Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 66


__ADS_3

"Ya allah, Mbak, terima kasih banyak sudah membantu.” Wanita bertubuh tambun itu langsung memeluk Kaina dengan erat. “Sekali lagi terima kasih sudah menjaga anak saya.”


“Saya akan merasa bersalah kalau anak Ibu sampai dibawa orang tadi. Lain kali hati-hati, ya. Kalau gak bisa jemput atau telat hubungi pihak sekolah.”


“Iya. Oh, ya, Mbak gimana kalau ikut saya ke rumah. Kita sekalian ngobrol dan anak-anak bisa main.”


“Lain kali,ya. Hari ini saya sangat sibuk.”


Wanita tak dikenal itu mengulurkan ponselnya. “Boleh saya minta nomornya?”


“Oh, tentu.” Kaina menuliskan deretan angka miliknya yang bisa di hubungi.


“Nanti kalau saya undang ke rumah, Mbak, harus datang, ya.”


“Insyaallah. Kalau begitu saya pulang dulu. Taxi saya sudah sampai.”


“Iya. Sekali lagi makasih, Mbak.”


“Sama-sama, Bu.”


...🐣🐣🐣🐣...


Malamnya, Kaina tampak sibuk mengatur keuangan supermarketnya. Dia harus mulai menyisihkan uang untuk kebutuhan hidup setelah nanti berpisah dengan Fatih. 


“Sibuk, Kai?” sapa Fadilah.


“Ah, Bapak, bikin kaget.” Kaina yang duduk di meja makan merapikan berkas-berkas keuangan. “Cuma merapikan catatan keuangan saja, Pak. Adit kan lagi fokus kuliah.”


“Kenapa di sini? Kenapa gak di kamar saja?”


“Saya biasanya senang mengerjakan laporan di meja makan, Pak.”


“Luas, ya, Kai.”


“Hahaha, iya, Pak,” tawa Kaina. “Bapak, butuh sesuatu?”


“Cuma mau ambil air minum. Ternyata teko di kamar sudah kosong.”


“Maaf, Pak, saya lupa. Biasanya saya yang bantu isi.”


“Gak papa. Bapak ambil dulu, ya.”


“Biar saya bantu, Pak.” Kaina bangkit dari posisi menuju dispenser.


“Makasih, Kai. Bapak senang punya mantu kayak kamu. Mudah-mudahan kamu dan Fatih jodoh selamanya.”


Senyum simpul diberikan sang menantu sebagai jawaban. Setelah teko air yang di isininya penuh, Kaina memberikannya pada bapak mertua.


“Bapak ke kamar lagi. Kamu istirahat sudah malam ini.”


“Iya, Pak.”

__ADS_1


Dari meja makan Kaina menaiki anak tangga satu persatu sambil menatap pintu kamarnya dan kamar sang anak. Akhirnya malam ini dia memutuskan untuk tidur bersama Kama.


...🍓🍓🍓🍓...


 


“Mbak,” sapa karyawan. Kaina yang sedang termenung di meja kasir melonjak kaget saat di tepuk bahunya. 


“Apa?”


“Kalau lagi capek istirahat, biar saya yang duduk di sini.”


“Oh, ya, sudah.” Ibu tunggal itu beranjak dari sana. Sebenarnya dia sedikit pusing memikirkan masalah keuangan untuk biaya hidupnya nanti. Tak mungkin semuanya diharapkan dari pemasukan supermarket. Sebentar lagi dia dan Fatih akan berpisah. Jadi, mulai sekarang Kaina ingin memiliki penghasilan lain sebagai tambahan.


Kalau bisa dia juga ingin mengembangkan kembali usaha supermarket yang sudah hampir bangkrut ini. Kaina merasa berhutang pada almarhum sang ayah. Jadi, sebisa mungkin dia harus berjuang mengembalikan kejayaan usaha keluarga kembali seperti dulu lagi. 


Tiba di lantai dua bertepatan dengan kantor supermarketnya, Kaina memilih duduk di sofa besar. Tak lama seseorang datang membawa Candra untuk bertemu dengannya. “Ngapain kamu kesini?”


“Kai, kamu bisa gak sih sapa aku dengan wajah yang ceria? Ini langsung judes gitu.” Candra pun mendudukkan diri di depan ibu dari putrinya.


“Ada apa? Kenapa kesini gak kasih kabar?”


“Kebetulan lewat sini, jadi aku singgah. Aku pikir kamu gak ada tadi, eh ternyata ada. Jadi, ya, langsung ketemu aja.”


“Ooh.”


