Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 27


__ADS_3

Sampai di Rumah Sakit,Kaina masuk ke ruang kerja dokter yang menangani ibunya. Ia tak tau ada apa sampai mereka harus bicara empat mata. “Maaf, Dok, saya terlambat.”


Dokter yang sibuk di balik meja kerjanya mengangkat kepala. “Duduk,” katanya ramah.


“Ada apa sama ibu saya?”


“Begini, Kai, kondisi Ibu Dina sebenarnya baik-baik saja, hanya beliau masih belum sadarkan diri.”


“Kenapa, Dok?”


Dokter menggeleng lemah. “Kami juga belum dapat memastikan. Sejauh ini semua alat vitalnya tampak baik sepertinya beliau belum melewati masa kritis. Kita tunggu 1 kali 24 jam berikutnya.”


“Artinya?”


“Kalau sampai Bu Dina tak sadarkan diri juga, kemungkinan ada pendarahan atau infeksi, tapi kamu tenang saja kami tim medis akan selalu memantau perkembangan beliau.”


“Jadi, ibu saya harus lebih lama lagi di ICU.”


“Begitulah, Kai.”


Kaina paham, yang ingin dibicarakan dokter bukan hanya masalah kondisi sang ibu, melainkan juga soal biaya perawatan ruang ICU yang sangat mahal dan harus segera dibayar. Dia memilih mengundurkan diri dari sana setelah berpamitan. Menuju ruang perawatan Dina, mengintip dari kaca keadaan ibu tercinta. 


“Bu, cepat sadar, ya. Semoga Ibu baik-baik saja.”


Didudukkan diri di kursi tunggu depan ruangan itu. Kini ia tak tahu kemana kaki harus dilangkahkan. Pulang ke rumah rasanya sangat hampa. Ingin menemui anak-anak malah dia merasa seperti gelandangan yang luntang lantung kesana kemari. Mau mengadu ke Adit rasanya tak mungkin. Akhirnya, dia putuskan ke supermarket.


Kembali mengintip sang ibu dari balik kaca. “Bu, aku pergi sebentar nanti aku balik lagi.” Menitipkan Dina pada perawat yang bertugas lalu dia keluar dari sana.


Selama di perjalanan, Kaina tak dapat fokus mengemudi. Pikirannya bercabang kesana kemari. Beberapa kali dia hampir oleng, tapi syukurnya sampai di toko dengan selamat. 


Untuk melupakan sejenak kusutnya pikiran, dia memilih menyibukkan diri di sana. Membantu karyawan menata barang atau melayani pembeli di meja kasir.


Hingga langit pun tampak kemerahan di ujung sana, membuatnya sadar kalau sudah melewatkan makan siang. Akibat kerumitan hidup, dia sampai lupa akan rasa lapar. Mungkin sudah terlalu kenyang menelan tangisnya lara.


Sebelum kembali ke Rumah Sakit, ibu tunggal itu memeriksa pembukuan supermarketnya. Kemudian dicatat dalam satu buku kecil dan dimasukkan kedalam tas. Dia segera berpamitan pada karyawan. Sebelum ke ruangan ibunya, Kaina memilih makan terlebih dahulu di kantin rumah sakit. 


Untung ada menu sederhana yang pas dengan kondisi kantongnya saat ini. Karena sudah sangat lapar, makanan itu habis juga di santapnya. Meneguk sebotol air mineral dia membayar makanan itu barulah menemui sang ibu. Kali ini dia diperbolehkan masuk karena memang pas jam besuk.


“Bangun, Bu. Jangan bikin aku cemas dan khawatir. Aku butuh Ibu.” Kaina berkata sambil menyeka lelehan bulir air mata di pipi.


Membaca beberapa ayat suci di samping ibunya yang terbaring, kemudian seorang suster mengingatkan untuk segera keluar. Malam ini akan dia habiskan di kursi ruang tunggu, menanti kabar baik dari ibunda. Melewati waktu dengan menghitung keuangan supermarket agar bisa dipakai untuk biaya pengobatan Dina.


...🌽🌽🌽🌽...

__ADS_1


Kabar yang dinanti tak kunjung didapat membuat Kaina menelan kepahitan. Karena sudah ditagih biaya selanjutnya oleh pihak administrasi, terpaksa dia mengirim pesan pada Brigita. Sebelum pergi dia menemui dokter dulu.


“Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada Bu Dina. Saya harap kamu sudah siap dengan kemungkinan terburuk, Kai.”


“Maksud, Dokter,” cemas Kaina.


“Jika terjadi Infeksi atau pendarahan artinya Bu Dina memerlukan perawatan khusus dan sebaiknya beliau di pindahkan ke Rumah Sakit yang lebih memadai.”


“Maksudnya di sini gak bagus? Begitu kata, Dokter.”


“Kai, kamu tahu sendirilah kalau pengobatan dengan asuransi pemerintah, ya, pasti hanya bisa dilakukan seadanya. Sedangkan kalau di Rumah Sakit yang bagus apalagi dengan biaya pribadi otomatis ibu kamu akan terjamin.”


