
Fatih sampai di kediaman mertuanya. Tiba di teras dia langsung disambut oleh Dina dengan wajah penuh harap. “Mana Kaina, Tih?”
“Maaf, Bu, saya belum menemukannya. Tapi Ibu tenang saja anak buah bapak dan orang suruhan saya sudah bergerak untuk mencarinya," terang Fatih.
“Mudah-mudahan Kaina ketemu malam ini.”
Kepalanya mengangguk. “Oh, ya, Bu, saya datang ingin bertanya apakah Kaina berangkat pakai taxi online?”
Dahi Dina mengerut. “Perasaan Ibu katanya iya, tapi Ibu gak sempat lepas Kaina pergi soalnya Ibu sibuk di dapur siapkan bekal si kembar.”
Nafas panjang dibuang Fatih.
“Bunda berangkat sama Papa Hugo,” timpal Kama. Pria kecil itu muncul dari ruang tengah. “Emangnya Bunda masih belum pulang, ya, Bu?”
“Belum, sayang?” jawab Dina.
“Kamu yakin bunda pergi sama Papa hugo?” Fatih bertanya pada anak sambungnya.
Kama mengangguk. “Abang mau nemenin bunda nunggu taxi online di depan. Eh, ternyata bunda udah masuk mobil sama Papa Hugo. Jadi Abang masuk rumah lagi,” terang Kama.
“Makasih, ya, Nak. Ayah jemput Bunda dulu.”
“Iya.”
Kali ini Fatih tak mau diam begitu saja. Dipacunya mobil dengan kecepatan tinggi menuju apartemen sang kakak karena dia yakin saudaranya itu tengah berada di sana. Tiba di tujuan, kakinya di langkahkan dengan lebar agar bisa segera bertemu dengan Hugo.
Ting Ting
Bel huniannya berbunyi. Hugo yang sedang menenangkan diri di dalam kamar bangkit dengan malas. Bel semakin sering terdengar seolah memaksanya untuk segera membukakan pintu.
“Iya,” jawabnya dari dalam. “Gak sabaran amat, si-”
Bhug…
Satu bogem mentah tepat mengenai sudut bibirnya.
“Mana istri gue?” pekik Fatih.
Sambil memegangi rahangnya, Hugo mencoba berdiri dengan tegap.
“Dimana lo sembunyikan Kaina?”
“Hey, hey, eazy Bro, eazy.” Hugo berusaha menenangkan adiknya yang emosi.
“Cukup, Go, untuk kali ini gue gak bisa diam. Sekarang katakan! Dimana Kaina?” geram Fatih.
“Kaina gak ada di sini.”
__ADS_1
“Bohong!” Fatih kembali melayangkan pukulannya ke arah perut sang saudara tiri.
Hugo menahan rasa nyeri di ulu hati. “Sumpah, Kaina gak ada di sini,” katanya sambil memegangi perut.
Tak percaya, Fatih memanggil-manggil nama istrinya dan memeriksa semua ruangan yang ada. “Kai, Kaina ini aku. Ayo, keluar kamu gak perlu takut sama bajingan ini,” soraknya.
“Kaina sudah pergi,” ungkap Hugo.
Langsung Fatih menghampiri kakaknya itu dengan tatapan yang tajam.
“Oke. Tadi gue emang sempat tahan Kaina di sini biar kalian berdua bisa cerai dan gue punya kesempatan buat deketin dia,” tutur Hugo. “ Tapi ternyata Kaina menolak perasaan gue karena dia mencintai lo. Jadi dengan ikhlas gue biarkan dia pergi.” Sesekali putra pertama Fadilah itu meringis menahan bekas pukulan adiknya. “Sorry, gue gak bermaksud apa-apa.”
Bhug…
Satu lagi, Fatih memukulkan kepalan tangannya ke rahang sang kakak. “Balasan karena lo udah kurung istri gue di sini.”
Tiba-tiba ponselnya yang ada di saku celana berdering. Fatih segera mengangkatnya. Menunggu orang yang ada di ujung telpon selesai bicara baru di jawabnya, “Oke, saya akan segera.”
“Di mana Kaina?” tanya Hugo.
“Lo gak perlu tau,” tunjuk Fatih di depan muka kakaknya. “Dan satu lagi, mulai sekarang jauhi Kaina karena dia masih istri gue.”
