Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 44


__ADS_3

“Boleh, tapi nanti kamu saya jadikan bahan percobaan, ya,” kekeh Fatih.


“Maksudnya?”


“Saya coba dulu sama kamu. Nantinya kamu hamil apa gak.”


“Iih.” Kaina kesal sambil mendorong punggung suaminya. “Enak aja. Terus kalau saya hamil beneran gimana?”


“Ya, artinya obat herbal itu manjur dong.”


“Tau, ah, bercandanya bikin kesal deh. Sana, sudah selesai.” Kaina merangkak ke atas kasur dan menarik selimut.


Fatih tertawa senang sudah berhasil mengerjai istrinya itu. “Makasih, loh udah di pijitin. Ternyata enak juga, bikin ngantuk.”


Kaina hanya cemberut sambil memainkan ponselnya.


“Jangan terlalu serius, Kai.” Fatih mulai membaringkan tubuh di bagian kasur yang kosong.


“Mas, katanya mau ngobrol, kok tidur sih?”


“Ngantuk, Kai. Kamu mau ngobrol apa lagi sih? Enam bulan ke depan masih panjang buat kita ngobrol-ngobrol.”


“Saya mau tau soal, Bapak.”


“Cari aja di google. Di sana lengkap semua.”


Dihembuskan nafas kasar sambil mengetikkan nama bapak mertua di mesin pencarian. Tak butuh waktu lama semua hal tentang Fadilah Hutama tersaji lengkap di sana. Mata Kaina mulai membaca satu persatu hingga dia menemukan hal yang begitu mengejutkan.


“Mas.” Mengguncang bahu Fatih yang sudah terlelap.


“Hhmm.”


“Ini beneran?”


“Hhmm.”


“Bapak seorang perwira tinggi militer?”


“Hhmm.”


“Terus punya dua puluh perusahaan di Indonesia dan luar negri?”


“Hhmm.”


“Gila. Sumpah loh, aku gak tahu siapa bapak, Mas. Pantesan banyak orang yang segan sama beliau.” Kaina bicara sendiri.


“Tidur gak. Kalau masih ganggu saya serang nih.” Fatih berbalik sambil memeluk guling yang dijadikan pembatas di antara mereka.


“Iya-iya." Kaina cemberut. "Ini lampunya dimatikan apa tetap menyala?”


“Matiin aja.”


Selesai mematikan lampu utama, ibu si kembar gegas masuk kedalam selimut dan memejamkan matanya dengan erat.


...🌺🌺🌺🌺...


Hugo, malam ini memaksa pengacaranya untuk memikirkan cara agar dapat mempertahankan sang putra. Meski hati kecilnya mengatakan bahwa dia akan kalah melawan sang adik dan ayah, tapi keinginannya untuk mendapatkan Kama sangat besar. Apa motivasinya? Sudah jelas warisan dari sang bapak.


Tak masalah dia tidak mendapatkan bagian, asalkan anaknya bisa menjadi pewaris utama. Karena hanya Kama satu-satunya penerus Fadillah. Meski ada Fatih, adiknya itu dinyatakan mandul. Artinya, dia tidak bisa meneruskan kerjaan bisnisnya Fadillah.


“Mulai sekarang kamu harus memikirkan strategi sebelum kita masuk ke medan perang,” tekan Hugo.

__ADS_1


“Baik, Pak,” jawab pengacaranya.


“Kamu gak perlu takut sama Fatih. Dia cuma kerbau yang dicucuk hidungnya sama bapak saya. Tanpa bapak dia bukan siapa-siapa.”


Pengacaranya cuma mengangguk.


“Pastikan juga saya memegang hak penuh atas Kama. Apapun caranya terserah kamu, yang penting saya bisa menang di persidangan nanti.”


“Siap, Pak, kalau begitu saya pamit pulang karena sudah malam.”


“Iya, silahkan. Asalkan kamu tidak melupakan tugas yang saya berikan.”


Pengacara itu mengundurkan diri setelah memberi hormat.


Hugo yang merasa resah dan tertekan, memilih pergi menenangkan diri.


“Mau kemana kamu?” tanya Suci.


“Mau ke club.”


“Kamu gak lihat ini sudah jam berapa? Masih mau keluar. Kenapa gak istirahat di rumah aja, sih, Go?”


Ayah biologis Kama itu mendesah kasar. “Ma, aku mau cari hiburan. Pusing tau gak mikirin cara buat lawan Kaina nanti.”


