Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 97


__ADS_3

Selesai rapat dengan jajaran lain di kantor Firma hukumnya, Fatih pun kembali keruang kerja. Bersiap menerima klien yang ingin berkonsultasi. 


"Boleh saya panggil kliennya sekarang, Pak?" tanya Zuri. 


"Oh, ya, silahkan suruh masuk."


Zuri keluar, memanggil seorang wanita yang sejak tadi sudah duduk di kursi tunggu. "Mari, Bu, saya antar." Pintu ruang kerja Fatih dibuka dan gadis itu mempersilahkan klien bosnya untuk masuk. 


Fatih yang sibuk didepan komputer tak memperhatikan siapa tamunya hingga disapa barulah dia menoleh. "Jina."


Wanita itu tersenyum manis. "Apa kabar, Mas."


"Baik, silahkan duduk."


Jina mendudukkan diri di kursi depan meja kerja Fatih. 


"Jadi kamu klien saya!?" Fatih tak menyangka kalau mantan istrinya kini datang untuk memakai jasanya dalam sebuah kasus. 


"Bagaimana kabar kamu, Mas. Sudah lama kita gak ketemu setelah pisah."


"Baik. Sangat baik."


"Ya, sangat terlihat sekali dari wajah kamu."


"Ada yang bisa saya bantu?"


Nafas kasar dibuang Jina. "Begini, Mas, aku di tipu oleh suamiku sendiri.


Raut wajah Fatih menunjukkan rasa khawatir. 


"Dia bawa kabur surat-surat berharga rumah, mobil, buku tabungan hasil warisan dari orang tuaku. Makanya aku datang kesini mau minta bantuan kamu untuk melaporkannya ke polisi."


"Begini, Jina. Untuk sekarang saya belum menangani kasus, palingan cuma menerima konsultasi saja. Tapi kalau kamu mau, saya bisa alihkan ke rekan yang lain. Saya jamin mereka pasti bisa bantu mendapatkan kembali milik kamu."


"Apa gak bisa kamu jadikan aku pengecualian, Mas?"


"Sorry, Jina. Aku lagi sibuk sama bisnis. Jadi, untuk sekarang aku gak menangani kasus apapun."


Merasa kecewa, Jina menundukkan kepala. 


"Tapi saya akan pastikan kalau rekan saya nanti akan menangani kasus kamu sampai selesai."


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Mas."


"Hanya itu yang bisa saya lakukan."


"Oh, ya, boleh saya minta nomor kamu, Mas? Biar nanti mudah untuk di hubungi."


"Silahkan kamu hubungi sekretaris saya jika ada perlu sesuatu. Dia akan menyampaikannya pada saya."


"Baik. Kalau begitu aku pergi dulu, Mas. Salam buat bapak."


"Insyaallah, nanti saya sampaikan."


Jina tersenyum simpul lalu berdiri dan melangkah pergi. 


\=\=\=\=\=


Pulang dari kantor, Fatih singgah terlebih dahulu di rumah mertua untuk menjemput anak dan istri. Setibanya di ambang pintu, Kama dan Kalila langsung menghambur memeluk kakinya. 


"Biarin ayah duduk dulu, sayang," ujar Kaina pada anak-anaknya. 


"Gak papa, Bun, ayah juga kangen mereka," sela Fatih. "Udah pada mandi belum?"


"Udah dong," jawab Kalila. "Barusan aja."


"Pinter anak Ayah." Fatih mengacak rambut putri dan putra sambungnya. 

__ADS_1


"Gimana, Tih?" sapa Dina. "Sibuk di kantor?"


"Gak juga, Bu. Cuma meeting aja tadi terus terima klien yang mau konsultasi."


"Mau minum apa? Biar Ibu ambilkan."


"Gak usah, Bu. Nanti aku ambil sendiri aja."


"Biar aku aja," timpal Kaina. 


"Gak usah, Bun." Fatih menahan sang istri yang hendak berdiri. "Biar ayah aja."


Dina bahagia melihat putrinya mendapatkan pendamping yang penuh pengertian juga sangat menyayangi setulus hati. 


Kembali dari dapur, Fatih membawa segelas air putih lalu diletakkan di atas meja dan dia kembali duduk di samping sang istri. "Adit mana, Bu?"


"Ke supermarket. Sejak Kaina hamil dia keteteran kuliah sama urus supermarket."


"Ooh, nanti coba deh, aku bantu biar supermarket bisa di kembangkan. Soalnya Kaina pernah bilang mau buka cabang lagi."


"Gak perlu, Tih," tolak Dina. 


"Iya, Mas, jangan. Biar aku sama Adit yang urus soal itu," tambah Kaina. 


"Aku pernah bilang ibu sama Adit dan kamu gak boleh nolak apa yang mau aku kasih. Nanti aku gak mau kesini lagi loh, Bu."


