Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 94


__ADS_3

Tiba di rumah sang ibu, mereka disambut dengan senyum bahagia. Dina yang begitu rindu dengan kedua cucunya langsung memeluk Kama dan Kalila. 


“Apa kabar, Bu?” Fatih mencium punggung tangan mertuanya.


“Baik,” jawab Dina. “Ayo, masuk.”


Fatih membimbing sang istri masuk kedalam rumah.


“Adit mana, Bu?” tanya Kaina.


“Lagi ke supermarket. Katanya mau meeting sama orang kantor. Sejak kamu hamil dia sibuk ngurus supermarket sama kuliah. Jadi jarang di rumah,” jelas Dina.


“Kenapa ibu gak main aja ke rumah?” tanya Fatih.


“Ibu juga ada kesibukan, Tih. Ibu mulai jualan bibit bunga di aplikasi online. Semua berkat Adit yang awalnya iseng-iseng jualin bunga ibu di sana.”


“Wwah, asik tuh. Sekarang Ibu ada pemasukan.”


“Iya, ibu jadi gak ada waktu ketemu cucu.” Dina mengelus pipi Kama dan Kalila. “Gimana kandungan kamu, Kai?”


Kaina dan suaminya sama-sama tersenyum. “Alhamdulilah sehat, Bu,” jawab Fatih. “Kita juga punya kabar bahagia buat ibu.”


“Apa itu?”


“Anak kami kembar,” jelasnya sambil mengelus perut sang istri.


Dina membekap mulutnya saking kaget dan tak percaya akan berita itu. “Beneran?”


“Iya, Bu,” jawab Kaina. “Aku sama Mas Fatih habis dari dokter terus kami jemput si kembar dan baru kesini.”


“Alhamdulillah.” Diusapnya telapak tangan ke wajah. Dina pun melafalkan doa-doa penuh syukur. 


“Rencananya pas empat bulan kita mau bikin syukuran, Bu,” tutur Fatih.


“Harus itu. Sekalian kalau bisa panggil anak yatim.”


Fatih dan istrinya mengangguk setuju.


“Sudah pada makan belum? Kebetulan tadi ibu masak makanan kesukaan kamu, Kai. Ayo, kita ke dapur!”


Ibu hamil itu bangkit dengan cepat. 


“Pelan-pelan, Kai,” ujar Fatih.


“Hehehe, laper, Mas.”


“Iya, tapi gak perlu buru-buru. Santai aja.”


“Iya, Bun, nanti dedek bayinya kenapa-kenapa lagi,” sela Kama.


“Iya, ini Bunda jalan pelan-pelan.”


Kaina di ikuti suami dan anaknya berjalan menuju dapur.


...🦋🦋🦋🦋...


Kama dan Kalila langsung berlari memasuki rumah ketika mereka baru saja sampai di kediaman sang opa. 


“Sus, ajak anak-anak mandi dan ganti baju,” kata Kaina.

__ADS_1


“Baik, Bu.” Baby sitter itu membimbing si kembar menaiki tangga menuju kamar mereka.


“Bapak sduah pulang, Bik?” tanya Kaina pada Bi Ula.


“Belum, Mbak. Kenapa?”


“Gak papa. Sudah masak makan malam?”


“Ini lagi mau di masak.”


“Ya udah kalau gitu saya bantu.”


“Eh, tapi nanti Mas Fatih marah loh.”


“Cuma bantu dikit gak papa. Lagian saya bosan rebahan mulu.”


Kaina beranjak ke dapur, sedangkan suaminya tadi sibuk menerima telepon dari klien di luar sana. Tak lama terdengar suara Fatih memanggil namanya.


“Iya, Mas,” sahur Kaina dari dapur.


“Ngapain kamu?”


“Masak makan malam, Mas.”


Fatih langsung mengambil spatula dari tangan istrinya dan diletakkan di meja. “Ada bibik, sayang.”


“Aku cuma mau bikin masakan spesial aja buat kita semua, Mas,” rengek Kaina.


“Tapi, Kai.”


“Please, ya, sekali-sekali. Emangnya kamu gak kangen sama masakanku.” Kaina memasang wajah mengiba.


Fatih yang tak tega melihat istrinya memohon seperti itu akhirnya luluh juga. “Oke, tapi kali ini aja. Besok gak lagi.”


“Aku tunggu di sini.” Fatih menarik satu kursi yang ada di sudut dapur.


“Ngapain?” tanya Kaina.


“Jagain kamu lah.”


“Aku gak papa, Mas. Lagian disini ana Bibik.”


“Pokoknya aku tetap di sini.”


“Ya, udah deh.”


