
Acara syukuran selesai tepat menjelang sore hari. Melihat istrinya sudah kelelahan, Fatih membimbing Kaina menuju kamar mereka ditemani si kembar.
"Capek, ya, Bun?" tanya Kama.
"Lumayan, sayang," jawab Kaina.
"Mau kita pijitin gak," tawar Kalila.
"Emang kalian bisa?" tanya Fatih.
"Dicoba dulu dong, Ayah," jawab si kembar.
Tiba di kamar Fatih membantu istrinya duduk di atas ranjang. "Ya, udah kalian temani bunda dulu di sini. Ayah keluar sebentar."
"Kemana, Mas?" tanya Kaina.
"Masih ada tamu bapak yang datang, gak enak kalau kitanya gak ada."
"Jangan lama-lama tapi."
"Iya." Fatih pun kembali keluar.
Di dalam kamar Kama dan Kalia memijat kaki bunda mereka sebelah seorang. Meski tak terasa, Kaina menghargai usaha anak-anaknya itu. "Makasi, ya, anak-anak bunda."
"Iya, Bun," jawab Kama dan Kalila.
"Enak gak, Bun?" tanya Kama.
"Lumayan."
"Boleh gak nanti kita ikut ibu sama Omdit pulang."
"Abang sama Kakak mau nginap di rumah ibu?"
"Iya, kan besok libur sekolah."
"Boleh dong."
"Aassiik," sorak Kalila.
"Tapi ingat, ya, jangan bandel dan jangan bikin rumah ibu berantakan."
Si kembar mengangguk paham.
Tak lama Fatih pun kembali. "Beneran anak-anak mau nginap di rumah ibu?"
"Kata mereka iya, Mas. Kenapa?"
"Itu ibu sama Adit mau pulang."
"Dah, sana Abang sama Kakak keluar. Kaki bunda udah enakan."
Sebelum turun kedua anak itu memeluk dan mencium sang bunda perut besarnya. "Dada dedek, Abang sama Kakak bobok di rumah ibu, ya," bisik Kama di sana.
__ADS_1
"Dia gerak," sorak Kalila dengan mata yang membola.
"Hah, benaran?" tanya Fatih.
"Iya, Ayah, tadi dedeknya gerak. Ayo, sini." Gadis kecil itu sudah tak sabar ingin menunjukkan pada ayah sambungnya.
"Beneran, Kai."
Kaina pun tertawa melihat wajah anak dan suaminya yang begitu penasaran. "Iya, Mas, tapi gak begitu kuat."
Fatih menempelkan tangannya di perut sang istri begitu pula dengan si kembar. "Kok gak ada."
"Coba diajak ngobrol lagi kayak Kama tadi."
"Emang bisa."
"Di coba aja, Mas. Kamu sih, terlalu kaku. Walaupun dia gak dengar tapi kita harus sering aja komunikasi. Ini sekali-kali aja kalau pas mau di jengguk."
"Ya, maaf."
"Ayo, Yah, ajak dedeknya ngomong," desak Kama.
BAB 97
"Nak, ini Ayah. Coba gerak lagi kalau kamu dengar suara ayah dari dalam sana." Fatih berkata di depan perut besar Kaina. Kemudian sebuah pergerakan kecil terasa menyentuh telapak tangannya.
"Tuh, kan benar," seru Kalila.
"Iya, Dek, dia gerak." Kama ikut merasa senang.
"Aamiin," sahut Kaina.
Fatih mendaratkan kecupan di seluruh wajah istrinya sebagai tanda luapan rasa cinta dan sayangnya yang begitu dalam. Dia benar-benar bersyukur menikah dengan wanita itu. "Aku sayang kamu, Kai."
"Aku juga sayang sama, Mas."
"Ayah, ih, nanti muka bunda jadi bau iler Ayah lo," celetuk Kalila.
"Apa? Ayah iler kamu bilang?"
Kalila pun tertawa.
"Sini, kamu juga bakalan Ayah kasih iler."
Fatih memeluk kedua anak sambungnya itu. Menciumi wajah gemas Kalila dan Kama bergantian lalu digelitiknya.
