
Kama terus saja menangis sejak dibawa ayahnya tadi. Suci sudah berusaha membujuk dengan segala cara, tapi tetap cucunya tak mau diam. Dia hanya ingin pulang kembali ke rumah bundanya.
“Iya, besok kita pulang ke tempat bunda, tapi sekarang Kama istirahat dulu,” ajak Suci.
“Aku gak mau tidur disini,” rengeknya.
Hugo yang sejak tadi berusaha menahan sabar akhirnya tak tahan.“Bisa diam gak sih? Bunda kamu itu sudah menyerahkan kamu sama Papa artinya sekarang kamu bakalan tinggal disini,” bentaknya.
“Papa bohong! Bunda gak mungkin mau pisah sama aku,” balas Kama dengan nada tinggi.
“Sekarang kamu diam, kalau kamu gak diam maka Papa akan kurung kamu di kamar ini.”
“Kurung aja. Aku benci Papa! Lebih baik aku gak punya Papa.”
Hugo mengangkat tangan tinggi-tinggi ingin melayangkan tamparan ke mulut sang anak, tapi sang Mama langsung menangkapnya. “Kalau kamu cuma mau menyiksanya di sini, lebih baik kembalikan dia ke ibunya,” geram Suci.
Hugo segera pergi dengan dada yang naik turun menahan amarah. Suci segera memeluk Kama dan mengelus kepala cucunya. “Besok kita ketemu bunda sama Oma. Sekarang Kama tidur dulu, ya.”
“Oma, janji?”
Suci tersenyum sebagai jawaban. Di temani sang cucu sampai tertidur pulas barulah dia keluar dari sana. Hendak hati ingin bicara dengan sang putra ternyata yang dicari tak ada di kamarnya. Pasti sudah pergi ke tempat biasa dia menghabiskan malam.
...🐚🐚🐚🐚...
Candra tak dapat memejamkan mata malam ini. Bayangan Kaina memohon padanya menari-nari dalam benak. Merasa Iba dan kasihan. Dia sungguh ingin membantu wanita itu, tapi bagaimana caranya. Dia sendiri juga bingung.
“Sebaiknya besok aku temui pengacara dulu dan bahas masalah ini,” gumamnya sendiri.
Candra mematikan laptop dan beralih menuju sofa yang ada di ruang kerja. Entah kenapa dia malas untuk kembali ke kamar. Merasa malam ini lebih enak tidur sendiri sambil mengingat kembali kenangan bersama Kaina dulu.
Matanya menerawang platform berwarna coklat kayu. Seakan melihat Kaina tersenyum manis ke arahnya, Canda pun ikut mengukir senyuman.
“Mas,” panggil Brigita.
Candra mendengus kesal.
“Aku pikir kamu masih kerja ternyata enak-enakan nyantai di sini.”
“Aku istirahat sejenak, Bri. Kamu lupa kata dokter apa? Aku gak boleh terlalu kelelahan, sedangkan kerjaan masih banyak.” Menunjuk berkas dan dokumen nan bertumpuk di atas meja.
Merasa bersalah, Brigita tak lagi memasang tampang jutek. “Maaf. Kalau gitu istirahat di kamar aja. Besok aku minta asisten lagi sama papa buat kamu, biar bisa bantu ngurus pekerjaan.”
Candra berdiri dari sofa lalu memeluk istrinya. “Makasih, ya.”
Brigita merasa senang.” Yuk, ke kamar!”
...🐛🐛🐛🐛...
“Bapak sudah mendapatkan alamatnya,” kata Fadillah.
Fatih tak menanggapi. Dia pura-pura tak mendengar dan memilih fokus pada layar laptopnya.
“Besok temani Bapak kesana.”
Si anak tak merespon permintaannya.
“Kamu dengar Bapak ngomong kan, Tih?” bertanya dengan nada sedikit tinggi.
__ADS_1
“Besok aku gak bisa, Pak. Bapak saja yang kesana dulu dan tanya apakah dia bersedia menikah dengan saya, kalau dia bersedia baru saya temui.”
Fadillah berdiri menggunakan tongkat. Setelah kecelakaan waktu itu dia tak lagi bisa berjalan tanpa bantuan. Bukan berarti kakinya pincang hanya saja dia butuh sedikit tumpuan.
“Ya sudah, awas kalau nanti kamu sampai mengelak.” Mengancam sang putra kemudian bapak tua itu berjalan memasuki kamarnya.
Fatih cuma bisa membuang nafas kasar lalu mengusap wajah hingga ke rambut.
...🎄🎄🎄🎄...
