Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Tamat & Terima Kasih


__ADS_3

Tak terasa waktu berputar begitu cepat melewati detik, menit, jam, hari, minggu dan bulan. Pagi ini jadwal operasi untuk Kaina sudah di tetapkan. Fatih dengan setia menemani sang istri.


Jujur tangannya mulai terasa dingin kala masuk kedalam ruang operasi. Melihat istrinya sudah terbaring di meja operasi, ia seakan tak tau harus apa. Laki-laki itu diminta duduk oleh seorang petugas di samping kepala istrinya.


"Pak, jangan bingung, ya. Ajak istrinya bicara atau baca-baca zikir biar istrinya tetap sadar," kata suster.


"Baik, Sus."


Fatih mencoba tersenyum untuk menutupi rasa gugup, cemas, dan takutnya. Begitu pula dengan Kaina.


"Hai," sapa Fatih.


"Sebentar lagi kita bakalan ketemu anak kita, Mas," ujar Kaina dengan suara lemah.


"Iya, aku deg-degan."


"Kita baca sholawat dan doa, yuk."


Fatih mengangguk dan membimbing sang istri mengucapakan kalimat-kalimat pujian pada Allah dan Rasul.


Dokter pun memulai pembedahan. "Mau lihat, Pak," ajaknya pada Fatih.


"Boleh, Dok?"


"Gak papa kalau mau lihat. Biar tau gimana perjuangan istrinya melahirkan."


Fatih mencoba mengintip sedikit saat perut Kaina mulau di bedah. Kakinya bergetar karena takut, tapi dicoba kuat sampai sang anak keluar. Tak lama anak pertama diangkat oleh dokter.


Owek ... Owek ...


Tangis putra pertama dari Fatih pun pecah di rungan operasi itu. Seketika pengacara itu langsung menghujani seluruh wajah istrinya dengan kecupan. Tak lupa ia juga sujud sukur pada yang maha Esa.


Air mata suka bercucuran membasahi pipinya. Di telinga sang istri ia berkali-kali mengucapkan kata terima kasih. Giliran bayi kedua di angkat oleh dokter. Kembali tangisnya menggema di rungan itu. Membuat suami Kaina tak mampu berkata-kata.


"Anak kamu, Mas," bisik Kaina.


"Anak kita, Kai," isak Fatih.


"Anak yang selama ini kamu harapkan."


"Iya, Sayang. Terima kasih sudah membawanya ke dunia ini."


Kaina mengangguk.


"Pak Fatih, mari azani anak-anaknya dulu," ajak Suster. "Biar setelah ini kita pindahkan keruang bayi.


"Nanti aja, Sus, saya masih mau nemanin istri saya," jawab pengacara itu.


"Baik, kalau begitu bayinya kami pindahkan dulu."


"Iya."


Dokter pun menyelesaikan tindakan operasi cesar itu. Setelah beres, Kaina dipindahkan ke ruang perawatan. Fatih pun menemui anak-anaknya. Dari balik tabung inkubator, pengacara itu mulai mengumandangkan azan juga iqamat.


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar ..."


\=\=\=\=\=\=\=


Seluruh keluarga kini berkumpul di ruang rawat. Mereka sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan si kembar junior.


"Ayah, mana dedek bayinya," tanya Kama.


"Sabar, Nak. Bentar lagi pasti di antar suster kesini."


"Kalian jangan berisik," ujar Dina. Kasian Bundanya lagi istirahat nanti keganggu."


Tak lama suster pun tiba mendorong dua box bayi.


"Nah itu dia," ujar Fatih.


Fadilah pun berdiri. Pria tua itu sudah tak sabar ingin segera mengendong cucu dari putra tersayang.


"Pak, istrinya tolong dibagunin, ya," pinta Suster. Biar bayinya menyusu dulu."


Fatih mengangguk. Dengan lembut ia mencoba membangunkan Kaina.


Dina dan Fadilah tengah asik menatap cucu yang ada di dalam gendongan masing-masing.


"Mirip siapa, Pak?" tanya Fatih.


"Mereka identik banget. Wajahnya perpaduan kalian. Separuh kamu separuh Kaina," jelas Fadilah.

