
Kaina seakan kembali ke masa lalu saat dimana dia dikejutkan dengan kabar penyakit yang diderita sang anak. Kini dia kembali berada di posisi itu, terkejut dan tak menyangka kalau sang ibu menderita penyakit jantung.
“Kapan secepatnya itu, Dokter?” Pasrah, Kaina tak mau bertele-tele dengan mengajukan banyak pertanyaan yang bersarang di kepala.
“Kalau kamu menyelesaikan administrasi dalam waktu dekat, kita bisa atur jadwal operasi secepatnya.”
Digosoknya wajah dengan kedua telapak tangan seraya membuang nafas kasar. “Baiklah kalau begitu, nanti saya akan urus administrasinya.”
Dokter hanya menganggukkan kepala.
“Sekarang boleh saya bertemu dengan Ibu?”
“Silahkan, kondisi beliau sudah sedikit membaik, tapi usahakan jangan sampai stress.”
Kaina beranjak dari sana dengan langkah gontai meratapi kehidupannya yang terbilang menyedihkan. Tiba di depan ruang rawat ibunya, wanita itu membuang nafas panjang demi melepaskan beban yang menghimpit dada.
Dina melirik sang putri yang tampak mendekatinya.
“Ada yang sakit, Bu?”
“Gak, Kai,” jawab Dina lemah.
“Ibu mau sesuatu?”
Dina menggelengkan kepala lalu meraih jari jemari putrinya. “Maafin, Ibu, sekarang bikin beban kamu makin bertambah.”
Kiana menumpuk satu tangannya di atas tangan sang ibu lalu berkata, “Sudah, Ibu jangan mikir apa-apa. Jangan sampai stress biar cepat sembuh, aku gak papa kok.”
“Maafin Ibu sama Adit, ya.”
Senyuman tulus diberikan Kaina lalu diciumnya punggung tangan wanita yang terbaring lemah itu. “Ibu istirahat aja, ya. Aku mau ke toko sebentar, mau titip pesan sama karyawan.”
“Iya, sudah kalau begitu. Hati-hati.”
“Pasti.”
Sebelum putrinya pergi, Dina mengeratkan kembali genggamannya. “Kalila mana?”
“Aku titip dulu sama Candra. Gak baik kalau dia ikut ke sini.”
“Alhamdulillah, ada yang jaga.”
“Aku pergi, ya, biar cepat juga baliknya.”
“Iya.”
...🥝🥝🥝🥝...
Kaian memeriksa laporan keuangan supermarketnya dan buku tabungan. Setelah sempat meminta rincian biaya di Rumah Sakit tadi dia menyimpulkan kalau asuransi kesehatan pemerintah tak dapat menanggung semua biaya. Tabungan yang ada sepertinya cukup untuk membayar kekurangan. Namun, yang jadi masalahnya kini adalah jika tabungan terkuras habis biaya hidup sehari-hari bagaimana?
__ADS_1
Apakah harus mengandalkan pemasukan dari supermarket yang belum jelas pembukuannya? Bisa-bisa supermarketnya yang satu ini terancam bangkrut juga. Karena kesehatan sang ibu lebih penting akhirnya Kaina tak lagi mempertimbangkan hal itu. Dia lebih memilih pasrah dan menyerahkan semua masalah dan cobaan pada sang pemilik kehidupan.
Kembali ke Rumah Sakit dia mengurus administrasi untuk tindakan operasi Dina. Setelah semuanya beres tinggal menunggu jadwal yang akan ditetapkan oleh dokter. Hendak kembali ke ruangan ibunya, tiba-tiba sang putri memanggil.
“Kalila, kok ada di sini?”
“Aku datang sama Ayah, tuh.” Gadis kecil itu menunjuk Candra dan Brigita yang berjalan ke arah mereka.
“Untung ketemu di sini, jadi kita gak susah-susah cari kamarnya ibu kamu,” kata Candra.
“Aku pikir kalian gak jadi datang.”
“Jadilah, lagian Kalila dari aku pulang kerja dia langsung ajak kesini.”
“Gak boleh gitu, kasihan ayahnya capek pulang kerja.” Kaina menasehati sang putri yang berada dalam gendongan.
“Gak papa, Kai.”
“Ayo, kalau gitu kita ketemu ibu.”
Tiba di ruang perawatan Dina, Kalila langsung memeluk sang nenek. Berbincang di temani Candra yang juga ingin mengobrol dengan ibu mantan kekasihnya, sedangkan Brigita duduk di sofa kecil bersama Kaina.
“Kalau kamu butuh sesuatu datang aja ke rumah. Kalau aku bisa bantu pasti aku bantu,” ujar Brigita.
“Makasih, Bri.”
“Santai aja, Kai. Sejak ada Kalila, aku dan Mas Candra jadi makin dekat, ya, walau kadang merasa dia masih ada rasa sama kamu.”
Brigita mengangguk. “Nanti kalau operasi ibu kamu dilakukan, hubungi aku, ya, biar bisa temani kamu di sini.”
