
Karena takut jam besuk habis, Kaina buru-buru ke kantor polisi terlebih dahulu. Tiba disana dia harus menunggu sebentar saat Adit di panggilkan.
Seseorang yang lewat di depannya tak sengaja menjatuhkan beberapa dokumen yang dibawa, gegas Kaina ikut membantu.
“Terima kasih,” ucap orang itu.
“Sama-sama, Mas. Lain kali hati-hati.”
Fatih mengangkat satu sudut bibirnya. “Saya buru-buru, kebetulan sekretaris gak bisa ikut. Jadi ribet sendiri deh.”
Kaina berdiri membantu Fatih menyusun dokumennya.
“Sekali lagi makasih.”
“Hanya pertolongan sederhana tak perlu berterima kasih.”
“Kalau begitu saya permisi.”
“Silahkan.”
Kepergian Fatih, Adit pun tiba dan Kaina dipersilahkan menemui adiknya.
“Gimana ibu, Kak?” tanya Adit.
“Alhamdulillah, ibu sudah melewati masa kritis dan sekarang sudah membuka mata.”
Adit mengusap kedua tangannya ke wajah seraya mengucapkan syukur.
“Maaf, Kakak terlambat.” Menyerahkan makanan yang sudah dibungkus dari rumah tadi.
“Aku ngerti, Kakak, pasti sibuk bolak balik ngurus ibu dan si kembar. Gak usah kesini kalau lagi ribet. Aku dapat jatah makan kok di sini.”
“Iya, tapi pastinya gak enak. Udah, kamu gak perlu khawatir, aku bisa urus semuanya.”
“Makasih, Kak.” Adit tertunduk.
“Aku gak bisa lama, ya, Dit. Pesanku semoga kamu sabar dan betah menunggu sampai aku bisa bebasin kamu.”
Adiknya memberikan senyuman yang lebar sambil menganggukkan kepala. Kaina tahu kalau itu terpaksa dilakukan Adit agar dirinya tak khawatir.
“Aku pergi, ya. Mau ke RS, takut nanti ibu nungguin.”
“Titip pesan buat ibu. Bilang kalau aku baik-baik saja.”
“Iya.” Kaina menjawab sambil memeluk adiknya.
...🌿🌿🌿🌿...
__ADS_1
Kakinya melangkah menemui ibunda tercinta di ruang perawatan. Tiba di sana, Dina sedang dibersihkan badannya oleh suster.
“Gimana, Bu?” tanya Kaina.
Dina hanya mengangguk.
“Mbak, bisa temani dulu ibunya. Nanti kalau jam besuk habis, Mbak bisa pulang saja ke rumah. Bu Dina gak perlu di tungguin, ada kita kok. Kasian lihat Mbaknya tidur di sofa gitu,” kata Suster.
“Saya ngerasa gak enak sama, Suster.”
“Sudah tugas kita. Lagian nanti malam Bu Dina pasti tidur nyenyak karena ada obat penenang biar beliau tetap nyaman sama alat yang terpasang.”
Kaina menatap ibunya. “Gak papa aku pulang?”
Dina hanya mengangguk.
“Oke deh, kalau gitu saya titip ibu, ya, Sus. Soalnya saya juga mau ketemu anak-anak, dari tadi belum ketemu sama mereka.”
Suster tersenyum ramah sambil mengangguk kemudian permisi keluar. Kaina melaksanakan sholat magrib di dalam sana setelahnya tak lupa membaca kitab suci al-quran. Terakhir dia panjatkan doa pada yang maha satu.
Jam besuk habis dia pun berpamitan pada Dina yang mulai mengantuk akibat pengaruh obat. Ditatapnya langit kelam pekat tanpa bintang seakan menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Gegas wanita itu menjalankan motornya ke rumah Brigita. Tiba di sana dia melihat mobil yang biasa dipakai Candra terparkir di garasi.
Ting … Tong ..
Menekan bel yang ada di dekat daun pintu lalu menunggu si tuan rumah keluar.
“Kalila ada?”
Kepalanya mengangguk tapi wajahnya tampak … susah sekali Kaina membacanya. “Boleh aku ketemu?”
Candra hanya menggeleng.
“Loh kenapa?”
“Karena sekarang hak asuh Kalila jadi milikku.” Brigita muncul dari balik punggung suaminya.
“Maksud kamu apa?” Kaina tak mengerti.
“Kamu sudah memberikan hak asuh Kalila padaku. Artinya, mulai sekarang aku berhak atas dia.”
“Apa-apaan ini? Kenapa bisa begitu?” Kaina tak terima dia berusaha menerobos masuk tapi Brigita menahannya.
“Maaf, Kaina, aku melakukan ini semua demi keutuhan rumah tanggaku walau aku yakin sebenarnya Candra tak mau bercerai denganku.”
