Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
episode 17


__ADS_3

"Dokter, disini. Tadi saya cariin di ruangannya.” Kaina menghampiri.


“Saya mau ketemu si kembar dulu sebelum mereka pulang," jawab Dokter Tina.


“Sudah kasih kadonya ke Dokter?” Kaina bertanya pada putra dan putrinya.


“Kado apa?”


Kama dan Kalila memberikan dua kotak yang ukurannya tidak begitu besar. Terbungkus dengan kertas kado warna warni. “Satu untuk Dokter Tini dan satunya lagi untuk Dokter Andi,” jelas Kama.


“Duh, kalian bikin gemas deh.” Mencubit lembut pipi kedua pasiennya. “Kenapa kasih kado segala sih? Terima kasih, ya.”


“Sama-sama, Dokter cantik,” balas Kalila.


“Bukanya nanti aja kalau sudah di rumah,” tambah Kama.


“Jadi penasaran.”


“Mereka yang cari dan pilih sendiri di online shop,” terang Kaina.


“Kalian memang anak-anak yang pintar.” Tini sudah menganggap mereka seperti anak kandung sebab sampai sekarang pernikahannya belum juga dikaruniai buah hati.


Kemudian Dina mendekati Tini yang tengah memeluk si kembar. “Nanti sering-sering main kerumah.”


“Insyaallah.”


“Kalau begitu kami pamit pulang.”


“Iya, jaga si kembar sampai benar-benar pulih.”


Sebelum pergi Kaina memeluk dokter yang sangat berjasa bagi kesembuhan anak-anaknya. 


...🌺🌺🌺🌺...


Di rumah, Adit sudah memasang dekorasi di teras untuk menyambut kepulangan keponakannya. Balon warna warni tampak menggantung di sana hingga menyebar ke taman. Beberapa kotak mainan juga sudah dibungkus dengan kertas kado sebagai hadiah atas perjuangan mereka selama ini. Terakhir tumpeng berukuran sedang diletakkan di atas meja tamu.


Anggap saja ini sebagai bentuk syukuran kecil-kecilan karena setelah sekian lama akhirnya si kembar dapat menjalani hidup mereka seperti sedia kala. Tak lama mobil milik keluarga satu-satunya memasuki halaman rumah. Setelah si kembar turun Adit meledakkan satu confetti.


“Selamat datang di rumah,” serunya.


Si kembar sedikit terkejut dan terpana pada potongan kertas nan warna warni bertebaran di atas mereka.


“Wwwaahhh …  Omdit, ini apa?” tanya Kama melihat beberapo kado.


“Hadiah buat kalian.”


“Banyak sekali. Boleh dibuka?” tanya Kalila.


“Boleh dong, tapi nanti. Kita ke dalam dulu.”


Kaina dan sang Ibu tersenyum lebar melihat persiapan nan dilakukan Adit. 


“Wah, ada tumpeng segala,” kata Dina.


“Sebagai ungkapan rasa syukur kita karena si kembar sudah gak sakit lagi,” jelas Adit. “Ayo Ibu sama Kakak duduk dan kita potong tumpengnya.”

__ADS_1


“Aku yang potong boleh?” tanya Kalila.


“Berdua sama Abang, ya, sayang,” jelas Kaina.


Adit membantu si kembar memegang pisau untuk memotong tumpeng iu lalu mereka diminta memberikan suapan pertama pada sang Ibunda.


“Terima kasih. Semoga setelah ini anak-anak Bunda sehat terus.”


“Aamiin,” jawab mereka bersama.


“Sekarang giliran siapa?” tanya Kama.


“Aku suapin Ibu, Abang suapin Omdit, biar adil,” jelas Kalila.


“Oke.”


Untuk kedepannya, Kaina hanya ingin menikmati kebahagiaan kecil ini terlebih dahulu sebelum perjanjiannya dengan Hugo berlaku. Selama itu dia akan mencari cara untuk bisa mendapatkan kembali hak asuh putranya.


“Sekarang, ayo, kita buka hadiahnya!” seru Adit.


“Aku mau buka yang ini,” ujar Kama.


“Aku mau yang itu,” kata Kalila.


Adit memberikan kotak nan ditunjuk oleh dua keponakannya.


...🌹🌹🌹🌹...


Kaina mengusap kasar wajahnya. Sudah beberapa pengacara dihubungi untuk membantu kasusnya dalam mendapatkan kembali hak asuh sang putra. Ada yang langsung menolak dan ada juga yang memberi harapan dengan meminta bayaran yang begitu fantastis. Dia bisa saja mengeluarkan uang sebanyak itu, tapi apakah ada jaminan kalau dia bakalan memenangkan persidangan.


Jika dia benar-benar membayar pengacara itu dengan nominal yang begitu besar berarti satu supermarketnya akan tutup lagi. Artinya, hanya tinggal satu supermarket yang akan menjadi tumpuan hidup mereka setelah itu. Apakah cukup? Sedangkan si kembar masih membutuhkan biaya untuk kontrol setiap beberapa bulan sekali.


