Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 71


__ADS_3

Kaina sudah membubuhkan goresan tangannya di atas surat gugat cerai mereka. Meski awalnya Fatih tak setuju mereka berpisah dalam waktu dekat, tapi akhirnya pria itu tak bisa menahan istrinya lebih lama lagi.


“Setelah sidang hak asuh Kalila, saya akan ajukan ini ke pengadilan agama,” ujar Fatih.


Kaina hanya mengangguk.


“Maaf kalau kemarin saya memperlakukan kamu dengan kasar.”


“Gak papa, Mas. Saya maklumi.”


“Besok kalau kamu mau langsung pulang ke rumah Ibu silahkan.”


“Belum, Mas. Saya akan tetap disini sampai Kalila benar-benar kembali ke saya. Selama itu saya akan tepati janji. Melayani kamu sebagai istri yang baik.”


Fatih pun bangit dari sofa bed yang mereka duduki. “Oke, kalau memang itu mau kamu. Malam ini persiapkan diri. Beri saya sesuatu yang berbeda, anggap saja sebagai kenang-kenangan kita sebelum berpisah.”


Kembali wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu saya kembali ke kantor.” 


Kepergian suaminya, Kaina langsung menjatuhkan hujan air mata yang sejak tadi ditahan. Walau bibirnya mengatakan ikhlas sungguh hatinya terluka di perlakukan seperti ini. Dia pun tak tahu kenapa bisa rasanya sangat menyakitkan. Padahal dulu dia sangat yakin kalau menjalani rumah tangga tanpa adanya cinta akan jauh lebih mudah.


...🍇🍇🍇🍇...


“Menimbang, bahwa hak asuh atas anak Penggugat dan Tergugat oleh Pengadilan telah dinyatakan dicabut dari Tergugat, maka Majelis Hakim selanjutnya menetapkan Penggugat selaku ibu kandungnya sebagai pemegang hak asuh anak atas nama Kalila Jasmin, perempuan, umur 6 tahun. Tergugat dinyatakan tak memiliki hak apapun. Namun, tergugat bisa bertemu, ikut mendidik, membimbing dan mengajak anak tersebut selama tidak terpaksa dan membahayakan keselamatan dan tidak mengganggu pendidikan anak.” Ketua hakim sudah membacakan putusannya dan ketukan palu pun terdengar sebagai tanda pengesahan.


Kaina langsung mengucapkan syukur seraya mengusapkan telapak tangan ke wajah. Senyum bahagia pun mekar di bibir hingga wajahnya tampak berseri. 


“Selamat, Kai,” kata Candra. Pria itu hari ini ikut menghadiri sidang putusan.


“Terima kasih, Can.”


“Aku senang kalau Kalila kembali bersama ibunya. Sekarang kamu gak perlu lagi mengantarnya pulang ke rumah aku dan Brigita.”


Brigita yang berdiri di belakang sang suami tak ikut menyapa atau memberi selamat. Dia memilih segera menarik Candra untuk pergi dari sana.


Kaina mengangguk cepat. Dia kemudian menghampiri Fatih dan langsung memeluknya. “Makasi, Mas. Akhirnya anak-anakku kembali.”


Fatih mengelus punggung istrinya. 


“Kalau begitu aku pergi jemput Kalila dan Kama ke sekolahnya.”


“Tunggu sebentar, biar saya yang antar.” Kali ini Fatih kembali bicara seperti biasa. Tak kayak kemarin di mana ucapannya terasa dingin.


“Aku tunggu di parkiran.”

__ADS_1


Kaina keluar dari gedung pengadilan. Kali ini Dina tak ikut turut serta karena masih menyimpan marah pada sang anak dan menantu. Di hubungimya Adit untuk menyampaikan berita gembira ini pada sang ibu.


📞 Alhamdulillah, Dit. Akhirnya kakak memenangkan tuntutan.


📞 Alhamdulillah, Kak. Kalau gitu Adit akan langsung pulang dan ngasih tau ibu.


📞 Iya, cepat, ya, Dit. Beliau pasti sudah gak sabar nunggu kabar ini.


📞 Ya sudah, telponnya Adit tutup dulu. Mau jalan sekarang.


📞 Iya. hati-hati di jalan. Assalamualaikum.


Panggilan di putus. 


“Jalan sekarang?” Fatih pun tiba di dekat mobilnya.


“Ayo, Mas.”


Keduanya sama-sama masuk ke dalam mobil menuju sekolahan si kembar.


...🥝🥝🥝🥝...