“Kamu bicara apa sih, Bri? Aku benar gak ngerti,” sentak Kaina. “Sekarang mana anakku? Aku mau bawa dia pulang.”
“Gak bisa! Kalila sudah jadi anakku, kamu sendirikan yang sudah menandatangani surat pelimpahan hak asuhnya.”
__ADS_1
Dalam tegaknya Kaina berusaha memutar otak. Mengingat kembali hal yang mungkin saja ada yang dilewatkan. Hingga dia tersadar akan sesuatu. “Kamu sengaja menjebakku?”
Brigita memangku tangan di depan dada. “Tepat sekali. Maaf kalau caraku terbilang licik, tapi ini semua aku lakukan agar Candra tak berniat menikahi kamu.”
“Kenapa kamu tega, Bri? Kamu ragu pada suamimu, tapi kenapa aku yang harus menanggung akibatnya?” lirih Kaina.
Brigita tak memberikan kata-kata.
Kaina menyesali kebodohannya, ia terlena akan kebaikan yang diberikan Brigita. “Jadi ini niat kamu dari awal?” Kaina tak tahu harus berekspresi seperti apa, marah atau sedih. Kedua rasa itu menjadi satu dalam dada. “Ternyata kamu seekor srigala berbulu domba,” sinisnya diiringi air mata.
Brigita tampak menggeleng. “Gak, Kai, aku tulus membantumu. Tapi kalau untuk soal Kalila, semua itu terbersit sejak dia kamu titipkan di sini.”
Haruskah ia percaya? Kata-kata hanya ucapan semata yang terbawa angin lalu.
“Ya Tuhan, cobaan apalagi yang kau berikan padaku? Kenapa tak habis-habis, semuanya kau datangkan dalam waktu yang sama.” Kaina menangis di atas tembok teras rumah.
Brigita yang melihatnya sedikit merasa iba, tapi keegoisannya mengalahkan rasa itu. Karena tak bisa memiliki anak, dia terpaksa memisahkan seorang putri dengan ibu kandungnya. Juga demi mengikat Candra agar tak beralih sisi pada wanita lain.
Dengan lelehan air mata Kaina menatap Brigita yang mematung. “Kamu tau, kalau suamimu ini sudah mengajakku untuk menikah dan menjadi istri kedua. Mengajakku untuk bermain kucing-kucingan denganmu, tapi aku menolak bahkan mengingatkannya apa yang dia lakukan itu salah. Tapi kenapa sekarang harus aku yang berpisah dengan anakku? Hanya karena kecurigaanmu padanya? Tak bisakah kamu tak percaya padaku?”
Candra yang ditunjuk hanya bisa menundukkan kepala.
“Apa salahku, Bri? Dia yang masih mencintaiku, kenapa aku yang harus dihukum?”
Brigita gelagapan, menyadari kalau ternyata dia sudah salah.
Di sekanya pipi yang basah dengan kasar lalu Kaina bangkit kembali. Mendorong Candra yang ada di ambang pintu. “Kalila, ini Bunda, nak,” soraknya.
Karena tak mau dipisahkan dengan Kalila, Brigita beruba menjadi wanita yang tak berperasaan. Dia langsung menyeret Kaina keluar. “Jangan harap kamu bisa bertemu dengan Kalila. Kita impas, silahkan ambil uang yang kamu pinjam itu, tapi tidak dengan Kalila karena sekarang dia putriku.”
Kalila yang mendengar suara ibunya langsung turun dari kamar lantai dua.
“Bunda.” Dia menghampiri tapi langsung dibawa Brigita kembali masuk.
“Aku gak butuh uangmu. Silahkan ambil supermarket yang menjadi jaminan! Kembalikan anakku.” Kaina tak mau kalah, dia berusaha meraih sang putri, tapi wanita jahat itu sudah melarikannya kedalam rumah.
“Mas, jangan sampai dia masuk! Kalau kamu masih ingin menjadi atasan di perusahaan orang tuaku, pasti kamu tahu apa yang harus dilakukan.” Brigita mengancam suaminya.
Mendengar hal itu Kaina menatap sang mantan.
“Maaf, Kai.” Candra jadi serba salah.
Kali ini Kaina tak ragu untuk melayangkan kelima jarinya di pipi Candra. Plak ...
“Kamu memang bajingan! Hidupku hancur jika sudah bertemu denganmu.”
“Kamu gak bisa menyalahkan aku dong, Kai. Coba saja di awal kamu menerima tawaranku, pasti semuanya gak akan seperti ini.”
__ADS_1
“Diam,” bentak Ibu si kembar. “Kamu gak berhak bicara di sini, sama sekali gak ada hak.”