“Insyaallah. Oh, ya, besok kamu bisa temani Kalila ke rumahnya Hugo. Tadi aku sudah hubungi Ibu Suci dan bilang soal keadaan ibu. Jadinya Kama gak bisa kerumah.”
“Ya udah, krim aja nomornya Hugo atau Ibu Suci serta alamatnya. Biar besok aku hubungi mereka kalau ke sana.”
“Makasih banyak, ya, Bri. Kalau gak ada kamu aku gak tau harus gimana.”
Brigita cuma tersenyum simpul.
...🍓🍓🍓🍓...
Karena kondisi Dina siap untuk menjalankan operasi, dua hari lagi Dokter pun menjadwalkan tindakan tersebut dilakukan. Usai menyuapi ibunya sarapan, Kaina berpamitan untuk pulang sebentar. Dari Rumah Sakit dia singgah dulu ke rumah Candra menjemput sang putri kemudian ke rumah Hugo menjemput Kama.
Kebetulan hari ini ayah biologis dari putranya sedang ke luar kota. Jadi, Suci mengizinkan Kama pergi bersama ibunya. Tiba di rumah, si kembar langsung bersorak riang sebab mereka sudah sangat rindu dengan tempat itu dan juga mainan mereka. Selama memasak, Kaina sesekali ikut bergabung dengan anak-anaknya di lantai dapur. Sengaja dia membiarkan si kembar bermain di sana agar tak jauh dari pengawasan.
“Nanti Abang iku ke Rumah Sakit, ya, Bun?” kata Kama.
“Terus nanti pulangnya sama siapa, sayang?”
“Minta aja Oma yang jemput.”
__ADS_1
Kaina menghampiri sang putra. “Bunda gak enak, sayang. Abang langsung pulang aja, ya.”
“Yaah, padahal aku masih pengen sama Bunda dan Kalila, sekalian ketemu ibu.”
“Sabar aja, ya, Nak.” Mengusap rambut lurus putranya.
Kemudian Kaina kembali pada kompor. Sambil memasak pikirannya terus berjalan, menimang-nimang tawaran yang waktu itu pernah diberikan Fadillah. Walau dia tak tahu betul siapa orang tua itu, perasaannya yakin kalau Fadilla mampu membuatnya keluar dari kemelut ujian kehidupan ini.
Namun, ada rasa sungkan yang begitu besar hingga dirinya kembali mengurungkan niat untuk menemui lelaki yang sudah di tolongnya. Mungkin dia akan mencari cara lain saja. Selesai memasak, kedua anaknya di suapin makan siang lalu di mandikan dan berganti baju. Setelahnya barulah dia sendiri bersiap-siap.
“Yuk, waktunya Abang pulang ke rumah Oma dan Adik ke rumah Ayah,” ajak Kaina.
Si kembar berjalan dengan lesu keluar dari rumah menuju mobil. Kaina tahu kalau anak-anaknya itu masih ingin menghabiskan waktu bersama, tapi keadaan sedang tak memungkinkan. Dia harus ke kantor polisi menemui Adit. Meminta kepada pihak polisi agar adiknya itu bisa dibebaskan sementara waktu.
Semua demi sang ibu yang sedang terbaring sakit. Dia sadar kalau masalah Adit inilah yang menjadi pemicu serangan jantung yang diderita Dina.
“Maafin, Bunda, ya, anak-anak.”
“Gak papa, Bun, aku ngerti kok. Pasti Bunda bakalan kerepotan kalau harus ngurus kami dan Ibu,” jawab Kama.
“Alhamdulillah.” Kaina meraih sang putra yang duduk di bangku samping kemudi lalu melabuhkan sebuah kecupan di kepalanya. “Terima kasih Abang bisa mengerti.”
Kama tersenyum lebar.
“Kita jalan sekarang?”
Kedua anaknya mengangguk, Kaina mulai menjalankan roda empatnya.
...----------------...
...Cus ke karya yang satu ini 😁. jangan lupa tinggalkan jejaknya di sana. ...
Blurb
Disarankan untuk membaca novel My Wife SUGAR MOMMY terlebih dahulu ya gaes.
Setelah melewati malam panas dalam keadaan mabuk, dengan seorang pria yang usianya sudah sangat matang. Hazel Carter memutuskan untuk menjadi sugar baby dari pria tersebut.
Meskipun Hazel Carter sangat mengenal siapa sosok pria tersebut. Bukan hanya mengenalnya, Hazel Carter juga sangat mengenal baik keluarganya termasuk istrinya.
Apa sebenarnya yang Hazel inginkan dengan menjadi sugar baby? Sedangkan dia sudah memiliki segalanya.
Tak mungkin bila hanya untuk mencari kesenangan? Mungkinkah ada maksud lain?
Penasaran? Cus silakan di baca.
Warning
__ADS_1
Hanya cerita fiksi, yang tidak suka silakan skip ya gaes. Semua pemeran yang ada di dalamnya, tidak patut di contoh!!!!!!!!!!