
"Macet kayaknya, Kak,” Adit sudah membuang payungnya tadi karena percuma hujan yang begitu deras membasahi tubuh mereka.
“Dicoba, Dit,” desak Kaina.
Akhirnya Adit mencari bantuan dan warga pun siap menolong.
“Setelah dipastikan oleh seorang warga akhirnya mereka mendapatkan cara untuk bisa menggeser bangku kemudi nan macet. Sedikit saja ada ruang si bapak bisa mengeluarkan kakinya.
“Dalam hitungan ketiga, kami tarik bangkunya, Mbak Kaina bantu bapak ini angkat kakinya,” kata warga nan bertubuh besar.
“Iya, Bang.”
“Oke, siap semua,” tanya si Abang. “Satu, dua, tiga!”
Kaina membantu si bapak mengeluarkan kakinya dari jepitan bagian mobil. Akhirnya, mereka pun berhasil. Si bapak segera diangkat ke dalam supermarket Kaina.
“Kaki saya,” erang Bapak itu.
“Kayaknya patah, deh, Mbak,” ujar seorang warga.
“Dit, ambil batu Es dan balut dengan kain,” kata Kaina. Dia mengompres kaki Bapak itu sambil menunggu pertolongan datang.
Tak lama ambulan pun tiba dan langsung memindahkan si korban ke atas brankar.
“Apa ada salah satu yang bisa ikut?” tanya petugas.
“Saya saja kata Kaina.”
“Kakak belum ganti baju loh,” jelas Adit.
“Gak papa, setelah ini kamu titip toko sama karyawan dan susul aku ke sana.”
“Oke.”
Pintu ambulan di tutup dan langsung melaju menuju Rumah Sakit terdekat.”
...🍀🍀🍀🍀...
Waktu bergulir dengan cepat. Tak terasa satu bulan sudah berlalu setelah Kaina menolong seorang bapak-bapak yang kecelakaan malam itu. Kini merupakan hari terakhir si kembar melakukan kontrol di Rumah Sakit.
“Ginjalnya berfungsi dengan baik dan mereka juga tampak semakin sehat,” jelas Dokter Tina.
Wajah Kaina tampak lega.
“Si kembar dinyatakan sembuh tapi ingat kamu harus tetap menjaga pola makanan mereka, istirahat yang cukup dan memperhatikan aktivitas. Jangan terlalu capek.”
“Siap, Dok. Setelah ini kapan mereka kontrol lagi?”
“Terserah kamu kapan mau ke sini. Mau tiap dua atau tiga bulan sekali gak masalah. Terus perhatikan urinnya kalau merasa ada yang aneh segera bawa ke sini.”
“Yeeeaa,,, bilang apa dulu sama Dokter, sayang?” Kaina bertanya pada dua anaknya.
__ADS_1
“Terima kasih, Dokter.” Kama dan Kalila serempak.
“Sama-sama, sayang.”
“Kalau begitu kami pulang ya, Dok. Di rumah sudah ada yang nungguin pasti.”
“Iya.” Tina mengantar ibu dan anak itu sampai depan pintu ruangannya. “Kai, tetap semangat, ya, perjuangkan hak asuhnya Kama.”
“Pasti. Bagaimanapun kedua ayah anakku tak berhak atas mereka jadi aku yakin akan memperjuangkannya di pengadilan.”
Tina memeluk Kaina lalu si kembar setelahnya melambaikan tangan pada mereka bertiga.
...🐸🐸🐸🐸...
Sudah ke sana kemari Kaina mencari pekerjaan selama satu bulan belakangan. Karena statusnya yang single parent tanpa sebuah ikatan pernikahan berujung penolakan. Bagi perusahaan yang mau menerimanya merasa hal itu bisa mencoreng nama baik mereka. Hingga keluarga memutuskan untuk merelakan satu supermarket dijual dan uangnya bisa untuk membayar jasa seorang kuasa hukum.
Awalnya Kaina merasa sangat berat hati, tapi dia pun tak tau harus bagaimana lagi. Rela tidak rela dia memberikan uang hasil penjualan supermarket pada si pengacara.
“Pokoknya serahkan saja pada saya. Mbak akan memenangkan kasus ini di pengadilan,” kata si kuasa hukum.
“Kalau begitu saya gak perlu hadir di persidangan kan?” tanya Kaina.
“Gak. Saya bisa selesaikan ini.”
“Baiklah kalau begitu saya percaya sama, Bapak.”
Si pengacara memberikan anggukan penuh keyakinan. “Saya permisi ke kantor.”
Kepergian orang itu memberikan harapan penuh di hati Kaina. Besok Hugo akan menerima surat dari pengadilan bahwa mereka akan berlawanan di meja hijau sebelum pria itu membawa anaknya.
