
Hugo tertunduk. Hal yang selama ini selalu di yakininya dan membuatnya membenci sang adik ternyata salah besar. Bukan Fatih penyebab perpisahan kedua orang tuanya melainkan kelakukannyalah yang menjadi alasan.
“Sudah, Mas, tahan emosi kamu.” Suci mengingatkan mantan suaminya.
Fadilah menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskannya untuk menenangkan gemuruh kemarahan di dada.
“Begini saja, Pak.” Kaina membuka suara. “Bagaimana pun saya di sini tetaplah orang asing. Karena saya gak mau Bapak dan Hugo jadi bertengkar hanya gara-gara saya, lebih baik masalah ini selesai di sini. Saya memaafkan dia dan tidak akan ada tuntutan di pengadilan.”
“Jangan mengalah hanya kerena Bapak, Kai. Bapak baik-baik saja,” ujar Fadilah.
“Saya setuju dengan Kaina, Pak,” sela Fatih. “Tapi, Hugo gak semudah itu lepas dari tanggung jawabnya. Mulai sekarang dia harus mengikuti apa yang Bapak mau dan katakan. Kalau perlu kita bikin surat perjanjian. Jadi, kalau dia melanggar apa yang Bapak katakan baru kita laporkan masalah ini ke pihak yang berwajib. Saya rasa itu keputusan yang adil.”
“Toh saya juga baik-baik saja dan gak kenapa-kenapa,” tambah Kaina.
“Kamu bisa mulai sekarang mendengarkan ucapan saya?” Fadilah bertanya pada anak pertamanya.
“Iya, Pak. Mulai sekarang saya akan coba nurut seperti Fatih.”
“Bagus. Kalau begitu besok siapkan surat perjanjiannya, Tih.”
“Baik. Pak,” angguk Fatih.
“Terima kasih, ya, Kai,” pinta Suci.
“Sama-sama, Bu. Saya harap setelah ini Hugo bisa berubah ke arah yang lebih baik lagi.”
“Aamiin.”
“Karena sudah malam, kalian menginap saja disini.” Fadilah berkata pada mantan istri dan putra pertamanya. “Besok pagi kamu harus tanda tangani surat perjanjiannya dan ikut Bapak,” tambahnya pada Hugo.
“Iya, Pak.”
“Kalian berdua silahkan ke kamar. Sekalian intip Kama, siapa tau dia bagun gara-gara suara Bapak tadi.” Kali ini Fadhilah berkata pada Fatih dan Kaina.
“Bapak juga istirahat,” balas Kaina.
“Kalau gitu kami duluan, Bu,” pamit Fatih pada Suci.
Pasutri itu pun sama-sama melangkah menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
“Silahkan pilih kamar sendiri. Kalian bukan tamu yang harus dilayani,” ucap Fadilah. Dia pun berdiri dari duduknya beranjak menuju kamar.
“Mama harap kamu gak mengecewakan Papa, Go. Mama capek kalau terus-terusan menyelesaikan masalah yang kamu perbuat.”
“Iya.”
Suci pun meninggalkan anaknya menuju kamar tamu yang ada di lantai dasar.
__ADS_1
...🦉🦉🦉🦉...
“Kama gak bangun kan?” Fatih bertanya pada sang istri yang baru saja kembali dari kamar anaknya.
“Gak, Mas. Dia tidurnya pulas banget.”
Kemudian diajaknya wanita itu duduk di sofa bed. “Makasih, ya, Kai, kamu mengerti situasi tadi.”
“Santai aja, Mas. Lagian di awal saya juga gak mau masalah ini sampai dibawa ke pihak yang berwajib. Cuma karena kamu sama bapak yang ngotot, ya, saya setuju aja.”
“Tapi kamu nyaman kan kalau nanti Hugo masih tetap tinggal disini?”
Kaina tersenyum kecil. “Nyaman kok, Mas. Kenapa emang?”
“Kalau kamu gak nyaman kita bisa tinggal di rumah sendiri.”
“Gak perlu. Kita bersama cuma beberapa bulan ini jadi santai aja. Nanti aku bakalan sibuk di supermarket kalau gak ada kamu di rumah.”
Fatih mengangguk. “Kalau gitu kita tidur, yuk! Saya sudah ngantuk.”
“Iya.” Keduanya bangkit dari duduk berpindah menuju kasur.
...🐝🐝🐝🐝...
