
"Sudah kita lupakan hal itu. Sekarang kita bahas soal kamu,” ajak Fadilah.
“Saya?” Adit menunjuk dirinya. “Kenapa dengan saya, Pak?”
“Dengar-dengar kamu berhenti kuliah, jurusan apa?”
“Karena saya mau mengembangkan usahanya ayah, saya ambil jurusan bisnis, Pak.”
“Tinggal berapa semester lagi?”
“Tiga semester.”
“Wah, sayang sekali.”
“Gak masalah. Bagi saya menjadi sukses gak harus dengan pendidikan yang tinggi.”
“Saya suka itu. Begini, karena kamu juga sudah menolong saya waktu itu gimana kalau kamu kuliah lagi dan saya akan tanggung biayanya?”
Adit merasa tak enak. “Jangan, Pak! Bapak bantu kakak saya saja itu sudah cukup.”
“Itu beda cerita. Pokoknya nanti setelah persidangan kasus kamu selesai, kamu kembali kuliah dan lanjut S2. Saya akan biayai semuanya dan setelah itu kamu bisa kerja di perusahaan saya.”
“Pak, jujur itu terlalu berlebihan.”
“Gak ada yang berlebihan. Ini sepadan dengan pertolongan yang kamu berikan.”
“Kita tunggu pernikahan ini selesai, nanti kita bicarakan lagi dengan keluarga saya.” Adit sengaja memberikan alasan sebagai penolakan halus.
“Gak perlu, saya gak minta persetujuan keluarga kamu. Pokoknya nanti saya bilang masuk kampus artinya kamu harus kembali kuliah.”
Tak bisa lagi mengelak, Adit akhirnya setuju.
...🌾🌾🌾🌾...
Hari H pun tiba. Pagi tadi setelah sholat subuh Kaina sudah duduk di depan meja rias. Memasrahkan diri pada seorang MUA yang dikirim Fadhilah untuk di poles wajahnya agar tampil cantik hari ini. Tak ada permintaan khusus darinya. Seperti apa make up yang diinginkan, semua dipercayakan pada si perias.
Dua jam lamanya dia duduk di depan cermin memperhatikan setiap proses. Hingga hasil final kini terpampang jelas di sana. Jujur dia mengagumi dirinya sendiri.
“Duh, saya jadi happy lihat pengatinnya secantik ini,” ujar si MUA.
“Makasih, Mbak,” kata Kaina.
“Aslinya Mbak udah cantik di poles sedikit duh makin jelas kecantikannya.”
Kemudian Dina pun masuk menemui calon pengantin itu. “Masyaallah, anak ibu kaya boneka hidup,” pujinya.
“Iya, Bu. Saya sengaja pilih make up tema barbie karena mata anak Ibu ini belo banget, jadi pas,” jelas si MUA.
“Terima kasih,” balas Dina.
__ADS_1
“Kalau gitu saya beres-beres, ya, Bu. Mau ke rumahnya mempelai pria.”
Dina dan Kaina mengangguk. Kepergian perias itu Dina kembali melontarkan pujian pada anaknya. “Duh, ibu gak bosan memandangnya. Pasti nanti suami kamu gak kedip.”
“Apa sih, Bu. Biasa aja.” Kaina merasa malu dan ia pun mengulum senyuman.
“Ya udah, ibu tunggu di depan kamu mau pakai baju kan?”
“Iya.”
Dibantu desainer yang menjahit baju kebayanya, Kaina bersiap-siap di dalam kamar.
...🌺🌺🌺🌺...
Selesai berpakaian, baik Kaina maupun Fatih menatap pantulan diri mereka di cermin dalam kamar masing-masing. Walau pernikahan ini dilakukan atas kesepakatan yang akhir nya sudah dapat mereka pastikan. Namun, jauh di palung hati terdalam ada rasa gugup yang mendera.
Bagi Kaina ini adalah pernikahan pertamanya. Meski tak menikah dengan lelaki yang dicintai, tapi cukup membuatnya berkeringat dingin membayangkan dirinya di pinang oleh pria asing yang baru saja beberapa hari dikenal. Begitu pula dengan Fatih. Memang ini kedua kalinya dia duduk di sebuah meja berhadapan dengan penghulu dan wali dari seorang wanita, tapi cukup membuatnya merasakan hal yang sama dengan Kaina. Dirinya tak dapat membayangkan pernikahan seperti apa yang nantinya akan dijalani.
