
“Kamu urus dulu semuanya, nanti bagian bayar membayar biar aku selesaikan.” Brigita berkata sambil membawa Kalila duduk di bangku tunggu.
Kaina tampak sibuk menyelesaikan urusannya kemudian langsung menemui dokter yang akan menangani sang Ibu. Entah apa yang mereka bicarakan hingga akhirnya ia merasa tenang barulah menemui sang anak dan Brigita.
“Semua sudah beres,” kata Brigita.
“Terima kasih, Bri.”
“Aku senang bisa membantu.” Wanita itu tersenyum tulus. “Yuk, kita ke ruangannya Bu Dina. Kalila pasti pengen ketemu neneknya.”
Kaina setuju dan mereka melangkah bersama. Dina sendiri masih di tempatkan di ruang ICU, bedanya yang sekarang ada ruang tunggu khusus keluarga.
“Semoga Ibu kamu cepat sadar, ya, Kai,” harap Brigita.
“Aamin.”
“Kamu bakalan menginap disini?”
“Iya, aku titip Kalila lagi. Maaf sudah merepotkan.”
“Gak kok. Oh, ya, kebetulan surat perjanjian kita selesai tadi siang jadi aku bawa aja langsung. Kalau kamu mau baca dulu sebelum di tanda tangani aku tinggalkan di sini.”
Kaina mengulurkan tanganya. “Sini, aku tandatangani langsung.”
“Kamu yakin?”
“Iya. Aku percaya sama kamu kok.” Kaina merasa sungkan jika dia tak langsung membubuhkan goresan tangannya di surat itu. Padahal Brigita sudah sangat baik sekali, langsung memenuhi pinjamannya tanpa memerlukan waktu yang lama.
“Baiklah, ini dia suratnya dan ini penanya.”
Ada dua lembar kertas yang harus ia bubuhi tanda tangan. Tanpa membaca sedikitpun dengan penuh keyakinan Kaina menggoreskan tinta hitam diatas materai. “Selesai.” Menyerahkan kembali map berwarna merah itu pada Brigita.
Tentu diterima oleh istri Candra itu dengan senyuman yang sangat mekar. “Kalau gitu aku pulang, ya. Kalila pamit dulu sama Bunda.”
Kalila turun dari bangku yang diduduki kemudian memeluk erat Ibunya. “Besok kalau Bunda pulang ke rumah, jemput aku, ya.”
“Iya, sayang. Nurut, ya, sama Tante Bri dan Ayah.”
Anggukan kepala putrinya membuat Kaina merasa bersalah karena jelas sekali sang anak sangat terpaksa.
...🦋🦋🦋🦋...
Malam ini Dina kembali masuk meja operasi karena ada sedikit infeksi dalam jantungnya. Kaina menunggu dengan cemas hingga dokter pun keluar dari ruang tindakan.
“Santai, keadaan ibu kamu gak parah kok. Semua sudah berhasil kami tangani dan saya jamin besok Ibu kamu kan sadar,” jelas Dokter Nurdin.
__ADS_1
“Terima kasih, Dok.”
“Sudah tugas saya. Lagian ini juga berkat dokter sebelumnya yang langsung mengambil tindakan dengan sangat cepat.”
Wanita nan tampak lesu itu hanya menganggukkan kepala.
“Kalau begitu saya ke ruangan dulu. Kamu bisa istirahat dan besok pagi kita periksa kondisi Bu Dina.”
Kepergian Dokter, Kaina mengikuti sang Ibu yang dibawa suster kembali menuju ruang perawatan. Tiba di sana dia merapikan selimut yang menutupi ibunya kemudian kembali ke ruang tunggu dan merebah diri di sofa panjang satu-satunya.
Lega. Satu kata itu kini bisa diucapkan karena masalah Dina sudah teratasi. Tinggal besok dia harus memikirkan solusi untuk membebaskan Adit dan mendapatkan kembali hak asuh sang putra. Karena sudah terlalu lelah, matanya perlahan-lahan mulai redup dan akhirnya tertutup sempurna.
...🐷🐷🐷🐷...
Dina membuka mata tepat pukul sembilan pagi di saat dokter melakukan pemeriksaan. Semua alat vitalnya berjalan dengan baik. Sang anak yang sedang menunggu di luar segera dipanggil oleh suster atas perintah dokter.
“Ibu.” Kaina menghampiri wanita lemah itu dan mencium keningnya.
“Saya bilang apa semalam,” kata Dokter.
Senyum di bibir Kaina mekar sempurna. “Terima kasih, Dok.”