“Begini, karena aku buka usaha jual mobil dan motor bekas gimana kalau kamu kerja di sana. Sekalian bantu-bantu di bagian keuangan. Aku gak bisa milih orang sembarangan karena takut nanti di tipu. Pas banget aku ingat kalau kamu lulusan administrasi keuangan jadi aku yakin kamu bisa di percaya.”


“Ayo lah, Kai. Kamu gak perlu datang ke kantor setiap hari. Kerja dari rumah aja bisa. Nanti palingan kalau pas meeting baru ke kantor. Kamu tenang saja, aku bakalan bayar gaji kamu sesuai pengalaman yang kamu punya.”


“Aku pikir-pikir dulu, deh, Can.”


“Please, Kai, mau, ya. Selama ini aku yang kerjakan laporan keuangan sendirian. Karena lagi sibuk banget di kantor aku harus cari orang baru, tapi ,ya, itu tadi takut gak amanah.”


“Aku bicarakan dulu sama Mas Fatih. Kalau dia kasih izin aku kabari.”


Candra membuang nafas panjang. “Oke kalau begitu. Aku tunggu kabar dari kamu secepatnya.”


“Iya.”


“Ya udah, aku cuma mau bilang itu aja. Aku balik ke kantor dulu.”


“Makasih atas tawarannya.”


“Santai aja, Kai. Aku harap kita bisa menjadi teman baik dan aku akan mencoba membuka hati untuk Brigita.” Sadar tak lagi ada harapan untuk bisa kembali menjalin kisah bersama mantan terindah, Candra mencoba untuk menghapus rasa yang tersisa.


“Tapi aku masih khawatir soal Brigita. Takut dia akan salah paham.”


“Aku akan memberikan penjelasan padanya.”


Keduanya sama-sama turun dari sana. Kaina yang hendak menjemput si kembar ke sekolah akhirnya ikut bersama Candra karena tujuan mereka satu arah.

__ADS_1


...🥬🥬🥬🥬...


Fatih mengintip bilik putra sambungnya. Ternyata sang istri yang dicari-carinya sedang membacakan dongeng sebelum tidur untuk Kama. Menyadari hal itu, Kaina pun menyudahi bacaannya dan mengecup kening sang anak.


“Selamat malam, sayang. Bobok yang nyenyak, ya. Bunda ke ayah dulu sepertinya butuh bantuan,” kata Kaina.


“Malam juga, Bunda,” balas Kama.


Dari sana wanita itu melangkah memasuki kamarnya. Nampak sang suami sedang duduk menyandar di atas ranjang. “Ada apa, Mas?”


“Bisa tolong pijitin kepala gak? Sakit banget rasanya,” kata Fatih.


“Minum paracetamol, ya, habis itu saya pijitin.”


Fatih setuju. Kaina pun mengambilkan obat di kotak kemudian memberikan pada sang suami. 


“Makasi, Kai.”


Kaina hanya membalasnya dengan senyuman hangat. “Sini saya pijat.” Menepuk pahanya sendiri agar dijadikan bantal oleh suaminya dan Fatih pun merebahkan kepala di sana.


“Mas, pasti pusing mikirin cara buat dapetin hak asuhnya Kalila, ya?” tanya Kaina.


“Gak, Kai. Cuma emang lagi banyak kasus yang harus ditangani,” jelas Fatih.


Kaina pun paham. “Oh, ya, Mas, tadi Candra datang nemuin saya. Dia ngasih tawaran untuk saya kerja sama dia.”


“Buat apa?” Fatih bertanya sambil menikmati pijatan di kepala.


“Maksudnya?”


“Buat apa kamu kerja. Nanti supermarket siapa yang awasi, lagian saya ngasih kamu uang tiap bulannya kan!”


“Kamu lupa kalau sebentar lagi kita bakalan pisah?”


Fatih tercekat saliva. Sungguh dia tak ingat akan hal itu.


“Gimana, Mas? Boleh, ya?”


“Iya. Asalkan kamu bisa bagi waktu.”


“Makasih, ya, Mas. Setidaknya sebelum kita pisah aku punya penghasilan tambahan. Jadi, penghasilan supermarket bisa aku tabung buat kembangkan kembali cabang yang sudah bangkrut.”


Merasa enakan, Fatih mengangkat kepalanya dari bantal ternyaman yang pernah ia rasakan. “Kita tidur, yuk!”


“Udah gak sakit lagi kepalanya?”


“Udah mendingan. Makasih, Kai.”


“Iya, Mas.”


Keduanya sama-sama merebahkan badan masing-masing di sisi kanan dan kiri ranjang dengan posisi punggung saling berhadapan. 

__ADS_1


__ADS_2