
Merasa wanita ini sangat ingin sekali bertemu dengan ayahnya, Fatih mengirimkan pesan pada Fadillah. Suasana hening sejenak. Merasa tak enak, Kaina membuka suara. “Mas, kalau mau istirahat silahkan saja. Saya gak papa kok sendiri di sini.”
Fatih berpikir sejenak lalu barulah dia bertanya, “Kalau boleh saya tau, ada perlu apa kamu dengan Bapak?”
“Maaf, Mas, saya gak bisa cerita. Maunya langsung ngomong sama Pak Fadilah saja.”
Merasa paham, pria itu tak lagi mengajukan pertanyaan. “Kalau gitu saya temani kamu di sini.”
“Terima kasih. Maaf kalau mengganggu waktunya.”
“Gak kok, kebetulan saya juga lagi nungguin Bapak.”
Dua orang asing itu akhirnya sama-sama membisu. Tak ada percakapan atau obrolan lain untuk memecahkan sunyinya suasana. Hingga derasnya hujan mulai reda, detik waktu sampai terdengar di ruangan itu saking senyapnya mereka dalam pikiran masing-masing.
Tepat pukul sebelas malam, deru mesin mobil Fadillah terdengar masuk garasi. Fatih segera berdiri untuk menemui ayahnya. “Tunggu di sini,” katanya sebelum melangkah.
Kaina hanya mengangguk lalu menatap punggung lebar itu menjauh dari hadapan.
“Kok malam pulangnya, Pak?” sapa Fatih.
“Ada banjir di jalan tadi jadi gak bisa lewat. Akhirnya kita tunggu sebentar sampai airnya surut,” jawab Fadilah. “Eh, kata kamu tadi Bapak ada tamu, sekarang orangnya masih ada?”
“Masih. Dia sampai hujan-hujanan ke sini. Ada apa,sih?”
“Mana Bapak tau.” Orang tua itu langsung melebarkan langkahnya memasuki rumah di ikuti sang putra dari belakang juga asistennya.
Kaina yang mendengar derap langkah seseorang mendekat, langsung berdiri untuk menyambut.
“Loh, Kaina,” sapa Fadillah. “Saya pikir siapa. Ada apa malam-malam kemari?”
Sebelum menjawab pertanyaan itu dia terlebih dahulu mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Maaf, saya datang di waktu yang tidak tepat. Tapi ada hal yang sangat penting untuk saya bicarakan dengan, Bapak.”
“Duduk,” ajak Fadilah ketika dirinya mendudukkan diri. “Hal penting apa?”
“Apakah penawaran yang Bapak berikan waktu itu masih berlaku?”
“Yang mana?” keningnya mengerut. “Menikah dengan putra saya?”
“Bukan!” sanggah Kaina cepat. “Bantuan yang ingin Bapak berikan sebagai balas budi.”
“Oh, itu. Tentu saja masih. Kamu butuh bantuan apa dari saya? Katakan!”
__ADS_1
Mulailah ibu malang itu menceritakan segala kerumitan hidupnya. Dari hak asuh sang putra yang harus berpindah tangan ke ayah biologisnya, adik yang mendekam di penjara demi meminta haknya kembali, sang ibu yang harus dirawat akibat serangan jantung, dan terakhir malam ini hak asuh putrinya juga diambil seseorang dengan cara yang licik.
Fadillah dan Fatih yang mendengarkan kisah menyedihkan itu, merasa iba dengan sosok yang kini tengah tersedu-sedu meminta pertolongan pada mereka.
“Saya akan lakukan apapun yang Bapak minta asalkan anak, ibu, dan adik saya bisa kembali ke pangkuan saya,” tutur Kaina.
Fadillah memajukan sedikit badannya lalu menepuk pelan punggung tangan wanita nan sudah menolongnya waktu itu. “Sudah, tenangkan dirimu.”
“Hanya Bapak satu-satunya harapan saya. Saya sudah tak tahu harus mengadu kemana.”
“Iya, saya mengerti. Kamu sudah makan?”
Yang ditanya cuma diam sambil menyeka linangan air mata di pipi.
“Makan dulu di sini. Saya dari tadi mendengar perut kamu keroncongan.”
“Maaf, Pak.”
“Gak papa. Ikut bibik ke dapur dan isi perut dulu. Jangan sampai kamu sakit nantinya.”
“Terima kasih, Pak.” Ia mengikuti langkah ART di rumah itu menuju dapur.
