
Pagi ini, selesai sarapan Candra menghubungi Kaina yang sedang menemani Kama dan Kalila bermain perosotan di halaman rumahnya Fadilah. Lelaki itu ingin mengajak putrinya jalan-jalan esok hari. Waktu yang sangat tepat bagi ibu si kembar karena dia tak perlu mencari alasan untuk bisa balik hari ini.
"Mas, nanti sore kami pulang, ya," katanya pada Fatih.
"Kenapa?" Fatih yang menemani si kembar bermain menghampiri istrinya.
"Besok pagi Candra mau jemput Kalila. Katanya mau di ajak jalan."
"Kenapa gak jemput kesini aja?"
"Hhmm… katanya gak enak," kilah Kaina.
"Bilang aja sama dia buat jemput kesini dan besok kita sekalian bisa ikut."
Ibu tunggal itu menggaruk kepala. Merasa binggung cara menjelaskan pada calon mantan suami kalau dia mulai terganggu akibat ciuman mereka semalam. Meski sudah berusha bersikap biasa, jujur Kaina tak dapat meyembunyikan kegugupannya.
"Besok Candra mau jalan sama istrinya. Saya takut ganggu mereka kalau kita ikut," tutur Kaina.
Fatih membuang nafas panjang. "Oke, kalau gitu bawa anak-anak ganti baju. Kita jalan-jalan sekarang biar nanti sore bisa langsung saya antar pulang."
Kaina mengelus dada merasa lega. Segera membawanya Kama dan Kalila ke kamar untuk bersiap-siap.
Mendengar percakapan adiknya bersama ibu si kembar, Hugo memutuskan untuk membiarkan mereka menghabiskan hari ini bersama Kama dan Kalila. Dia sendiri sudah mempunyai rencana lain untuk bisa menghabiskan waktu bersama sang putra dan Kaina.
...🍈🍈🍈🍈...
“Kemana kita?” tanya Fatih ketika membawa mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
“Wahana permainan salju,” sorak Kama dan Kalila.
“Oke kalau begitu. Kita meluncur ke sana.”
“Hhhoorree.” Si kembar bersorak riang.
“Jangan lama-lama tapi,” sela Kaina.
“Kenapa?”
“Saya alergi dingin, Mas.”
“Yaudah nanti kamu lihatin saya sama anak-anak main dari jauh.”
Mobil yang membawa mereka pun tiba di area parkiran. Semuanya turun dan melangkah bersama menuju loket pembayaran. Pas masuk hawa dingin lasung terasa membuat Kaina langsung menggosok hidungnya.
__ADS_1
“Yakin gak mau ikut?” tanya Fatih.
Kepala ibu si kembar menggeleng. “Ini aja hidung saya udah mulai geli.”
“Ya udah, kamu tunggu di restoran aja gimana?”
“Gak, saya lihat dari tepi ini aja. Nanti kalau Mas butuh bantuan gimana.”
“Iya juga sih.” Fatih membimbing Kama dan Kalila di sisi kanan-kirinya. “Kita main apa dulu nih?”
“Seluncuran,” jawab si kembar dengan kompak.
“Let’s go.”
Si ayah sambung itu membawa anak-anaknya menuju seluncuran yang memiliki jalur nan berkelok-kelok. Kama dan Kalila memilih sledge atau papan seluncur untuk menikmati wahana itu.
Pertama kalinya bagi mereka membuat si kembar tersenyum gembira. Mereka terus mengulangi kegiatan meluncur itu sampai merasa puas. Kemudian keduanya pun tertarik ingin mencoba belajar ski.
Dengan penuh semangat Fatih menemani mereka meluncur menggunakan papan ski. Didampingi oleh snow ranger akhirnya Kama dan Kalila pun berhasil meluncur sendiri. Kedua anak itu tak dapat menggambarkan betapa senangnya mereka bisa menghabiskan waktu bersama Fatih.
Meski sang bunda tak mau bergabung, mereka sesekali melambaikan tangan. Terakhir ketika hendak menaiki chair lift, Fatih menjemput istrinya agar bisa ikut bersama dan Kaina pun terpaksa setuju.
