Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 63


__ADS_3

Kama hanya mengangguk.


“Biasanya bisa pakai sendiri.” Kaina menyambut sang suami.


“Lebih rapi kalau di pasangin,” jawab Fatih.


Kegiatan pasutri itu tak luput dari pandangan Hugo. Jujur sejak tinggal dan berbaur dengan pasangan satu ini pemikirannya sedikit terbuka tentang berumah tangga.


“Tumben belum siap, Tih.” Fadilah yang baru tiba di sana, menyapa putra keduanya.


“Telat bagun, Pak. Soalnya semalam Kama kebangun terus ngajak main.”


“Kenapa?.” Fadilah menghampiri cucunya sembari duduk di kursi meja makan.


“Soalnya ayah janji mau nemenin aku main. Tapi sorenya aku udah ketiduran,” jelas Kama.


“Kok kamu gak ke kamar Papa,” tanya Hugo.


“Gak ah, takut. Papa kan pemarah, gak kayak Ayah Fatih.”


Hugo tertampar dengan jawaban putranya.


“Kama awalnya bagunin aku, tapi Mas Fatih akhirnya ikut bagun juga,” terang Kaina.


Setelah dasi terpasang rapi di lehernya, Fatih pun mendudukkan diri di samping putra sambung. Kaina menyiapkan sarapan untuk sang suami. Hingga laki-laki itu mengosongkan piringnya terlebih dahulu. “Kai, saya berangkat, ya.”


“Iya, Mas.” Tak lupa Kaina mencium punggung tangan suaminya.


“Da da Ayah,” ujar Kama.


Fatih mengacak rambut pria kecil itu. “Di sekolah belajar yang rajin.”


Kama mengangkat jempolnya.


“Pak, saya duluan.”


“Hati-hati di jalan, Tih,” balas Fadilah.


Kepergian saudara laki-lakinya, Hugo pun berdiri. “Saya tunggu kalian di mobil.”


Kaina hanya mengangguk lalu menghampiri sang putra yang sudah menghabiskan isi mangkuknya. “Pamit sama Opa.”


Kama turun dari kursi dan menghampiri kakeknya. “Aku juga berangkat, ya Opa.”


Fadilah memberikan tangannya. “Jadi anak pintar, ya, biar bisa kayak ayah Fatih.”


“Iya.”


“Pak, saya jalan,” izin Kaina menyalami mertuanya.

__ADS_1


Dari sana ibu dan anak itu berjalan keluar rumah menuju mobil yang sudah menanti di halaman. Setelah keduanya masuk dan duduk di bangku belakang, Hugo mengemudikan keretanya.


“Terima kasih sarapannya,” ujar Hugo.


“Sama-sama. Terima kasih juga sudah bersedia mengantarkan kami.”


“Sudah tugas saya. Kamu tahu sendiri kalau gak saya lakukan resikonya apa.”


Kaina menyungingkan sudut bibirnya. “Saya tau kamu terpaksa melakukannya, tapi tetap terima kasih. Saya menghargai usaha kamu.”


“Apa saya boleh bertanya sesuatu?”


“Apa?”


“Kenapa kamu tetap bersikap baik pada saya? Sedangkan saya memperlakukan kamu dengan sangat buruk.”


“Apa saya harus membalasnya?”


Hugo terdiam sambil fokus menyetir.


“Kalau saya balas apa bedanya saya dengan kamu? Setidaknya saya jauh lebih baik dari kamu. Seperti yang dibilang Mas Fatih waktu itu. Belajarlah untuk berbuat baik agar kehidupan kamu juga baik.”


Akhirnya, mereka pun sampai di depan gerbang sekolahnya Kama. Di depan sana tampak Kalila sedang menunggu bersama Brigita.


“Pamit sama papa, Nak,” ajak Kaina pada putranya.


Hugo cuma mengangguk. Setelah ibu dan anak itu turun dia pun membawa mobilnya menuju kantor sang ayah. Namun, matanya menangkap di bangku belakang kalau botol minum sang putra tertinggal. Jadilah dirinya kembali putar balik.


Masuk ke area parkiran sekolah, Hugo pun turun dan mencari Kaina. Dia tampak kebingungan karena sama sekali tak tahu dimana kelas anaknya berada.


“Hugo,” seseorang menyapanya dari belakang.


“Hei, apa kabar lo?” balas Hugo. Seorang teman lama, namanya Yani.


“Baik. Ngapain lo di sini?”


“Ini mau nganter botol minum anak gue ketinggalan di mobil.”


“Oh, kelas berapa?”


Lelaki itu cuma menggaruk kepala. “Lo sendiri ngapain disini?”