“Kondisi Ibu kamu baik. Kita pantau sampai dua hari kedepan jika semuanya aman beliau bisa pindah ke ruang inap biasa.”
“Sekarang saya boleh disini jaga Ibu?”
“Baik, Dok.”
“Kalau begitu saya keluar dulu. Nikmati waktu kalian.”
Kepergian dokter, Kaina nampak terharu menatap ibunya yang sudah membuka mata tapi belum bisa diajak bicara. Dina lemah, ditambah ventilator yang masih terpasang membuatnya sulit untuk berucap.
“Ada yang sakit?” tanya Kaina
Dina menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.
“Syukurlah. Ibu harus banyak istirahat biar cepat sembuh, bisa pindah dari sini dan kita bisa kumpul lagi.”
Di anggukkan kepala sedikit oleh Dina lalu tangannya mengisyaratkan ingin menulis. Karena tak ada pena dan kertas, sang anak memberikan ponselnya agar si ibu bisa mengetik di sana. Cukup lama karena Dina sedikit kesusahan sebab tangannya terasa lemas untuk bisa digunakan.
Terlihat di layar pipih itu ternyata sang ibu menanyakan kedua cucunya.
“Besok, ya, aku bawa mereka kesini. Kan kata dokter anak-anak gak boleh masuk. Makanya ibu jangan mikir macam-macam dulu biar gak stres.”
Pasrah, Dina menganggukkan kepala. Kemudian dua orang suster datang untuk memberi makan pasien itu lewat selang NGT (Nasogastric Tube) yang dipakai Dina melalui lubang hidung. Terakhir suster memberikan obat-obatan yang harus dikonsumsi.
__ADS_1
“Mbak, kita keluar, ya, biar ibunya istirahat dulu,” ajak Suster.
“Baik, Sus,” jawab Kaina. “Bu, aku pulang sebentar mau bersih-bersih, nanti balik lagi.”
Dina yang mulai teler akibat obat penenang hanya bisa menggerakkan mata. Bersama dua orang suster tadi Kaina pun keluar dari sana. Dia lupa kalau motornya masih tertinggal di RS sebelumnya. Pas tiba di parkiran barulah ia ingat, membuatnya harus berjalan keluar dari rumah sakit menuju jalan raya mencari angkutan umum.
Motor di dapat ia bawa melaju rumah Brigita. Tiba disana ternyata yang dicari sedang tak ada di rumah.
“Kemana mereka, Bi?” bertanya pada ART.
“Kemarin Ibu Brigita buru-buru pergi ke luar kota. Kalau gak salah mau ketemu orang tuanya yang lagi sakit.”
“Anak saya dibawa juga.”
“Iya, Mbak.”
Kaina merasa bingung sebab Candra dan Brigita tak menghubunginya untuk mengabarkan kalau ingin membawa sang putri.
“Ya sudah, nanti saya telpon aja. Mungkin gak sempat kasih kabar.”
Si ART hanya mengangguk lalu kembali masuk ke rumah. Tujuan Kaina selanjutnya adalah ke rumah Hugo, ingin menjemput sang putra.
“Bu Suci lagi gak ada di rumah, Mbak. Kalau Den Hugo sama Kama baru saja berangkat. Gak tau kemana.”
“Gitu, ya, Bik.”
“Nanti kalau ibu pulang saya sampaikan kalau Mbak kesini.”
“Makasih banyak kalau gitu, Bik. Saya pulang, ya.”
“Hati-hati, Mbak.”
Hatinya mulai merasa gundah gulana, tapi Kaina berusaha berpikir positif. Tiba di rumah hal pertama yang dilakukan menghubungi Brigita, tapi nomor yang dituju sedang tidak aktif begitu juga dengan Candra. Kemudian mencoba menghubungi Hugo, sama saja tak dapat dihubungi, sedangkan Suci sejak tadi ia sudah mengirim pesan dan tak ada balasan.
Diputuskannya untuk mandi dan berganti pakaian lalu memasak makan siang serta bekal untuk sang adik. Dia ingin menemui Adit di penjara sekaligus menyampaikan kabar kalau sang ibu sudah sadarkan diri. Semua dikerjakan sambil sesekali melihat ponselnya apakah ada notifikasi dari yang ditunggu-tunggu. Hingga semua pekerjaan selesai tak ada satupun balasan yang diterima.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Jangan lupa tinggalkan jempolnya 👍 ya ...
Kalau bisa sekalian sama hati ❤ nya 🤭
Terus kasih setangkai bunga 🌹atau secangkir kopi ☕ biar author semangat pas nulis.
Sekali-kali bintang vote 🔖 juga, ok😉
__ADS_1
Terima kasih 🥰