
“Bapak sudah janji sama kamu jadi mulai sekarang gak perlu berterima kasih. Cukup jadi pendamping yang baik dan setia hingga akhir hayat buat putra Bapak," ujar Fadilah.
Kaina mengangguk.
“Nak Fatih, ibu juga titip putri ibu. Semoga kalian bisa saling menjaga dan melengkapi. Kalau ada sikap atau tingkah laku Kaina yang kamu gak suka, bilang sama ibu biar ibu yang menegurnya.”
“Baik, Bu,” jawab Fatih.
“Kamu juga, Kai, hormati suami dan jangan lupakan tugas serta kewajiban sebagai istri. Ibu harap kalian berdua dapat menjaga ikatan suci ini. Walau kalian menikah dalam waktu perkenalan yang singkat jangan jadikan itu sebagai alasan untuk kalian berpisah nantinya karena banyak perbedaan”
Dua orang yang dinasehati itu saling tatap dan menganggukkan kepala.
“Kalau begitu saya pulang, Pak Fadilah.” Dina berdiri dari sofa.
“Baik, Besan. Sudah seharusnya, Anda istirahat.”
“Pak, saya juga pulang,” izin Adit menyalami pria tua itu.
“Jaga Ibumu, Dit.”
“Siap, Pak.”
Kaina dan Fatih ikut berdiri, mereka akan mengantarkan Dina dan Adit menuju mobil di halaman.
...🌿🌿🌿🌿...
Candra akhirnya tiba di rumah bersama sang putri. Kalila langsung diantar menuju kamar agar segera membersihkan diri bersama baby sitternya.
“Sus, bantu Kalila mandi dan ganti baju.”
“Siap, Pak,” jawab baby sitter.
Dari kamar anaknya, Candra menuju kamarnya dan sang istri.
“Kok lama, Mas?” tanya brigita dari anak tangga.
“Kamu pikir mudah berurusan dengan Pak Fadilah." Candra merasa kesal. Dia masuk kedalam kamar dan istrinya terus mengekor.
“Memangnya ada apa lagi? Bukannya kemarin beliau janji cuma untuk hari ini saja.”
“Tadi aku, Pak Fadilah, dan suaminya Kaina membahas beberapa hal tentang pembagian waktu untuk Kaina bersama anak-anaknya.”
“Terus?” Dahi brigita mengerut karena penasaran.
“Mulai minggu ini dan seterusnya, Kalila berhak bertemu dengan ibunya setiap weekend.”
“Kalau aku gak mau?” Brigita bertanya sambil berpangku tangan.
“Silahkan kamu bicarakan dengan Pak Fadillah.”
“Terus kamu setuju begitu aja, Mas?” marah si istri.
__ADS_1
“Aku harus apa? Aku gak mungkin bersikukuh menolak permintaan mereka,” jawab Candra pasrah.
“Gak bisa gitu dong. Sudah jelas hak asuhnya Kalila jatuh ke tangan aku. Jadi, aku berhak memutuskan kapan dia bertemu atau tidak dengan ibunya.”
Candra melepas dasi yang masih melekat di kerah baju. “Bri, aku capek sama urusan kantor. Jadi kalau kamu mau protes silahkan temui Pak Fadilah. Aku gak mau ikut campur soal ini.”
“Loh, Mas, kamu ini suami dan kepala rumah tangga seharusnya kamu bisa aku andalkan dong.”
“Bri, kamu ambil hak asuhnya Kalila dengan cara licik, jadi jangan harap kamu benar-benar bisa memilikinya,” tekan Candra. “Lagian sekarang kita berurusan dengan Pak Fadilah, aku benar-benar angkat tangan. Tunggu saja surat pengadilan datang kalau sebentar lagi Kaina akan menggugat kamu dan mengambil kembali anaknya.” Setelah berkata, Canda segera masuk ke kamar mandi dan membanting pintu sebagai pertanda kalau dia sedikit emosi dengan sikap sang istri.
“Sial!” umpat Brigita. “Bisa-bisanya Kaina jadi menantunya Fadillah Hutama. Kali ini aku sudah gak bisa lagi menekannya.”
...🌹🌹🌹🌹...
Tiba di kamar mereka, pengantin itu sama-sama mendudukkan diri di pinggir kasur.
“Mas, dengar perkataan ibu tadi kok saya merasa tersentil, ya,” kata Kaina.
“Maksud kamu?”
“Saya jadi merasa bersalah sama ibu dan bapak.”
“Terus?”
“Saya gak mau dosa, Mas. Selama pernikahan kita berjalan saya bakalan melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai istri dengan baik.”
Fatih menatap wanita di sampingnya. “Kamu serius?”
Kaina mengangguk.
