
"Oh, ya, Dit, hari ini Kakak ada meeting sama Candra di kantornya. Jadi gak bisa jemput si kembar. Kamu bisa bantu kan?” tanya Kaina
“Biar saya saja,” sela Hugo.
“Kamu serius?”
“Iya. Kebetulan hari ini pekerjaan saya di kantor gak banyak.”
“Pas banget,” seru Adit. “Aku tadi juga mau bilang lagi ada mata kuliah siang jadi, juga gak bisa.”
“Saya bisa,” imbuh Hugo. “Jadi biar saya saja yang jemput dan pulangnya langsung saya antar ke sini.”
“Oke. Sebelumnya terima kasih. Cuma untuk hari ini saja kok.”
Hugo membalas dengan senyum hangat pada wanita yang sudah melahirkan putranya.
“Kalau gitu aku siap-siap dulu.” Kaina beranjak dari sana menuju kamarnya.
Selesai sarapan, Dina membantu kedua cucunya memakai sepatu di teras rumah. “Cucu Ibu udah rapi, ganteng, dan cantik. Nanti di sekolah jadi anak yang rajin.”
“Iya, Bu,” jawab Kama dan Kalila.
“Kita masuk mobil, yuk,” ajak Hugo. “Tunggu bunda di sana.”
Kama dan Kalila bersalaman dengan sang nenek lalu ikut Hugo menuju mobil.
Kaina yang sudah rapi dengan setelan kantor tampak memancarkan kecantikannya. “Bu, aku juga berangkat kerja dulu, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” balas Dina.
Hugo membukakan pintu depan untuk Kaina. Wanita itu sempat menolak dan ingin duduk bersama anak-anaknya di belakang. “Saya berasa jadi supir pribadi kalau kamu duduk di sana.”
“Oke deh.” Kaina pun mengalah.
Pintu ditutup. Hugo memutari mobilnya lalu membungkukkan badan pada Dina sebelum duduk di bangku kemudi. Nenek si kembar membalasnya dengan anggukan dan senyum ramah.
...🍓🍓🍓🍓...
“Bunda cantik deh,” puji Kama.
“Oh, ya?”
“Bener loh,” tambah Kalila.
“Makasih sayang-sayangku.” Kaina tersenyum gemas pada putra dan putrinya.
“Siapapun yang melihat pasti mereka gak nyangka kalau kamu sudah punya anak,” timpal Hugo.
“Terima kasih pujiannya.”
Hugo mengangguk. “Di mana alamat kantor tempat kamu bekerja?”
“Kenapa?”
“Kalau searah kamu bisa berangkat sama saya.”
“Jalan Y dekat pusat pertokoan.”
__ADS_1
“Oh, itu sebelum kantor papa. Nanti saya antar.”
Kaina setuju.
Tiba di depan gerbang sekolah si kembar, Kaina turun mengantar anak-anaknya terlebih dahulu ke kelas. Setelah menitipkan Kama dan Kalila pada wali kelas dia gegas kembali menuju mobil di mana Hugo menanti.
“Jalan sekarang?”
“Iya.”
Selama perjalanan Kaina hanya diam menikmati pemandangan, sedangkan Hugo tampak ragu-ragu ingin mengajak bicara. Namun, dia bingung akan topik yang mau dibahas.
“Stop,” seru Kaina.
Kaget, Hugo langsung menginjak rem secara mendadak. Membuat tubuh mereka maju ke depan hingga jidat Kaina terbentur bagian dashboard. “Sorry, saya gak sengaja.”
Kaina meringis memegangi kepala. “Gak papa. Saya juga salah tiba-tiba minta kamu berhenti.
“Itu, keningnya memerah.”
“Nanti juga bakalan hilang. Kalau gitu saya turun dulu.”
“Tunggu!” Hugo menahan lengan Kaina. “Biar saya obati.”
“Pakai apa?”
“Kebetulan disini ada minyak gosok punya bapak, siapa tau bisa mengurangi bengkaknya.”
“Gak usah,” tolak Kaina.
“Sedikit. Akan lucu nantinya kalau jidat kamu benjol.”
“Biar saya saja,” kata Kaina.
“Saya aja,” balas Hugo. “Anggap ini bentuk tanggung jawab saya karena sudah bikin kamu kejedot.”
“Oke. Tapi sedikit saja jangan banyak-banyak.
