
Fadilah sedang duduk bersama putra pertamanya di ruang kerja. Mata elangnya tak dapat lepas dari Hugo. Seakan sedang mengintai mangsa jika bergerak sedikit maka akan di terkamnya. “Sekarang katakan! Apa yang membuat Kaina sampai marah besar?”
“Papa kok malah tanya apa yang saya lakukan pada dia. Seharusnya Papa tanya apa yang dia lakukan pada saya,” balas Hugo.
“Jawab pertanyaan saya,” tekan Fadilah.
Hugo membuang nafas kasar. “Saya cuma bilang kalau saya butuh Kama buat mendapatkan harta warisan yang Bapak berikan nanti.” Hugo memilih jujur daripada menanggung akibat kalau nanti Kaina menjelaskan yang sebenarnya.
“Kamu beruntung sekarang saya gak pegang senjata. Kalau ada, mungkin satu peluru sudah bersarang di tubuh ini.” Fadilah mendorong badan anaknya dengan tongkat besi yang selalu dipakai. “Sekarang saya akan kasih kamu penawaran jika kamu memang menginginkan harta dari saya.”
“Apa itu, Pak?” Hugo penasaran.
“Berikan hak asuh Kama pada ibunya dan kamu akan tinggal bersama saya setelah ini. Ikuti semua peraturan yang saya buat dan satu perusahaan bisa kamu pegang.”
“Tapi, Pak.”
“Silahkan kamu pikirkan! Kamu pasti sudah tau kan kalau tanpa kamu serahkan hak asuhnya Kama, Fatih akan bisa mendapatkannya di pengadilan. Jadi, sekarang pilihan ada di tangan kamu.” Fadilah bangkit dari duduknya keluar dari sana menuju kamar. Meninggalkan sang putra mempertimbangkan tawaran yang diberikan.
...🦉🦉🦉🦉...
Baju yang basah sudah dilepaskan dari badan. Suami dan istri itu kini sama-sama polos. Di atas pembaringan keduanya menikmati setiap sentuhan yang dapat menegangkan otot. Tubuh yang tadi terasa dingin akibat terlalu lama di bawah air, kini terasa hangat karena aliran darah yang bekerja dua kali lipat dari biasanya.
Kamar yang dua bulan ini mereka huni hanya sebagai tempat peristirahatan, sekarang menjadi saksi bisu betapa nikmatnya melakukan kewajiban suami istri meski tanpa dilandasi rasa cinta. ******* lembut dan mendayu yang keluar dari mulut Kaina membuat Fatih semakin terbakar gelora. Inginnya sudah mencapai ubun-ubun, tapi tak seru jika pencampuran ini dilakukan dengan terburu-buru.
“Kamu beneran yakin, Kai?” tanya Fatih di sela-sela deru nafasnya.
“Saya sudah menyerahkan diri sepenuhnya, Mas. Tunggu apa lagi,” racau Kaina.
“Kalau nanti saya menjadi candu bagaimana?” Dengan tangan yang menggerayangi badan sang istri, Fatih masih mempertanyakan keraguan yang muncul di hati.
“Kapanpun kamu mau, Mas, saya siap.”
“Terima kasih, Kai.” Dikecupnya dengan hangat dahi wanita yang sudah terbaring pasrah di bawah kurungan badan.
__ADS_1
“Saya masuk, ya, Kai.”
Kaina membela pipi suaminya. Tatapan mereka sama-sama dipenuhi kabut gairah. “Silahkan, Mas, lakukan apa yang menjadi kewajiban kamu.”
Fatih mendorong dirinya memasuki sang istri, hingga tanpa sadar keduanya saling menautkan jari-jemari menikmati rasa yang sudah lama tak di kecap. Hantaman yang diberikan lelaki itu dirasakan Kaina bagaikan deburan ombak di pantai. Sedikit keras dan mampu membuatnya terseret ke dalam nikmatnya surga dunia.
Di saat pendakian mereka mencapai puncak, Kaina mencengkram kuat surai hitam sang suami. Fatih pun memeluk lekat tubuh molek istrinya. Menikmati sisa-sisa debaran gairah yang mulai kembali normal.
“Terima kasih, Mas,” ujar Kaina.
Fatih mengangkat kepalanya, menatap wajah lelah wanita itu. “Sama-sama, Kai. Mulai sekarang terima masa lalu kamu dan coba maafkan kesalahan yang sduah kamu lakukan. Ingat, kamu masih Kaina yang utuh, bukan wanita murahan atau barang bekas pria lain.”
