
"Jangan dipandang lama, nanti ragu buat pisah.” Adit kembali menggoda kakak iparnya itu.
“Apa sih, Dit,” bisik Fatih.
Adit menahan tawa dan membekap mulutnya agar tak merusak acara sakral ini. Akhirnya, dua mempelai itu bersanding juga. Mereka dipersilahkan menyematkan cincin di jari manis pasangan setelahnya barulah menandatangani beberapa dokumen dan buku nikah.
“Silahkan pamerkan cincin dan buku nikahnya ke arah kamera,” kata fotografer.
Sepasang suami istri itu berdiri dan menunjukkan bukti pernikahan mereka pada semua tamu.
“Jujur, kamu cantik,” bisik Fatih.
“Mas, juga ganteng,” bales Kaina.
“Kamu gugup?”
“Lumayan, karena bagaimanapun ini yang pertama buat saya.”
Acara pun berlangsung dengan lancar. Semua tamu undangan memberikan selamat serta doa terbaik buat pengantin itu. Fatih dan Kaina menikmati suasana. Si kembar yang menemai ibunya di atas pelaminan sedikit malu-malu kala bertemu dengan ayah sambung mereka.
“Om, maunya kita panggil apa?” tanya Kalila.
“Terserah kalian aja, Om gak keberatan.”
“Kalian mau tetap panggil Om?” tanya Kaina pada dua anaknya.
“Kalau … “ Kama menjeda ucapannya karena ragu.”
“Apa? Bilang aja, Om gak akan marah kok,” terang Fatih.
“Ayah aja boleh gak?” anak-anak itu malu sampai mereka menyembunyikan diri di dalam pelukan sang ibu.
“Wah, merasa terhormat sekali kalau Om bakal di panggil Ayah.”
“Artinya?” tanya Kalila.
“Boleh.”
“Yes,” seru Kama dan Kalila merasa senang. “Terus nanti kita boleh bobok bareng gak?”
“Boleh, kalian boleh kapan aja mau kesini, mau nginap di sini gak masalah. Om bakalan senang.”
“Ayah, bukan Om lagi,”kata si kembar.
“Hahah, iya. Maaf, Om belum terbiasa.”
Hingga sore menampakkan diri, acara pernikahan itu akhirnya usai juga. Bagaikan keluarga kecil, Fatih dan Kaina membimbing si kembar masuk kedalam rumah.
“Kai,” panggil Candra.
Kaina berbalik begitu pula dengan Fatih.
“Selamat, ya. Maaf aku baru datang.”
“Makasi.”
__ADS_1
“Oh, ya, aku mau jemput Kalila.”
Kaina menatap putrinya.
“Adek gak mau, Bun,” rengek Kalila.
“Saya yang menjemputnya dan saya yang akan mengantarkannya pulang,” sela Fadilah dari dalam rumah.
“Pak,” sapa Candra tertunduk.
“Kalian masuk, biar bapak bicara dengannya.”
Pengantin baru itu masuk ke dalam rumah bersama si kembar. Sedangkan Fadilah membawa Candra bicara di ruang kerjanya.
Dina dan Adit sedang berbincang dengan keluarga Fatih di ruang tengah. Tiba di sana Kaina mengajak anak-anaknya untuk bergabung.
“Bu, aku titip si kembar dulu, mau ganti baju.”
“Ibu tunggu, ya, Kai, soalnya Ibu sama Adit mau pamit pulang.”
“Iya, cuma sebentar kok, Bu.”
Fatih tak ikut menyusul istrinya. Dia lebih memilih bergabung di sana. Tak lama asisten sang bapak datang memanggilnya untuk ikut bicara dengan Candra.
...🍂🍂🍂🍂...
Seseorang mengetuk pintu kamar, Kaina yang baru saja habis menghapus riasan gegas membukanya. Dia pikir mungkin Fatih yang datang, ternyata Hugo sedang berkacak pinggang di depan sana.
“Ngapain kamu?”
Langsung saja dia di dorong ke dalam dan Hugo menutup daun pintu. “Pantas kamu kemarin begitu yakin untuk bisa mengambil Kama dari saya. Ternyata ini cara kamu untuk bisa mengalahkan saya.”
“Saya gak peduli.”
“Keluar atau saya teriak,” ancam Kaina.
“Lalu apa? Berharap suami kamu yang mandul itu akan datang menolong. Saya gak takut dengan dia,” tantang Hugo.