Punggungnya dihempaskan ke kursi. “Saya paham itu, Dok,” ujar Kaina.


“Nanti saya akan bantu rujuk ibu kamu ke Rumah Sakit yang bagus dengan dokter spesialis nan sudah berpengalaman.”


“Terima kasih, Dok. Kalau begitu saya pamit.”


“Baik.”


Tak habis-habis musibah menimpa dirinya, ada saja. Apakah ini sebagai bentuk penebusan dosa yang pernah ia lakukan di masa lalu? Kalau memang iya, semoga dia bisa melewatinya dengan sabar dan kuat dan setelah ini Allah janjikan surga untuknya. 


Karena sudah janji dengan Brigita, dia langsung meluncur ke rumah wanita itu. Sekalian bertemu dengan sang putri. Tiba di sana, Kalila menyambutnya dengan senang. “Bunda.”


Kalila mengangguk dan ikut duduk di samping sang ibu.  


“Apa yang bisa aku bantu?” Brigita bertanya setelah menyuguhkan secangkir minuman dan sepiring kue.


“Aku mau minjem uang, tapi sebagai jaminannya kamu bisa pegang supermarketku.”


Wanita bertubuh mungil itu tersenyum manis. “Gak perlu pakai jaminan segala. Aku percaya sama kamu.”


“Tapi aku gak bisa, tetap mau ada hitam diatas putih biar jelas. Kamu siapkan saja dulu surat-suratnya, besok aku tandatangani.”


“Buru-buru sekali, Kai, kenapa?”


“Ibu sepertinya mengalami masalah setelah operasi dan dokter menyarankan untuk dipindahkan ke Rumah Sakit yang lebih lengkap.”


Brigita merasa paham.


“Kalau memang itu mau kamu, besok kita ketemu di kantor pengacara ku sekalian bawa surat-surat yang dibutuhkan.”


“Oke, kabari saja apa yang harus aku persiapkan. Nanti dokumennya aku kirim saja pakai ojek online.”

__ADS_1


“Aku bicarakan dulu dengan kuasa hukumku.”


“Silahkan. Kalau gitu aku pulang bawa Kalila, ya.”


Brigita sepertinya merasa keberatan, tapi dia memasang wajah biasa saja. Kepergian Kaina, wanita itu bergegas menemui sang pengacara.


...🥝🥝🥝🥝...


Fadilah sedang berkunjung ke rumah mantan istri pertamanya. Ini merupakan kunjungan kedua sejak Kama tinggal di sana. Suci sudah menceritakan soal kehadiran Kama dalam kehidupan Hugo. Membuat pria tua itu jadi penasaran ingin bertemu dengan wanita yang sudah melahirkan cucunya.


“Ibunya sedang dirawat, makanya dia jarang kesini. Biasanya hampir tiap hari,” terang Suci.


“Terus, anakmu ngapain aja? Masih kerja gak jelas?”


“Mas, Hugo itu juga anakmu.”


“Iya, tapi kamu lebih memanjakannya jadilah dia seperti itu sekarang.”


Tak mau berdebat, Suci memilih diam. Menemani Kama bermain yang duduk di lantai dekat sofa. Terdengar deru suara motor memasuki pekarangan rumah, Suci pun bangkit menuju teras.


“Tumben datang gak bilang.” Bertanya kala menyambut tamu.


“Maaf, Bu, ponsel saya mati habis baterai. Boleh ketemu Kama?” jawab Kalila.


“Ya, boleh. Mari masuk!” 


Kalila gegas berlari menemui kembarannya dan Kaina mengikuti langkah kaki si tuan rumah. 


“Sedang ada tamu, Bu?”


“Gak juga. Cuma Papanya Hugo yang datang. Mari sekalian kamu kenalan.” Tiba di ruang tengah Kaina merasa kenal dengan sosok yang tampak dari belakang itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Baca dulu blurbnya. Kalau penasaran cus langsung meluncur ke sini ⏬...



Nama ku Husna Almaida yang akrabnya di panggil Alma. Aku seorang kepala divisi di salah satu perusahaan industri, yang berkembang di dunia gadget/Smartphone. Banyak orang yang mengakui kecantikan ku, meskipun aku sehari-hari memakai hijab.


Di usia ku yang terbilang sudah matang, aku baru memutuskan menikah dengan seorang pria yang juga bekerja di perusahaan tempat ku bekerja.


Kami menikah, dan hingga beberapa tahun aku tidak kunjung hamil, lalu suami ku berselingkuh dengan pembantu di rumah ku sendiri.

__ADS_1


Hati wanita mana yang tidak sakit, saat melihat suaminya sendiri bercinta dengan wanita lain di ranjang yang biasa aku gunakan saat melakukan hubungan dengan suami ku. Akankah aku bisa memaafkan suami ku atas segala kesalahannya? Atau aku lebih memilih bercerai dan hidup menjanda?


__ADS_2