Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 45


__ADS_3

“Mungkin tiga hari. Kalau Kaina bosan di sini kalian menginap aja di rumah Bu Dina saja," tutur Fadilah.


“Nanti bisa diatur,” jawab Fatih. “Ya sudah, Pak, saya berangkat kerja dulu, Bapak kalau mau pergi hati-hati di jalan.”


“Iya.”


“Berangkat sekarang, Kai?” Fatih menatap istrinya.


“Bentar, Mas, saya ke kamar dulu mau ambil tas.” Kaina beranjak dari meja makan menuju kamarnya diikuti oleh Fatih di belakang.


“Ada yang ketinggalan, Mas?”


“Gak, saya cuma mau ngasih ini.” Fatih memberikan kartu ATM pada istrinya ketika mereka tiba di kamar. “Saya sudah janji bakalan jadi suami yang baik. Jadi ini uang nafkah buat kamu. Terserah mau dipakai buat apa, saya gak akan nanya-nanya. Nanti tiap bulannya bakalan saya isi.”


Kaina menerima kartu tipis itu karena memang adalah haknya sebagai istri. “Saya terima, Mas, makasih.”


“Yuk, berangkat!”


“Sebentar, Mas.”


“Apa, Kai?”


Wanita itu dari tadi memperhatikan dasi yang melekat di kerah baju suaminya, tampak tak rapi. Hingga tangannya terulur untuk membetulkan letaknya. “Nah, itu baru pas.”


“Makasi.”


“Sama-sama. Yuk, ke bawah!”


Mereka kembali turun dan menemui Fadillah di meja makan untuk pamit sebelum berangkat.


...🍒🍒🍒🍒...


“Pagi-pagi udah kesini, suami kamu sudah diurus?” tanya Dina.


“Sudah, Bu. Aku berangkatnya sama Mas Fatih, cuma dia gak bisa turun karena sudah telat ke kantor.”


“Terus ngapain kesini?”


“Gak boleh memangnya aku ketemu Ibu?” Kaina sedikit cemberut.


“Bukan gitu. Kamu pengantin baru seharusnya diem dulu di rumah mertua.”


“Mas Fatih ke kantor dan bapak mau keluar kota. Ngapain aku disana bingung sendiri,” jelas Kaina


“Ya sudah, main dulu di sini, tapi nanti pas makan siang kamu masak dan kirim buat suami mu. Sebelum sore sudah tiba di rumah biar bisa masak makan malam.”


“Disana ada ART, Bu, ngapain aku capek-capek masak,” jawab Kaina yang sedang bersantai di sofa.


“Hush, gak boleh malas gitu. Mau ada sepuluh ART, kalau kamu gak ada kerjaan, ya, harus bisa masakin suami. Ibu dulu waktu ayahmu banyak uang dan bisa gaji ART, ibu tetap gak mau. Seenaknya masakan ART, akan jauh lebih membahagiakan dimasakin istri dan kita juga bakal dapat pahala.”

__ADS_1


“Iya, nanti aku masak.” Kaina merasa tugasnya akan ringan jika ada ART di rumah Fadilah, tapi karen nasehat sang ibu dia tetap akan menjalankannya.


“Adit mana, Bu?”


“Katanya mau ketemu Candra.”


“Dari kapan?”


“Pas kamu tiba dia baru saja berangkat.”


Ibu tunggal itu pun bangkit dari duduknya melangkah ke dapur memeriksa persediaan makanan. “Bu, aku ke pasar, ya, mau belanja buat isi kulkas sekalian buat masak nanti makan siang.”


“Gak perlu repot-repot, Kai. Nafkah suami kamu pakai saja buat kamu.”


Kaina kembali duduk di samping ibunya. “Mas Fatih gak mempermasalahkannya kok. Ibu, tenang saja. Aku pergi bentar, ya.”


“Berangkat sama apa?” Dina menemani anaknya di depan teras.


“Aku pesan taxi online.”


Mobil tumpangannya tiba, Kaina langsung meluncur ke salah satu mall terbesar. Tujuannya hari ini ingin membeli semua kebutuhan rumah tangga untuk ibu dan adiknya. Dia sudah mengirim pesan pada Fatih, izin memakai uang pemberiannya dan suaminya itu mengatakan terserah dia saja. 


“Oke, kalau gitu jangan salahkan aku belanja banyak, ya, Mas,” kekehnya sambil mendorong troli belanjaan.


