Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 100


__ADS_3

Lima hari di Rumah Sakit, Kaina diizinkan pulang oleh dokter kandungannya. Akibat flek yang terus saja muncul beberapa hari kemarin, Ibu hamil itu disarankan untuk bedrest di rumah dan tak boleh melakukan kegiatan. Rencana baymoon yang sudah di atur terpaksa harus dibatalkan karena dokter tidak mengizinkan.


Membuat Kaina kembali merasa sebal dan kesal pada Fatih. Bayangannya bisa bersantai dan menikmati pantai di pulau dewata Bali tinggal khayalan semata. Dirinya yang tak sabar ingin memanjakan lidah dengan kuliner nan menggugah selera jadinya cuma bisa menelan ludah.Tiba di rumah, wanita itu bersungut-sungut pada sang suami yang terus berusaha menghiburnya.


“Pokoknya nanti pas anak-anak udah lahir kita pergi jalan-jalan,” ujar Fatih.


“Mana bisa, Mas. Kamu kalau ngomong asal aja.”


“Ya udah nanti pas mereka udah beberapa bulan gitu baru kita pergi.”


“Gak bisa. Jalan-jalan bawa anak-anak sama aja bohong. Ribet tau, apalagi si kembar ada dua.”


“Kita bawa baby sitter.”


“Ck, tau ah, aku masih sebel sama kamu, ya, Mas.” Kaina menarik selimut dan langsung menutup badannya.


“Ya, maaf, Bun. Ayah mana tau kejadiannya bakalan kayak gini. Lagian Bunda sih, mikir aneh-aneh segala. Tanya dulu kek baik-baik.”


“Jadi kamu salahin aku?” Ibu hamil itu mendudukkan dirinya.


Fatih menyengir. “Gak kok. Selama Bunda bedrest Ayah bakalan nemenin di rumah.”


“Janji?”


“Iya. Bunda mau apa dan ngapain tinggal bilang, Ayah bakalan siap sedia 24 jam.”


“Ya, udah. Sekarang aku mau tidur tapi kakinya di pijit.”


Fatih duduk bersila di tepi ranjang. “Sini kakinya, Bakalan Ayah pijitin sampa Bunda tidur.”


Senyum lebar melengkung di bibir Kaina. “Makasih, ya.”


“Iya, Sayang.”


\=\=\=\=\=\=


Hari-hari dilalui Fatih dengan penuh warna. Tingkah istrinya yang berubah-ubah sesuai mood membuatnya harus memahami dengan hati sabar. Namun, itu semua menjadi pengalaman baru baginya. Contohnya saja pagi ini. 


“Mau kemana kamu, Mas?” tanya Kaina.


“Mau lari pangi, Bun.”


Kaina menatap sang suami dari ujung rambut hingga kaki. “Mau lari pagi atau tebar pesona?”


“Kok tebar pesona sih, Bun?”


“Habis itu tampilannya gagah benar.”


“Lah, biasanya Ayah lari pagi juga kayak gini. Pakai kaos gak ada lengannya ama celana pendek terus sepatu lari.”


“Mau pamer otot?”

__ADS_1


Nafas panjang dibuang Fatih.


“Gak ada ganti sama hoodie dan celana training.”


“Iya.” Fatih mengalah dan kembali mengganti pakaiannya di kamar. Tak lama dia pun kembali menemui sang istri yang tengah menikmati sarapan bersama sang ayah dan si kembar.


“Loh, kok pakai ginian?” tanya Kaina.


“Kan tadi Bunda yang nyuruh.”


“Tapi aku pikir bakalan jelek, tapi kok keren gini. Gak ada ganti lagi sama.”


Fadilah cuma bisa tertawa melihat wajah putranya yang kesal bercampur gemas dengan tingkah Kaina.


“Ya, udah gak jadi aja.”


Ibu hamil itu pun tersenyum. “Nah gitu dong. Mendingan kamu makan deh, Mas. Gak perlu olahraga biar perutnya buncit kayak Bapak.”


“Maksud kamu biar aku kayak bapak-bapak gitu?”


Kepala ibu si kembar mengangguk. “Iya, biar kamu gak banyak yang naksir. Udah punya anak empat masih aja kayak ABG.”


“Mau punya anak sepuluh juga aku bakalan tetap keren. Emang dasarnya suami kamu ini ganteng.”


