
Candra yang berpamitan dengan Bu Dina di depan rumah, mendengar suara anak-anak kembali masuk. Meninggalkan Brigita nan sudah menunggu di mobil.
“Ayah,” sorak si kembar menghampiri.
“Kalian baru bangun, Ayah udah mau berangkat kerja nih. Besok aja, ya, kita ketemu lagi. Sekarang Ayah ke kantor dulu,” jelas Candra.
“Yyyaahh, kok gak bangunin kita sih, Bunda,” rengek Kalila.
“Maaf, sayang, Bunda pikir kalian akan susah bangunnya,” jawab Kaina.
“Gak papa, besok kita jalan-jalan seharian. Kiss Ayah dulu biar semangat kerjanya.” Candra memberikan pipinya pada si kembar. Kama dan Kalila nan berdiri di sisi kanan dan kiri mendaratkan ciuman di pipi pria yang mereka panggil Ayah.
“Makasih, ya. Kalau gitu Ayah berangkat dulu, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab si kembar bersamaan dengan Kaina. Mereka juga mengantar Candra sampai depan teras, ketika mobil mulai bergerak tangan pun dilambaikan.
...🥝🥝🥝🥝...
Selama perjalanan ke kantor, Candra tak dapat berhenti mengembangkan senyum di wajah. Bayangan hidup bersama Kaina dan si kembar menimbulkan debar bahagia di dalam dada.
Brigita yang sejak tadi memperhatikan suaminya, merasa kali ini ada yang berbeda.“Jangan bilang kamu lagi menghayal bersama Kaina?!”
“Apa sih, Bri,” decak Candra.
“Terus ngapain dari tadi kamu senyum terus bahkan wajah kamu tampak begitu berseri?”
“Loh, siapa yang gak bahagia bisa ketemu anak sebelum berangkat kerja.” Candra berkilah.
“Oh, gitu. Aku jadi gak sabar deh, Mas, kita bisa punya anak.”
Candra cuma diam fokus mengemudi, seakan tak menginginkan hal nan dikatakan istrinya.
“Pasti nanti hidup kita bakalan penuh warna,” tambah Brigita. “Mas, kamu kok diam aja sih?”
“Terus aku harus apa, Bri? Aku gak mau terlalu berharap.”
“Kenapa? Takut kalau nanti kita punya anak aku ngelarang kamu ketemu Kalila?”
“Bukan gitu, takut aku kecewa. Lebih baik santai aja, kalau di kasih syukur kalau belum ya udah.”
“Lagian kamunya juga kurang usaha sih, Mas.”
“Harus gitu tiap malam? Aku capek tau, belum lagi kadang pekerjaan kantor harus dibawa pulang.”
“Iya, deh aku ngerti.” Brigita melipat tangan di dada memasang wajah cemberut. Kesal dengan suaminya yang tak paham akan keinginan untuk bisa disentuh lebih sering lagi.
__ADS_1
...----------------...
...----------------...
Si kembar sedang membangun istana pasir bersama Adit, sedangkan Kaina dan Ibunya memilih duduk di atas tikar dekat pohon nan rindang. Memperhatikan dari jauh anak dan cucu.
“Kalau mereka gak menderita sakit ginjal mungkin hidup kita bakalan bahagia, ya, Bu,” ucap Kaina.
“Jangan begitu. Apa yang terjadi semua sudah diatur Allah, kita sebagai hamba harus menjalani.”
“Entahlah, Bu. Jujur kadang aku capek makanya suka ngeluh. Dunia rasanya gak adil.”
“Boleh lelah, tapi jangan nyerah. Mau ngeluh silahkan, tapi sebaiknya sampaikan pada si pemilik kehidupan. Setelah itu percayakan padanya dan jalani dengan ikhlas.”
“Apa aku bisa, Bu? Aku harus berpisah dengan putra yang selama ini aku besarkan seorang diri bahkan nasab-nya saja jatuh padaku, bukan pada bapaknya.”
“Maka dari itu, setelah Kama sembuh kita pikirkan cara untuk mengambil hak asuhnya kembali. Ibu yakin kalau kita bawa ke meja hijau kita bakalan menang.”
Kaina tau itu, tapi yang jadi masalahnya sekarang adalah biaya. Pengeluaran akan bertambah jika dia sampai membawa masalah itu ke pengadilan. Pastinya akan memerlukan dana yang banyak untuk membayar jasa seorang kuasa hukum. Dengan kata lain pengeluaran mereka lebih besar daripada pemasukan. Bisa-bisa satu supermarketnya jadi korban lagi.