“Ayo, Kai, kita berangkat,” ajak Dina di ambang pintu.
“Iya, Bu.”
Dibimbing ibunya, Kaina berjalan keluar dari kamar menuju mobil pengantin yang sudah menunggu di halaman rumah. Adit nan sudah bersiap di sana membukakan pintu untuk kakak.dan ibunya.
Mobil mewah yang dihiasi dengan pita dan bunga di bagian depan segera melaju menuju kediaman Fadilah.
“Iya.”
Di dalam sana, wanita itu memperhatikan semua hiasan kamar yang disiapkan untuk malam pertama mereka nanti. Membayangkan hal itu membuatnya berpikir, apakah harus dia menjalankan kewajiban yang satu ini? Mungkin semuanya perlu dibicarakan terlebih dahulu.
Terpana dengan kamar impiannya, Kaina dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka.
“Bunda,” seru Kama dan Kalila. Si kembar langsung memangku kaki ibunya.
“Anak-anak, Bunda.” Kaina membungkuk untuk bisa memeluk si buah hati.
“Bapak sengaja jemput anak-anak kamu pagi ini,” jelas Fadilah.
“Ya Allah, Pak, makasih banyak sudah membawa mereka.”
“Bapak tahu kamu pasti rindu mereka. Untuk hari ini mereka akan disini menemani kamu. Nikmati waktu kalian sebelum acara dimulai. Bapak ke bawah dulu.”
“Iya, sekali lagi makasih, Pak.”
“Apapun akan Bapak berikan selama kamu menjadi menantu Bapak.”
Kaina tersenyum simpul. Setelah daun pintu ditutup Fadilah, ibu dan anak itu saling melepas rindu, di iringi tangis haru yang tak terbendung.
“Maafin, Bunda, ya, gak datang ketemu kalian,” ujar Kaina.
__ADS_1
“Kita ngerti kok. Bunda jangan nangis jadi jelek tau,” seru Kalila disela isaknya.
“Anak Bunda juga jangan nangis.” Kaina menghapus air mata putri dan putranya.
“Kata opa, Bunda mau nikah, ya?” tanya Kama.
“Iya, sayang. Semua Bunda lakukan demi kalian, demi kita agar bisa kembali bersama. Anak-anak Bunda yang sabar, ya. Nanti Om Fatih akan bantu Bunda berjuang buat dapatkan kalian kembali.”
“Siapa itu Om Fatih?” tanya Kalila.
“Suami, Bunda. Kalian belum ketemu?”
Si kembar menggeleng bingung.
“Nanti bakal ketemu. Kalian gak perlu takut, Om Fatih itu orangnya baik.”
“Terus nanti kita manggilnya apa dong?” giliran Kama yang bertanya.
“Jangan tanya Bunda dong, tanya sama Om Fatih nya aja nanti, ya.”
“Oke.”
“Sekarang senyum.”
“Bunda cantik, deh,” puji Kama.
“Makasih, sayang.”
“Kayak boneka barbie aku,” tambah Kalila.
“Hahaha, anak Bunda bisa aja.” Kaina mencium gemas pipi kedua anak-anaknya.
Sebelum acara dimulai, make up artist tadi kembali membetulkan riasan Kaina yang sedikit berantakan akibat air mata tadi.
...🌿🌿🌿🌿...
“Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan saudaraku Kaina Ratnaduhita binti Nandi Afriandi dengan mahar satu set perhiasan berlian dibayar tunai.” Adit menyentak tangan Fatih diujung ucapannya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Kaina Ratnaduhita binti Nandi Afriandi dengan mahar tersebut, dibayar tunai.”
“SAH,” sorak saksi dan tamu yang menyaksikan.
Akhirnya, penghulu pun segera mengangkat kedua tangannya seraya mengucapkan doa atas bersatunya dua insan.
“Aminnya jangan pakai hati, cukup di mulut saja,” bisik Adit.
Fatih hanya menyeringai dalam tunduknya. Untuk menandatangani dokumen, si calon pengantin wanita dipersilahkan keluar dan duduk di samping suaminya.
Kaina, diapit oleh dua orang saudara sepupu Fatih. Berjalan melewati para tamu menuju meja dimana suaminya kini menanti. Fatih pun berdiri untuk menyambut istri barunya dengan rasa yang tak jelas. Diakuinya, Kaina sangat cantik hari ini. Terakhir mereka bertemu wanita itu tak semenarik ini.
__ADS_1