Hugo mengangguk paham. “Semoga istri lo baik-baik saja.”
Dari sana, Fatih segera meluncur ke alamat yang dikirimkan anak buah Fadilah. Tak peduli akan keselamatannya sendiri, dia memacu mobilnya dengan cepat. Rasanya sudah tak sabar untuk segera berjumpa dengan istri tercinta nan begitu dirindukan.
“Tunggu aku, Kai, tunggu aku dan kita akan hidup bahagia selamanya.”
...🥑🥑🥑🥑...
Tiba di satu Rumah Sakit, Fatih langsung menanyakan keberadaan istrinya di meja resepsionis.
“Pasien dengan nama Kaina ada di ruang perawatan B, Pak,” jawab petugas. “Dari sini Bapak tinggal lurus dan belok kiri. Pas di ujung, itu ruangannya.
“Terima kasih.” Dipercepat langkahnya menuju ruangan sang istri berada. Hingga tiba di sana pintu langsung di buka. “Kaina.”
“Mas Fatih,” balas ibu si kembar.
Gegas Fatih menghampiri dan memeluk istrinya. “Syukurlah kamu gak papa.”
Kaina yang masih bingung cuma mengangguk di punggung lebar suaminya.
“Kenapa kamu bisa sampai keserempet motor?” Fatih bertanya dengan raut wajah cemas.
“Dari rumah Hugo saya langsung ke pengadilan dan kata orang disana sidangnya sudah selesai. Lalu aku coba ke kantor kamu dan kejebak macet karena ada kecelakaan. Aku tiba di sana sudah mau sore lihat mobil kamu keluar dari parkiran aku pun mau nyusul. Eh, pas mau nyebrang aku di tabrak motor habis itu gak sadar deh.”
“Tapi gak ada yang sakit, Kan? Tangan sama kakinya gak ada yang patah atau luka?” Fatih memeriksa seluruh tubuh istrinya.
__ADS_1
“Alhamdulillah saya gak papa, Mas. Cuma tulang kering sedikit retak dan tadi kata dokter saya pingsannya lama. Jadi mereka terpaksa ambil darah untuk cek kesehatan karena kondisi saya sedikit lemah. Aku juga sudah di rontgen dan hasilnya baik-baik saja.”
Kembali, Fatih memeluk istrinya dengan erat. “Alhamdulillah, aku khawatir banget saat tahu kamu belum pulang dan sekarang ada di sini.”
“Emangnya, Mas cariin saya?” Kaina bertanya sambil melepas pelukan Fatih.
“Adit telpon aku, bilang kalau kamu gak pulang-pulang. Sampai ibu jadi khawatir karena takut kamu pingsan di jalan.”
“Oh.” Ibu si kembar itu menatap Fatih dengan heran. “Tunggu, ada yang aneh deh, dari kamu, Mas.”
“Apa, Kai? Biasa aja deh kayaknya.”
“Kamu sekarang ngomongnya pakai aku, biasanya saya.”
“Emang salah?”
“Gak sih. Terus, ngapain kamu cari saya, Mas?”
“Astaga, Kai, ya, jelas aku cariin kamu. Aku khawatir tau.”
“Khawatir kenapa? Bukannya saya sudah bukan istrinya kamu lagi.” Kaina tampak sedikit cemberut.
“Kata siapa?”
“Hhmm, saya.”
Fatih tertawa kecil sambil menggeleng. “Sampai kapanpun kamu akan tetap jadi istrinya Fatih Faeza.”
“Artinya, kita gak jadi pisah?”
“Gak, aku udah batalin perceraian kita.”
“Kenapa?”
Merasa gemas dengan tingkah sang istri, Fatih mencubit kedua pipi Kaina. “Karena saya cinta sama kamu, saya sayang sama kamu, dan saya gak mau pisah sama kamu. Puas?”
Merasa malu, Kaina menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Sekarang giliran kamu yang katakan! “Kenapa mau nyusul saya ke kantor kalau tau sidangnya sudah selesai?” Fatih menarik tangan istrinya.
“Cuma mau tanya hasil sidangnya,” elak Kaina.
“Bohong!”
“Ih, beneran.”
“Kata ibu kamu mau membatalkan perceraian kita. Artinya?”
__ADS_1