
Kaina memutar badan menghadap sang suami. “Alasan yang tepat?” kemudian dia tersenyum sinis. “Bukannya di awal kita sepakat buat pisah lalu kenapa sekarang kamu menuntut alasan, Mas?”
“Tapi kesepakatan kita dalam jangka waktu enam bulan.”
“Apa bedanya kita pisah sekarang dan satu bulan lagi?”
Fatih terckat saliva. Dia memutar laju kendaraannya menuju rumah.
“Loh, kok pulang?” heran Kaina. “Saya mau ke supermarket, Mas,”
“Kita perlu bicara.”
“Bicara apa lagi sih, Mas?”
Tak ada kata yang keluar dari mulut duda itu. Tangannya tampak memegang erat bundaran kemudi dan kakinya menancap gas lebih tinggi. Kaina sedikit takut dengan wajah serius suaminya yang baru pertama kali di lihat.
Tiba di rumah, Fatih menarik lengan Kaina menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
“Mas, kamu kenapa sih?” tanya Kaina. Dia merasa heran dengan sikap sang suami.
Dihempaskan wanita itu ke atas kasur. “Kamu masih memiliki tanggung jawab sebagai istri selama satu bulan lagi,” tekan Fatih.
“Tapi saya capek, Mas,” jelas Kaina. “Saya capek menjalani kehidupan rumah tangga ini.”
“Bukankah rumah tangga kita cukup harmonis lalu apa yang membuat kamu merasa bosan melayani saya?” Fatih tampak sedikit emosi. Nada suaranya mulai tinggi.
“Karena gak ada rasa di antara kita,” seru Kaina.
Fatih tertawa mengejek. “Bukannya kamu mengatakan lebih baik tak ada rasa lalu kenapa sekarang mengeluh seakan menuntut ada cinta di antara kita?"
“Saya gak menuntut. Hanya saja saya ingin merasakan dirindukan, ingin dimanja dan di rayu. Sedangkan kita apa, Mas?” Kaina membuang nafas kasar. “Hanya sepasang suami istri yang menjalani sebuah rumah tangga tanpa kasih sayang di dalamnya. Jujur saya gak bisa, Mas. Maaf kalau saya terkesan egois.”
Fatih membuang nafas kasar sambil mengusap wajah hingga rambutnya.
“Saya ini wanita, Mas, pasti ingin dicintai dan mencintai agar bisa merasakan kebahagiaan yang seutuhnya,” jelas ibu si kembar.
“Tapi saya masih butuh kamu!”
“Butuh karena apa, Mas? Untuk menuntaskan hasrat kamu?! Saya masih bisa sampai hak asuhnya Kalila kembali ke tangan saya. Setelah itu maaf, kita harus segera akhiri peran suami istri ini.”
Entah karena apa, Fatih merasa bara di dadanya kian menyala membakar diri. Ditariknya dasi yang masih tergantung rapi di kerah baju lalu dilepaskan kemeja yang membungkus badan. Tanpa aba-aba dia langsung ******* bibir sang istri dan menindihnya ke atas kasur.
“Jangan harap kamu bisa lepas satu minggu kedepan,” katanya dengan tatapan tajam.
“Saya ikhlas, Mas,” sendu Kaina.
Sadar akan dirinya hanya sebagai pemuas ranjang, Kaina tak menolak sedikitpun meski hati terasa luka.
__ADS_1
...🐦🐦🐦🐦...
Fadilah merasa ada yang berda antara anak dan menantunya. Dua orang itu seakan sedang membangun jarak di antara mereka. Tak seperti biasanya Fatih akan berpamitan dengan sang istri ketika mau berangkat kerja, kini putranya itu berlalu begitu saja tanpa sepatah kata.
“Kamu sama Fatih berantem?” tanyanya pada menantu.
Kaina tersenyum simpul. “Bapak ada waktu hari ini?”
“Maksud kamu?”
“Saya mau bicara sesuatu.”
Fadilah terdiam sebentar lalu menganggukkan kepala.
“Kalau gitu saya antar Kama ke sekolah dulu, ya, Pak, sekalian mau jemput ibu dan kita bicara enam mata.”
“Bapak tunggu.”
“Pamit sama Opa dulu, sayang,” kata Kaina pada anaknya.