Selama tiga jam Kaina sibuk memasukkan barang-barang yang dirasa perlu ke dalam troli. Semua dibeli untuk kebutuhan satu bulan kedepan. Karena tak mau terlambat mengirimkan bekal makan siang pada Fatih, dia pun bergegas ke kasir untuk membayar semua barang belanjaan.


Tiba di rumahnya, Kaina gegas memanggil Adit yang sedang membersihkan taman sang ibu. “Bantuin ini,” ajaknya.


Adit berlari kecil membantu supir taxi online menurunkan semua barang saudaranya. “Kak, belanja sebanyak ini buat apa?”


“Buat kamu dan ibu selama sebulan.”


“Pakai uang siapa?”


“Mas Fatih dan aku juga udah izin kok.”


Adit cuma geleng-geleng kepala sambil menurunkan kantong plastik yang tak ada habisnya. Sedangkan saudaranya itu hanya membawa satu kantong besar berisi bahan masakan. 


“Bu, bantu aku kupas-kupas, ya. Takut gak keburu.”


“Iya.” Dina memilih bahan-bahan yang akan dimasak oleh anaknya lalu dibawa ke meja makan untuk dikupas dan dipotong. 


Tak lama Adit tiba di sana dengan beberapa kantong belanjaan Kakaknya. “Kak, mau ditaruh di  mana?”


“Kamu atur aja, Dit. Tarok di tempat yang sesuai.”


“Apa itu, Kai?” tanya Dina.”


“Kebutuhan Ibu dan Adit selama sebulan. Ada beras, minyak goreng, gula sama kue buat camilan. Ada bumbu-bumbu dapur, terus apalagi, ya,?” Kaina tampak memikirkan belanjaannya tadi sambil menumis bawang di wajan.

__ADS_1


“Kebutuhan mandi sama nyuci, Bu,” tambah Adit.


Dina cuma diam saja dan melanjutkan kegiatannya. Selesai memasak, Kaina memasukkan nasi, lauk dan sayuran ke dalam satu tempat makan yang dibelinya tadi dan memesan ojek online untuk segera mengantarkannya ke alamat kantor sang suami. Kepergian ojek tersebut dia segera mengirim pesan pada Fatih.


...🥦🥦🥦🥦...


“Pak, mau saya pesan makanan apa?” tanya sekretaris.


Ting …


Notifikasi pesan diterima. Fatih gegas membacanya


📩Kaina


Mas, aku tadi masak di rumah ibu jadi aku kirim makan siang ke sana. Sudah otw di tunggu aja.


“Gak usah, kamu tunggu aja ojek online didepan,” jawab Fatih.


“Maksudnya?”


“Istri saya kirim makan siang.”


“Cie, sekarang ada yang urusin,” goda Zuri. Sekretaris Fatih di kantor.


“Ck, udah sana,” kesal Fatih.


“Baik, ya, istrinya, Bapak. Nikah formalitas aja, tapi kewajibannya dijalankan.”


“Kamu mau saya potong gajinya?” Fatih mengancam dengan mata melotot.


“Hehehe, gak, Pak. Ya, udah saya keluar dulu nunggu ojeknya datang.”


Kepergian Zuri, Fatih kembali mengambil ponselnya dan membalas pesan dari Kaina.


Lain kali gak perlu repot masak, saya bisa pesan makan di luar. Tapi makasih. 📨


Kemudian Fatih menghempaskan punggungnya ke kursi untuk melepas penat. Tak lama Zuri datang mengantarkan kotak makan siang untuk bos nya. “Ini, Pak, wangi loh. Kayaknya baru matang dan masih panas ini. Saya jadi lapar.”


“Kalau mau ambil piring sana, nanti saya bagi.”


“Asik, tunggu sebentar, Pak.” Zuri gegas ke pantry mengambil piring untuknya lalu kembali ke ruang kerja Fatih. “Nih, Pak.


Fatih mengeleng. “Gak jadi, ini terlalu sedikit buat saya bagi dua.”


“Hhuu,” cibir gadis 24 tahun itu. “Bilang aja gak rela ngasih saya. Jujur, enak kan?!”


“Iya, enak. Udah sana, kamu pesan makanan saja.”


Zuri mendengus kesal ke arah bosnya yang tengah asik menyantap makan siang kiriman dari sang istri. “Gue doain kalian bakalan gak jadi cerai.”

__ADS_1


__ADS_2