Hampir dua bulan lamanya Fatih berjuang dan berusaha menunjukkan bukti di persidangan untuk dapat meringankan hukuman Adit. Kini Kaina dan ibunya sedang menantikan putusan yang akan di jatuhkan hakim pada adiknya.
“Pasal 351 Ayat 1 KUHP dan ketentuan perundang undangan lain yang bersangkutan. MENGADILI dan MENYATAKAN terdakwa ADIT RANDIKA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana PENGANIAYAAN. Memidana terdakwa oleh karena itu dengan pidana tahanan kota selama 3 bulan. Menetapkan lamanya masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan tersebut. Menyatakan terdakwa tetap melakukan wajib lapor pada waktu yang ditetapkan.” Ketua hakim pun akhirnya mengetuk palu setelah membacakan putusan persidangan kasus Adit.
Sidang itupun akhirnya ditutup. Kepergian para Hakim, Kaina langsung memeluk sang suami di depan sana. “Makasih, Mas.”
“Sama-sama, Kai. Adit memang gak bersalah jadi tuntutan yang diajukan terlalu berlebihan gak sesuai faktanya,” jelas Fatih.
“Artinya Adit sekarang sudah bebas kan?”
“Iya, karena masa penahanan juga sudah lewat dari tiga bulan.”
Kemudian Dina pun memeluk sang menantu seraya mengucapkan rasa terima kasih-nya. “Ibu gak tau kalau gak ada kamu. Mungkin Adit akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama.”
“Sudah tugas saya sebagai kuasa hukum menuntut hukuman yang ringan untuk para klien,” jawab Fatih.
Terakhir Adit menyalami kakak iparnya itu. “Makasih banyak, Bang.”
“Kamu gak salah dan pantas dibela. Sudah, kita keluar dulu, gak enak di lihatin orang.” Fatih mengajak keluarga istrinya keluar dari ruang persidangan. Kaina membantu suaminya membawakan tas serta map.
Tiba di luar, Zuri si sekretaris langsung mengambil alih tugasnya dari sang ibu bos. “Biar saya saja, Bu.”
“Oh, ini.” Kaina pun menyerahkan pada gadis itu.
__ADS_1
“Kita masih punya waktu dua jam untuk merayakannya. Saya sudah pesan satu restoran untuk kita makan siang bersama dan kebetulan bapak Fadilah juga sudah meluncur kesana,” jelas Zuri.
“Makasih,” kata Fatih.
“Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya balik dulu ke kantor.”
“Kamu gak ikut?” tanya Kaina.
“Maaf, Bu, tugas saya masih banyak di kantor.”
“Ikut saja, biar rame. Boleh, ya, Mas,” bujuk Kaina pada suaminya.
“Iya boleh.”
Karena Fatih sudah memberi izin, Zuri pun akhirnya ikut bersama keluarga itu menuju restoran mahal yang sudah di reservasinya.
...🐌🐌🐌🐌...
“Setelah ini kamu harus kembali kuliah, Dit. Bapak akan tanggung semua biayanya,” tutur Fadilah.
“Gak perlu, Pak,” tolak Dina. “Semua bantuan dari Bapak dan Fatih sudah lebih dari cukup buat kami.”
“Saya gak bisa menerima penolakan, Besan. Lagian Adit sudah setuju.”
“Kapan?” tanya Kaina.
“Sebelum kalian menikah, saya dan Adit sudah bicara empat mata.”
“Kamu tau, Mas?” Kaina bertanya pada sang suami.
“Gak,” jawab Fatih. “Lagian gak papa, Kai, biar Adit bisa lanjut kuliah.”
“Gak enak aja rasanya, Mas.”
“Kamu gak perlu khawatir. Bapak gak mempermasalahkan soal ini nantinya,” jelas Fadilah.
“Bapak baik, loh, Bu,” timpal Zuri. “Saya aja beliau yang kuliahin makanya bisa kerja sama Pak Fatih.”
“Oh, terus kamu kok jarang main ke rumah?”
“Sibuk, Bu, lagi kejar S2.”
“Kamu sama besan gak perlu mikir macam-macam, Kai. Bapak gak akan tagih biayanya nanti,” kata Fadilah.
“Ya udah kalau memang begitu maunya, Bapak, saya bisa apa.”
“Terima kasih banyak, Besan, saya jadi merasa gak enak. Terlalu banyak hutang budi,” ujar Dina.
__ADS_1
“Santai saja, kita ini keluarga sekarang.”
Tak lama Kama yang dijemput oleh supir pribadi pun akhirnya ikut bergabung di sana.