Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 99


__ADS_3

Tiba di rumah, Fatih gegas mencari istrinya. "Bunda mana?" Bertanya pada anak-anak yang sedang main bersama opanya. 


"Dikamar," jawab Kama. 


"Susul istri kamu sana," ujar Fadilah. "Habis itu bicara sama Bapak."


Fatih mengangguk dan melangkah lebar menuju kamar. Tiba disana langsung dihampiri sang istri yang sedang duduk di ranjang. "Hey, sorry. Ayah gak ada maksud mau bohong sama Bunda."


"Kalau gak bohong apa namanya?" tanya Kaina. Mata wanita itu tampak sembab. 


"Ayah cuma gak mau nanti Bunda mikir aneh-aneh."


"Kalau kayak gini pasti aku mikir anehlah. Kemarin pas aku tanya siapa yang telpon, kamu bilang gak tau. Ternyata kamu yang ngasih nomor ke dia."


Di genggaman tangan sang istri. "Ayah gak pernah kasih nomor ke dia. Zuri yang kasih, dikiranya atas perintah Ayah."


"Terus kemarin kenapa gak jujur?"


"Ayah cuma gak mau Bunda nanti stres."


Kaina membuang nafas kasar. "Begitu caranya malah kamu bikin aku stres tau, Mas." Bibirnya mulai bergetar. "Aku gak sanggup, ya, kalau harus kedua kalinya menjalankan kehamilan tanpa suami."


"Hey, kok ngomongnya gitu sih?" Fatih merangkum wajah sang istri. "Kok Bunda mikir gitu?"


"Ya, habis kamu bohong sama aku." Tangis Kaina pecah. Meski dirinya berusaha kuat, tapi hormon kehamilan membuat hatinya mudah sensitif. 


"Maaf, Ayah bohong bukan ada maksud apa-apa. Cuma gak mau Bunda kepikiran."


Ibu hamil itu sampai tersedu-sedu. 


"Udah dong nangisnya. Kasian dedek bayi nanti ikut sedih." Fatih berusaha membujuk sang istri. 


Namun, Kaina terlanjur bawa perasaan hingga ia tak kuat menahan sesak di dada. 


"Hei, Bun, Bunda." Fatih cemas melihat istrinya sulit bernafas. "Kai," panggilnya cemas. 


Kaina meringis menahan sakit di bagian perut. Langsung saja Fatih menggendong istrinya keluar kamar menuju mobil. Fadilah dan si kembar nan sedang asik bermain jadi panik saat melihat ayah dan bundanya. 


"Kaina kenapa?" tanya Fadilah. 


"Gak tau, Pak. Saya ke Rumah Sakit," jawab Fatih setelah memasukkan istrinya ke dalam mobil. 


Fadilah pun gegas memanggil supir untuk menyusul anak dan menantunya. 


🦛🦛🦛🦛


Di depan ruang UGD, Fatih tampak mondar-mandir menunggu istrinya yang sedang diperiksa dokter. Sesekali diremasnya rambut karena rasa sesal atas perbuatannya. 


"Pak Fatih," panggil Dokter. 


"Ya?" Fatih mendekat dengan wajah cemas. 

__ADS_1


"Bu Kaina cuma mengalami kram perut saja. Meski ada sedikit flek, tapi kondisinya sudah membaik dan bayinya juga baik-baik saja."


Nafas lega dihembuskan lelaki itu. "Terus kenapa tadi istri saya sampai sulit bernafas ya, Dok. 


"Karena Bu Kaina menangis terjadi penumpukan ingus di hidung sehingga saluran napas tidak bisa bekerja maksimal, fluktuasi emosi yang membuat denyut nadi lebih cepat dan kompensasinya laju napas juga ikut cepat."


"Tapi sekarang gak papa kan, Dok?"


"Gak papa. Tadi sudah kita bantu pakai oksigen kok."


"Syukurlah. Makasih banyak ya, Dokter."


"Sama-Sama, Pak. Lain kali tolong di jaga perasaannya Bu Kaina, ya. Ibu hamil biasanya memang lebih sensitif. Mudah tersinggung, sedih, marah, dan gak percaya diri. Pak Fatih lebih sabar lagi, ya."


"Baik, Dok. Boleh saya masuk?"


"Silahkan. Sebentar lagi suster akan memindahkan Bu Kaina ke ruang perawatan. Sebaiknya rawat inap satu malam, ya. Besok kita cek lagi kondisi kandungannya baru boleh pulang."


Fatih mengangguk. 


Fadilah dan si kembar pun sampai di sana. "Gimana Kaina sama cucu Bapak?"


"Alhamdulillah baik-baik aja kok, Pak. Tadi Kaina cuma kram perut aja."


"Pasti ulah kamu." Fadilah mendorong anaknya dengan tongkat besi yang selalu dibawa. 


Fatih cuma tertunduk. 