"Eh, kok begitu?" Dina merasa serba salah. 


"Makanya serahkan masalah supermarket sama aku. Nanti aku cari orang yang kompeten di bidangnya buat urus marketing sama brendingnya juga keuangan. Supaya Adit bisa fokus kuliah."


"Ya, sudah, kalau gitu ibu nurut aja lah."


"Nah, gitu kan enak."


"Kamu bikin Ibu jadi gak bisa apa-apa, Mas," ujar Kaina. 


Kaina mengangguk. 


"Aku panggil anak-anak di depan dulu biar pamit sama ibu."


"Iya."


🍒🍒🍒🍒


Tiba di rumah, si kembar langsung berlari ke halaman belakang. Menyusul kakeknya yang sedang mengasih makan ikan di kolam. Kaina sendiri beranjak ke dapur memastikan menu makan malam nanti setelahnya barulah dia menyusul sang suami di kamar. 


"Mas."


"Ya, Bun," sahut Fatih dari kamar mandi. 


"Ponsel kamu bunyi."


"Angkat aja, Bun," sorak Fatih.


"Aku gak tau. Nomornya gak dikenal."


"Angkat aja, siapa tau penting."


Kaina menggeser tombol hijau di layar telpon suaminya. "Hallo?"


Namun, tak ada jawaban dari seberang sana. Hingga beberapa detik panggilan terputus. 


"Siapa?" Fatih tiba-tiba sudah berdiri di belakang istrinya. 


"Ih, kagetin, deh." Ibu hamil itu sedikit kesal. 


"Hehehe, maaf, Bun. Siapa yang telpon?"

__ADS_1


"Gak tau? Aku angkat gak di jawab terus mati."


"Salah nomor kali," ujar Fatih cuek. 


"Mungkin." Kaina berjalan ke arah lemari mengambilkan baju ganti untuk suaminya. 


"Bunda gak mandi?"


"Kamu tuh sekarang kok ikutan panggil aku Bunda sih, Mas."


"Biar mesra, Kai."


"Panggilan mesra itu sayang, honey, cintaku. Kalau manggil Bunda sama kayak anak-anak dong."


"Terserah aku dong, Kai, mau manggil apa."


Kaina memanyunkan bibirnya. 


"Mau mandi atau gak? Kalau iya aku siapin air panas dulu habis itu aku temani."


"Ngapain di temenin?"


"Bunda gak ingat kemarin hampir jatuh di kamar mandi?!"


Kaina menyengir. "Lupa."


"Makanya aku temani. Rasanya jantung Ayah mau copot pas Bunda tergelincir."


"Tapi untung ada kamu kan, Mas. Aku gak jadi jatuh."


"Iya, masih untung dan sekarang aku mau jagain kamu."


"Ya, deh. Aku nurut."


🍉🍉🍉🍉


Fatih menepati janjinya, yaitu membantu mewujudkan cita-cita sang istri untuk membuka kembali cabang supermarket. Belakangan dia pun sibuk meeting dengan beberapa orang kepercayaan. 


Semua rencana sudah disusun dengan matang. Tinggal pelaksanaan yang akan dipantau oleh Adit dan kaki tangannya. Fatih tak mau turun langsung sebab dirinya ingin fokus menemani sang istri dalam menjalankan masa kehamilan.


Apalagi selera makan Kaina sedang tinggi-tingginya. Mau ini, mau itu, membuat Fatih harus gerak cepat dalam mencari dan memesan jajanan yang diinginkan isang istri. Setiap sore jalan-jalan keliling kota menjadi agenda wajib yang tak boleh terlewatkan. 


Kini, waktunya benar-benar dihabiskan untuk keluarga. Fatih lebih betah di rumah daripada bekerja. Ke kantor hanya dari pagi hingga jam makan siang. 


"Bunda." Fatih memanggil sang istri ketika dirinya baru saja pulang. 


Dari arah dapur, Kaina berjalan untuk menghampiri ayah anak-anaknya. 


Satu kecupan diberikan Fatih di dahi dan di perut Kaina. "Masak lagi?"


"Iya. Tadi anak-anak minta di bikinin makanan favorit mereka."


"Makanan favorit Ayah gak dibikinin sekalian?"


"Bikin dong. Ganti baju dulu sana, habis itu kita makan."


"Bapak sudah pulang?"


"Tadi di telpon sama si kembar katanya masih di jalan."


"Ooh, anak-anak mana?"


"Pulang sekolah langsung main di halaman. Pasti sekarang udah pada kotor."


"Samperin, yuk!"


"Ayo!"

__ADS_1


Suami istri itu bergandengan tangan untuk menemui anak-anak mereka. 


__ADS_2