Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 58


__ADS_3

“Terus kapan dia kasih keputusan?” tanya Fatih.


“Besok sebelum bawa Kama pulang Bapak bakal tanya lagi.”


Fatih mengangguk paham. “Oh, ya, Pak, hari senin sidang putusan kasusnya Adit. Bapak mau hadir?”


“Nanti Bapak lihat dulu. Kaina ikut kan?”


“Iya, Pak,” jawab si menantu.


“Bareng aja sama Fatih.”


“Saya antar anak-anak sekolah dulu, Pak,” jelas Kaina. “Dari sana saya ke rumah ibu baru bareng beliau ke pengadilan.”


“Ya sudah kalau gitu, besok kamu berangkat sama supir saja, biar Bapak di supiri asistennya Bapak.”


“Ya, Pak.”


Fadilah berdiri dari sofa. “Bapak ke kamar dulu mau istirahat.”


“Malam Opa,” ujar si kembar.


“Malam juga buat kalian. Bentar lagi tidur, ya.”


“Oke, Opa,” jawab Kama.


...🐥🐥🐥🐥...


Minggu pagi setelah sarapan, si kembar di jemput oleh Adit untuk dibawa ke rumah sang ibu. Hari ini mereka akan menghabiskan waktu seharian di sana sebelum kembali pulang ke ayah masing-masing.


“Nanti anterinnya jangan kesorean, ya, Dit,” pesan Kaina.


“Gak kok.”


Kaina menatap putra dan putrinya lalu berkata, “Di rumah ibu jangan rewel, jangan bikin berantakan. Habis main kumpulkan semua mainannya.”


“Iya, Bunda,” jawab si kembar.


“Anak pintar.”


“Bang Fatih sama Pak Fadilah mana, Kak?” tanya Adit.


“Mas Fatih lagi keliling komplek lari pagi. Kalau bapak sudah berangkat tadi sehabis sarapan, gak tau kemana. Katanya pulang sore.”


“Ya udah kalau gitu, aku sama anak-anak berangkat, ya. Bilang sama Bang Fatih.”


“Tadi aku udah kasih tau kok.”


Adit membimbing keponakannya menuju taxi online yang menanti di depan gerbang rumah Fadilah. Kaina pun melambaikan tangan ketika mobil itu bergerak pergi. Dari sana dia kembali masuk rumah membereskan meja makan yang masih berantakan.


“Mbak, Bibik ke pasar dulu, ya,” izin ART.


“Oh, iya, Bik. Catatan aku semalam gak lupa kan?”

__ADS_1


“Bibik bawa.”


“Bibik, berangkat sama apa?”


“Sama ojek langganan.”


“Hati-hati, ya, Bik.”


Bik Ula mengangguk sambil tersenyum kemudian berlalu dari sana.


Kaina mencuci sisa piring kotor yang dibawanya dari meja makan. Tak lama sang suami pun tiba yang langsung mencari minuman dingin di kulkas.


“Mas, kalau masuk tuh baca salam kek. Bikin kaget aja,” tegur Kaina.


“Kamunya yang gak dengar. Saya udah manggil-manggil dari tadi di teras.”


“Hah? Masak sih.”


“Makanya saya langsung kesini.” Laki-laki itu pun duduk di kursi meja makan. “Anak-anak sudah pergi?”


“Udah, baru aja.”


“Rumah jadi sepi.”


“Udah biasa. Saya setiap hari cuma berdua sama bibi kalau kamu lagi di kantor.”


“Cie, ada yang kesepian,” goda Fatih.


“Apaan sih, Mas. Biasa aja.” Kaina membilas tangannya lalu ikut duduk di sebelah sang suami.


“Nantilah.”


“Ih, jorok.” Kaina menutup hidungnya.


Fatih tersenyum jahil kemudian dia berdiri mengangkat sang istri ke dalam gendongan. 


“Mas, kamu mau ngapain?” heran Kaina.


“Saya mau hibur kamu biar gak kesepian.”


“Apa sih, Mas?”


“Kita habiskan waktu di kamar, ya, Kai.”


Kaina tertawa mengerti akan maksud suaminya. “Kemarin sok gak mau sekarang malah ngajak.”


“Gara-gara kamu nih, sekarang saya jadi ketagihan.” Fatih berkata sambil menaiki anak tangga. “Nanti kita berenang juga, ya.”


Dibelainya pipi sang suami. “Iya, Mas. Kamu mau apa saya ikut.”


Tiba di kamar Fatih meletakkan Kaina di atas kasur bersama dirinya yang ikut rebah di atas badan itu. “Makasi, ya, Kai.”