Ibu tunggal itu membuang nafas kasar. “Kalau saya menolak memangnya saya punya alasan apa? Yang ada saya malah dapat dosa. Saya gak mau, Mas, menodai pernikahan ini. Saya takut nanti Allah makin memberikan saya ujian di kehidupan ini. ”
“Siapa yang menodai pernikahan sih, Kai?”
“Ya, saya takut aja nanti Mas kayak yang di novel-novel itu loh. Status aja yang suami istri tapi kitanya malah kaya orang asing.”
Fatih tertawa lepas. “Kamu suka baca novel?”
“Gak juga, cuma sekali-kali.”
Lelaki itu memutar badannya menghadap istri barunya. “Kamu gak perlu khawatir, saya akan menjalankan kewajiban sebagai suami selama pernikahan ini berjalan. Seperti kata ibu tadi, kita akan menjaga ikatan suci ini sampai waktu perceraian tiba.”
“Alhamdulillah kalau gitu. Artinya saya gak perlu tidur di sofa atau kamu tidur di kamar lainnya,” kekeh Kaina.
“Maksud kamu kayak di novel?”
“Hahaha, begitulah.”
Diacaknya rambut sang istri lalu berkata, “Sekarang saya mau mandi, kamu siapin baju. Katanya mau jadi istri yang baik.”
“Oke.” Kaina gegas turun dan melangkah ke lemari.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong kewajiban istri, artinya boleh dong malam ini saya minta hak saya?” Fatih sengaja menggoda wanita itu.
“Kamu serius, Mas?” Kaina berbalik menatap Fatih
“Lah, tadi yang ngomongnya yakin banget siapa? Sekarang pas di tagih kayak gak rela gitu.”
Ibu si kembar berjalan ke arah suaminya dengan satu stel pakaian Fatih di tangan. “Bukan gitu, saya pikir gak bakalan sekarang.”
“Mau besok atau sekarang sama aja.”
“Heheh, gitu, ya, Mas.” Kaina merasa canggung dan malu.
Fatih berdiri menerima baju dari istrinya sambil berkata. “Bercanda doang. Belum juga di apa-apain mukanya udah tegang gitu. Dah, saya mau mandi. Kamu kalau mau tidur dulu silahkan.”
“Nanti aja. Kita ngobrol-ngobrol dulu, ya.”
“Boleh, deh.”
Hanya lima belas menit Fatih keluar dari kamar mandi sambil menggosokkan handuk di rambutnya yang basah.
“Sini, Mas saya bantu,” ajak Kaina di pinggir kasur. Jadilah suaminya itu duduk di bawah karpet.
“Mas, saya boleh tanya gak?”
“Apa?”
“Tadi Hugo sempat ngomong kalau kamu itu, maaf.” Merasa tak enak Kaina berusaha mencari kata yang pas. “Gak bisa punya anak. Emang benar?”
“Iya, kenapa?”
“Gak papa, cuma mau tau aja. Kok bisa?”
“Dulu waktu masih muda saya kan suka motoran. Jadi saya pernah kecelakaan, gak parah sih tapi memang cedera dikit. Terus semua berjalan baik-baik saja hingga saya menikah dan setahun berumah tangga kok istri gak hamil-hamil. Kami pergi ke dokter buat periksa kesuburan. Dari sana ketahuan kalau sistem reproduksi saya gak berjalan baik gara-gara kecelakaan waktu dulu.”
“Gak diobati gitu, Mas?”
“Sudah. Setahun saya berjuang, tapi karena istri saya gak bisa terima dia milih pisah. Karena dia gak bisa bahagia sama saya jadi saya setuju untuk kami bercerai. Sejak saat itu saya gak niat lagi mau nikah.”
“Kamu takut kecewa?”
“Bisa dibilang gitu. Pernah bapak jodohkan saya dengan anak teman bisnisnya. Saya langsung jujur aja sama mereka soal kondisi ini.”
“Terus?” Kaina terus saja mengajukan pertanyaan dengan tangannya yang tak berhenti mengeringkan rambut Fatih. Sesekali dia berikan pijatan di kepala itu agar terasa lebih ringan.
“Awalnya mereka bilang bakalan terima saya apa adanya. Mungkin pas di omongin ke keluarganya, perjodohan akhirnya dibatalkan.”
“Yang sabar, ya, Mas. Pasti suatu saat nanti ada wanita yang bisa terima kamu apa adanya.”
“Saya gak mau berharap, Kai.” Fatih merasa rileks saat jari-jemari Kaina mengurut kepalanya.
“Jangan gitu, Mas. Hidup ini harus ada harapan. Besok saya cariin obat herbal, ya. Siapa tau manjur loh.”
__ADS_1