
Kaina menerbitkan senyuman sinis di bibirnya.
“Kenapa? Kamu gak percaya kalau saya menyesalinya?” tanya Hugo.
“Percaya, tapi gak ada gunanya.”
“Tapi aku akan terus berusaha.”
“Silahkan, saya juga gak akan melarang.”
“Termasuk buat mendapatkan hati ibunya.”
Kaina langsung menatap Hugo dengan raut wajah serius. “Maksudnya apa?”
“Gak, cuma bercanda.” Hugo pun tertawa.
“Bercandanya gak lucu.”
“Oke, sorry.”
“Sana pergi, saya mau fokus ngerjain laporan ini.”
“Aku di sini aja.”
“Ganggu,” kesal ibu si kembar.
“Aku gak akan berisik cuma duduk diam aja nemenin kamu.”
Suasana di meja makan itu kembali sepi meski ada dua orang yang duduk disana. Hanya suara ketikan jari Kaina di keyboard nan terdengar. Hugo yang sedang memainkan ponselnya, diam-diam mengarahkan kamera dan mengambil gambar Kaina nan tampak cantik di terangi cahaya dari laptop.
Tak sadar, Fatih tiba di sana memperhatikan tingkah saudara tirinya dari belakang. Tak lama dia pun mengeluarkan suara. “Ekhem …”
Hugo terlonjak kaget langsung menyembunyikan telepon genggamnya di saku celana.
“Kai, anak-anak kayaknya mau tidur deh,” jelas Fatih.
“Oh, oke.” Kina membereskan berkas-berkasnya di atas meja lalu mematikan laptop. Gegas berdiri untuk menemui Kama dan Kalila, tapi karena tak hati-hati kakinya tersandung kaki meja. Wanita itu hampir saja tersungkur kalau tak cepat di tangkap oleh Hugo.
“Kamu gak papa?”
“Makasih, saya gak papa.”
“Lain kali hati-hati.”
Fatih hanya diam di posisi. Dia tak tau harus apa dan bagaimana. Hatinya sempat khawatir kala melihat Kaina hampir jatuh, tapi bersyukur Hugo dapat menolong. Namun, ada rasa panas di dada melihat adegan dimana calon mantan istri dipeluk oleh saudara sendiri.
__ADS_1
“Bisa tolong gendong mereka ke kamar, Mas?” tanya Kaina.
Fatih mengangguk.
“Biar aku bantu angkat Kama,” sela Hugo.
Ketiganya melangkah menuju ruang tengah.
Sebelum ke kamar, si kembar berpamitan pada Fadilah dan Suci lalu Kama digendong Hugo dan Kalila di gendong Fatih menuju kamar.
“Kita bobok di kamar ayah sama bunda, ya,” pinta Kama.
“Kita tidur di kamar kalian aja,ya,” bujuk Kaina.
“Tapi kita maunya bareng sama ayah,” rengek Kalia.
“Mendingan di kamar kalian, dong. Banyak bonekanya di sana,” timpal Hugo. Sepertinya pria itu tak rela jika Kaina satu kamar dengan saudara tirinya.
“Hhhaaa aaa,” si kembar mulai merajuk.
“Iya, kita tidur di kamar ayah dan bunda,” putus Fatih.
Terpaksa Hugo mengantarkan putranya ke dalam kamar di mana Kaina dan Fatih pernah menghabiskan waktu bersama. “Papa keluar.”
“Makasih, Go,” pinta Kaina.
Hugo cuma mengangguk dan langsung pergi.
Kaina, dengan berat hati menutup pintu kamar itu. Kedua anaknya sudah berbaring dengan nyaman di tengah-tengah kasur.
“Nanti kalau mereka sudah tidur, biar saya yang pindah,” jelas Fatih sedikit berbisik.
“Gak usah, Mas,” larang Kaina. “Kamu tidur aja di sana sama mereka nanti saya susul. Saya masih mau ngerjain laporan dulu.”
"Kamu bisa pakai meja yang biasa saya pakai," kata Fatih.
"Iya, Mas." Kaina meletakkan laptopnya di meja kecil yang ada dekat jendela.
Fatih sendiri berlalu ke kamar mandi untuk mencuci muka, sedangkan Kaina menemani si kembar sampai terlelap. Ditariknya selimut untuk menghangatkan kedua anaknya dia pun beralih ke meja tadi.