“Kenapa, Kak?” Adit menghampiri Kakaknya yang duduk di kursi kasir supermarket.


“Kakak cuma menemukan jalan buntu, Dit.”


“Kalau memang mereka minta bayaran sebanyak itu kasih saja, biar setelah ini aku cari kerjaan.”


Kaina menggelengkan kepala. “Gak, Dit. Sudah cukup kamu berkorban demi aku dan si kembar. Biar masalah ini aku sendiri yang cari jalan keluarnya.”


“Memangnya, Kakak, mau apa?”


“Aku akan coba melamar di beberapa perusahaan.”


“Kalau, Kakak, mau coba dulu silahkan. Tapi kalau sampai Hugo menjemput Kama dan Kakak belum juga diterima kerja maka berikan saja uang yang diminta pengacara itu. Biar aku yang akan menjadi tulang punggung keluarga kita.”


Kaina memutar kursi nan didudukinya menghadap pada sang adik yang berdiri di samping. Meraih kedua tangan sosok yang tampak begitu mirip dengan sang Ayah. “ Terima kasih. Kakak gak tau kalau gak ada kamu, mungkin Kakak sudah-”


“Sudah apa? Gila? Mati?”


“Bukan! Sudah menyerah.”


“Aku sudah bilang, sebelum dunia ini kiamat perjuangan kita belum berakhir.”


Kaina pun tertawa.

__ADS_1


Tiba-tiba suara tabrakan di depan toko membuat mereka kaget dan langsung berdiri untuk memastikan apa yang terjadi. Beberapa karyawan juga kalang kabut untuk melihat ke arah luar. Sempat takut jika sebuah mobil menabrak bagian depan supermarket. Tiba di luar Kaina merasa lega ternyata hanya kecelakaan antara dua mobil. 


Adit bergegas menghampiri melihat seseorang terjepit di bagian kemudi. “Tolong …!” sorak Adit.


Warga yang juga mendengar dentuman keras tadi ikut keluar di tambah mendengar teriakan dari Adit mereka segera menghampiri.


“Kenapa, Dit?” tanya Kaina.


“Kak, hubungi polisi dan ambulan. Kaki bapak ini terjebak di bawah kemudi.”


Panik, Kaina menganggukkan kepala lalu melakukan apa yang barusan dikatakan adiknya. Warga pun berusaha membantu.


“Gak bisa, Dit, susah,” kata seorang warga.


Kaina tiba kembali. Melihat pria yang seumuran dengan ayahnya terkapar lemas dan mungkin tak sadarkan diri dia merasa Iba. “Gimana?”


“Gak bisa, Kak. Bagian dashboard maju banget jadi kita cuma bisa nunggu pertolongn jelas adit.”


Langit yang tadi sudah mulai gelap karena berat, kini menjatuhkan hujan deras. Mengguyur jalanan yang berserakan dengan puing-puing pecahan bagian mobil juga kaca bagian depan. 


“Kak, kita masuk ke toko.” Adit menarik tangan saudara perempuannya.


“Tapi, Dit.”


“Kita gak bisa apa-apa, Kak.”


“Dicoba dulu, siapa tau bisa. Kasian, Dit,” iba Kaina.


“Oke, Kakak tunggu di sini aku ambil payung.”


“Sekalian minyak angin, Dit.”


Adit berlari kedalam toko meminta payung dan minyak angin pada karyawan lalu dia segera kembali menghampiri Kakaknya.


“Ini.” Menyerahkan minyak kayu putih pada kakaknya.


Kaina mengusapkan minyak tersebut di depan hidung bapak yang terkulai lemas di bangku kemudi. Tak lama pria berambut hitam dan separuh sudah putih itu sadarkan diri. 


“Pak, Bapak dengar saya?” tanya Kaina.


“Aaaadduuuhhh kaki saya,” ringis orang tua itu.


“Pak, Bapak bisa gerakkan kakinya?”


Anggukan diberikan pria berbaju batik.


Kaina mencari cara dan celah agar si bapak dapat menarik kakinya.


Sambil menyeka air hujan di wajah Kaina berkata, “Dit, kamu panggil warga dan minta bantuan. Kita bisa tarik sama-sama bangku ini kebelakang biar si Bapak dapat mengangkat kakinya.” 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BAGAIMANA RASANYA TERJEBAK MENJADI ORANG KETIGA DI DALAM RUMAH TANGGA ORANG LAIN?


Seiring perjalanan waktu, Darrell tidak berniat membuat Sharron, wanita simpanannya itu untuk hamil. Dia terlalu mencintainya sehingga membuat Darrell melepaskan tujuan utamanya.

__ADS_1


Sementara Callie Mavis, 28 tahun, istrinya itu sudah didesak oleh keluarganya untuk segera mendapatkan anak. Dia berusaha menanyakan perihal rencana suaminya itu untuk mendapatkan rahim pengganti. Nyatanya malah Darrell mengatakan belum mendapatkannya.



__ADS_2