Kaina masih saja cekatan dalam mengolah bahan-bahan mentah menjadi masakan yang mampu menggugah selera. Fatih Yang begitu khawatir selalu terlihat was-was ketika istrinya bergerak kesana-kemari.


“Dulu waktu aku hamil si kembar, semua aktifitas aku kerjakan sendiri,” kata Kaina.  “Walau ada ibu yang temanin, aku tetap mau mandiri.”


“Ya, tapi sekarang beda, Kai. Kamu punya suami, ada aku. Sudah seharusnya kamu itu dimanja dan diperhatikan.”


“Iya, tapi aku tau batasannya, Mas. Aku cuma mau mengajarkan ke anak kita kalau mereka itu harus kuat dari dalam kandungan, gak boleh menye-menye.”


“Iya, deh. Tapi akunya yang deg-degan lihat kamu berkeliaran di dapur ini.” Fatih berkata dengan raut cemas. “Dapur ini tuh rawan, sayang. Ada cipratan minyak di lantai atau tumpahan air. Bisa-bisa kamu tergelincir dan jatuh.”


Dua ART yang membantu Kaina memasak hanya diam menyimak perdebatan suami istri itu.


“Aku janji bakalan hati-hati.” Kaina meyakinkan sang suami dengan tatapan dalam.

__ADS_1


Fatih membuang nafas kasar. “Ya udah, tapi aku bakalan tetap di sini sampai kamu selesai.”


“Iya.” Kaina mengaduk makanannya di kuali lalu mengambil sendok untuk mencicipi rasanya. Kemudian diberikannya pada sang suami. “Enak gak?”


Fatih mengecap gulai ikan buatan istrinya. “Enak banget, jadi laper. Boleh makan duluan gak?”


“Hhhuu, tadi sok larang-larang aku masak,” ledek Kaina. “Sekarang malah pengen icip duluan.”


Fatih cengengesan sambil sesekali mencium gemas pipi istrinya yang berisi. Diiringi gelak tawa para ART.


...🐌🐌🐌🐌...


Semua sudah berkumpul di meja makan. Kaina mengambilkan nasi dan lauk untuk suami dan mertuanya. “Dimakan, Pak. Ini tadi saya yang masak loh.”


“Kamu masak?” tanya Fadilah.


“Gak papa, Pak. Lagian Mas Fatih kangen masakan saya.”


Fadilah menatap sang putra.


“Gak, Pak!” jelas Fatih. “Kaina nya yang mau masak tadi, saya sudah melarang tapi dia tetap keras kepala. Ya udah saya temenin.”


Setelah mengisi piring anak-anaknya barulah ibu hamil itu mengisi piringnya sendiri.


“Dalam rangka apa kamu pengen banget masak buat Bapak sama Fatih?”


“Gak dalam rangka apa-apa. Cuma mau merayakan sedikit kalau kita punya kabar bahagia.”


“Oh, ya?”


“Bapak penasaran gak?” tanya Fatih.


“Tentu.”


“Nanti aja deh habis makan.”


“Ah, gak seru kamu.” Fadilah merasa kesal.


“Opa, sini aku bisikin,” ajak Kama.


Fadilah mendekatkan telinganya ke sang cucu. Entah apa yang dibisikkan Kama orang tua itu tapak membelalakkan matanya.


“Se-serius?”


“Apanya yang serius, Pak?” tanya Fatih.


“Cucu Bapak kembar?”


Kain mengangguk sambil tersenyum.


“Alhamdulillah, ya Allah.” Fadilah turun dari bangku dan sujud syukur di atas lantai kemudian dia kembali duduk. “Pokoknya Bapak bakalan adain acara syukuran besar-besaran. Bapak bakalan potong sapi, undang anak yatim piatu terus kasih sumbangan ke orang yang kurang mampu.”


“Alhamdulilillah,” ujar Kaina dan suaminya. “Syukurannya cukup yang sederhana saja, Pak,” tambah Kaina.


“Gak bisa. Pokoknya Bapak mau umumkan soal ini.”


“Pak, kali ini saya setuju dengan Kaina,” sela Fatih. “Syukurannya cukup dihadiri keluarga dan kerabat dekat selebihnya kita berbagi aja, Pak. Jangan sampai kita terlalu pongah dan Allah cabut kembali rezeki yang dikasihnya.”


Fadilah mengangguk setuju. “Iya, juga. Bapak sampai lupa saking girangnya.”

__ADS_1


“Ya udah, dihabisin makanannya. Nanti kita bicarakan lagi soal acara syukuran ini,” ujar Kaina.


Keluarga itu menyantap makan malam mereka dengan suasana penuh kegembiraan dan rasa syukur yang teramat dalam.


__ADS_2