Fatih keluar dari bilik air dan langsung merebahkan badan di atas kasur. Pria itu mencoba memejamkan mata, tapi entah kenapa sulit sekali rasanya. Sesekali di lihatnya sang istri yang tampak sibuk dengan pekerjaan.
Namun, apa yang dilihat Fatih tak sesuai kenyataan. Kaina sendiri hanya pura-pura menyelesaikan laporan sekedar untuk menghindari sang suami. Dirinya tak dapat fokus meski sudah di coba.
__ADS_1
Begitu sepinya malam mereka lalui bertemankan detak jam di dinding. Hingga pukul satu dini hari, Kaina menyerah. Dia memutuskan untuk merebahkan diri di atas sofa bed. Diliriknya Fatih nan tampak tertidur, wanita itu pun yakin kalau suaminya sudah pulas.
"Kenapa gak tidur di kasur, Kai?" tanya Fatih.
Ibu si kembar tampak kaget dan langsung mendudukkan diri. "Ngak papa, Mas. Saya tadi takut bikin anak-anak bangun."
Fatih turun dari ranjang menghampiri sang istri. "Kalau kamu gak nyaman ada saya di sana, biar saya yang tidur di sini."
"Bukan gitu, Mas, saya tadi beneran takut bikin anak-anak kebagun aja."
Tak mau mendengar alasan dari mulut istrinya, tanpa permisi Fatih megangkat Kaina untuk dipindahkan ke atas kasur.
"Mas," pekik ibu si kembar.
"Ssuutth jangan berisik! Nanti Kama sama Kalila bangun."
Kaina menundukkan wajah karena dia yakin kini pipinya yang terasa panas pasti bersemu merah. Hingga Fatih membaringkan tubuhnya di atas kasur, tanpa sengaja mata mereka bertemu pandang. Jujur baru kali ini mereka merasakan debaran yang sama.
Pelan tapi pasti entah sadar atau tidak, Fatih memajukan wajahnya hingga lebih dekat dengan wajah sang istri. Kaina yang merasakan deru nafas suaminya di pipi reflek memejamkan mata.
Dua bibir akhrinya bertemu jua. Rindu yang sempat terkurung di dalam dada kini terbang berhamburan merayakan kebebasannya. Untuk sebentar saja biarkan dua insan itu menikmati cumbuan mereka yang pelan tapi akhirnya sedikit menggebu. Seakan lupa akan perpisahan yang sudah di depan mata, Fatih sudah menindih tubuh istrinya.
Hingga rengekkan Kama membuat pasangan yang masih sah itu terkejut dan langsung salah tingkah.
"Biar saya tidur di kamar mereka aja," kata Fatih. Tanpa menunggu balasan dari istrinya lelaki itu langsunh keluar dari kamar.
Kaina sendiri berkali-kali memukul kepalanya. Dia merasa bodoh sempat terbawa akan suasana. "Bego, bego, bego! Kenapa sampai menikmati segala sih," gumamanya. "Harusnya tadi pas di gendong aku nolak, tapi malah keenakan."
Wanita itu menyesali apa yang sudah terjadi. Namun, jauh di palung hatinya dia merasa senang sekaligus bahagia hingga matanya terpejam dengan mudah menuju alam mimpi yang indah.
...🍍🍍🍍🍍...
"Kenapa gue nafsu banget pengen cium dia." Fatih mengumpat dirinya sendir kala berada di kama si kembar. "Harusnya gue bisa nahan diri."
Dihempaskannya badan di atas ranjang sambil menerawang langit-langit kamar. Sebuah seyuman tipis terbit di bibirnya yang basah. Sisa-sisa pangutan mereka masih terasa hingga lelaki itu mencoba menikmatinya dalam bayangan.
"Apa sebenarnya yang gue rasakan?" Fatih bertanya pada dirinya sendiri. "Apa hanya sebatas keinginana semata atau ada sebuah rasa?"
Hingga tanpa sadar dia juga mulai mengistirahatkan mata dan badan yang terasa lelah.
...----------------...
Hayo... Ngaku! Siapa yang ikut senyum-senyum?"
😍😘🥰😚😋😝🙈🙊
__ADS_1