__ADS_1


"Ibu aku mau lihat." Kama dan Kalila membawa sang nenek untuk duduk.


"Cantik, gak adiknya?" tanya Dina.


"Imut, ya." seru Kalila.


"Yang cowok ganteng," timpal Fadilah.


"Lucu. Hidungnya kecil," tutur Kama.


"Boleh cium gak?" tanya Kalila lagi.


"Sus, Abang sama kakanya boleh cium adik bayi gak?" tanya Fatih.


"Boleh tapi sekali aja, ya," jawab Suster ramah.


Kedua kakak itu mencium adik mereka yang masih merah. Setelahnya suster pun meminta salah satu dari bayi untuk segera di susui sang ibu.


"Kakek, neneknya boleh pindah rungan dulu. Cucunya mau belajar nyusu sekalian kita ajarkan Pak Fatih untuk membuat baby-nya sendawa," jelas Suster.


Fadilah dan Suci menyerahkan si kembar ke tangan perawat. Mereka perpindahan ke rungan tamu yang ada di sana.


"Saya bisa nyusuin sekali dua, Sus," kata Kaina.


"Wah, bagus kalau gitu. ASI-nya sudah ada, Bu?"


"Ada, Sus."


Di bantu suster, Kaina memposisikan kedua bayinya di sebelah kanan dan Kiri. Suster pun meminta Fatih untuk memperhatikan agar nanti di rumah bisa membantu istrinya.


Setelah si kembar kenyang menyusu, suster pun memberikan salah satunya ke pada Fatih. "Pak, tangannya jangan kaku dan tegang. Santai aja. Habis nyusu bayi perlu sendawa untuk membantu mengeluarkan udara yang ditelan bayi ketika menyusu. Bila bayi tidak sering bersendawa, perutnya bisa terisi oleh banyak udara."


Fatih mengangguk paham.


Suster membantu pengacara itu untuk mendekap bayinya di dada. "Usap-usap punggung si kecil, ya, Pak, sampai dia sendawa."


Kaina tertawa melihat wajah tegang dan kaku suaminya. "Kenapa, Mas?"


"Taku, Bun, nanti jatuh atau dia lecet."


"Tangan kamu sebesar itu masak gak bisa nopang bayinya."


"Belum bisa kali, Bu," celetuk Suster.


"Jadi yang kembar tadi anak Ibu?"


Kain mengangguk.


"Ibu beruntung, ya, bisa dapat suami yang sayang anak sambungnya."


"Saya juga beruntung dapat mereka, Sus," jelas Fatih. "Mereka yang membawa keajaiban di hidup saya."


Suster tersenyum. Bayi perempuan yang digendongnya pun bersendawa. "Alhamdulillah."


Di rasa cukup bayi itu di letakkan kedalam box.


Tak lama bayi yang di tangan Fatih pun ikut sendawa.


"Coba, Pak, taruh bayinya di box," ajak Suster.


Fatih memberanikan diri membaringkan sang anak. Bayi merah itu tampak tidur dengan nyenyak hingga tak terganggu dengan apa yang dilakukan sang ayah.


"Bayinya mau tetap di sini atau kita bawa lagi?" tanya Suster.


"Disini aja, Sus. Abang sama kakaknya pasti masih mau lihat," jawab Fatih.


"Baik, Pak. Bu Kaina, makan dulu, ya, habis itu minum obatnya dan boleh istirahat."


"Baik, Sus," jawab Kaina.


"Kami keluar dulu."


"Terima kasih, Suster."


Suster mengangguk dan tersenyum.


\=\=\=\=\=


Akhirnya, si kembar junior pulang ke rumah. Bahagia meliputi keluarga besar Kaina dan Fatih.


"Jadi, siapa nama dedek bayi, Yah," tanya Kama.

__ADS_1


"Iya, dari kemarin kita penasaran," jelas Fadilah.


Kaina menatap sang suami. "Siapa, Mas?"


"Namanya, Farhan Habi dan Farah Habiba. Artinya anak laki-laki dan anak perempuan yang gembira penuh suka cita juga terpuji."