“Ya allah, semoga engkau permudah jalan hamba. Semoga setelah ini hamba dan kedua anak hamba bisa hidup bersama menantikan sosok yang dapat membimbing kami dalam gelapnya malam.”
Doa itulah yang setiap malam selalu dia panjatkannya di atas sajadah.
...🥑🥑🥑🥑...
Hugo yang baru sembuh tiba-tiba mendatangi Kaina ke rumahnya. Dia merasa dikhianati oleh wanita itu. Setelah dia berhasil memberikan ginjalnya tiba-tiba saja Kaina saja tak menepati janji malah ingin merebut kembali hak asuh Kama nan sudah diberikan padanya.
“Apa maksud kamu?” Hugo berkacak pinggang setelah turun dari mobil.
Kaina yang baru saja selesai menjemur pakaian dibuat terkejut.“Apa? Baru datang sudah marah-marah.”
“Kamu main-main sama saya?! Kamu sengaja menandatangani perjanjian waktu itu hanya supaya Kama bisa mendapatkan ginjalnya.”
“Sebaiknya kita bertemu di meja hijau saja. Biar pengadilan yang memutuskan siapa yang sebenarnya berhak atas Kama. Kamu atau saya,” tegas Kaina.
“Dasar, perempuan licik! Lihat saja nanti, kamu akan saya buat menyembah di kaki ini. Akan saya pastikan hak asuh Kama jatuh ke tangan saya dan setelah itu jangan harap kamu bisa bertemu dengan dia.” Hugo balik badan dan masuk kembali ke dalam mobil. Sebelum pergi, tatapan kebencian dan kemarahan diberikan pada Kaina yang berdiri di teras.
“Hhhuuff …”
“Siapa, Kai, pagi-pagi sudah ribut?” Dina tampak tergopoh-gopoh menghampiri anaknya.
__ADS_1
“Hugo, Bu, dia gak terima dengan tuntutan aku di pengadilan.”
“Ibu jadi takut kalau ini nantinya bakalan jadi masalah besar.”
“Ibu tenang saja, kita gak melakukan kesalahan.Kita cuma mau mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak milik kita.”
Wajah si Ibu tampak cemas. “Masuk sana, lihat si kembar. Mudah-mudahan mereka gak dengar keributan tadi.”
Ibu dan anak itu melangkah bersama ke dalam rumah.
...🥦🥦🥦🥦...
“Sudah temukan dia?” Fadillah bertanya pada putranya ketika mereka sedang menikmati sarapan pagi.
“Belum, Pak,” jawab Fatih.
“Kenapa belum?”
“Susah, Pak. Lagian saya juga sibuk, banyak kerjaan yang harus dilakukan.”
“Susah? Bilang saja kamu gak niat mencarinya.”
Fatih meletakkan sendok di tepi piring. Selera makannya jadi hilang setiap bapaknya membahas wanita nan menolong beliau waktu itu. “Saya sudah ke supermarket yang Bapak bilang dan ternyata pemiliknya sudah bukan dia lagi. Jadi, saya gak tau sekarang dia tinggal di mana.”
“Tanya dong sama orang-orang sekitar. Mereka pasti tau alamat rumahnya.”
“Nantilah, Pak.”
“Kalau nanti, Bapak bisa cari sendiri. Kalau Bapak menemukan alamatnya kamu harus menikahi dia.”
“Kalau dia gak mau?”
“Itu urusan Bapak. Kamu harus persiapkan diri.”
Tak mau berdebat Fatih meraih tas kerja yang diletakkan di kursi samping lalu meraih tangan si Bapak untuk di salim. “Saya berangkat kerja dulu, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Fatih sebenarnya tak mau menikah lagi setelah dia dinyatakan mandul oleh dokter akibat kecelakaan nan dulu dialami. Istrinya tak terima dengan kondis itu memutuskan untuk berpisah dengannya. Sejak saat itu dia memilih hidup berdua dengan sang ayah. Apalagi orang tuanya itu juga tak lagi tinggal dengan istri pertama juga hubungan beliau dengan anak pertama tak baik. Jadilah kini dia menjaga bapaknya walau kadang sikap otoriter sang ayah membuatnya kesal.
“Harus gitu balas budi dengan cara menikahi dia?” gumam Fatih selama di perjalanan.
Jika di pengadilan dia bisa menolak atau membantah tuntutan lawan dengan bukti-bukti yang ada maka beda dengan tuntutan yang diberikan oleh bapaknya. Hal itu sudah bersifat mutlak tak bisa diganggu gugat dan harus dilakukan.
...----------------...
Mana ini like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 sama bintang ⭐ limanya...
jangan pelit atuh, author jadi gak semangat buat lanjut nulis 🥺
Kasih dukungannya, ya, biar author bisa terus up date. 😊
__ADS_1