
Kaina memangku kedua tangan di dada. “Wah, kayaknya aku banyak yang gak tau deh, Mas, soal kamu.”
“Zuri itu jangan di tanggapi, Bunda.” Fatih berkata dengan lembut.
Ibu si kembar mencibir. “Taruhan apa sih maksudnya?”
“Kalau kita pisah dia bakalan berhenti kerja kalau gak, ya, dia bakalan tetap kerja sama aku selamanya. Itu doang, kok.” Fatih berkata sambil merapikan dokumen pekerjaannya.
“Terus soal uang kamu yang mengalir terus itu apa?”
“Jadi pengacara itu cuma profesi aku aja, Kai, waktu itu ikutin kemauannya bapak. Setelah bercerai aku memutuskan untuk menyibukkan diri makanya aku coba lah buka bisnis dan alhamdulillah berjalan lancar.”
“Bisnis apa aja sih, Mas?”
“Tambang, terus aku beli beberapa saham di perusahaannya bapak juga perusahaan lainnya.”
“Aku pikir kamu andelin kekayaannya bapak kayak Hugo.”
“Gak lah. Ya, walaupun awalnya suami kamu ini sempat mikir buat apa capek-capek urus usaha toh nantinya bakalan hidup sendiri juga. Ada hartanya bapak yang pastinya gak bakalan habis buat aku sendiri. Tapi aku mikir juga kalau kita gak tau yang namanya masa depan itu. Sekarang aku nikah sama kamu, punya si kembar dan bentar lagi bakalan punya bayi. Jadi, tanpa bapak pun aku bisa mandiri.”
Kaina merasa bangga. “Tapi jujur loh, Mas, aku gak tau soal ini.”
“Emang bapak gak pernah cerita?”
“Gak.”
Fatih tersenyum simpul. “Pantes, beliau pengen banget kita nikah. Dulu waktu bapak carikan aku jodoh beliau sampai beberkan semua usaha dan harta kekayaan aku sama keluarga calon istri.”
“Oh, ya?” Kaina tak percaya. “Sampai segitunya.”
“Iya, beliau gak peduli tuh calon mantunya nerima aku hanya karena harta, tapi mungkin karena Allah baik sama aku jadi mereka semua nolak sebab aku mandul tadi.”
“Tapi sekarang kamu bisa buktikan kalau kamu gak mandul loh, Mas.”
“Iya, nanti kalau kandungan kamu sudah empat bulan aku mau adain syukuran besar-besaran buat buktikan ke orang-orang kalau aku bisa bikin kamu hamil.”
“Hahaha, apa sih, Mas. Gak segitunya juga kali.”
“Aku pernah dihina sama keluarga mantan istri, Kai.”
Kaina merasa iba. “Maaf, ya, Mas, aku gak tau kamu melewati cobaan itu dengan berat.”
“It’s oke. Dulu aku ngerasa harga diri sebagai laki-laki rendah banget karena gak bisa punya keturunan. Tapi sekarang aku benar-benar happy.” Fatih mencium perut istrinya. “Makanya kalau bisa aku bakalan umumin ke dunia kalau istriku lagi hamil. Membuktikan ke orang-orang kalau aku ini normal.”
“Aku ngerti, tapi alangkah baiknya kita gak perlu sesumbar, Mas. Anak, jodoh, rezeki itu milik Allah. Kapanpun bisa diambil lagi. Jadi, lebih baik kita nikmati saja kebahagiaan ini bersama keluarga kita. Biar nanti orang-orang tau dengan sendirinya.”
__ADS_1
“Adem banget omongan istri aku ini.” Fatih mengusap rambut hitam Kaina. “Pantes bapak sayang banget sama kamu, kamu itu persis kayak ibu aku, sederhana.”
“Ngomong-ngomong soal ibu kamu, kapan-kapan kita ziarah ke makam beliau, ya,” ajak Kaina.
“Boleh, tapi nanti kalau kandungan kamu udah lewat trimester pertama.”
Kaina setuju.
"Oh, ya, buat ganti ponsel Bunda yang rusak Ayah minta Zuri beli yang baru." Fatih menyerahkan kotak ponsel baru tadi.