“Makanya kamu coba berubah, jadi ayah yang baik buat Kama. Buktikan kalau kamu pantas untuk merawatnya.”


“Ck, nasehat Mama itu gak membantu sama sekali. Udah, aku mau keluar, gak usah di tungguin.”


“Oke, silahkan sana kamu pergi. Sikap kamu yang seperti itu akan jadi bumerang buat kamu di persidangan nanti.”


Hugo yang sudah tiba di ambang pintu, menjadi ragu karena ucapan sang ibu.


“Kenapa berhenti? Pergi aja sana,” usir Suci.


Suci mengurut dada melihat tingkah laku anaknya.


...🍂🍂🍂🍂...


Pengantin baru itu baru saja selesai melaksanakan sholat subuh di dalam kamar. Kini keduanya tengah melipat sajadah masing-masing.


“Hari ini kamu ke kantor, Mas?”


“Bapak nyuruh saya libur buat kita pergi bulan madu. Tapi saya bingung mau kemana,” jawab Fatih ketika istrinya bertanya.


“Ya udah, ke kantor aja kalau gitu. Saya juga males pergi kalau gak sama anak-anak.”


“Pas weekend aja kita jalan-jalan sekalian bawa anak-anak kamu.”


“Boleh?”


“Boleh lah.”


“Jadi sekarang, Mas, berangkat kerja?” Kaina bertanya sembari melipat mukena nya.


“Iya.”


“Saya siapin bajunya dan tarok dikasur. Habis itu saya kebawah mau bikin sarapan. Mas, mau apa?”


“Apa aja, terserah kamu.”


Kepergian Fatih ke kamar mandi, Kaina memilihkan satu stel pakaian kantor untuk suaminya. Setelah itu dia gegas keluar dari kamar dan turun ke dapur.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


“Bukannya kamu hari ini cuti, Tih,” sapa Fadilah ketika anak dan menantunya tiba di meja makan.


“Kaina gak mau pergi kalau gak sama anak-anaknya,” jelas Fatih sambari duduk di kursi.


“Gak papa, Pak. Nanti aja pas libur sekalian kami pergi bawa anak-anak,” terang Kaina.


“Kalau itu pilihan kalian, ya, bapak gak bisa maksa.”


“Bapak mau saya bikin minuman apa? Sekalian saya mau bikinin teh buat Mas Fatih.”


“Teh herbal saja.”


“Baik, tunggu sebentar.” Kaina langsung menuju dapur.


“Bapak pikir kamu lagi cari alasan biar gak jadi cuti,” bisik Fadilah di depan wajah putranya.


“Bapak, aneh deh. Kenapa sekarang bawaannya curiga mulu sama saya,” kesal Fatih yang sedang menyantap sarapan.


Fadilah menipiskan bibir sambil satu tangannya meraih sepotong roti panggang dengan selai dan taburan buah di atasnya. “Hhmm, enak siapa yang masak?”


“Saya, Pak,” jawab Kaina pas tiba di sana.


“Belajar dari mana?”


“Tadi bingung mau masak apa. Soalnya kata Bibik bapak banyak pantangan makanan. Jadi, saya cari-cari di google,” jelas menantu. “Diminum tehnya, Pak.”


“Makasih, Kai.”


“Mas, ini teh nya.”


“Makasih, Kai,” balas Fatih.


“Memanggil istri itu yang mesra dong, Tih," celetuk Fadilah.


Fatih menggeram rendah sambil membuang nafas. “Makasih istriku.” Tak lupa di iringi senyuman lebar yang palsu.


“Hahaha, sama-sama, Mas.” Kaina merasa terhibur dengan sikap suaminya.


“Sudah puas, Pak?” Fatih bertanya dengan tampang kesal.


Fadilah tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol.


Kaina ikut duduk di samping Fatih. Menyantap sarapan untuk pertama kali bersama suami dan mertua.


“Habis ini kamu mau kemana, Kai?” tanya Fadilah.


“Mau ke rumah ibu aja, Pak. Itu pun kalau di kasih izin sama Mas Fatih.”


“Boleh lah. Kita berangkat bareng aja," sela Fatih.


“Sebelum kalian pergi, Bapak mau bilang kalau nanti Bapak berangkat ke luar kota.”


“Berapa hari, Pak?” tanya anaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Secangkir kopi ☕ nya dong atau setangkai bunga mawar 🌹deh. Author butuh energi buat nulis sama up date nih ☺😊.


Yuk, tinggalin jempol 👍 sama komen 💬 nya.

__ADS_1


Terima kasih 😍🥰😘


__ADS_2