Tak lupa Fatih mengabadikan beberapa momen lewat jepretan kamera ponsel. Semua tampak bahagia dan gembira. Meski Kaina sudah tak tahan dengan gelinya hidung dia berusaha menemani anak-anaknya untuk sebentar.
“Oke, deh,” jawab Kama.
“Kita makan makanan yang hangat, ya, Kai, biar kamu lebih enakan.”
Kaina hanya mengangguk setuju sambil menggosok kedua lengannya. Tiba food-court yang masih berada di wahana itu. Fatih memesankan empat mangkok bakso dan juga coklat panas untuk menjaga tubuh mereka tetap hangat.
“Mau tambah jeketnya?” Fatih bertanya pada istri yang sebentar lagi akan menjadi mantan.
“Gak udah, Mas, ini udah mendingan.” Kaina menjawab setelah menyeruput coklat panasnya.
“Habis ini kita kemana?” tanya Kalila.
“Kita pulang, ya,” ajak Kaina.
“Yyaaah,” rengek si kembar.
“Bunda mau tiduran dalam selimut habis ini.”
“Ya, udah kita pulang tapi main di rumah ibu aja sama Ayah. Biar bunda bisa istirahat, kasihan nanti kalau bundanya sampai demam,” putus Fatih.
__ADS_1
“Oke deh, tapi kita boleh beli mainan dulu gak, Yah?” kata Kama.
Fatih mengangguk sambil tersenyum.
...🥜🥜🥜🥜...
Tiba di rumahnya, Kaina langsung masuk ke dalam kamar dan bergelung dalam selimut. Dina yang merasa hera dengan putrinya menghampiri menantu nan duduk di ruang tamu. “Kaina kenapa?”
“Kayaknya kednginan, Bu, soalnya kami tadi habis main di wahan salju,” jawab Fatih.
“Oh, pantes dia langsung ke kamar. Ibu tinggal, ya, mau bikinin teh hangat buat Kaina. Takut nanti dia bisa demam. Kaina itu gak bisa sedikit makan atau kena dingin pasti langsung demam.”
“Maaf, Bu, saya gak tau itu. Tadi Kaian sempat bilang sih cuma saya suduah terlanjur janji sama anak-anak.”
“Gak papa. Nanti ibu bikini teh jahe pasti mendingan.” Dina beranjak dari duduknya menuju dapur.
Fatih pun menemani Kama dan Kalila membuka mainan yang baru saja mereka beli ketika pulang tadi.
Hingga sore menjelang, Fatih yang ingin pulang pun berpamitan pada anak sambungnya. “Ayah pulang, ya.”
“Kenapa gak nginap di sini aja sih, Yah?” tanya Kalila.
“Besok Ayah harus kerja.”
“Ya udah deh, tapi sering-sering ke sini, ya,” kata Kama.
“Iya.” Putra kedua Fadilah itu berdiri dari duduknya menemui Dina yang sedang membersihkan taman di depan rumah. “Bu, saya pamit pulang.”
“Loh, kok, buru-buru.” Dina menghampiri menantunya itu. “Gak makan malam di sini?”
Fatih merasa sungkan untuk menolak, tapi dia juga tak enak jika terlalu lama. “Maunya begitu, tapi saya ada pekerjaan yang harus diselesaikan, Bu.”
“Oh. Titip salam buat bapak kamu, ya.”
Fatih megangguk.
“Gak pamit dulu sama Kaina?”
“Bukannya dia lagi tidur, Bu.”
“Lihat aja dulu ke kemaranya, siapa tau sudah bangun.”
Kaki terasa berat melangkah ke dalam, tapi hati ingin sekali memastikan kondisi wanita itu. Tak mau ragu-ragu Fatih memutuskan menemui istrinya. Dibuka daun pintu kamar Kaina tampak ibu si kembar terlelap dengan nyenyak. Di urungkan niat untuk berpamitan dan kembali ditutupnya pintu.
__ADS_1
Tiba di depan rumah setelah izin pada Dina, dia langsung masuk kedalam mobil dan menjalankannya menuju kediaman sang ayah.