Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 83


__ADS_3

Sidang putusan perceraian semakin dekat, membuat Kaina dan Fatih sama-sama mulai merasa gelisah. Tidur tak nyenyak, makan tak enak, dan hati gundah gulana. Berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing, tapi ternyata pikiran tak bisa fokus. Hingga membuat ibu si kembar mengalami demam akibat begadang.


“Biar saya saja yang jemput dan antar anak-anak ke sekolah,” kata Hugo.


“Makasi, ya, Nak Hugo,” ujar Dina. 


“Tapi Kaina gak papa kan, Bu? Sudah dibawa ke Rumah Sakit.”


“Cuma demam biasa. Kaina-nya gak mau minum obat jadi ibu bikinin obat herbal saja. Alhamdulillah sudah mendingan. Mungkin besok sudah sembuh.”


“Syukurlah. Kalau begitu saya dan si kembar jalan dulu,” pamit Hugo.


“Iya, hati-hati di jalan.”


Kepergian cucunya, Dina kembali menemui sang putri di kamar. “Gimana, Kai?”


“Masih pusing aja sih, Bu, tapi udah enakan,” terang Kaina.


Dina membuang nafas panjang. “Kita periksa saja, yuk. Biar cepat sembuh dan bisa hadir di persidangan”


“Bisa kok, Bu. Lagian sidangnya dua hari lagi, aku pasti sembuh.”


“Ya, sudah.” Dina pun pasrah. “Mau makan apa? Biar ibu masakin.”


“Apa aja, Bu.” Kaina yang sedikit lemas merebahkan badannya kembali.


“Ibu tinggal ke dapur.”


Kaina mengangguk. Kepergian ibunya entah kenapa dia merasa sedih dan tak terasa air mata mengalir jatuh membasahi pipi. Di redamnya tangisan dengan bantal hingga lelah ibu tunggal itu pun tertidur.


...🍒🍒🍒🍒...


Hari ini, Kaina merasa badannya sudah mulai membaik. Dipaksakan diri untuk mengantar si buah hati ke sekolah. Ketika hendak berangkat, mobil sedan yang tak asing memasuki pekarangan rumah. Membuat jantungnya berdebar kencang.


“Pagi, Kai,” sapa Fatih.


Dahi Kaian mengernyit heran. “Pagi. Tumben, Mas, pagi-pagi sudah kesini.”


Fatih tersenyum sekilas lalu menyapa Kama dan Kalila. “Mau berangkat sekolah?”


“Iya, Yah,” jawab Kama.


“Kita sama Ayah aja, ya,” kata Kalila.


“Sama Bunda aja, Sayang,” sela Kaina. “Ayah pasti buru-buru mau ke kantor.”


“Yyyaahhh,” rengek si kembar.”

__ADS_1


Tiba-tiba Dina keluar dari rumah. “Loh, ada Nak Fatih. Mari masuk.”


“Gak usah, Bu. Saya cuma mau bilang ke Kaina aja kalau persidangan besok dilakukan jam 9 pagi.”


“Oh. Beneran ini gak mau masuk dulu.”


“Lain kali, Bu. Saya harus buru-buru ke kantor.”


Asik bicara, mobil Hugo pun tiba di sana.


“Kalau begitu saya pamit.” Fatih menyalami tangan mertuanya.


Dina hanya membalas dengan senyuman ramah sedangkan Kaina tampak sedih dan kecewa.


Hugo yang turun dari mobil langsung melayangkan tatapan tajam pada saudara tirinya sedangkan Fatih memilih masuk mobilnya dan pergi dari sana. “Ngapain dia kesini?”


“Cuma mau bilang kalau besok persidangan kami digelar,” jelas Kaina. “Yuk, jalan.”


Setelah berpamitan pada Dina, Kaina membimbing anak-anaknya masuk mobil Hugo. Selama di perjalanan, wanita itu tampak merenung dengan raut wajah sedih.


“Kenapa?” tanya Hugo.


“Gak papa.”


“Masih gak enak badannya?”


“Gak, cuma tinggal pusingnya aja. Mungkin karena kurang tidur.”


“Gak usah. Saya tunggu anak-anak saja, kata mereka hari ini pulangnya lebih awal dari biasa.”


“Oh, ya udah. Nanti saya jemput.”


“Gak perlu, Go. Saya bisa pesan taxi online saja.”


Tak mau berdebat, Hugo hanya menganggukkan kepala. 