“Sama-sama, Mas. Anggap saja ini sebagai bentuk rasa terima kasih saya atas bantuan kamu.”

__ADS_1


“Tapi saya gak perlu itu kalau kamu terpaksa. Setidaknya lakukan atas dasar sama-sama mau.”


“Hahaha, saya mau, Mas.”


Fatih tersenyum lebar sambil menelusuri badan istrinya. “Saya sudah coba buat nahan dari kemarin, tapi ternyata saya gak bisa.”


“Kamu gengsi bilang sama saya?”


“Bukan. Saya takut nanti gak bisa lepas.”


“Maksud kamu bawa perasaan?”


“Bisa dibilang begitu.”


“Tenang saja, Mas, saya ingat kesepakatan kita. Jadi, kamu gak perlu khawatir.” Kaina mengukir senyuman indah di bibirnya.


“Kalau saya yang bawa perasaan gara-gara senyuman kamu ini gimana?”


Sambil menahan nafas karena merasakan nikmatnya sentuhan tangan sang suami, Kaina berkata, “Jangan, Mas! Masih banyak wanita lain di luar sana yang jauh lebih baik dari saya dan lebih pantas untuk Mas Fatih."


Fatih setuju. “Dan saya harap kamu juga jangan sampai terpesona dengan kegagahan saya.”


“Saya jamin itu, Mas.”


Pasutri itu akhirnya menikmati pagi mereka dengan kegiatan yang sangat nikmat. Membakar gelora dan memuaskan hasrat satu sama lain. Menikmati cumbuan dan belaian nan memabukkan hingga keduanya dibuat melayang hingga ke nirwana.


...🐽🐽🐽🐽...


Hugo yang baru saja pulang tampak berjalan dengan sempoyongan memasuki rumah. Dia sengaja pulang siang agar tak seorangpun mendapati dirinya dalam keadaan mabuk. Diinjaknya anak tangga satu persatu menuju kamar. Hingga tiba di depan pintu bilik saudaranya dia berhenti sejenak.


“Heh dasar, norak,” umpatnya. Sayup-sayup gendang telinganya menangkap suara dari dalam sana. 


Tak mau ambil pusing dia kembali melanjutkan langkah ke dalam kamar. Tiba disana badan langsung direbahkan di atas ranjang. “Aduh, ini kepala masih sakit aja,” katanya sambil memijat pelipis.


Karena badan sudah tak nyaman, dia putuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi. Tak lama Hugo pun keluar dari sana dalam keadaan segar. Hendak hati ingin duduk di balkon menikmati sebatang rokok, matanya menangkap pemandangan yang tak biasa.


Sepasang suami istri sedang bercumbu di kolam renang. Tontonan gratis itu pun tak mau di lewatkan. Dia sengaja mengintipnya agar tak kelihatan oleh Fatih dan Kaina.


“Gila, gue pikir si Fatih nikah cuma karena nurutin maunya Papa, ternyata di embat juga tuh cewek,” ujarnya sendiri.


Hampir satu jam pasutri itu menghabiskan waktu mereka di bawah sana. Jujur laki-laki normal mana yang tak bangkit gairahnya kala mendapati hal yang menyulut gelora. Hugo kembali mengingat malam syahdunya bersama Kaina.


“Ah, sial gue lupa gimana, tapi kayaknya dia oke juga,” katanya sambil tersenyum jahat. Matanya menerawang ke langit-langit balkon sambil menghembuskan asap rokok.


“Mas Fatih, di depan ada tamu,” sorak bibik yang baru saja pulang dari pasar.


Hal itu dapat didengar Hugo.


“Iya, Bik, bilangin tunggu sebentar,” balas Fatih dari dalam kolam.


Hugo mengulurkan sedikit kepala di celah pagar balkon. Melihat pasangan itu keluar dari dalam kolam dia pun gegas pergi dari sana.


...🐸🐸🐸🐸...

__ADS_1


Fatih buru-buru memakai bajunya setelah mengeringkan badan di kamar. Meninggalkan sang istri yang sedang mandi. Dari sana dia turun menghampiri tamu yang sudah menunggu. 


Hugo yang tadi mengintip dari celah pintu, keluar dari dalam bilik. Mengendap-ngendap menuju kamar Kaina dan saudaranya. Awalnya dia hanya ingin mengintip kamar pasutri itu, tapi karena tak di kunci dan tak menemukan orang di sana dia jadi leluasa untuk masuk.


__ADS_2