"Ayo, kita lihat Bunda." Fadilah mengajak kedua cucunya menemui sang Bunda. 


Malam pun datang. Seluruh keluarga memutuskan pulang untuk istirahat. Si kembar terpaksa harus ikut dengan nenek mereka karena keduanya tak diizinkan untuk ikut menginap, menemani sang Bunda. 


Tinggallah Fatih yang sedari tadi selalu diacuhkan oleh sang istri. Kaina hanya bicara dengan ayah mertua dan sang ibu juga anak-anaknya. 


"Selamat malam," sapa suster. 


"Malam, Sus," balas Fatih. 


"Kita periksa kondisi Bu Kaina dulu,ya, Pak."


Fatih pun mengangguk. 


Suster melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum pasien istirahat. Lima belas menit kemudian para suster pun keluar. Tak lupa berpamitan pada Fatih. 


Ayah sambung si kembar mencoba menghampiri sang istri yang tampak memejamkan mata. "Bunda, sudah tidur?"


Tak ada jawaban dari bibir Kaina. 


"Ya, sudah. Istirahat aja kalau gitu. Ayah duduk di sofa. Nanti kalau butuh apa-apa panggil aja."


Berharap sang istri memanggil, tapi ternyata Kaina tetap mengunci rapat mulutnya. Fatih menghempaskan badan di atas sofa. Dirinya benar-benar bingung memikirkan cara agar wanita yang tengah mengandung anaknya itu mau bicara. Suasana yang tadinya ramai akan hadirnya keluarga kini terasa sepi. Talinga mereka mampu menangkap suara detak jam di dinding. Hingga sayup-sayup terdengar isak tangis seseorang.

__ADS_1


Fatih gegas menghampiri ibu dari anak-anaknya sebab dia tau kalau wanita itulah yang tengah bersedih. “Bunda kenapa nangis?” 


Dengan tersedu-sedu Kaina menjawab. “Kamu jahat.”


“Ayah jahat kenapa?”


Ibu hamil itu jadi bingung sendiri mau menjawab apa. Dia ingin sang suami menemani di sisi, memeluk, dan memanjakan, tapi sepertinya Fatih tak peka. Rasa gengsi yang begitu tinggi membuat Kaina tak mau mengungkapkan keinginannya.


Fatih mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. “Ayah kan sudah minta maaf, tapi Bunda dari tadi gak mau ngomong sama Ayah. Jadi Ayah bingung harus apa.”


“Ya, tapi ngapain jauh-jauh. Kamu beneran gak sayang aku lagi?”


Nafas panjang dibuang ayah sambung si kembar. “Ayah cuma gak mau bikin Bunda makin kesal dan marah kalau Ayah dekat Bunda. Siapa tau Bunda lagi butuh waktu sendiri, makanya Ayah duduk di sofa.”


Tangis Kaina semakin jadi.


“Ya udah, maaf, ya, kalau Ayah gak ngerti Bunda maunya apa.” Fatih pun menggeser posisinya ke samping sang istri lalu membawa wanita itu menyandar di dadanya. “Sekarang Ayah temani bobok, ya.”


“Hhmm, jangan pindah ke sofa lagi,” rengek Kaina.


“Gak.” Fatih tersenyum gemas dengan tingkah istrinya. “Artinya Bunda gak marah lagi sama Ayah kan?”


“Kata siapa. Aku masih marah, ya.”


“Iya, deh. Bunda boleh marah sampai puas. Gak papa asalkan Bunda senang Ayah ikut senang.”


Kaina mendaratkan satu cubitan di perut suaminya. “Awas kalau besok masih ketemu dia atau cewek lain.”


“Terus Bunda mau apa?”


“Aku pergi, bawa anak-anak dan jangan harap kamu bisa ketemu mereka.”


“Jangan gitu dong.”


“Makanya jangan nakal.”


“Siapa yang nakal? Ayah gak nakal, Bun, cuma Bunda aja yang curigaan.”


Kaian mencibir.


Senyum lega terbit di bibir Fatih. Dia senang kalau sang istri tak lagi mendiamkannya. “Bobok, yuk. Kasian dedek bayi di perut Bunda. Pasti mereka stres gara-gara Bundanya sedih.” 


“Gara-gara kamu tau.”


“Iya, gara-gara Ayah bohong. Dah, Ayah udah ngaku, sekali lagi Ayah minta maaf, ya. Bunda mau maafin Ayah?”


Kaina tampak berpikir sejenak, kemudian ibu hamil itu pun menganggukkan kepalanya.


“Alhamdulillah. Sekarang Ayah bisa tenang.”


“Jangan bikin ulah lagi,” ancam Kaina.

__ADS_1


“Gak Bunda sayang. Yuk, tidur! Ayah juga capek dan udah ngantuk.”


Suami istri itu sama-sama merebahkan badan mereka di atas ranjang. Ditariknya selimut oleh Fatih untuk menghangatkan tubuhnya dan sang istri.


__ADS_2