
Kepergian sang Ibu dan putrinya, Kaina bertanya, “Mau minum sesuatu, Pak?”
“Terserah mau di suguhkan apa. Maaf kalau saya merepotkan.”
“Tidak sama sekali. Mohon ditunggu sebentar.” Kaina bergegas ke dapur membuatkan secangkir kopi panas dan kemudian kembali duduk di posisinya tadi, menghadap Fadillah.
Si tamu menyambut uluran gelas kopi itu. “Saya sudah lama mencari kamu. Ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menolong saya waktu itu.”
Kaina tersenyum. “Kalau hanya ingin mengucapkan terima kasih, Bapak tidak perlu menemui saya.”
“Kenapa tidak?”
“Saya ikhlas menolong Bapak waktu itu. Jadi, tidak perlu repot-repot mencari saya.”
Fadillah menyeruput kopi tadi lalu kembali meletakkan gelas diatas wadahnya. “Begini, saya menemui kamu bukan hanya untuk mengucapkan terimakasih saja, tapi saya ingin membalas budi baik kamu.”
“Oh, tidak perlu, Pak. Sama sekali tidak perlu."
“Meski kamu merasa ini tidak perlu, tapi bagi saya ini harus.” Fadilah menunjukkan kukunya. Jika dia sudah berkata harus artinya itu tak bisa di bantah.
“Sungguh, Pak, saya ikhlas menolong dan Anda tak perlu repot-repot balas budi segala. Melihat keadaan Bapak sehat seperti sekarang saya pun sangat bersyukur.”
“Karena itu saya tak bisa hanya mengucapkan kata terima kasih saja.”
“Ya sudah, terserah Bapak saja kalau begitu.” Kaina mengalah.
Fadilah berpikir sejenak untuk merangkai kata agar wanita yang ada di depannya tak tersinggung nantinya. “Begini, saya ingin menyampaikan niat baik sekaligus keinginan.”
“Apa itu, Pak?”
“Saya mau kamu menjadi menantu saya.” Berkata pada Intinya. Fadilah bukan tipe orang yang bisa basa basi. Ucapannya membuat Kaina ternganga tak percaya.
Ibu si kembar memperbaiki posisi duduknya agar merasa nyaman. “Sebelumnya maaf kalau saya merasa keberatan dengan permintaan Bapak tadi. Itu terlalu berlebihan menurut saya. Lagian dari awal saya juga sudah bilang kalau saya ikhlas membantu Bapak waktu itu. Jadi, saya rasa hal ini tidak perlu.”
“Tapi saya mau kamu menikah dengan putra saya. Dengan begitu saya tak lagi merasa terbebani akibat hutang budi ini.”
Kaina merasa Fadilah sangat keras kepala dan tak paham dengan ucapannya dari awal. "Kalau Bapak memberikan saya penawaran lain mungkin akan saya pertimbangkan. Tapi kalau untuk hal yang satu ini, maaf saya gak bisa." Berusaha bicara dengan sopan meski orang di depannya terkesan memaksa.
"Baiklah kalau begitu. Tapi saya yakin kalau insting saya memilih kamu sebagai calon menantu tak salah."
“Insting?” Kaina menarik satu sudut bibirnya."Saya sudah memiliki anak, Pak. Apa, Bapak lupa gadis kecil yang tadi berkenalan dengan Anda? Artinya, insting Bapak salah mengenai saya.”
Fadillah mengoyangkan jari telunjuknya di depan Kaina. “Insting saya tidak pernah salah. Silahkan kamu pikirkan dulu tawaran saya. Saya yakinkan kamu tidak akan menyesal menerima pernikahan ini.”
__ADS_1
Kaina tersenyum simpul. “Terima kasih atas tawarannya, tapi maaf saya benar-benar tidak bisa."
Fadilah mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian mengeluarkan selembar kartu nama dari dalam dompet lalu diletakkan diatas meja. "Kalau kamu butuh sesuatu silahkan hubungi atau datang ke alamat yang ada di sana."
Kaina meraihnya lalu membaca sekilas. "Terima kasih banyak, Pak."
"Sama-sama. Hanya itu yang dapat saya lakukan untuk membayar hutang budi pada kamu."
"Kapan-kapan saya usahakan mampir."
"Saya tunggu." Fadilah menyeruput kopi yang sudah dingin kemudian dia berdiri dari sofa bertumpu pada tongkat yang sejak tadi dipegangnya. Melihat hal itu Kaina pun membantu.
"Sejak kecelakaan waktu itu saya jalannya harus pakai tongkat," jelas Fadilah.
"Alhamdulillah, Pak, setidaknya Anda tidak pakai kursi roda." Kaina membalas dengan senyuman.
"Hahaha… iya, Alhamdulillah."