Ayah biologis Kama mengangguk setuju lalu mengoleskan minyak gosok di tangan pada bagian kening Kaina yang terlihat memerah. Posisi mereka yang cukup dekat, Hugo menghirup aroma wanita itu yang mampu membuatnya merasa nyaman.
“Sudah?” tanya Kaina.
“Oh, ya, beres.” Putra pertama Fadilah terlihat canggung.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Kaina kembali menurunkan satu kakinya, tapi dia kembali duduk. “Oh, ya, nanti jangan lupa datang setengah jam sebelum anak-anak keluar kelas. Tunggu mereka di depan kelasnya. Kalau mereka pengen main dulu gak papa, tapi kalau kamu pengen segera balik ke kantor jelaskan ke mereka.”
Hugo mengangguk sambil tertawa kecil.
“Kenapa?” heran Kaiana.
“Ternyata kamu cerewet.”
“Sudah pasti seorang ibu akan cerewet mengenai anak-anaknya.”
__ADS_1
“Akan saya lakukan sesuai pesan kamu.”
“Terima kasih. Kalau begitu saya duluan.”
Hugo tersenyum lebar sambil memukul bundaran stir kemudi setelah Kaina menutup pintu mobil. Jujur ini pertama kalinya dia merasakan debaran di dada kala berdekatan dengan seorang wanita. Selama ini hanya hanya sebuah ketertarikan semata yang membuatnya menjalin hubungan dengan berbagai kaum hawa.
Dengan demikian, bisa dikatakan kalau pria yang satu ini belum pernah merasakan cinta. Kini, bisa jadi Hugo mengalami yang namanya jatuh terindah di muka bumi. Bahkan setelah jatuh dia tampak seperti orang gila yang mulai tertawa atau tersenyum sendiri.
...🌰🌰🌰🌰...
Selesai rapat, Kaina membereskan barang-barangnya untuk pulang. Candra pun menghampiri wanita itu sebelum mereka keluar dari ruangan. “Aku antar pulang.”
“Gak usah. Aku pesan taxi online saja,” tolak Kaina.
“Ayolah. Sekalian aku mau ketemu Kalila di rumah.”
Kaina tampak ragu. “Sudah izin pada Brigita? Aku gak mau nanti ada salah paham di antara kalian.”
“Sudah. Aku juga sudah bawa dia, tapi dia gak mau.”
“Oke kalau begitu. Ayo, jalan!”
Mereka melangkah menuju mobi Candra yang terparkir di depan showroom. Setelah roda empat itu melaju, Kaina berkata, “Kita ke rumah Ibu.”
“Oh, anak-anak lagi di sana?”
“Iya.”
“Kamu sudah bilang sama Fatih kalau saya mau datang. Walaupun Kalila anak kamu, tapi aku tetap menghargainya sebagai suami kamu.”
“Aku dan Fatih sudah pisah.”
Candra menatap mantannya dengan raut wajah tak percaya. “Kenapa?”
“Pernikahan kami hanya terjadi sampai dia bisa mendapatkan hak asuh anak-anak kembali. Hanya sebagai balas budi kalau aku pernah menolong bapaknya.”
“Kalau hanya ingin balas budi kenapa harus sampai menikah segala?”
“Pak Fadilah memaksa. Kalau kami gak mau, beliau gak akan mau bantu aku.”
Candra sedikit banyaknya mengenal siapa itu Fadilah. “Lalu sekarang?”
“Apa?”
“Maksudku, sekarang hubungan kalian bagaimana?”
“Gak gimana-gimana. Kami kembali menjadi dua orang asing. Anak-anak juga sudah aku kasih pengertian.”
Suami Brigita itu geleng-geleng kepala. “Aku gak nyangka kalian bisa begitu. Padahal aku yakin banget kalau rumah tangga kalian bahagia banget.”
“Rumah tangga kita gak jauh beda.”
Candra tertawa lebar.
“Tapi jangan sampai kamu bercerai dengan Brigia dan kembali mengejar aku. Dari sekarang aku tolak jika kamu masih menyimpan rasa di masa lalu." Kaina memberikan peringatan pada sang mantan.
“Percaya diri sekali ibunya Kalila ini.”
__ADS_1
“Bukan! Aku cuma gak mau nanti timbul masalah baru,” jelas Kaina. “Aku gak mau dikira perusak rumah tangga orang atau disebut pelakor. Lebih baik mencegah daripada menghindar.”
“Oke. Artinya, aku gak ada kesempatan?”