“Cih, pede amat. Aku kalau gak lagi hamil juga masih disangka gadis. Iya gak, Pak?” Kaina meminta pembenaran dari Ayah mertua.


“Nanti kalau si kembar sudah lahir kamu boleh perawatan biar balik gadis lagi,” sahut Fadilah.


“Egois kamu, Mas. Kamu enak bisa tampil gagah tiap hari. Lah aku, udah kayak angka nol kalau lagi jalan sama kamu.”


“Eh, siapa yang bilang gitu? Bulat-bulat gini aku tetap sayang tau. Lagian mau seribu cewek langsing mau deketin aku, Bunda tetap nomor satu.”


“Oh, jadi nanti nomor dua sampai seterusnya bakalan ada?!”


“Lah, salah ngomong lagi,” sesal Fatih.


“Udah, kalian habisin sarapannya,” sela Fadilah. “Kamu mendingan diam deh, Tih. Wanita hamil emang gitu, kita jadi serba salah.”


“Iya, Pak.”


\=\=\=\=\=


Pagi ini Fatih bersiap berangkat meeting di perusahaan sang bapak. Kaina pun membantu suaminya itu berpakaian. 


“Ingat, ya, Mas, di sana gak boleh tebar pesona sama sekretaris dari pemegang saham lainnya.”


“Iya, Bunda sayang,” jawab Fatih.


“Pulang jam berapa?”


“Ayah usahakan pulang jam makan siang.”

__ADS_1


“Kalau gak bisa gak papa. Ntar aku dibilangnya istri posesif lagi.”


“Gak papa, Ayah suka kalau bunda cemburu. Bikin gemes apalagi kalau udah ngambek, pipinya pengen cubit.”


Kaina tersenyum. “Nanti aku boleh ke salon gak?”


“Mau ngapain?”


“Mau me time aja, sekalian perawatan. Udah lama gak.”


“Boleh, tapi yang kinclong biar nanti malam Ayah lihat. Udah lama gak jenguk dedek bayi.” Fatih mengelus perut istrinya.


“Iya, ya, Mas. Udah satu bulan sejak aku pulang dari Rumah Sakit kamu gak dapat jatah lagi.”


“Gak papa. Ayah juga rada-rada takut nanti Bunda flek lagi.”


“Apa kita perlu kontrol ke dokter dulu? Aku kasihan lihat kamu nahan terus.”


“Kalau Bunda emang mau konsultasi sama dokter sih gak papa. Pergi sama ibu aja, ya, Ayah gak bisa nemenin hari ini.”


“Ya udah. Nanti sebelum ke salon aku ke Rumah Sakit dulu deh.” Selesai memasangkan dasi di leher Fatih, Kaina mengajak sang suami keluar untuk menikmati sarapan.


“Nanti kalau meetingnya lama kamu pulang aja dulu, Tih,” ujar Fadilah.


“Gak papa, Pak, saya percaya kok sama Mas Fatih,” kata Kaina.


“Syukurlah kalau begitu. Bapak berangkat duluan, ya.”


“Iya, hati-hati di jalan, Pak.” Tak lupa Kaina menyalami tangan sang Ayah mertua.


“Aku mungkin agak telat sedikit, Pak,” ujar Fatih. “Ngantar anak-anak ke sekolah dulu.”


“Gak papa, rapatnya juga palingan dimulai dua jam lagi. Jadi, santai aja.”


Kepergian orang tua itu, Fatih dan Kaina menikmati sarapan mereka dengan santai bersama si kembar. Makanan mereka habis, Kama dan Kalila berpamitan dengan sang ibunda setelahnya barulah mereka masuk kedalam mobil sang Ayah sambung.


“Dada Bunda,” ujar si kembar dari dalam mobil.


Kaina melambaikan tangan. “Da sayang. Belajar yang rajin, ya. Nanti pulangnya Bunda yang jemput.”


“Oke,” jawab Kalila sedangkan Kama membulatkan jari telunjuk dan jempolnya.


Terakhir, Fatih melabuhkan sebuah kecupan hangat penuh cinta di dahi istrinya dan di perut besar Kaina. “Ayah berangkat, ya, Bun. Nanti kalau ada apa-apa telpon aja.”


“Iya, pulangnya jangan kesorean kalau rapatnya belum selesai.”


Fatih mengangguk. “Nanti kalau berangkat hati-hati, ya.”


“Iya.”


“Assalamualaikum.”

__ADS_1


“Waalaikumsalam.”


__ADS_2