Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 74


__ADS_3

Fatih turun dari sofa dan berlutut di depan mertuanya. “Karena tugas saya sebagai suami Kaina sudah selesai, saya undur diri, Bu. Ibu jangan banyak pikiran, jaga kesehatan, nikmati waktu sama Kama dan Kalila karena itu lebih penting. Jangan lagi pikirkan Kaina atau Adit, mereka sudah dewasa pasti bisa mengurus kehidupannya masing-masing.”


“Terima kasih atas perhatiannya, Nak.” di belai surai hitam sang menantu. “Ibu doakan semoga Allah memberikan mukjizatnya.”


Dianggukkannya kepala oleh Fatih. “Saya pulang, ya, Bu.”


“Hati-hati di jalan.”


Kaina pun berdiri mengantarkan suaminya kembali ke mobil. Sebelum itu, tak lupa Fatih mengembalikan tanggung jawabnya pada Adit. “Lanjutkan kembali tugasmu dalam menjaganya, Dit”


“Terima kasih, Bang,” balas Adit. Keduanya pun berpelukan.


Fatih masuk kedalam mobil. Kaina melepas perpisahan mereka dengan rasa yang sulit dimengerti.


...🍎🍎🍎🍎...


“Hari ini dan seterusnya kita pulang ke rumah ibu,” jelas Kaina pada kedua anak-anaknya. Mereka sedang di dalam mobil taxi online menuju perjalan pulang.


“Kenapa gitu, Bunda?” Kalila bertanya.


“Artinya kita gak bareng Ayah Fatih lagi?” tambah Kama.


“Karena tugas Ayah Fatih buat bantu Bunda mendapatkan hak asuh kalian sudah beres. Jadi, mulai sekarang kita kembali tinggal sama ibu dan Omdit.”


“Ayah Fatih sama Opa usir kita, ya, Bun?” si gadis kecil kembali bertanya.


“Gak, sayang. Gak ada yang usir kita dari sana. Cuma memang sudah seharusnya kita pulang.”


Si kembar tampak kecewa. Wajah mereka langsung berubah murung.


“Bunda harap Abang sama Adik bisa mengerti, ya. Ayah Fatih hadir di kehidupan kita cuma untuk sementara, bukan selamanya.”


“Tapi kita pengennya bisa sama Ayah Fatih tiap hari,” rengek Kama.


Diusapnya kepala sang putra lalu dilabuhkan sebuah kecupan dan Kaina berkata, “Sebelum ada Ayah Fatih kita cuma ada ibu dan Omdit. Artinya, kita pasti bisa tanpa ada Ayah Fatih.”


Air mata sudah menganak di pelupuk mata kedua anak-anaknya. Kaina pun merasa tak tega. Namun, kali ini dia bisa apa karena memang alasan untuk bertahan bersama Fatih tak cukup hanya demi anak-anak saja.


“Jangan sedih, ya. Nanti kalau kalian kangen bisa main ke rumah opa diantar Omdit.”


“Beneran?” Kalila butuh kepastian.


“Iya, sayang.”


Si kembar pun memeluk ibunda tercinta.


...🍒🍒🍒🍒...


“Bapak yakin?” tanya Zuri. Sekretaris itu kembali memastikan sebelum menyerahkan surat gugatan cerai bosnya ke pengadilan.


“Iya. Besok kamu daftarkan di pengadilan.” Selepas dari mengantar Kaina, Fatih memutuskan ke kantor.

__ADS_1


“Tapi saya masih boleh bekerja sampai putusannya jelas, ya, Pak.”


“Maksud kamu?”


“Bapak lupa kalau kita pernah taruhan.”


Fatih mengingat kembali. “Oh, soal itu. Sudah lupakan saja.”


“Serius?” Zuri tak percaya.


“Iya. Udah sana kamu kembali ke meja. Masih banyak pekerjaan yang perlu kamu selesaikan.”


Gadis manis itu pun terkekeh. “Makasih, ya, Pak.”


“Hhmm, tapi artinya kamu kalah taruhan sama saya.”


“Belum dong!” sanggah Zuri. “Hakim belum ketuk palu artinya saya masih ada kemungkinan buat menang.”


“Yakin banget,” ledek Fatih.


“Harus! Ya, udah saya balik ke meja dulu. Selamat bergalau ria, Pak.” Kemudian Zuri gegas keluar dari ruangan atasannya.


Fatih menghempaskan punggung ke sandaran kursi sambil membuang nafas panjang. Diakuinya ada rasa berat di hati atas perpisahan ini, tapi sesuai dengan perkataan Kaina mereka berdua butuh satu alasan kuat untuk bisa mempertahankan rumah tangga ini. 


