Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 77


__ADS_3

Mereka beranjak ke dapur dengan rasa yang sama, yaitu rindu. Namun keduanya tak mau mengakui bahkan pada diri sendiri.


“Ayah.” Kama dan Kalila gegas turun dari bangku dan menghambur memeluk si ayah sambung.


Fatih terseyum senang menyambut Kama dan Kalila bahkan dirinya sampai terhuyung kebelakang. 


“Ayah kenapa gak pernah datang ke sini?” tanya Kama.


“Ayah gak kangen kita, ya?” tamba Kalila.


“Ayah lagi sibuk di kantor. Maaf, ya, baru sempat datang temuin kalian.”


“Anak-anak, ayahnya mau sarapan. Di ajak duduk dulu,” kata Kaina.


Kedua anak itu menarik Fatih duduk di kursi dekat mereka.


“Kai, ambilkan suami kamu makanan. Bagaimanapun kalian masih suami istri sebelum hakim memutuskan,” kata Dina.


“Baik, Bu.”


“Apa kabar, Bang?” sapa Adit.


“Baik, Dit. Kamu makin ganteng aja.”


“Hehehe, Alhamdulillah dapat jajan lebih dari bapak jadi bisa beli skincare.”


“Cewek kali pakai skin care,” ledek Fatih.


“Hahaha, Abang bisa aja.”


Hugo menatap sinis saudara tirinya. Dia seakan tak suka melihat ke dekatan Adit dengan Fatih karena sampai kini dirinya dan adik Kaina itu belum bisa mengakrapkan diri. “Bukannya lo udah sarapan di rumah?”


Fatih sedikit malu sebab dirinya ketahuan berbohong oleh Kaina. “Cuma dikit. Emang salah gue sarapan lagi di sini?”


“Gak papa. Sarapannya sekali-kali doubel,” sela Dina.


“Dimakan, Mas.” Kaina meletakkan semangkuk sup di depan suaminya.


“Makasi, Kai,” jawab Fatih sambil menatap istrinya.


Kaina hanya tersenyum.


“Ayah, anterin kita ke sekolahan dong,” pinta Kama.


“Sayang, ayah itu harus buru-buru ke kantor. Kita berangkat sama Papa Hugo aja, ya,” sela Kaina.


“Gimana kalau nanti sore kalian Ayah jemput? Kita nginap di rumah opa. Kebetulan besok hari libur," ujar Fatih.


“Mau-mau,” jawab si kembar. 


“Boleh ga, Kai?” Fatih meminta izin pada ibu anak sambungnya.


Kaina melirik Dina dan wanita itu tampak mengangguk setuju.


“Boleh, Mas, tapi saya gak ikut.”


“Yaahh.” Si kembar kecewa.


“Pergi aja, Kai,” tukas Dina. “Pasti nanti mereka butuh bantuan kamu di sana.”

__ADS_1


“Tapi, Bu-”


“Gak papa kalau Kaina gak mau ikut. Saya bisa urus anak-anak di rumah, lagian ada Hugo juga,” lontar Fatih.


“Lo yang mau bawa mereka ngapain ajak-ajak gue buat bantu urus,” kesal Hugo.


“Setidaknya lo mau lah bantu-bantu.”


Hugo mendengus. Tampangnya terlihat marah sebab kedatangan Fatih merusak moodnya. 


Mereka semua kembali menyantap makanan masing-masing. Hingga Adit beranjak duluan dari sana. Kemudian Hugo yang memilih menunggu Kaina di teras bersama si kembar.


“Saya cuma mau bilang kalau sidang putusan perceraian kita akan dilakukan minggu depan,” jelas Fatih.


Kaina cuma menganggukkan kepala.


“Kamu gak lupa kan obrolan kita waktu itu?”


“Saya ingat kok, Mas. Kamu tenang aja,” jawab Kaina.


“Kalau begitu saya jalan. Terima kasih sarapannya, masakan kamu bikin saya rindu.”


“Rindu siapa, Mas?”


“Rindu makan masakan kamu lagi.”


“Oh.” 


Dari meja makan, Fatih menemui Dina yang sedang menata tanaman di halaman. “Bu, saya jalan dulu.”


“Hati-hati. Kapan-kapan kesini lagi.”


“Iya, Ayah,” jawab kedua anak itu.


“Daa.”


“Dada, Ayah. Jangan lupa nanti jemput,” sorak Kama.


Fatih mengangkat jempolnya sebelum menjalankan mobil. Tak lama, Kaina pun keluar berpamitan pada sang ibu untuk berangkat mengantarkan anak-anaknya sekolah dan Hugo membimbing si kembar masuk ke dalam mobil.


...🍥🍥🍥🍥...