“Kalau memang kamu gak takut, buat apa menemui saya diam-diam? Kenapa tadi gak bicara di bawah. Bilang saja kalau kamu sudah mulai khawatir akan ancaman saya kemarin.” Kaina tersenyum penuh kemenangan.
Tak terima, Hugo mencengkram kuat dagu wanita itu. “Saya peringatkan, walau saya harus berhadapan dengan Fadilah sekalipun saya gak takut!”
Ibu si kembar berusaha melepaskan tangan yang begitu keras meremas dagunya, tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melawan hingga pintu kamar kembali terbuka Hugo baru membebaskannya.
“Ngapain lo?” tanya Fatih dengan tampang curiga.
“Gue cuma memberikan peringatan sama istri lo ini,” sinis Hugo.
“Lo ditunggu bapak di ruangannya.”
Hugo mendengus kesal lalu mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Kaina. “Jangan harap lo bisa menang dengan mudahnya.”
"Kita lihat saja nanti." Ibu tunggal itu menantang balik.
Karena sang ayah sudah menunggunya, Hugo segera beranjak dari sana.
__ADS_1
Fatih memberi jalan pada saudara seayahnya itu untuk keluar. “Kamu gak papa?” menghampiri Kaina.
“Baik-baik aja kok, Mas,” jawab Kaina.
“Itu dagunya merah.”
“Gak papa cuma dikit. Mas mau ganti baju, ya? Aku siapin dulu.”
“Nanti saja, kita ke bawah sekarang, ibu sama Adit mau pulang juga anak-anak kamu.”
Mereka kembali ke lantai bawah. Keluarga Fatih yang lainnya sudah pada pulang. Tinggallah Dina dan Adit serta si kembar. Kalila sudah bersama Candra dia sedang menunggu sang ibu untuk berpisah sebelum pulang.
“Bunda, aku pulang dulu, ya." Wajah gadis kecil itu tampak sendu.
“Iya, nak. Jangan sedih, ya. Kamu harus sabar sampai Om Fatih bisa bantu Bunda.”
Kalila mengangguk lalu merangkul ibunya.
“Kalau gitu kami izin, Kai,” pamit Candra.
“Iya.”
Terakhir, Kalila memeluk sang nenek dan Adit. “Yang kuat, ya, cucu Ibu.”
Kalila hanya mengangguk sambil menahan getaran bibir yang ingin mengeluarkan tangis.
Kaina mengantar putrinya sampai memasuki mobil Candra.Tak lupa lambaian tangan mengiringi kepergian anaknya. Tiba di dalam giliran Kama yang harus pulang bersama Suci dan Hugo.
“Maaf, ya, Kai, kemarin ibu gak bisa bantu apa-apa. Semoga sekarang Fatih bisa membantu kamu perjuangkan kembali hak asuhnya Kama,” kata Suci.
“Aamiin.”
“Bunda, abang pulang, ya,” kata Kama.
“Iya, nak. Jadi anak yang baik dan nurut sama oma dan papa. Terus berdoa biar kita bisa cepat kumpul lagi.”
Kama tampak lebih tegar ketika harus berpisah dengan sang bunda. Tak lupa juga dia berpamitan pada Dina dan Adit.
“Ibu senang sudah ketemu Kama. Walau sebentar setidaknya sudah dapat melepas rindu," ujar Dina.
"Aku juga senang bisa ketemu ibu dan Omdit."
Hugo yang baru saja keluar dari ruang kerja ayahnya tampak menatap tajam pada Kaina. “Aku tunggu di mobil, Ma,” katanya pada Suci.
Kaina pun membimbing sang putra menuju mobil papanya.
“Da, sayang.”
“Da, Bunda.”
Tiba di ruang tengah, Fadilah sudah duduk di sana bersama Dina, Adit, dan Fatih.
“Duduk dulu, Kai, bapak mau bicara,” ajak si bapak mertua.
“Kaina duduk disamping suaminya karena memang hanya bagian itu yang kosong.
__ADS_1
“Selama Fatih menyiapkan tuntutan hak asuh anak-anak kamu ke pengadilan, kamu dan keluarga harap bersabar karena mungkin prosesnya agak lama. Untuk sementara Fatih akan mengurus persidangan kasusnya Adit. Selama menunggu kamu dapat bertemu dengan si kembar pas weekend. Bapak sudah bicara dengan Hugo dan Candra tadi.”
“Terima kasih, Pak, Mas.”