Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 87


__ADS_3

Kaina tak berani mengungkapkan perasaannya.


“Hahaha … sini.” Fatih menarik sang istri ke dalam dekapan. “Tanpa kamu bilang pun aku udah tau kalau kamu juga cinta sama aku.”


Di dada bidang suaminya Kaina mengangguk.


“Ekhem, maaf mengganggu,” sela seorang Dokter.


Pasutri yang sedang menikmati kebahagiaan mereka segera melepaskan diri. 


“Karena hasil tes darah Bu Kaina sudah keluar jadi apa ingin saya bacakan di sini atau nanti saja?” Dokter dengan name tag Gina itu bertanya.


“Di sini saja, Dok,” jawab Fatih. “Saya suaminya.”


“Oh, untung keluarganya sudah datang. Kami sempat kebingungan tadi ingin menghubungi siapa saat istri Anda tak sadarkan diri.”


“Gimana hasilnya, Dok?” tanya Kaina.


“Gak ada masalah semuanya baik-baik saja. Hanya kadar hormon hCG-nya sedikit tinggi.”


“Artinya?” tanya pasutri itu bersamaan.


“Artinya Bu Kaina sedang hamil. Selamat, ya.”


“Hamil?” Kompak, Kaina dan Fatih kembali bertanya.


“Iya! Memangnya kenapa? Kalau gak yakin kalian bisa periksa ke bagian dokter kandungan,” saran dokter Gina. “Setelah ini saya akan minta suster untuk mengantarkan. Silahkan nikmati waktu bahagia kalian, saya keluar dulu.”


Kaina dan Fatih masih sama-sama terpaku di posisi. Keduanya tak percaya dengan keajaiban yang hadir.


“Aku hamil, Mas.”


Fatih masih tak memberikan reaksi.


“Mas?” Kaina mengguncang bahu suaminya.


“Hhmm?”


“Kamu ragu kalau anak ini anak kamu?” Wajah Kaina mulai tampak sendu.


“Anak aku?” tanya Fatih.


“Iya, Mas, ini anak kamu. Aku jamin 100% kalau ini anak kamu, anak kita.” Kaina meyakinkan suaminya.


“Aku punya anak?”


Kaina mengangguk cepat.


“Beneran, Kai? Aku bisa bikin kamu hamil?”


“Kamu gak percaya kalau aku hamil? Aku pikir kamu ragu.”

__ADS_1


Fatih tertawa lalu sedetik kemudian dirinya menangis bahagia. “Aku bakalan punya anak, Kai. Aku gak mandul.”


Kaina akhirnya paham. Segera di pelukan sang suami yang masih terkejut akan berita kehamilannya. “Iya, Mas, kamu gak mandul. Hanya belum di kasih rezeki sama Allah dan sekarang rezeki itu datang.”


Disekanya pipi dengan kasar oleh Fatih lalu dia merunduk agar bisa menempelkan telinga di perut Kaina. “Hay, anak Ayah, sehat-sehat di dalam sana. Ayah janji akan selalu ada buat kalian dan bunda.”


Tak bisa menahan haru bahagia, Kaina pun ikut juga meneteskan air mata. 


“Terima kasih. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan terima kasih sudah membawa keajaiban untukku.” Fatih melabuhkan kecupan di seluruh wajah istrinya kemudian mereka mengucapkan syukur serta memanjatkan doa pada yang maha kuasa.


Pasangan itu pun larut dalam suka cita.


...🥭🥭🥭🥭...


Fatih menantikan kedatangan ayah serta mertuanya di depan Rumah Sakit ketika sang istri sedang melakukan pemeriksaan kandungan.


“Gimana Kaina, Tih?” Fadilah bertanya dengan raut wajah cemas. Disusul Dina bersama Adit dan si kembar.


“Alhamdulillah, Kaina baik-baik saja, Pak, Bu,” jawab Fatih dengan wajah yang berbinar.


Semua keluarga mengucapkan syukur.


“Lalu sekarang di mana putri Ibu?” tambah Dina.


“Kaina lagi di periksa dokter, Bu. Sebentar lagi Bapak dan Ibu bakalan punya cucu.”


Fadilah dan besannya saling pandang lalu kedua orang tua itu meneteskan air mata bahagia. “Selamat, ya, Nak.” Secara bergantian mereka memeluk Fatih..


Fadilah mengangguk. “Sana, temani istri kamu. Biar kami menunggu di sini.”


