
“Cuma ini satu-satunya cara yang bisa saya lakukan demi anak-anak. Mereka separuh nyawa saya, Mas, jika sampai saya benar-benar berpisah dengan mereka maka mati jalan terakhir yang saya lalui.” Kaina berkata sambil menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada.
Fatih berdiri dari duduknya lalu berucap, “Sebaiknya kamu pulang. Supir pribadi akan mengantarkan.”
“Mas, tolonglah saya yang menyedihkan ini.”
Nafas kasar dibuang Fatih. “Maaf, beri saya waktu.”
Pasarah, Kaina bersujud di atas dinginnya lantai. Menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala rasa yang membuat hatinya lebam membiru. Fatih yang sudah berjalan menaiki anak tangga merasa iba mendengar raungan yang menyayat hati itu.
Namun, dia pun tak mau mengambil keputusan dengan gegabah. Baginya, pernikahan tidak pantas dilakukan atas dasar paksaan. Kaki panjangnya terus menaiki anak tangga satu persatu sembari memastikan Kaina diantarkan pulang oleh supir pribadi sang ayah.
...🌿🌿🌿🌿...
Fatih sedang mengendarai roda empatnya menuju kantor. Di tengah perjalanan mobilnya harus berhenti akibat kemacetan yang terjadi. Padahal biasanya jam-jam segini lalu lintas berjalan dengan sangat lancar.
Tampak orang-orang berlarian ke arah depan sana. Dia pun jadi penasaran. Ingin tahu apa yang terjadi, dibukannya kaca mobil hendak bertanya pada seseorang. “Ada apa,ya, Pak?”
“Itu, Mas, di depan ada tabrakan.”
“Tabrakan?”
“Saya juga gak tau gimana kronologisnya. Ini mau lihat.”
Ia memutuskan untuk menunggu jalanan kembali normal. Karena kerumunan semakin ramai akhirnya dia ikut melihat situasi yang terjadi. Kepalanya yang panjang berusaha mencuri pandangan ke tengah-tengah kerumunan. Terlihat darah segar masih mengalir dari jasad yang ditutupi dengan koran bekas.
“Ada apa sih?” Bertanya pada orang-orang sekitar.
“Itu, Mas, ada wanita yang sengaja menabrakan diri.”
“Maksudnya bunuh diri?”
“Sepertinya begitu.”
“Sudah tau identitasnya.”
“Nih, kebetulan saya sempat ambil vidio. Mas, mau lihat wajahnya?”
Ragu, tapi hatinya terusik ingin memastikan siapa kira-kira orang yang nekat melakukan hal serendah itu. Si pemilik ponsel memutar video yang di rekamnya. Hingga di detik kelima, mata Fatih menangkap siapa orang yang kini tergeletak tak bernyawa di jalanan.
“Itu,” bisiknya.
“Mas, kenal orangnya?” tanya si pemilik ponsel.
“Dia,” ragu-ragu untuk menjawab.
“Mendingan di pastiin dulu, Mas. Takut nanti salah orang.”
Badannya yang tinggi tegap berusaha membelah kerumunan. Hingga seorang petugas kepolisian menghadangnya. “Pak, saya mau memastikan mayat itu," kata Fatih.
__ADS_1
“Apakah, Anda, mengenalnya?”
“Bisa jadi.”
“Oke, silahkan.”
Bersama seorang petugas, Fatih dibimbing untuk melihat jenazah yang sudah dimasukkan ke dalam kantong mayat. Hingga petugas membuka zipper kantong berwarna hitam itu, Fatih membelalakan mata.
“KAINA!”
Dia berteriak dengan peluh bercucuran di dahi dan lehernya. Disadari dia baru saja mengalami mimpi buruk. Nafasnya yang tadi tersengal-sengak kini mulai beraturan. Detak jantung yang tadinya berdebar kencang kini kembali normal. Diusapnya wajah dengan kasar lalu dilirik jam digital yang ada di atas nakas.
Menunjukkan pukul empat pagi. Fatih membuang nafas kasar merasa lega hal buruk itu tak nyata terjadi. Dia turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan solat sunat. Membaca Alquran sambil menunggu adzan subuh berkumandang. Jujur matanya pun tak lagi dapat dipejamkan.
...🌴🌴🌴🌴...
“Pak,” sapa Fatih ketika tiba di meja makan.”
“Apa?”
“Saya minta alamatnya wanita kemarin.”
Fadilah yang sedang mengoles roti mengangkat satu alis sambil bertanya, “Buat apa?”
“Saya akan menikahinya. Kini saya perlu bicara dengannya.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Nanti saja di kantor. Saya buru-buru.”