"Aamiin." Semua orang mengaminkan nama itu sebab nama adalah sebuah doa dari orang tua untuk anaknya.


"Kok gak ada nama Kaina?" tanya Fadilah.


"Gak papa, Pak. Aku sengaja ngasih Mas Fatih kesempatan untuk kasih nama anaknya juga awalnya harus F. Biar adil, Kama dan Kalila itu awal namaku."


"Intinya walau mereka gak pakai namaku, mereka juga anakku, Kai," tutur Fatih.


Bibir Kaina melengkung bahagia.


Baby Farah yang di gedong sang nenek mulai menggeliat begitu juga dengan baby Farhan yang di gendong sang kakek.


"Kayaknya udah lapar ini. Mau nyusu," tutur Dina.


"Kalau gitu bawa ke kamar aja biar mereka bisa tidur," tambah Fadilah.


Sebelum mengambil anaknya, Fatih membantu Kaina berdiri. Barulah mereka mengendong sang anak menuju kamar. Di sana, si pengacara tampak membantu istrinya memposisikan sang bayi seperti yang di ajarkan oleh suster.


Laki-laki itu belajar dengan cepat. Kini ia mulai bisa dan tak takut lagi ketika membantu Kaina mengurus anak mereka. KIni, si kembar mulai menghisap sumber makanan mereka. Sesekali sang ayah membelai kepala keduanya yang ditumbuhi rambut lebat.


"Aku masih nggak nyangka loh, Kai," ungkap Fatih.


"Masih aja berasa mimpi. Padahal belakangan begadang terus."


"Gak tau. Aku senang aja ketika bisa ngurus mereka. Lihat mereka sendawa habis itu bobok rasanya hati aku berbunga-bunga. Walau aku ngantuk tapi pas dengar mereka nangis, ngantuk langsung hilang."


"Bahagia, ya, Mas?"


"Banget, Sayang. Makasih, ya." Fatih membelai sang istri.


"Apa sih, Mas. Dari kemarin bilang makasi mulu."


"Ya, aku gak tau balasnya pakai, apa, Kai. Rasanya apa yang aku lakukan ini tuh masih kurang."


"Cukup, Mas, sudah lebih dari cukup," jelas Kaina.


"Buat aku gak akan pernah cukup, Sayang."


"Ya, udah terserah kamu aja deh."


Fatih menatap dalam sang istri. "Jangan tinggalin aku, ya."


"Gak, Mas, asal kamu gak macam-macam aja."


"Janji gak akan macam-macam."


Kaina tertawa. "Ternyata kamu bucin abis, ya, Mas."


"Apa itu bucin?"


"Budak cinta."


"Iya, Ayah udah jadi budak cinta Bunda sama anak-anak."


"Hahaha, bisa aja kamu."


"Ih, beneran. Sekarang Bunda gak lihat, pagi Ayah udah mandiin si baby junior habis mereka nyusu ayah antar si kembar besar ke sekolah. Waktu Ayah sekarang benar-benar buat kalian semua."


"Iya. Maaf, ya, kalau bikin kamu repot. Nanti kalau aku udah sembuh, janji aku bakalan urus semuanya."


Di genggamnya tangan sang istri. "Mau Bunda sembuh, Ayah bakalan tetap bantu urus ana-anak."


"Alhamdulillah, Makasih, ya, Mas. Ternyata kamu suami yang tau akan tugas dan tanggung jawab."


"Sama-sama, Sayang."


Pengacara itu melabuhkan sebuah kecupan sayang yang begitu dalam di dahi istrinya. Suami istri itu tersenyum bahagia menikmati momen si kembar yang menyusu dengan begitu kuat.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Terima kasih sudah setia mengikuti lika liku perjalanan hidup Kaina dan Fatih juga anak-anak mereka.


Terima kasih juga buat yang sudah memberikan dukungannya. Like πŸ‘komenπŸ’¬ hadiah 🎁. Semuanya sangat berarti buat author. 😊😍πŸ₯°πŸ˜˜


Jangan lupa ikuti terus kisah-kisah lainnya yang author tulis. Mampir ke novel terbaru, ya...

__ADS_1



__ADS_2