
Tak tau kata apa yang harus dikeluarkan pada ayah biologis putrinya, Kaina memilih pergi. Sebelum melajukan roda dua, tak lupa dia menatap jendela yang sama dengan Kalila. Anaknya itu tampak menangis memanggil namanya tapi berusaha ditenangkan oleh Brigita. Gadis kecil itu pun selalu menepis tangan si ibu sambung.
Tenang, sayang, Bunda akan berjuang demi kebersamaan kita. Tunggu dan sabarlah, Nak selagi Ibumu ini merangkak bahkan harus tertatih demi mendapatkan kamu kembali.
Terakhir dia gambarkan senyuman di bibir dengan gerakan kedua jari telunjuk agar sang putri merasa tenang dan tak lagi sedih.
Derasnya hujan jatuh bersamaan dengan derasnya air mata kesedihan Kaina. Tak peduli dirinya kini basah kuyup, tak peduli dinginnya air menyerang tubuh. Apa yang dirasakan tak sebanding dengan luka tak berdarah di hati. Tak mau rasa sepi meratapi malam nan suram ini, dia mencoba memikirkan jalan lain untuk mengurai kekalutan masalah hidup.
Jujur dia sudah tak sanggup memikul beban ini sendirian, tak sanggup mengobati sakit ini seorang diri. Hanya sendiri. Bagaikan lari dengan tubuh penuh luka tanpa ada seorang pun yang peduli. Tiba di rumah, Kaina gegas menuju kamar dan memeriksa laci meja rias. Dapat apa yang dicari, dia kembali menerobos lebatnya hujan bersama motor matic itu. Ia tak sempat mengganti baju yang sudah basah dan melekat dengan kulit.
Semua ia abaikan karena masalah genting harus segera diselesaikan. Alamat nan dituju cukup jauh, hujan pun tak mau berhenti mengguyur tubuhnya. Seakan langit ikut merasakan hati wanita malang itu. Hingga dia pun ikut menangis meratapi malam yang gelap tanpa purnama.
Ketika mau berbelok ke dalam sebuah perumahan, tak sengaja satu mobil menabrak motor Kaina dari arah lain. Ia pun terjatuh dan satu kakinya terhimpit motor. Sakit memang, tapi dia berusaha kuat mengingat anak-anaknya yang sedang mengharapkan perjuangannya.
“Mbak gak papa?” Seorang pria datang menghampiri dengan payung.
“Gak papa, Mas.”
Kaina cuek, dia berusaha menegakkan kembali motornya dan menyalakan. Namun, keadaan tak berpihak, motor itu mati dan tak mau dihidupkan. Merasa kesal dengan situasi, ibu tunggal itu memukul-mukul bagian kepala motor dan menundukkan kepalanya di sana. Meraung dan meratapi nasib yang tak berpihak.
Orang yang menabraknya tadi merasa bingung. “Mbak?”
Kaina tak menggubris dia terus saja menangis tampak dari bahunya yang bergetar.
“Mbak, mau kemana? Kalau buru-buru mari saya antar.” Pria itu berkata sedikit keras karena takut tak didengar akibat bunyi hujan yang deras.
Yang ditanya mengangkat kepala. “Saya mau ke rumah nomor 22B di komplek ini,”jawabnya dengan bibir bergetar karena dingin.
Fatih bertanya-tanya dalam hati. Ada urusan apa mau ke rumahnya. “Mari ikut saya, kebetulan saya kenal pemiliknya.”
“Lalu motor saya gimana?”
“Titip di pos satpam saja. Lagian Mbak gak bisa masuk tanpa izin orang yang punya rumah.”
__ADS_1
Kaina setuju, kemudian Fatih memberikan payung ke arahnya. “Pegangin, biar saya dorong motornya ke pos satpam.”
Dengan setia ibu si kembar menjaga pria itu agar tak basah. Dari pos satpam mereka kembali ke mobil sedan hitam yang terparkir di ujung belokan.
“Gak papa saya masuk? Taku nanti mobilnya Mas basah.”
“Gak papa. Ayo, masuk.”