"Hahaha, ampun Ayah," ujar Kalila.
"Abang gak ikutan, kenapa Abang juga di gelitik," tambah Kama.
"Karena kalian berdua itu selalu bawa keajaiban dalam hidup Ayah. Ayah jadi gemas." Dilepaskannya Kama dan Kalila. "Ayah sayang kalian berdua."
"Kita juga sayang Ayah." Kama dan Kalila memeluk Fatih dengan penuh cinta seorang anak pada orang tuanya. Mereka kini bahagia mendapatkan kasih sayang seorang ayah yang selama ini tak pernah dirasakan.
__ADS_1
Kaina tersenyum bahagia melihat momen itu.
"Ayo, katanya mau bobok di rumah ibu, Ayah antar kedepan."
"Aku ikut, Mas," kata ibu si kembar.
"Gak usah, Kai, kamu di sini aja. Itu kaki kamu udah mulai bengkak, istirahat aja, ya. Ibu pasti ngerti kok."
"Ya udah deh."
"Dada Bunda." Kama dan Kalila melambaikan tangan pada sang ibu.
"Daa, sayang."
🐽🐽🐽🐽
Sebelum tidur, Fatih membacakan sebuah dongeng buat anak-anaknya yang masih dalam kandungan. Setelah membaca banyak artikel kegiatan seperti itu akan meningkatkan hubungan ayah ibu dan janin serta dapat membuat bayi jadi cerdas.
"Mereka gak gerak lagi ya, Kai?" tanya Fatih.
"Masih kecil, Mas, jadi pergerakannya belum aktif. Nanti kalau sudah lima bulan keatas baru tuh," jawab Kaina.
"Gimana rasanya pas mereka gerak-gerak dalam sini?" Fatih mengelus perut istrinya.
"Gimana, ya, susah sih jelasinnya."
Fatih tersenyum lebar. "Aku benar-benar gak nyangka bakalan bisa punya anak. Merasakan momen dimana aku sebagai suami tau kalau istrinya hamil, terus melihat perut kamu makin besar, terus merasakan pergerakan mereka. Aku masih speechlees."
"Kalau aku masih gak nyangka bakalan punya suami seperi kamu, Mas. Bisa menerima kekurangan aku dan anak-anak. Sayang sama aku juga si kembar."
"Pastilah aku sayang sama kalian. Soalnya sejak kita kenal hidup aku berubah. Banyak hal-hal yang tak terduga terus terjadi membuat aku pengen nangis saat mengucapkan syukur sama Allah."
Kaina tersenyum. "Jadi, gimana rencana jalan-jalan kita?"
Fatih yang tadi tiduran di paha istrinya mendudukkan diri. "Setelah aku pikir-pikir mengingat kondisi kamu yang gampang letih kita jalan-jalannya naik jet pribadi aja. Tujuannya tetap ke Bali. Kita bawa aja anak-anak, ibu sama Adit."
"Hahaha, berasa kayak di novel-novel deh aku, Mas. Naik jet pribadi segala."
"Gak papa. Aku maunya istriku tetap nyaman kalau mau pulang kita gak perlu pesan tiket segala terus antri di bandara."
"Aku ikut aja apa kata ayahnya anak-anak."
Bibir Fatih melengkung sempurna. "Duh, rasanya aku melambung pas dibilang gitu."
"Lebay." Kaina pun tertawa. "Kapan kita berangkat?"
"Pas kandungan Bunda lima bulan. Biar dedek bayinya lebih kuat lagi di ajak keliling."
"Oke, deh."
"Tidur, yuk, besok pagi Ayah harus ke kantor. Ada meeting penting sama ada klien yang mau ketemu."
Kaina merebahkan badannya. "Besok aku boleh main ke rumah ibu gak? Anak-anak kan di sana pasti rumah jadi sepi."
__ADS_1
"Boleh. Berangkat bareng Ayah aja, ya, paginya."
Kaina mengangguk di dada sang suami. Keduanya pun sama-sama memejamkan mata.