“Lagi anterin anak gue.”


“Gak sama ibunya?”


“Mengantar anak sekolah bukan hanya tugas ibu, bapaknya juga bertanggung jawab,” jelas Yani. “Lagian istri gue lagi hamil.”


Hugo cuma membulatkan mulutnya.

__ADS_1


“Lo gak tau kelas anak lo di mana?”


Di gelengkannya kepala kemudian Hugo menghubungi Kaina.


“Asli lo parah banget, Go.”


Tak lama Kaina pun tiba di sana. “Makasih udah dianterin.”


“Istrinya Hugo?” tanya teman dari ayahnya Kama.


“Bukan,” jawab Kaina. “Saya kembali ke dalam.”


Hugo memalingkan wajah dari temannya itu karena sedikit merasa malu. 


“Jangan bilang itu anak hasil dari ulah lo yang gak bertanggung jawab?” tebak Yani.


Hugo mendengus. “Tau aja lo.”


Yani menggeleng tak percaya. “Gue pikir lo udah berubah, Go.”


“Hidup gue lebih happy seperti ini. Gak kayak lo, sekarang lupa sama teman-teman masa senang.”


“Gue gak lupa. Gue masih ingat kalian semua, tapi gue cuma menjauh karena gue sadar bersama kalian gak ada positifnya,” ungkap Yani. “Hidup gak akan selamanya seperti apa yang kita inginkan, Go. Ada masa dimana kita akan kesepian,susah, dan terpuruk. Di saat itu bukan teman yang akan ada bersama kita, tapi sosok yang selalu mau berjuang dan berdiri di samping kita.”


“Lo ceramahin gue?”


“Terserah lo mau nanggepinnya gimana. Sebagai teman gue cuma mau kasih nasehat biar lo berubah ke jalan yang benar. Percaya sama gue, jadi baik itu bikin hidup kita jauh lebih bahagia daripada kita senang-senang di luar sana. Sekarang gue punya istri dan anak yang bikin hari-hari gue berwarna. Makanya gue rela ninggalin kalian semua demi mereka karena mereka gak akan ninggalin gue di masa sulit.”


“Yakin banget lo,” ledek Hugo.


“Sekarang gue tanya, kalau lo lagi ada masalah siapa yang bantu? Ujung-ujungnya lo ngadu sama nyokap lo kan?! Masih sampai sekarang?”


Hugo cuma diam.


“Gak lo jawab gue udah tau juga.” Yani mendudukkan dirinya di bangku dekat mereka berdiri. “Teman-teman lo itu pada hilang gak tau kemana. Pas masalah lo beres mereka balik lagi kayak gak ada yang terjadi.” Ditatapnya sahabat lama yang betah berpangku tangan. “Jujur lo! Apa yang gue bilang benar kan?!”


Hugo seolah menolak kenyataan yang ada.


“Sori kalau gue banyak bicara.” Yani bangkit lalu menepuk pundak Hugo. “Semoga lo segera sadar.”


Kepergian temannya, Hugo pun kembali menuju mobilnya.


...🐽🐽🐽🐽...


Waktu terus berlalu dan kini semua keluarga sedang menghadiri sidang putusan hak asuh si kembar. Kaina sebagai ibu kandung mereka merasa deng-dengan ketika menunggu hakim membacakan fatwa.


“Setelah mendengar keterangan Penggugat, Tergugat dan memeriksa bukti bukti di persidangan;TENTANG DUDUK PERKARANYA Menimbang, Menetapkan bahwa hak asuh anak yang bernama KAMA JAFAR, laki laki, umur 6 tahun jatuh pada penggugat. Memberi akses seluas luasnya pada tergugat untuk bertemu dengan anak tersebut. Menghukum tergugat untuk membayar nafkah anak tersebut sebesar 50 juta per bulan.” Palu pun diketuk oleh ketua hakim. 


“Sedangkan hak asuh anak bernama KALILA JASMINE, perempuan, umur 6 tahun akan mempertimbangkan lebih lanjut sebagai berikut; Menimang bahwa tergugat tidak menghalangi penggugat untuk bertemu dengan anak tersebut dengan kata lain tergugat memberikan akses seluas luasnya kepada penggugat. Menimang apabila tergugat menghalangi penggugat untuk bertemu dengan anak tersebut atau dengan kata lain tidak memberi akses atau mempersulit penggugat untuk bertemu dengan anak tersebut maka hak asuh anak yang berada pada tergugat bisa dicabut dengan mengajukan gugat pencabutan hak asuh anak oleh penggugat ke pengadilan agama.” Ketukan palu untuk putusan kedua pun terdengar.

__ADS_1


__ADS_2