
Ibu si kembar mengangguk setuju.
“Bun, aku udah beres makannya,” kata Kama.
“Aku juga,” tambah Kalila.
“Sini, Ayah bantu cuci tangan. Fatih menggeser posisi ke dekat si kembar. “Habis ini kalian duduk dulu di ruang tengah.”
“Iya, Ayah,” jawab si kembar.
“Kalian berdua juga kalau udah selsai makannya gak papa kalau mau nyusul si kembar,” imbuh Dina. Meja makan biar ibu yang bereskan.
“Nanti aku juga bakalan bantu ibu,” tambah Adit.
“Maaf, ya, Bu, aku gak bisa bantu,” pinta Kaina.
“Gak papa. Kamu juga lagi sakit ibu paham kok.” Dina memberikan senyuman.
Dibantu suaminya, Kaina beranjak dari meja makan ke ruang tengan.
Dengan sangat hati-hati Fatih mendudukan sang istri di atas sofa.“Bentar lagi kita istirahat, ya,” ajaknya.
“Aku masih mau nonton, Mas. Ini juga baru jam sembilan.”
“Kamu lagi sakit, Kai, dan sekarang juga lagi hamil. Harus banyak istirahat dan gak boleh begadang.”
“Iya, deh.”
Melihat si kembar sudah menguap dan mengucek mata, Kaina mengajak anak-anaknya untuk berbaring di atas sofa terlebih dahulu.
“Aku mau bobo sama Ayah,” kata Kama.
“Sini.” Fatih menepuk pahanya untuk dijadikan bantal oleh sang putra sambung.
Begitu pula dengan Kalila yang berbaring di paha sang bunda.
“Seminggu kedepan aku gak akan masuk kantor,” ujar Fatih.
“Kenapa, Mas?”
“Mau jangain kamu dan bantu anak-anak berangkat sekolah.”
“Gak perlu, Mas, ada ibu kok yang bakalan bantu aku.”
“Gak, Kai. Kamu dan anak-anak sekarang tanggung jawab aku, masak ibu yang harus urus kalian. Apa lagi selama ini kamu bisa urus aku, si kembar sekaligus bekerja, masak aku gak bisa sih.”
Senyum bahagia terbit di bibir Kaina. “Makasih, ya, Mas.”
“Kayaknya mereka capek banget.” Fatih menatap anak-anak sambungnya nan sudah terlelap. “Baru juga di elus kepalanya udah langsung tidur.”
__ADS_1
“Ya udah, Mas, pindahin ke kamarnya.”
Dibawa Kama terlebih dahulu ke dalam pangkuan. “Kamu tunggu sini, gak usah ikut! Biar aku aja yang gendong mereka.” Fatih memperingatkan sang istri.
“Iya,” jawab Kaina.
...🐽🐽🐽🐽...
Tiba di kamar, Fatih mengirimkan pesan pada sekretarisnya agar besok pagi dapat mengantarkan barang-barang yang diperlukannya untuk bekerja dari rumah.
“Kamu ngapain, Mas?” Kaina bertanya ketika melihat suaminya membuka bajunya.
“Mau tidur, lah, emang ngapain?”
“Terus kenapa gak pakai baju? Biasanya tidur pakai baju.
Fatih naik ke atas kasur. “Kenapa?”
“Gak.” Raut wajah ibu si kembar berubah jadi merah semu ketika di dekati oleh suamiya.
“Jangan mesum. Biasanya aku tidurnya begini, kemarin-kemarin aku tidur pakai baju takut kamunya gak nyaman.”
“Siapa yang mesum,” elak Kaina.
Langsung didekapnya sang istri dengan erat. “Terus kenapa kamu sekarang gak berani tatap aku?”
“Hahaha, kenapa malu sih. Kita udah nikah, udah bikin anak bareng, malu apalagi?”
“Mas, ih.” Kaina merasa kesal lalu memukul lengan Fatih. “Beda tau. Kemarin-kemarin aku cuma menjalankan kewajiban sebagai istri aja tanpa ada rasa. Kalau sekarang pakai hati, ya pasti ada deg-degannya lah.”
Senyum bahagia terbit di bibir laki-laki berkulit sawo matang itu. “Iya, sih. Aku juga merasa ada sesuatu yang beda. Ada yang meledak di sini.” Fatih menunjuk dadanya. “Kamu juga bisa dengar kalau detaknya lebih cepat.”
