gajah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu selama empat jam untuk melihat-lihat satwa yang ada di sana. Itupun tidak semua area dapat mereka jangkau saking luasnya kebun binatang itu.
Karena sudah tengah hari, Kaina mengajak keluarganya untuk istirahat di taman anak. Selain mereka bisa piknik di sana, si kembar juga dapat menikmati permainan seperti perosotan dan ayunan. Adit dan Fatih kembali ke parkiran untuk mengambil barang-barang piknik yang masih tertinggal di mobil.
Keberadaan pohon-pohon besar di sekitarnya, menjadikan kebun binatang yang satu ini selalu terasa sejuk untuk dikunjungi. Jadi mereka bisa duduk di mana saja. Sekembalinya Adit dan sang suami, Kaina membentangkan tikar dan menata semua makanan yang dibawa juga piring, gelas, dan sendok yang akan digunakan.
“Ayo, anak-anak! Kita makan dulu,” ajaknya.
Fatih dan Adit yang menemani si kembar bermain, gegas menggendong anak-anak itu menuju area piknik.
“Makan dulu,ya, Nak, habis itu baru main lagi.”
“Nanti boleh naik gajah gak, Bun?” tanya Kama.
Kaina tampak ragu.
“Boleh. Nanti kita naik gajah sama kuda,” jawab Fatih.
“Yea …” seru Kama senang.
“Aku juga mau ikut,” sorak Kalila,
“Kalila sama Omdit aja,” sela Adit.
“Yes.” Gadis kecil itu mengepalkan tanganya.
“Apa aja boleh, tapi makan dulu,” timpal Fadilah.
“Siap Opa,” jawab si kembar serempak.
...🌵🌵🌵🌵...
Karena si kembar sudah tak sabar untuk segera mencicipi wahana permainan bersama binatang, Fatih dan Adit akhirnya terpaksa bangkit setelah menikmati lezatnya makanan yang tersaji. Kaina, Dina, dan Fadilah memilih menikmati sepoy-sepoy angin di bawah pohon. Dari sana mereka dapat melihat Kama dan Fatih yang sedang menunggangi kuda di ikuti Kalila bersama Adit.
__ADS_1
“Hati-hati, ya.” Kaina bersorak sambil melambaikan tangan.
“Ikut sini,” ajak Fatih.
“Gak! Saya takut.”
Fatih mengacungkan jempolnya ke arah bawah pada sang istri. Wanita itu hanya tertawa dan tak lagi membalas karena anak dan suaminya sudah jauh berjalan.
“Bapak, gak bosan kan?” tanya Kaina pada mertuanya.
“Gak lah, malahan seru. Sudah lama saya gak liburan seperti ini.”
“Syukur kalau gitu.”
“Alhamdulillah di hari tua saya masih dapat menikmati waktu bersama anak, menantu, cucu, serta besan.”
“Sama, Pak, saya juga bersyukur sekali,” sambut Dina. “Terima kasih sudah mau menerima kedua cucu saya.”
“Mau mereka bukan cucu kandung, saya sudah menyayangi mereka layaknya cucu sendiri.”
“Alhamdulillah, beruntungnya anak saya bisa menjadi menantu, Bapak.”
“Bapak, bisa saja.” Kaina merasa malu di sanjung seperti itu.
Dari wahana permainan dengan hewan, si kembar bersama ayah dan paman berpindah menikmati fasilitas menarik lainnya, seperti menaiki perahu angsa, kuda bendi, dan terakhir menonton pentas satwa. Hingga sore pun mulai menampakkan diri, mereka menyudahi liburan hari ini. Keluarga itu keluar dari area kebun binatang dengan wajah berseri menampakkan kalau hari ini dilalui dengan hati yang senang dan terhibur.
Adit yang sudah duduk di bangku kemudi membawa mobil alphard berwarna hitam itu keluar dari area parkir. “Langsung pulang?”
“Kita makan dulu, Dit,” jawab Fadilah.
“Siap. Di mana, Pak?”
“Enaknya di mana? Kamu ada saran, Tih?” menatap sang putra di bangku belakang.
“Cari yang bisa lesehan aja, Dit, biar anak-anak bisa duduk nyaman.”
“Oke, saya tahu satu tempat yang makanannya enak.” Adit membawa rombongan menuju satu tempat makan yang menyajikan masakan daerah nan terkenal dengan kelezatannya. Tiba di sana semua orang langsung turun dan mengambil tepat. Memasan menu sesuai selera.
Sambil menunggu makanan tiba, si kembar dapat memberi makan ikan dari saung yang mereka tempati. Karena di tengah-tengah deretan saung terdapat kolam ikan yang lumayan besar. Ketika makanan sudah tersaji, Kaina mengajak anak-anaknya untuk duduk kembali. Mereka menikmati makanan dalam diam karena sajian di atas meja sungguh memanjakan lidah.
__ADS_1
...🐽🐽🐽🐽...
“Terima kasih liburan yang berkesan ini, Besan. Saya dan Adit turun dulu,” ujar Dina.
“Sama-sama, Besan. Maaf kami tak singgah,” balas Fadilah.
“Gak papa, lagian si kembar ketiduran. Pasti merasa capek dan butuh istirahat.”
“Kalau begitu kami jalan, Bu,” pamit Kaina memeluk Dina. Kemudian Fatih pun ikut berpamitan dan mencium punggung tangan mertuanya.
“Iya. Nyetirnya hati-hati, ya Tih. Nanti sampai rumah kabari.”
“Pasti, Bu. Ibu habis ini langsung istirahat,” balas si menantu.
Dina pun mengangguk.
Terakhir Adit bersalaman dengan Fadhilah dan kakak iparnya. Barulah Fatih beralih ke bangku kemudi, melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya.
...🐣🐣🐣🐣...
Sampai di kediaman Fadilah, Kaina membangunkan si kembar agar mereka segera membersihkan badan dan kembali melanjutkan tidur di kamar. Fatih pun menurunkan barang-barang piknik yang dibawa tadi dibantu oleh Bi Ula. Fadilah sendiri sudah melangkah duluan menuju kamarnya untuk menyegarkan diri di bawah guyuran shower.
“Mau dibantu?” Fatih menjulurkan kepala di balik pintu kamar si kembar.
“Bantu Kama pakai baju, ya, Mas. Kasihan nih dia udah ngantuk berat,” jawab Kalila.
Pengacara itu masuk dan duduk di pinggir kasur. Membantu putra tirinya memakai pakaian tidur yang sudah di siapkan Kaina di atas kasur.
“Beres.”
“Makasi, Ayah,” ucap Kama.
“Iya.”
Kaina pun keluar dari kamar mandi bersama putrinya. “Makasi, Mas.”
“Santai aja. Saya ke kamar dulu.”
Kaina mengangguk lalu menyudahi kegiatannya mengurus sang anak. Kama dan Kalila yang sudah kelelahan seharian tadi, kembali melanjutkan tidur mereka dengan nyaman di atas kasur empuk. Sang ibu tak lupa menyelimuti mereka dan mematikan ampu utama, barulah dia menyusul si suami.
__ADS_1