Diantaranya Fadillah sampai ke depan mobilnya yang terparkir di halaman rumah. "Sekali lagi terima kasih. Datanglah kerumah saya jika ada waktu."
"Insyaallah," jawab Kaina.
Bersamaan dengan mobil mewah Fadilah keluar dari pekarangan rumah Kaina, sebuah mobil sedan lain pun masuk. Membuat wanita itu mengerutkan dahi karena penasaran siapa lagi tamunya pagi ini.
“Bunda.” Kama membalas pelukan itu tak kalah eratnya dari sang ibu.
“Abang gak papa? Abang gak nangis kan semalaman?” Kaina tampak khawatir.
“Kama memang sedih, tapi dia mau mengerti,” jawab Suci.
Kaina langsung berdiri menghampiri ibu dari ayah biologis putranya. “Maaf, saya sampai lupa menyapa, Ibu.”
“Gak papa, saya ngerti kok.” Suci tersenyum sambil mengelus lengan Kaina.
“Mari, Bu, masuk dulu.”
“Iya.”
Kama langsung dibawa Kaina kedalam gendongan. Sambil berjalan masuk ke rumah, ibu dan anak itu saling melepaskan rindu. Baru saja berpisah satu hari rasanya sudah satu tahun bagi mereka. Mungkin karena belum terbiasa maka terasa sangat berat.
“Adik mana, Bun?” Kama bertanya kala mata dan telinganya tak menangkap sosok kembaran.
“Kalila ikut ibu ke pasar. Semalam dia nangis gak ada Abang.”
__ADS_1
“Maafin anak ibu, ya, Kai,” sela Suci. “Gara-gara dia bawa paksa Kama, Kalila jadi sedih.”
Kaina memberikan segaris senyuman. “Terima kasih Ibu sudah mengantarkan anak saya kembali.”
“Sebelumnya maaf, Kai. Ibu datang kesini hanya membawa Kama ketemu kamu dan adiknya. Setelah ini Kama harus ikut pulang.”
Pria Kecil itu langsung memeluk erat bundanya. Seakan tak mau dipisahkan lagi.
“Buk, apa gak bisa kasih waktu buat saya menjelaskan masalah ini pada Kama dan Kalila?”
Suci membuang nafas kasar. “Kai, Ibu cuma gak mau Hugo datang kesini dan bikin keributan. Gak baik buat mental anak-anak kamu. Ini aja Ibu bawa Kama dia gak tau. Kalau dia sampai tau pasti bakal marah besar. Sebaiknya untuk sekarang kamu ikuti dulu kemauannya Hugo. Nanti Ibu akan coba bujuk dia.”
Ditatapnya mata sang putra yang tampak tersiksa jika jauh darinya dan juga kembarannya. “Sayang, untuk sekarang kamu sabar dulu, ya. Bunda akan cari cara biar Abang bisa tinggal lagi sama Bunda, Adik, Ibu, dan Omdit.”
“Tapi kenapa aku harus tinggal sama Papa?” Kama mulai menitikkan air mata
Kelu sekali rasanya lidah yang tak bertulang itu untuk menjawab pertanyaan dari sang putra. Kaina hanya bisa memeluk Kama sambil berusaha menahan genangan air mata di kelopak.
“Lebih baik Abang gak punya papa. Abang lebih suka sakit kayak kemarin asalkan Abang bisa terus sama adik dan Bunda.”
“Hei, gak boleh ngomong gitu! ” Dirangkumnya wajah bulat sang anak. “Abang harus bersyukur karena sekarang gak sakit lagi, Abang sudah sembuh. Semua berkat Papa kalau gak ada Papa Abang belum tentu bisa bertahan.”
“Tapi, Bunda … .”
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Yuk, mampir di sini ⏬
Flavia Gu, adalah anak dari selir kesayangan Tuan Gu. Dibawa olehnya masuk ke dalam keluarga Gu. Ketika ibunya meninggal
Namun, tidak pernah dianggap sebagia anggota keluarga Gu.
Bahkan dia harus menghidupi dirinya sendiri dari keahlian yang dia miliki. Keahlian yang dia sembunyikan dengan baik.
Tidak hanya itu saja, bahkan Flavia dijadikan tumbal malam pertama untuk menggantikan peran Olivia Gu yang ingin menjadi menantu utama keluarga Lin
Siapa sangka Flavia yang selama ini diam akan menyerang balik mereka semua, yang pernah mencelakainya. sampai pada akhirnya takdir membawa Flavia ke pangkuan Eryk Lin, seorang Mysophobia yang sengaja memilih menjadi dokter Forensik demi mengatasi rasa takutnya yang berlebihan.
Akankah ketika konflik bersemi, justru malah akan membuat keduanya saling jatuh cinta dan menginginkan satu sama Iain?
__ADS_1