“Makanya, jangan godain aku lagi,” manja Kaina.
Dirangkumnya wajah Kaina lalu dilabuhkan satu kecupan dalam dan hangat di dahinya. “Aku sayang kamu, Kai. Mulai sekarang kita jalani rumah tangga ini dengan rasa cinta dan kasih sayang.”
“Iya, Mas. Tanpa aku sadari ternyata kamu adalah orang yang selama ini selalu aku nantikan. Sosok yang bisa mencintai aku dan anak-anak, sosok yang mampu hadir disaat yang tepat, memberikan aku sedikit cahaya untuk berjalan di suramnya kehidupan.”
Pasutri itu saling mendekap satu sama lain. “Kamu juga sosok yang luar biasa. Hanya dalam waktu singkat kamu bisa merubah hidup aku. Kembali berwarna dan memiliki sebuah harapan serta tujuan.”
“Aku sayang sama, Mas.”
“Aku lebih sayang sama kamu, Kai.” Fatih mengurai pelukan mereka. “Sekarang kita tidur, yuk! Tidurnya udah gak jauh-jauhan lagi kayak kemarin,” kekehnya.
“Aku sama dedek bayi kangen.” Kaina memasang wajah memelas sambil mengusap perutnya yang masih rata.
“Sini.” Fatih membuka lebar tangannya. “Tidur di dada aku.”
Kaina pun berbaring di sana. “Nyamannya.”
__ADS_1
Pasutri itu akhirnya memejamkan mata menuju alam mimpi yang penuh kedamaian.
...🦛🦛🦛🦛...
Pagi-pagi ibu hamil itu sudah duduk di depan teras rumahnya. Menikmati aroma tanah yang dibasahi oleh embun serta wangi bunga dari taman yang selalu dirawat ibunya. Tak lama sang suami datang mengantarkan segelas susu khusu ibu hamil.
“Makasi, Mas.”
“Iya, sayang,” jawab Fatih. “Gimana? Masih mual perutnya?”
“Lumayan enakan.”
“Ya udah, aku tinggal kedalam lagi mau bantu anak-anak siap-siap ke sekolah.”
“Iya.”
Walau Kalila bukan putri kandung bagi Fatih, tapi karena dia dan Kaina sudah memiliki anak maka gadis kecil itu termasuk mahram baginya. Artinya, tak masalah jika si ayah tiri melihat aurat putri sambungnya. Namun, ada batasan aurat yang harus dijaga.
Setelah kedua anaknya selesai dimandikan oleh ibu mertua, Fatih membantu si kembar memakai seragam sekolah.
“Ibu tinggal ke dapur mau bikin sarapan,” ujar Dina.
“Iya, Bu.”
“Nanti kita berangkat sekolahnya sama Ayah, ya,” ajak Kama.
“Di antar Omdit aja, ya, Nak,” jawab Fatih. “Soalnya Ayah gak bisa ninggalin bunda. Nanti kalau bunda pusing lagi gimana.”
“Ya udah, deh.”
“Anak pintar. Sekarang kita sarapan dulu.” Ayah dan anak itu keluar dari kamar menuju meja makan. Tiba di sana Dina sudah menyiapkan makanan untuk cucunya.
“Bu, aku titip anak-anak,” kata Fatih. Laki-laki itu membawa sepiring makanan dan segelas air minum. “Aku mau suapin Kaina di depan aja.”
Dina mengangguk setuju.
Tiba di teras rumah, Fatih menarik satu kursi untuk didudukinya dekat sang istri. “Kita sarapan dulu habis itu minum obat.”
“Sini, Mas, biar aku suap sendiri aja,” pinta Kaina.
“Gak! Fatih menarik kembali piring yang diambil istrinya. “Biar aku suapin.”
“Mas, aku ini gak sakit parah jadi jangan berlebihan begini. Biar aku suap sendiri dan kamu bisa sarapan juga.”
“Emang salah kalau suami pengen manjain istrinya?”
“Ya, gak juga sih.”
“Ya udah, jangan protes! Tinggal buka mulut dan kunyah makanannya.” Fatih berkata sambil mengulurkan sesendok makanan.
__ADS_1