Fadilah meraih ponselnya yang ada di samping piring lalu mengirimkan alamat rumahnya Kaina ke ponsel sang anak.
“Saya jalan, Pak. Assalamualaikum,” pamit Fatih. Tak lupa menyalami tangan sang ayah.
“Waalaikumsalam.”
Fatih memacu mobilnya menuju alamat yang tertera di layar ponsel. Akibat mimpi buruknya tadi pagi, dia merasa perlu bicara empat mata dengan Kaina. Jujur ada rasa takut di hatinya jika hal itu sampai benar terjadi. Karena jalanan yang lancar, tiga puluh menit dia pun tiba di kediaman keluarga Kaina.
Turun dari mobilnya, Fatih mengintip lewat celah pagar. Memastikan apakah ada orang di dalam rumah yang terlihat sepi itu. “Permisi,” panggilnya.
Tak ada jawaban. Namun, ia tak mau menyerah begitu saja. Diketukkannya gembok pengunci dengan bgian pagar agar tercipta suara yang dapat menarik si pemilik rumah. “Mbak!”
Kaina yang sedang sibuk di dapur gegas keluar rumah. Melihat siapa kiranya orang yang berisik sepagi ini. Keningnya mengerut ketika melihat pria semalam kini berada di depan mata.
“Boleh saya masuk?” Fatih bertanya.
Dianggukan kepala lalu pintu pagar pun dibuka agar pria itu dapat memasukkan mobinya ke halaman.
__ADS_1
“Masuk aja, Mas, saya buru-buru ke dapur takut masakannya hangus.”
“Iya.”
Fatih melangkahkan kakinya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling pekarangan rumah. Sangat jauh berbeda dengan tempat tinggalnya. Rumah ini minimalis tapi halamannya cukup luas dan ditumbuhi oleh berbagai macam pohon juga bunga. Membuat kesan asri dan nyaman langsung terasa.
Tiba di ruang tamu dia langsung mendudukkan diri. Tak lama Kaina pun datang dengan secangkir teh hangat.
“Diminum, Mas.”
“Terima kasih.”
“Ada apa? Pagi-pagi sudah kesini.”
Fatih tersedak ketika meneguk teh yang masih panas.
“Maaf, Mas,” pinta Kaina.
“Gak papa. Saya yang kurang hati-hati.” Diletakkan kembali gelas yang dipegang ke atas wadahnya. “Kamu gak papa? Maksud saya kamu baik-baik saja setelah semalam hujan-hujanan?”
“Alhamdulillah saya sehat. Pas sampai rumah saya langsung minum obat biar gak demam.”
“Syukurlah.” Fatih terus saja menatap wajah Kaina. Mencari raut kesedihan yang semalam sangat terpancar kini hal itu hilang tak berbekas. Bahkan wanita itu tampak baik-baik saja.
“Ada apa, Mas?”
Deru nafas panjang keluar dari mulut Fatih. Dia bingung harus mulai berucap dari mana. “Kamu gak sedih lagi kayak kemarin?”
“Kenapa memangnya, Mas?" Kaina balik bertanya. "Apa Mas berharap menemui saya pagi ini dengan linangan air mata seperti semalam? Ditambah dengan tampilan yang tak karuan?” Kaina berucap dengan lemah lembut, tapi kata-katanya bagaikan sindiran halus untuk pria yang duduk di hadapan.
“Bukan begitu. Saya pikir kamu masih terbawa suasana semalam.”
“Jujur, Mas, saya kecewa dengan Pak Fadillah dan juga Anda. Tapi saya sadar, satu-satunya tempat yang pantas untuk kita pintakan harapan hanyalah Allah SWT. Jadi, saya putuskan untuk menyerahkan segalanya pada Tuhan.”
Kepala Fatih tampak mengangguk lalu dia membuka suara. “Maksud kedatangan saya kemari ingin menyampaikan sesuatu.”
“Apa itu, Mas? Semoga saya tak diberikan harapan palsu.”
“Bukan! Setelah saya pikir-pikir, saya memutuskan untuk menyetujui permintaan bapak.”
“Maksud, Mas, menikah dengan saya?”
“Iya.”
“Mas, yakin?”
“Mungkin bisa dibilang kita sama-sama tak yakin dengan pernikahan ini, tapi ada satu alasan yang membuat kita sama-sama memilih pernikahan ini harus terjadi.”
“Boleh saya tau apa alasan Mas mau menikah dengan saya?”
__ADS_1
“Saya hanya ingin membantu.”
“Kalau terpaksa, gak usah, Mas.”