Kama pun bersalaman dengan sang kakek lalu ia dan ibunya segera berangkat.
Selama menunggu menantunya kembali, Fadilah sudah menyiapkan diri. Dia sangat yakin hal yang ingin dibicarakan Kaina adalah soal kesepakatannya dengan Fatih. Harapannya untuk mereka bersama ternyata tak terkabul. Keinginannya menjalani masa tua bersama cucu harus berakhir sampai di sini.
Sebelum Kaina tiba dihubungi Fatih untuk bisa kembali pulang membicarakan masalah ini. Agar dia yakin kalau perpisahan ini benar-benar atas kesepakatan mereka berdua.
Fadilah dan Dina baru saja mendengarkan penjelasan dari anak dan menantu mereka soal perceraian yang sudah disepakati di awal, sebelum pernikahan ini terjadi. Kedua orang tua itu tak tahu harus berkata apa. Doa yang selama ini selalu mereka panjatkan ternyata tak mampu mengubah pendirian Kaina dan Fatih.
“Jujur, Bapak, sudah tau hal ini dari awal,” tutu Fadilah.
Pasutri yang tadinya tertunduk karena rasa bersalah, sama-sama mengangkat kepala tak menyangka.
“Bapak tahu dari Adit.”
“Lalu kenapa Bapak gak tanya sama saya?” tanya Kaina.
“Kalaupun Bapak tanya sama kamu, apa kamu akan bertahan?”
Kaina terdiam.
“Jujur Bapak sangat berharap kalian bisa bersama seterusnya. Tapi kalau memang kalian tetap ingin berpisah, ya, Bapak tak bisa berbuat apa.”
“Maaf, Pak,” pinta Kaina.
“Bisa-bisanya kamu tutupi ini dari Ibu, Kai?” marah Dina. “Kalian pikir pernikahan itu mainan?!”
“Kami tak pernah memainkan pernikahan, Bu. Selama ini saya maupun Kaina sama-sama menjalankan kewajiban kami sebagai suami dan istri dengan baik,” terang Fatih.
__ADS_1
“Sama saja. Kalian seakan sedang bermain drama dan kini kalian berdua sudah tiba di ujung episode.”
“Bu,” sela Kaina.
“Apa salahnya sih kalian berdua bertahan? Ibu yakin lambat laun rasa itu pasti akan ada.”
Kaina dan Fatih kembali tertunduk.
“Apa kalian tak kasihan pada Kama dan Kalila? Mereka sangat bahagia bisa memiliki keluarga yang lengkap.”
“Mereka akan terbiasa, Bu,” jawab Kaina.
“Kata siapa?” sergah Dina
“Karena sebelumnya mereka hidup bersama kita. Artinya, mereka cuma butuh waktu untuk bisa melupakan Mas Fatih.”
Dina menggelang tak percaya. “Sebaiknya kalian berdua pikirkan lagi.”
“Gak perlu, Bu, saya sudah tandatangani surat gugatan cerainya,” timpal Fatih. “Tinggal tanda tangannya Kaina saja.”
“Sudahlah, Besan. Kalau mereka memang tetap ingin bercerai kita tidak bisa memaksa. Doakan saja semoga mereka bisa bertemu dengan jodoh terbaiknya.”
Pasrah, Dina pun tak lagi banyak kata. Dia bangkit dari duduknya lalu berkata, “Ibu mau pulang.”
“Aku antar, Bu,” ajak Fatih.
“Gak usah. Minta supir saja.”
“Ayo, kalau gitu aku antar ke depan,” sahut Kaina.
Ibu dan anak itu beranjak dari sana.
“Kamu dan Kaina merusak kebahagiaan kami semua,” tutur Fadilah.
“Bapak sudah tahu dari awal lalu kenapa masih berharap,” jawab Fatih.
Plak…
Ini pertama kalinya Fadilah melayangkan tangannya pada putra kesayangan.
“Semoga kalian menyesali keputusan ini,” geram orang tua itu.
Fatih tak berani memutar wajahnya yang terlempar ke samping akibat tamparan sang ayah. Di resapinya rasa panas di pipi sampai Fadilah hilang dibalik pintu kamarnya.
...----------------...
Duh, suasana sedikit panas, tapi kita sambung besok lagi...
__ADS_1
Selamat penasaran 😆😁✌