“Nantilah, Bu, kita bicarakan lagi. Sekarang aku mau fokus dulu sama kesehatan si kembar.”
“Iya, memang itu yang lebih penting.”
“Oke, tunggu Bunda, ya,” sorak Kaina. Wanita itu mengambil topi pantai miliknya di dalam mobil lalu gegas berlari menghampiri anak-anak. Adit sudah menggali pasir untuk dimasuki agar keponakan dan kakaknya bisa mengubur tumbuhnya dan menyisakan kepala. Kama, Kalila, dan Kaina pun tertawa senang.
...🥦🥦🥦🥦...
Jam sembilan pagi Candra dan Brigita tiba di rumah Kaina. Si kembar pun sudah siap-siap selesai sarapan tadi. Beberapa baju ganti dan obat-obatan untuk si kembar sudah disiapkan Ibu mereka dalam tas masing-masing yang disandang.
“Berangkat sekarang?” tanya Candra.
Si kembar tampak memelas pada sang Bunda yang tak mau ikut. Sejak tadi mereka berusaha membujuk, tapi Kaina tetap berkata tak bisa. Ini pertama kalinya mereka pergi tanpa si ibu, merasa ada yang kurang jadinya.
“Gak papa, anggap aja kalian lagi belajar mandiri.” Kaina berusaha memberi pengertian.
“Ya udah deh,” jawab Kama.
“Anak Bunda pintar.” Kaina mengacak rambut putranya. Mereka pun keluar dari rumah menuju mobil Candra
Baru saja sampai di depan pintu rumah tiba-tiba sebuah mobil memasuki halaman.
Heran, mereka semua menantikan orang yang akan turun dari dalamnya.
__ADS_1
“Hugo?” kaget Kaina.
“Pada mau kemana?” pria itu langsung bertanya tanpa menyapa sama sekali.
“Mau ajak si kembar jalan-jalan,” jawab Candra.
Kaina tampak kesal karena mantan nya menjawab pertanyaan yang tak beralamat itu.
“Oh. Saya kesini juga mau ajak Kama jalan-jalan.”
“Gak bisa! Hari ini mereka diajak sama Candra,” sela Kaina.
“Ya, bawa aja Kalila, saya bawa Kama.”
“Gak bisa gitu dong! Kenapa kemarin gak bilang dulu? Seenaknya aja datang terus langsung mau bawa anak orang.”
“Kamu lupa sama perjanjian kita?” Hugo menantang Kaina.
“Gak! Tapi perjanjian itu berlaku setelah kamu mendonorkan ginjal dan anak saya dinyatakan sembuh.”
Hugo merasa geram. Tangannya di bawah sana sudah mengempalkan sebuah tinju.
“Gak papa, Kai, kalau memang dia mau bawa Kama, aku gak keberatan,” tutur Candra.
“Tuh, dia aja gak masalah, kenapa kamu yang bikin repot,” sungut Hugo.
“Aku kan sudah bilang dari awal kalau mereka gak bisa pisah. Besok aja kenapa sih?” Kaina tetep tak mau jika si kembar jalan sendiri-sendiri dengan ayah biologisnya.
Malas berdebat dengan wanita yang melahirkan anaknya, Hugo memilih bicara dengan sang putra. Dia menunduk agar sejajar dengan Kama. “Kama, ikut Papa, yuk! Kita main di mall, Kama boleh deh mau main apa aja.”
Yang ditanya tampak tertarik, tapi ia juga ragu jika harus berpisah dengan adiknya.
“Sekarang Kama pergi sama Ayah dulu, besok baru pergi sama Papa, ya,” bujuk Kaina.
Hugo melirik tak suka pada wanita itu.
“Biarin anaknya yang milih, Kai, jangan dipengaruhi gitu,” timpal Brigita.
“Saya gak minta pendapat kamu,” ketus Kaina.
“Adek gak papa pergi sama Ayah?” Kama bertanya pada Kalila.
“Aku juga pengen ikut sama Papa, tapi kayaknya Papa gak mau ajak aku deh,” gadis kecil itu tampak sedih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bagaimanakah Liontin melanjutkan kehidupan ketika berada di titik terendahnya? Mampukah dia melalui semua cobaan?