Kepergian Kaina, Fadillah mengajak sang putra kedua bicara empat mata di ruang kerjanya.
“Dia wanita yang sudah menolong Bapak waktu itu namanya Kaina dan sekarang dia datang membutuhkan bantuan.”
“Lalu?”
“Kamu jangan pura-pura gak tau, Tih. Ingat apa yang kita bicarakan kemarin.”
“Maksud Bapak saya harus menikahinya?”
“Bagus kalau kamu ingat.”
“Pak, kalau memang ingin balas budi, ya, sudah bantu saja dia. Gak perlu saya harus menikahinya.”
“Tapi Bapak mau kamu dan dia menikah, baru Bapak akan bantu dia menyelesaikan semua permasalahannya,” tekan Fadillah.
Fatih tertawa. “Bapak, ini lucu. Maunya balas budi. Ketika di minta pertolongan, tapi pakai syarat. Artinya, Bapak gak ikhlas bantu dia. Kalau gitu gak usah dibantu aja.”
Fadilah tetap memasang wajah seriusnya. “Gak ada yang lucu. Nantinya kamu yang akan menyelesaikan semua masalah dia.”
__ADS_1
Sang anak mengerutkan dahi. “Loh, kok saya? Bapak yang punya hutang budi kenapa saya yang harus membayar.”
“Kamukan anak Bapak. Gak mungkin dong Bapak menikahi dia. Gak pantas.”
Fatih mengurut kepalanya. “Gini aja deh, Pak. Aku bakalan bantu dia sebagai balas budi, tapi gak dengan menikahinya.”
“Kita lihat saja nanti.” Lelaki yang masih tangguh di usia senjanya itu berdiri dari sofa, kembali ke ruang tamu.
Fatih menyusul bapaknya sambil berkata, “Maksudnya apa, Pak?”
Fadillah tak menjawab. Dia terus berjalan dengan tongkat basinya nan terdengar beradu dengan lantai. Tiba di ruang tamu ternyata Kaina sudah duduk kembali di sana.
“Sudah selesai saja makannya?” Fadilah menyapa sambil duduk.
“Sudah, Pak. Saya gak selera makan sebelum Bapak memberikan jawaban atas permintaan saya.”
Fadilah menatap anaknya lalu beralih ke wanita yang tertunduk pasrah di hadapan. “Begini Kaina, sesuai dengan permintaan saya di awal, saya mau kamu dan putra saya ini menikah.”
Kaina mengangkat kepalanya sambil bertanya, “Kenapa harus begitu, Pak?”
“Permasalahan kamu cukup berat. Jika ingin semuanya saya selesaikan maka kamu harus menjadi menantu saya. Kalau tidak, maaf saya tidak bisa memenuhi semuanya.”
Lagi-lagi, Kaina digantung harapan.
“Silahkan kamu pikir-pikir dulu atau kalau mau bicara dengan putra saya silahkan. Saya permisi ke kamar, mau bersih-bersih.” Fadillah bangkit dari sofa, tapi Fatih menahannya.
“Pak, gak bisa gitu dong. Kenapa Bapak malah semakin membuat dia tersudut begini? Kasihan loh, Pak. Bantu saja sebagai balas budi, gak usah bertele-tele.”
“Saya mau, Pak,” ucap wanita itu dengan penuh keyakinan. Membuat Fatih kaget dan langsung menatapnya dengan tak percaya.
“Tuh, Kaina aja setuju. Artinya sekarang keputusan ada di tangan kamu, Tih. Nasibnya tergantung pada keputusanmu.”
Fatih merasa kalah. Dia melepaskan sang ayah lalu menatap Kaina dengan raut wajah yang sulit dijelaskan.
“Maaf, Mas,” pinta Kaina.
“Kenapa kamu malah setuju?” kesal Fatih.
“Lalu saya harus apa, Mas, menolak? Jelas-jelas saya datang kesini menginginkan sebuah bantuan. Lalu dia turun dari sofa beralih ke lantai dan bersimpuh di hadapan Fatih. “Saya mohon, Mas, tolong saya, bantu saya. Terima saja pernikahan ini dan saya akan menjadi istri yang baik buat, Mas.”
“Mbak, bukan itu masalahnya.”
__ADS_1
“Lalu apa, Mas?” ratapnya.
Yang ditanya hanya mengurut pelipis merasa pusing akibat masalah wanita itu kini dia ikut terkena imbasnya.