“Iya, Pak.” Fatih kembali menemui istrinya di ruang dokter OBGYN. 


“Akhirnya, Besan, doa saya di ijabah Allah,” ujar Fadilah pada Dina.


“Alhamdulillah wa syukurillah, Pak, doa kita dikabulkan Allah. Ternyata mereka memang ditakdirkan berjodoh.”


Tak sanggup menahan haru, air mata Fadilah terus saja mengalir. Sesekali disekanya dengan sapu tangan. Mereka semua duduk di bangku tunggu, menantikan Kaina selesai diperiksa.


“Yea, bentar lagi Kama sama Kalila bakalan punya adik,” seru Adit.


“Adik?” tanya Kama.


“Iya, sekarang bunda lagi hamil dedek bayi di perutnya.”


“Terus aku gak jadi adik lai dong, Omdit?” tanya Kalila.


“Gak, dong. Artinya sekarang Kalila bakalan jadi kakak.”


“Aku bakalan dipanggil kakak gitu?”


“Iya.” Adit mengelus kepala keponakannya. “Mulai sekarang kalian berdua harus bisa jagain bunda dan gak rewel.”

__ADS_1


“Siap kalau begitu,” jawab si kembar.


Tak lama Fatih keluar dari ruangan dokter mendorong istrinya yang duduk di kursi roda. Semua berdiri menyambut pasangan itu.


“Ya Allah, Nak, Ibu sampai khawatir kamu belum juga pulang sampai tadi sore.” Dina langsung memeluk putrinya.


“Maaf, ya, Bu, aku bikin Ibu sama Adit cemas.” pinta Kaina.


Dina tersenyum lebar. “Gak papa, yang penting sekarang kamu baik-baik saja dan ibu senang bisa dapat kabar bahagia.”


Kemudian Fadilah mendekati menantunya dan berkata, “Kamu benar-benar membawa warna baru di kehidupan Bapak dan Fatih. Terima kasih sudah hadir dan menerima putra Bapak.”


Diraihnya tangan sang mertua lalu digenggam dengan erat. “Seharusnya saya yang berterima kasih sama Bapak, karena sudah membawa saya bersatu dengan Mas Fatih dan menerima kekurangan saya.”


“Kamu sosok yang sempurna di mata Bapak.” Terakhir di labuhkan sebuah kecupan kasih sayang oleh Fadilah di puncak kepala menantunya. “Kamu bukan hanya sekedar menantu, tapi sudah seperti putri bagi Bapak.”


“Terima kasih, Pak.”


Si kembar pun memeluk ibunda dengan begitu erat.


“Sayangnya, Bunda. Maaf, ya, Bunda menghilang seharian,” kata Kaina.


“Kita pikir Bunda masih di supermarket,” kata Kama. “Tapi pas lihat ibu mulai sedih kita juga ikutan sedih.”


“Iya, aku sampai takut kalau Bunda gak pulang,” tambah Kalila.


Kaina mengecup sayang pipi putra dan putrinya.


“Gimana kondisi kandungan Kaina?” tanya Fadilah.


“Alhamdulillah sehat, Pak. Malam ini boleh pulang,” terang Fatih.


“Kalau begitu ayo, kita jalan! Tunggu apa lagi.”


“Tapi, Pak,” sela Kaina. “Malam ini boleh gak kami pulang ke rumah ibu? Besok baru ke rumah Bapak?”


“Ya, boleh lah. Kalian mau pulang kemana Bapak gak akan larang sekalipun kalu kalian mau tinggal di rumah sendiri.”


“Untuk hal itu nanti kita bicarakan lagi,” timpal Fatih. “Sekarang kita ke rumah ibu dulu, tapi Bapak ikut kan?”


“Bapak langsung pulang saja, capek mau istirahat.”


“Ya sudah kalau begitu. Besok kami akan kerumah.”


“Gak papa kalau mau lebih lama di rumah Bu Dina gak masalah. Nanti biar Bapak yang main-main ke sana. Sekalian ketemu cucu.” Fadilah mengelus kepala si kembar.


Mereka semua berjalan keluar dari Rumah Sakit menuju parkiran. Dina, Adit dan si kembar yang tadi berangkat bersama Fadilah kini menaiki mobil Fatih.


“Biar saya yang nyetir, Bang,” tawar Adit.


“Oh, oke, makasih, Dit.” Fatih memberikan kunci mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2