Kaina tersenyum simpul sambil mengangguk.
...🐽🐽🐽🐽...
Habis mandi, Kaina buru-buru menemui si kembar di kamar. Untung saja mereka baru bangun tidur jadi keduanya tak rewel mencari sang induk yang sempat lupa akan anaknya. “Cuci muka dulu habis itu kita turun. Bunda mau masak makan malam buat kalian,” ajaknya.
“Ayah sudah pulang, Bun?” tanya Kama.
Kedua anak itu dituntun ibunya ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka setelah itu mereka menuruni anak tangga bersama.
“Cucu Opa kok bangun tidurnya kesorean,” sapa Fadilah yang duduk di ruang tengah.
“Gak dibagunin Bunda, Opa,” jawab Kalila.
“Mereka tidurnya pulas banget, Pak. Jadi saya gak tega baguninnya,” jelas Kaina.
“Yuk, main sama Opa di halaman samping.”
Kama dan Kalila mengikuti langkah kaki pria tua itu sedangkan sang ibunda pergi ke arah dapur. Tak lama Fatih pun turun segera menuju kulkas dan mencari minuman dingin di dalamnya. Kebetulan Hugo juga hendak mencari cemilan di sana.
“Ah, segar,” seru Fatih setelah meneguk habis sebotol air mineral.
__ADS_1
Sang kakak menatap heran padanya.
“Apa?”
“Lebay lo. Cuma turun tangga gitu doang kayak habis lari maraton,” ujar Hugo.
Fatih tersenyum simpul. “Gue habis mendaki puncak makanya haus,” katanya sambil mengedipkan sebelah mata pada sang istri. Kemudian dia mendekati saudaranya itu. “Jangan pernah merendahkan istri gue hanya karena kalian pernah tidur bersama. Dia jauh lebih baik dari lo” tambahnya sambil menepuk pelan bahu Hugo.
Hugo tersenyum sinis. “Dia gak jauh beda dari wanita lain yang pernah satu ranjang sama gue.”
“Setidaknya dia sudah menyesali semua kesalahannya dan berusaha menjadi lebih baik. Sedangkan lo apa?” Fatih menatap kakaknya itu dari ujung kepala hingga kaki. “Lo gak ada bedanya dari seekor anjing yang singgah pada sembarangan betina hanya sekedar untuk melepaskan keinginan. Setelah puas, lo pergi gitu aja tanpa peduli kalau nanti dia hamil atau gak. Kalau pun sampai punya anak lo juga gak akan anggap anak itu.” Setelah berkata, Fatih lekas pergi meninggalkan Hugo yang tampak menahan emosi.
...🐤🐤🐤🐤...
Setelah kejadian kemarin, Hugo tak dapat tidur dengan tenang. Dia sedang memikirkan tawaran yang diberikan sang ayah. Ada rasa khawatir kalau nanti dia hanya mendapatkan sedikit warisan sedangkan yang ia mau bisa mendapatkan semuanya. Gunanya apa? Ya, untuk hidup enak dan bersenang-senang sampai hari tua nanti.
“Pusing, mending gue keluar,” gumamnya. Diraihnya jaket levis di lemari kemudian berdiri di depan cermin. Memastikan tampilannya sudah oke dia pun keluar dari kamar.
“Kemana kamu?” tanya Fadilah. Orang tua itu sedang bersantai bersama anak menantu dan cucunya di ruang tengah.
“Mau ketemu teman-teman, Pa. Sudah lama gak main apa lagi sekarang malam minggu,” jelas Hugo.
“Ke club?”
“Gak cuma nongkrong aja di cafe.” Sejak persidangan hak asuh Kama berjalan di pengadilan, Hugo jarang menghabiskan waktu diluar rumah. Pastinya untuk menunjukkan kalau dia ayah yang baik di persidangan.
“Sana pergi. jangan pulang malam. Kamu harus memikirkan penawaran Bapak kemarin.”
“Iya. Kalau itu saya pergi dulu.”
“Penawaran apa, Pak?” Fatih bertanya setelah saudaranya pergi.
“Bapak bakalan kasih dia satu perusahaan kalau dia mau lepasin hak asuhnya Kama.”
__ADS_1
“Kalau dia gak mau?”
“Kita cari celahnya. Bapak yakin, dia sekali-kali pasti pergi ke club. Tinggal nunggu bukti aja, kalau dapat langsung kita serahkan ke pengadilan. Pasti Kaina akan memenangkan hak asuhnya Kama.”