...🍆🍆🍆🍆...


Di kantor, Fatih hanya merenung di depan laptop. Dirinya merasa khawatir melihat kondisi calon mantan istri yang tampak sedikit pucat. Ingin hati bertanya, tapi kedatangan Hugo membuatnya mengurungkan niat itu.


“Pak,” Zuri muncul di balik pintu.”


Fatih tersadar dari lamunannya. “Ya?”


“Boleh saya masuk?”


“Silahkan.”

__ADS_1


“Bapak ngapain sih? Dari tadi saya ketuk-ketuk pintunya gak nyaut.”


“Gak ngapa-ngapain. Ada apa?”


“Dokumen yang diminta klien sudah beres belum? Saya dihubungi tadi.”


“Astaga.” Fatih mengusap kasar wajahnya. “Saya lupa.”


Si sekretaris memutar bola matanya. “Pak, udah deh, ngalah aja kenapa. Jujur dan akui kalau sebenarnya Bapak cinta sama Bu Kaina. Maaf kalau saya terkesan ikut campur, tapi saya gak bisa lihat Bapak begini terus,” ujar Zuri. “Batalkan perceraian kalian dan temui Bu Kaina.”


Fatih menggeleng. “Saya takut ditolak.”


Zuri tertawa kecil. “Apa karena Hugo mendekati Bu Kaina lalu Bapak pesimis begini?” 


Yang ditanya mengangkat kedua bahunya.


“Coba dulu, Pak. Jangan menyerah sebelum perang.


“Begitu, ya?”


“Jangan buat Bu Kaina menunggu, Pak. Saya yakin sekarang dia pasti berharap Bapak datang. Sebagai wanita kami biasanya akan malu untuk mengungkapkan hati terlebih dahulu.”


“Kamu tau dari mana kalau dia menunggu saya.”


“Karena kalian berdua sama. Sama-sama gak mau mengakui perasaan dan lebih suka menyiksa hati sendiri.”


Fatih terdiam di posisinya.


“Ya sudah, kirim saja berkasnya ke saya biar saya bereskan dokumen itu. Bapak kalau mau pergi silahkan.” Zuri mengepalkan tangannya. “Semangat berjuang, Pak.”


...🥭🥭🥭🥭...


Fatih membawa mobilnya menuju sekolahan si kembar. Dia yakin kalau jam segini sang istri pasti berada di sana untuk menjemput anak-anaknya. Dengan debaran di dada dia sudah tak sabar ingin mengungkapkan apa yang selama ini berusaha di tepisnya, yaitu cinta.


Tanpa disadari rasa itu sudah tumbuh seiring kebersamaan mereka. Hanya saja dia terlambat untuk merasakannya dan ketika tahu dia mencoba untuk mengingkarinya. Nyatanya dia tak bisa. 


Tiba di tujuan, tampak sekolah itu sudah mulai lengang. Fatih yang kebingungan mencoba mencari informasi pada satpam. “Kok sepi, Pak?”


“Oh, hari ini sekolah pulang lebih awal, Pak. Jadi, murid-murid sudah pada pulang semua. Tinggal yang belum dijemput orang tuanya saja, Pak.”


“Oh, terima kasih, Pak.”


“Iya.”


Kembali masuk mobil, Fatih memutar roda empatnya menuju kediaman Kaina. Selama di perjalanan, pengacara itu berusaha merangkai kata agar bisa menyampaikan isi hatinya yang selama ini dipendam. Namun, pas tiba di depan gerbang rumah sang istri, semangat yang tadi menggebu-gebu langsung hilang entah kemana ketika melihat Hugo membimbing sang istri masuk rumah.


Kecewa, sedih, marah dan cemburu menjadi satu membuat Fatih tak bisa berpikir dengan baik. Emosi yang sudah berusaha ditahan sejak kemarin melihat kedekatan adik dengan istrinya itu, membuat dia mengurungkan niat baik tadi. 

__ADS_1


Fatih memilih menunggu hari esok. Jika Kaina menghadiri persidangan maka dia akan mempertahankan rumah tangga mereka. Namun, jika istrinya itu tak datang artinya memang hanya dia yang memiliki rasa di antara mereka. Jadi, sebaiknya rasa yang ada di hati tak perlu diungkapkan lagi.


Bukan dia tak mau berjuang hanya saja dia ingin menjaga hatinya untuk tak terlalu berharap agar tak sakit karena kecewa.


__ADS_2