Fatih terpaksa mematikan AC mobil karena pasti wanita itu nanti akan semakin kedinginan. Agar kaca di dalam tak berembun, dia membuka sedikit kaca bagian samping. Hingga roda empatnya memasuki garasi rumah. “Ayo, masuk. Saya akan minta bibik ambilkan handuk.”
Kaina hanya ikut saja. Dia memeluk badannya yang mulai kedinginan. Tiba di ruang tamu, Fatih memberikan handuk yang diambilkan pembantunya. Diperhatikan Kaina, wanita yang seingatnya menolong dia di penjara tadi. Mata bulat itu tampak merah tapi memancarkan kesedihan yang mendalam. Tubuhnya yang kurus, ah, tidak tubuh langsingnya menggigil. Bibir merah mudanya bergetar dan sedikit pucat.
“Bi,” memanggil ART.
“Ya, Mas?”
“Tolong siapkan teh hangat. Saya mau ke kamar cari pakaian yang bisa dipakai Mbak ini. Kasihan dia kedinginan.”
ART nya mengangguk gegas kembali ke dapur.
Kaina menggeleng. “Jangan, Mas, saya berdiri saja takut sofanya basah.”
“Ya udah, tunggu di sini. Saya cari pakaian biar bisa di ganti.”
“Terima kasih.”
Wanita nan kedinginan itu mengedarkan pandangannya. Bukan mengagumi keindahan dan kemewahan rumah ini, tapi seperti sedang mencari sosok yang ingin ditemuinya. Tak lama Fatih datang membawakan satu setelan baju almarhum ibunya. "Ganti pakai ini dulu, setidaknya kamu nanti gak masuk angin."
Kaina menerima dengan tangan yang bergoyang. “Maaf, Mas, apa ini rumah Pak Fadilah?”
“Benar, ini rumah bapak saya. Sekarang beliau lagi gak ada di rumah mungkin sebentar lagi pulang.”
“Boleh saya menunggunya?”
__ADS_1
Fatih mengangguk. “Silahkan pakai kamar tamu di sebelah sana.” Menunjuk daun pintu berwarna coklat kemerahan. “Saya tinggal ke kamar.”
Dua orang itu sama-sama melangkah ke arah yang berlawanan. Kaina mengganti bajunya yang basah sedangkan Fatih menuju kamarnya juga berganti pakaian. Keluar dari kamar tamu, wanita itu kembali menuju tempatnya semula.
Duduk di sana tak lama seorang ART datang mengantarkan minuman. “Saya bikinin teh jahe, biar badannya hangat,” katanya.
“Terima kasih, Mbak,” balas Kaina.
“Panggil Bibik saja.”
Ibu muda itu mengangguk setuju. “Baju basahnya saya ambil di kamar tamu, ya, biar dikeringkan.”
“Gak usah, Bik, masuk kantong kresek saja. Biar nanti saya bawa pulang.”
“Baik kalau begitu. Saya tinggal.”
Kaina langsung menyeruput segelas teh jahe panas itu. Sesekali ditiupnya untuk menurunkan suhu air agar lidahnya tak merasa perih. Sambil menunggu, matanya melirik ke arah penunjuk waktu yang tergantung di dinding. Jarumnya menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Hatinya mulai resah jika malam ini tak sampai bertemu dengan orang yang dicari.
Setengah jam kemudian, Fatih keluar dari kamarnya menuruni anak tangga. Dirinya sangat penasaran dengan wanita yang ada di ruang tamu kini. Ada perlu apa malam-malam begini bakan sampai menerobos derasnya hujan tanpa pelindung sedikit pun.
Dia duduk di depan wanita yang sedang termenung dengan gelas kosong di tangannya. “Hhhmm.”
“Eh.” Kaina mengerjapkan mata karena kaget dengan kehadiran Fatih.
“Gimana? Sudah hangat badannya?”
“Sudah, Mas. Terima kasih.”
“Mau di tambah atau mau sesuatu mungkin.”
Digoyangkan kelima jarinya sambil berkata, “Gak usah, Mas, ini saja sudah cukup.” Dalam hati ia pun menyadari kalau sejak tadi setelah dari rumah, perutnya belum diisi. Namun, sungkan rasanya kalau disini dia sampai minta makan.
“Yakin mau nunggu Bapak?”
__ADS_1
Kepala Kaina mengangguk dengan cepat.