"Ih, pakai di beliin segala."
"Gak papa dong. Lagian ponsel kamu itu udah jadul, serinya udah gak keluar lagi."
"Makasih, ya, Mas."
"Iya, Bunda."
Kaina mengelus sayang rahang suaminya.
“Eh, ini sudah hampir jam dua belas, anak-anak kok belum pulang?”
“Adit tadi telpon ke hp kamu dan aku angkat, katanya mereka jemput ibu dulu.”
“Oh, artinya kita makan siang berdua aja.”
“Oke deh.” Fatih meraih ponselnya yang ada di atas meja. “Bunda mau makan apa? Biar ayah pesanin.”
Kaina tertawa kecil. “Aku mau yang berkuah soalnya habis mual-mual tenggorokan jadi seret.”
“Anak-anak mau di pesanin juga?”
“Boleh. Mereka suka pisang coklat keju sama kentang goreng.”
“Siap.” Fatih mencari makanan di aplikasi ponsel. Sesuai dengan selera sang istri juga untuk anak sambungnya.
...🦋🦋🦋🦋...
Besoknya menjelang sore hari, Fatih membantu Kaina memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper berikut juga dengan perlengkapan si kembar. “Gak usah banyak-banyak, seperlunya aja. Nanti kapan-kapan kita belanja,” katanya.
“Kayaknya emang harus deh, Mas, aku butuh daleman baru. Rasanya udah sempit.”
“Kandungan kamu baru juga jalan lima minggu tapi perutnya udah mulai kelihatan, ya.”
“Mungkin karena kehamilan kedua, Mas, apa lagi dulu aku hamil kembar jadi perutnya udah melar.” Kaina pun terkekeh. “Kalau aku hamil kembar lagi pasti seru juga, ya, Mas.”
__ADS_1
Fatih duduk di samping sang istri. “Kamu hamil aja aku udah bersyukur, Kai.”
“Aku tau, Mas. Cuma berandai-andai aja, siapa tau beneran terjadi.”
“Harapan aku sekarang kandungan kamu sehat dan nanti pas lahiran baby sama ibunya selamat.”
“Aamiin.”
“Sudah beres semua?”
“Udah.”
“Tunggu di sini aku antar koper keluar.” Fatih berdiri dari duduknya.
“Gak papa, Mas, Aku bisa kok jalan pelan-pelan dari sini ke luar.”
“Ya udah, sini aku papah.”
Pasutri itu keluar dari kamar menuju ruang tamu. Di sana Dina, Adit dan si kembar sudah menunggu mereka.
“Bu, aku bawa Kaina dan anak-anak pulang ke rumah bapak,” kata Fatih.
Dina mengangguk.
“Nanti kalau ibu kangen pengen ketemu Kama sama Kalila bisa datang aja ke rumah. Gak perlu telpon dulu.” Fatih meletakkan kunci mobilnya di atas meja. “Sekarang mobil aku tinggal di sini biar bisa dipakai Adit buat kuliah dan antar Ibu ke rumah.”
“Loh, loh, apa-apaan ini, Tih,” ujar Dina. “Ibu gak bisa terima begitu saja.”
“Kalau Ibu tolak pemberian aku artinya Ibu masih anggap aku ini orang lain.”
“Bukan begitu,” jelas ibunya Kaina. “Ibu cuma merasa gak enak.”
“Gak enak kenapa, Bu? Masak anak sendiri yang ngasih mobil masih sungkan?!”
Dina tak bisa menjawab.
“Diterima, ya, Bu. Mulai sekarang apa yang aku kasih buat Ibu dan Adit itu jangan ditolak lagi.”
“Terima kasih banyak. Bagi Ibu kamu bisa menerima Kaina dan anak-anaknya itu sudah lebih dari cukup.”
“Tapi bagi aku ini gak seberapa.”
“Sekali lagi terima kasih.”
“Sama-sama, Bu. Terima kasih juga sudah melahirkan Kaina. Mendidiknya menjadi wanita, istri dan ibu yang baik.”
__ADS_1
Dina merasa terharu atas ucapan Fatih. Mertua dan menantu itu pun saling berpelukan.