Pagi-pagi Kama segera keluar dari kamar. Mencari sang Oma nan berjanji akan mengantarkannya kembali ke rumah ibunda. Tiba di lantai bawah dia berpapasan dengan Papanya yang baru pulang dalam keadaan mabuk.
“Mau kemana kamu?” bertanya dengan tampang dingin membuat anaknya menunduk takut.
“Kama mau sarapan,” jawab Suci.
Hugo melirik sang Ibu yang datang membawa nampan berisi susu serta roti lapis.
“Ngapain kamu pulang?”
“Mau memastikan anak ini gak ketemu ibunya.”
“Sana naik ke kamar kamu. Pulang-pulang bau alkohol, gak bagus dilihat Kama.”
“Awas kalau Mama sampai bawa dia ketemu ibunya.”
“Mama selama ini lunak sama kamu bukan berarti kamu bisa ancam Mama, ya, Hugo,” tegas Suci.
“Aaarrgg.” Sempoyongan Hugo menaiki anak tangga satu persatu.
“Oma,” Kama memeluk kaki neneknya.
...🦛🦛🦛🦛...
Fadilah akhirnya tiba di alamat nan diberikan oleh anak buahnya. Sebelum turun dia meminta sang supir untuk memastikan kalau rumah itu adalah milik wanita bernama Kaina.
“Permisi,” sapa Supir.
“Ya,” jawab Dina nan sedang menyirami tanaman.
“Benar ini rumahnya Mbak Kaina?”
“Benar. Ada apa, ya, Pak?”
“Begini, Bu, majikan saya ingin bertemu. Mbaknya ada?”
“Oh, ada. Mari silahkan masuk! Saya panggilkan dulu.”
“Baik, Bu, saya panggil Bapak dulu.”
Dina bergegas memanggil putrinya yang sedang menemani Kalila di kamar. Sejak semalam cucunya itu terus saja menangis.
“Kai.”
“Ya, Bu?”
“Di depan ada yang cariin kamu.”
__ADS_1
“Siapa?”
“Ibu gak tau. Tapi dari mobilnya seperti orang berpangkat.”
“Masak sih, Bu?”
“Sudah sana kedepan. Biar Ibu yang bujuk Kalila.”
“Gak mau, aku maunya sama Bunda.” Kalila terus merengek sambil memeluk erat pinggang Ibunya.
“Ibu mau pergi ke pasar, Kalila ikut?” bujuk Dina.
Si cucu terdiam dan memikirkan tawaran sang nenek.
“Mau ikut Ibu?” tanya Kaina.
Kalila akhirnya menganggukkan kepala.
“Ya sudah, siap-sipa sama Ibu. Bunda mau kedepan sebentar.”
“Iya.” Gadis kecil itu akhirnya tersenyum juga.
Dari kamar sang anak, Kaina melangkah menuju teras rumah. Tiba disana dia langsung menyapa seseorang yang sedang memperhatikan taman di halaman rumah. “Permisi, Bapak cari saya?”
Pria yang separuh rambutnya sudah putih itu berbalik memperhatikan Kaina dari ujung kaki hingga kepala. “Kamu ingat saya?”
Lama Kaina mematut laki-laki sebaya ayahnya. Hingga kemudian ia teringat. “Bapak yang kecelakaan waktu itu kan?”
Fadillah mengangguk.
“Masuk, Pak,” ajaknya.
“Terima kasih.” Fadilah mengikuti kaki Kaina menuju ruang tamu. Dia dipersilahkan duduk di sofa bersamaan dengan itu Dina juga Kalila keluar dari kamar.
“Perkenalkan, ini Ibu saya dan anak saya,” jelas Kaina.
Dina mengulurkan tangan di balas oleh fadillah begitu pula dengan Kalila.
“Ini Bapak yang waktu itu aku sama Adit bantu, Bu.”
“Oh, ini toh bapaknya. Salam kenal,” balas Dina.
Fadillah tersenyum ramah. “Salam kenal juga, Bu. Saya datang kesini mau mengucapkan terima kasih pada anaknya.”
“Kalau begitu silahkan bicara dulu sama Kaina, saya gak bisa ikut. Mau kepasar soalnya.”
“Oh, ya, kalau begitu silahkan.”
Dina bangkit dari duduknya bersama Kalila. “Saya tinggal, ya Pak.”
Fadillah hanya menganggukkan kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yo, ayo mana like 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 sama bintang ⭐ limanya..
masih sepi aja nih..
__ADS_1
Jangan pelit dong 😁 Dukungan kalian buat author semangat nulis dan up date.
yuk, tinggalkan jejak, ya 😉