Kaina sudah tak sabar untuk segera memberitahukan pada anak-anaknya kalau kini mereka tak lagi berpisah. Pas tiba di sekolahan si kembar, dia gegas turun menghampiri Kama dan Kalila yang baru saja keluar dari kelas. Direntangkannya tangan untuk menyambut si buah hati.


“Sekarang adik bisa ikut Bunda pulang,” kata Kaina.


“Iya, sayang. Kalila gak akan lagi pulang ke rumah ayahnya.”


“Hhhoorree,” sorak anak-anak itu. Mereka kembali memeluk sang bunda dengan erat. “Kita gak akan pisah-pisah lagi kan, Bun? tanya Kalila. 


“Kita akan tinggal di rumahnya Ayah Fatih selamanya kan?!” tanya Kama.


Kaina hanya bisa menatap putra dan putrinya.


“Sebaiknya kita pulang dulu,” ajak Fatih menghampiri ibu dan anak itu.


Kalila kemudian menghambur memeluk kaki ayah sambungnya. “Makasih, ya, Ayah, sudah bantu bunda buat bisa bawa aku tinggal bersama ayah.”


Dielusnya rambut hitam gadis kecil itu. “Sama-sama, sayang.”


Kama pun ikut memeluk ayah sambungnya. Membuat Fatih harus berjongkok agar bisa sejajar dengan mereka. “Kalian anak-anak hebat dan pintar. Makasih juga sudah hadir di kehidupan Ayah.”


Kaina membuang wajahnya ke samping. Tak terasa setetes bulir bening keluar dari sudut mata. 


“Kita pulang kasih tahu opa kabar ini.”

__ADS_1


“Ayo,” seru si kembar bersamaan.


Kaina mengikuti langkah suami dan anaknya menuju mobil. Sebelum masuk dia menetralkan perasaan dan menyeka mata yang basah. “Kita ke rumah ibu dulu, Mas,” pintanya sambil memasang sabuk pengaman.


“Baik. Kebetulan bapak juga belum pulang.”


Fatih membawa roda empatnya menuju kediaman mertua. Selama perjalanan Kaina merasakan kebahagiaan sekaligus kesedihan. Bibirnya tersenyum, tapi matanya menangis. Susah payah hal itu di sembunyikannya dari anak-anak dan suami. Dia pun tak tau alasan apa sampai hatinya bersedih.


...🍅🍅🍅🍅...


Dina memeluk kedua cucunya yang baru saja tiba di rumah. Wanita tua itu tak dapat membendung tangis haru bahagia karena akhirnya dia dapat kembali berkumpul bersama dua bintang kecil itu.


“Alhamdulillah, ya, Allah,” seru Dina memanjatkan syukur.


Adit pun menghampiri kakak iparnya. “Terima kasih, Bang. Terima kasih banyak atas bantuannya.”


“Santai, Dit. Semua saya lakukan dengan hati yang ikhlas. Jadi, kamu gak perlu berlebiahan seperti ini.”


“Kami sekeluarga benar-benar berhutang budi banyak sama Abang dan Pak Fadilah.”


“Gak lah. Dari awal bapak dan saya mau membantu kalian karena Kaina dan kamu sudah menolong bapak. Artinya, kita impas” tutur Fatih.


“Tapi kamu dan Bapak justru lebih banyak membantu kami,Mas,” tambah Kaina.


“Kamu juga sudah membalaskannyakan?!”


Kaina tersenyum simpul.


“Dit, bawa ponakan kamu jajan sana,” ujar Dina. “Pasti mereka pengen beli es krim.”


“Boleh, Bunda?” tanya Kama.


“Boleh, sayang.”


“Hore, asik kita beli es krim.” Kama dan Kalila bersorak riang. “Ayo, Omdit, kita jalan sekarang.” Kedua anak kecil itu langsung menarik pamannya.


“Lets go!”


Kepergian Adit dan kedua cucunya, Dina membuka kata. “Terima kasih ibu ucapkan pada Nak Fatih sudah membantu putri ibu mendapatkan anak-anaknya kembali.”


Fatih hanya mengangguk.


“Maaf, kalau kemarin ibu sempat marah pada kamu.”


“Saya yang seharusnya meminta maaf pada Ibu karena sudah berbohong. Maafkan saya dan Kaina karena kami sudah membuat ibu kecewa.”

__ADS_1


“Jujur sampai kini ibu masih kecewa pada kalian berdua.” Dina menghembuskan nafas panjang. “Masih besar harapan ibu agar kalian kembali memikirkan keputusan itu. Tapi kalau memang kalian sudah sangat yakin, Ibu pasrah.”


__ADS_2