Sepulang sekolah, Kama dan Kalila tampak tak sabar ingin segera pergi ke rumah Fadilah. Baru saja sampai di rumah mereka langsung mengajak sang Bunda untuk mengemasi beberapa pakaian ke dalam tas.


“Kita makan dulu, sayang,” ajak Kaina. “Lagian ayah juga jemputnya nanti sore.”


“Kita maunya nanti pas ayah sampai langsung berangkat, Bun,” kata Kalila.


“Iya, tapi sekarang kita makan dulu. Tuh ibu udah siapin makanan buat kalian di meja.” Kaina membimbing putra dan putrinya ke meja makan. “Lihat ada makanan kesukaan Abang sama Adik.”


“Waah … mie goreng sosis,” seru Kama.


“Ayo, duduk dulu terus kita makan siang. Habis itu baru siap-siap berangkat ke rumah opa.”


Si kembar itu akhirnya setuju. Mereka menikmati makan siang dengan sangat lahap.


“Kamu beneran gak ikut temanin anak-anak, Kai,” tanya Dina.


“Gimana, ya, Bu, aku ragu.”

__ADS_1


“Kok ragu sih?” Nenek si kembar ikut mendudukkan diri di kursi meja makan. “Gak ada salahnya kamu ikut sekalian ketemu Pak Fadilah.”


“Aku males, Bu, lagian kerjaan aku juga banyak. Belum lagi mau bikin laporan akhir bulan habis rapat kemarin di kantornya Candra.”


“Ya, di bawa aja. Kamu bisa kerjakan di sana.”


“Iya, Bunda ikut aja. Terus nanti siapa yang bakalan bantuin aku kalau mau mandi,” timpal Kalila. “Masak ayah, malu Bunda.”


“Tuh, apa kata anak kamu benar,” sosor Dina.


Kaina mendengus. “Iya, deh, Bunda ikut.”


Kalila dan Kama pun tersenyum lebar. 


“Kamu makan dulu, habis itu siap-siap.”


“Iya, Bu,” jawab Kaina.


...🍆🍆🍆🍆...


Apa yang dirasakan si kembar juga ikut dirasakan oleh Fatih . Dia sudah tak sabar untuk segera menjemput anak-anak itu dan membawanya ke rumah. Bermain dan menghabiskan waktu bersama mereka di minggu ini. Buru-buru di selesaikan semua pekerjaan di kantor agar dirinya bisa pulang lebih awal dari biasanya.


Tepat pukul tiga sore, Fatih merapikan meja kerja yang berantakan dan mematikan komputer. Dari ruangannya dia keluar menemui sang sekretaris. “Saya jalan duluan.”


“Loh, kok, Bapak udah pulang aja? Biasanya duluan saya,” celetuk Zuri.


“Banyak tanya kamu,” kesal Fatih. “Saya ada keperluan makanya pulang duluan.”


“Keperluan apa, Pak?”


“Kamu gak perlu tau. Selesaikan pekerjaan kamu habis itu baru boleh pulang.”


Gadis itu berdiri hendak menyerahkan satu dokumen. “Tapi, Pak, ini ada-.”


“Ada apa sih? Kamu bikin lama deh, anak-anak saya udah nungguin nih.”


Zuri tersenyum menggoda. “Oh, jadi ceritanya mau ketemu anak-anak. Cie, yang udah berasa jadi ayah mereka aja, tapi sayang mau cerai.”


Mata Fatih langsung melotot.


“Ya, udah deh, besok aja kalau gitu. Bapak langsung pergi sana, kasihan anak-anak sama ibunya udah nungguin.”


“Kata siapa sama ibunya. Cuma Kama sama Kalila aja, mereka mau ke rumah bapak.”


“Iya, gak perlu dijelasin juga, Pak. Saya gak nanya.”


Telunjuk Fatih langsung mengarah ke wajah sekretarisnya yang berani itu. “Setelah perceraian saya diputuskan hakim, kamu benar-benar saya pecat,” ancamnya.


“Saya doakan, Bapak, gak jadi cerai. Aamiin.” Zuri berkata seraya mengusap wajahnya dengan telapak tangan.


Fatih merasa kesal dan diakuinya jika berdebat dengan gadis satu ini dia selalu kalah. Akhirnya, suami Kaina itu pergi begitu saja dari sana.


“Cih, udah cinta tapi gak ngaku,” gerutu Zuri. “Hampir tiap hari kerjaannya galau terus, sampai urusan kantor gue semua yang beresin tapi masih aja gak nyadar.” Gadis itu terus bergumam sendiri soal tingkah bosnya.


...----------------...


🤭🤭 siapa di sini tim Zuri?


☝☝ aku 😊😁😆😄😂

__ADS_1


__ADS_2