...🥭🥭🥭🥭...


Kembali, malam ini meja makan di kediaman Fadilah terasa sepi. Tak ada lagi sosok yang biasanya menyiapkan atau mengambilkan isi piring untuk mereka. Hugo yang tak tau apa-apa tampak bingung ketika tak melihat Kaina dan putranya.


“Dia sudah pulang ke rumah ibunya,” jawab Fadilah.


“Pulang? Kapan balik?”


“Dia gak balik lagi.”


“Maksudnya?”


Nafas kasar di buang Fadilah. “Kaina sama Fatih sudah pisah.”


“Pisah?” Ayah biologis Kama itu tampak tak percaya. “Kok bisa?”


“Banyak tanya lo,” celetuk Fatih.


“Wajarlah. Kalian kelihatan harmonis banget tapi kok bisa pisah.”


Fatih yang merasa kesal meninggalkan meja makan menuju kamar. 


“Dih, aneh,” gerutu Hugo.


“Kamu itu bertanya gak lihat situasi makanya Fatih pergi,” terang Fadilah.


“Ya, aku kan gak tau, Pa. Tiba-tiba aja gitu Kaina peri sama Kama. Wajar dong aku tanya.”

__ADS_1


“Sudah, habiskan makananmu.”


Hugo menyendok makanan ke mulut. “Tapi serius deh, Pa, kenapa mereka pisah sih?”


“Dari sebelum nikah mereka sudah sepakat bakalan pisah setelah Fatih mendapatkan hak asuhnya Kama dan Kalila. Puas kamu?!”


Hugo mengangguk sambil membulatkan mulutnya.


“Bapak ke kamar duluan.” Fadilah berdiri dari duduknya.


“Iya.”


Entah kenapa, pria itu merasa senang atas perpisahan sang adik dengan Kaina. Tanpa sadar bibirnya menggariskan sebuah senyuman.


...🍉🍉🍉🍉...


Baik Fatih maupun Kaina sedang mencoba memejamkan mata. Ini adalah malam pertama mereka berpisah. Pasti ada sedikit perbedaan walau biasanya tidur tak pernah saling memeluk. Setidaknya ada seseorang yang selalu mengisi sisi kosong bagian ranjang.


Kini, punggung yang biasanya beradu terasa dingin, kasur yang luas terasa lapang, selimut yang lebar seakan terlalu besar untuk sendiri. Apakah keduanya sedang kesepian? Atau hanya sebuah kebiasaan yang butuh waktu penyesuaian? Entahlah yang tahu pasti akan jawabannya hanyalah mereka berdua.


Diliriknya jarum jam yang berputar di dinding, seakan malam ini terasa sangat lama dari biasanya. Kedua orang itu sama-sama bangkit dari kasur menuju jendela kamar. Menatap langit malam yang mulai disinari rembulan tapi tertutup awan membuat wujudnya terlihat samar-samar.


Puas menikmati waktu sendiri, keduanya kembali ke ranjang. Mencoba meresapi kehampaan yang ada hingga mata pun akhirnya terpejam jua.


...🍆🍆🍆🍆...


Pagi-pagi sekali Hugo sudah berangkat duluan menuju rumah Kaina. Meski sekarang wanita itu suduah bercerai dengan sang adik, baginya tugas tetaplah tugas yang harus dijalankan.


“Kamu gak perlu mengantarkan kami lagi,” kata Kaina.


“Selama bapak belum meminta saya untuk berhenti menjadi supir kamu dan anak-anak artinya tugas saya harus tetap dikerjakan,” jelas Hugo.


Kaina membuang nafas. “Baiklah. Sudah sarapan?”


“Belum. Saya takut terlambat kalau sarapan di rumah.”


“Kalau begitu mari masuk dan ikut sarapan bareng kami.”


Hugo akhirnya mengikuti langkah kaki wanita itu menuju meja makan sederhana yang terletak di bagian dapur. Dina dan Adit menyambut kehadirannya dengan ramah.


“Hugo tetap akan mengantar aku dan anak-anak ke sekolah, Bu. Ini tugas dari Pak Fadilah,” terang Kaina.


“Oh. Duduk,” ajak Dina. “Kai, tolong bantu Nak Hugo, ambilkan makanannya. Siapa tau dia masih sungkan.”


Kaina menuruti apa kata sang ibu. Disinya piring dengan dua sendok nasi goreng. “Lauknya mau telur atau ayam?” tanya Kaina pada Hugo.


“Telur saja.”


Sesuai katanya, nasi goreng spesial buatan Kaina dengan telur mata sapi kini disajikan di hadapan. “Makasih, Kai,” ujar Hugo.


“Sama-sama.” Kaina kembali duduk di samping anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2