
"Anjir, habis ngapain ini orang? Kamarnya hancur banget,” decak Hugo sambil memperhatikan pakaian yang berserakan di lantai serta ranjang yang tak karuan lagi. “Gue aja gak pernah kayak gini. Pasti si Fatih puas banget tuh sama istrinya.”
Setan sudah berhasil menghasut dirinya membuat niat buruk tercetus di pikiran. Hugo yang mendengar nyala kran air di kamar mandi langsung mengunci pintu kamar itu. Kemudian dengan hati-hati dibukanya bilik air mendapati Kaina baru saja selesai mandi.
“Hugo?” kaget ibu si kembar.
Terbitlah senyuman jahat di wajah ayah biologis Kama.
Kaina sudah merasa kalau sesuatu yang buruk akan dilakukan pria itu padanya. “Kenapa kamu bisa masuk?”.
“Fatih yang izinin saya.”
“Gak mungkin,” bantah Kaina. “Keluar!”
“Kalau saya gak mau?” Hugo mendekati adik iparnya.
“Minggir, saya mau lewat.” Kaina mendorong lelaki itu agar bisa keluar dari sana untuk menemui sang suami. “Loh, kok di kunci?”
Hugo yang keluar dari bilik air tersenyum lebar. Merasa dipermainkan, Kaina mencari kunci kamarnya di atas lemari hias.
“Kuncinya ada di tangan saya," kata Hugo.
“Balikin!”
Hugo tersenyum menggoda saat melihat belahan jubah mandi yang dikenakan Kaina terbuka sedikit. Menyadari hal itu Ibu si kembar sudah merasa terancam. Dia langsung menggedor-gedor pintu kamar agar dapat didengar suaminya. “Mas, buka pintu kamarnya,” sorak wanita itu.
Karena takut ketahuan, Hugo membekap mulut Kaina dan menyeretnya hingga ke atas ranjang. “Bisa kita ulangi malam itu?”
“Gila lo! Lepasin gue,” geram Kaina. Kedua tangannya ditahan oleh Hugo dan tubuhnya juga berada di bawah kurungan pria itu membuatnya sulit untuk bisa lepas. “Mas, tolongin saya,” teriaknya.
“Ssssuuutt, jangan berisik! Sekali saja. Gue pengen mengulang kembali kenangan kita. Gue pengen mengingat kembali rasanya kayak gimana.”
“Najis! Gak sudi gue disentuh sama tangan lo yang kotor itu.”
Geram karena dihina dan direndahkan, Hugo mencengkram leher ibu dari putranya. “Jangan sok suci lo, ya.”
Sulit bernafas, Kaina berusaha mencakar wajah lelaki yang ada di atasnya agar cekikan itu bisa dilepaskan.
“Kai, kamu manggil saya?” tanya Fatih dari luar.
Mendengar suara suaminya, Kaina sekuat tenaga mendorong Hugo dan langsung berlari ke arah daun pintu. “Mas, tolongin saya. Hugo mau perkosa saya,” adunya.
__ADS_1
Hugo kembali menyeretnya, tapi Kaina berusaha melawan. Melempar apa saja yang didapat agar pria itu tak bisa menjangkau dirinya. “Mas.” Kembali dipanggilnya sang suami.
“Terus teriak! Kita lihat seberapa cepat suami kamu itu bakalan datang,” ujar Hugo. “Sebelum pintu itu terbuka kamu sudah saya gagahi.” Tampang pria itu tampak sangat menjijikkan bagi Kaina.
“Jangan mendekat! Saya pastikan setelah ini kamu gak akan mendapatkan Kama atau apa pun jika kamu berhasil menyentuh saya,” ancam Kaina.
“Memangnya kamu siapa?” tantang Hugo.
“Siapa saya gak penting. Tapi saya pastikan kamu menyesal setelah ini."
Sudut bibir Hugo terangkat. “Percaya diri sekali wanita satu ini."
Kaina tak kehabisan akal. Diambilnya pecahan keramik di lantai lalu menggoreskan bagian tajamnya di leher dan tangan.
Hugo pun heran melihatnya. Dia tertawa karena berpikir kalau wanita itu melakukan tindakan yang bodoh. Ketika kunci pintu diputar, dengan gegas ibu si kembar meletakkan pecahan keramik ke dalam genggaman lelaki yang mengancamnya. Dia pun langsung terduduk di lantai.
“Kurang ajar.” Fatih langsung menghantam rahang saudaranya. “Lo apain istri gue?”
Hugo kebingungan sambil memegangi pipi yang terasa sakit.
“Kai, kamu gak papa?” cemas Fatih.
“Kita ke rumah Sakit.” Digendongnya Kaina keluar dari sana.
“Gak usah, Mas. Saya gak papa, kita ke kamar anak-anak aja.”
Tiba di bilik si kembar, Fatih membaringkan sang istri di atas kasur. “Dia gak apa-apain kamu kan?”
“Syukurnya gak, Mas. Saya bisa jaga diri.”
“Alhamdulillah kalau gitu. Saya harus bilang ke Bapak.” Fatih berdiri hendak mengambil ponselnya di ruang kerja.
“Nanti aja, Mas, pas bapak pulang. Sekarang bisa tolong obati luka saya?” sela Kaina.
“Astaga, saya sampai lupa. Tunggu disini saya ambil kotak obat.”
“Minta bibik ambilkan, Mas. Saya takut nanti Hugo datang lagi.”
“Oke.”
...🐛🐛🐛🐛...
__ADS_1
Fadilah kini sedang duduk bersama kedua putranya di ruang kerja. Menghakimi putra pertama yang sudah melakukan sebuah kesalahan besar. Dia tak habis pikir kenapa anaknya yang satu ini bisa punya perilaku yang jauh dari kata baik.
“Penawaran yang saya berikan tak lagi berlaku."
“Gak bisa gitu dong ,Pa,” protes Hugo. “Saya sudah akui kesalahan tapi kalau untuk melukainya saya benar berkata jujur. Dia sendiri yang menggoreskan pecahan keramik di badannya.”
“Cukup!” bentak Fadilah.
Hugo tertunduk diam sedangkan Fatih hanya menyimak. Dia akan bicara ketika sudah waktunya.
“Apa sih yang ada di dalam otak kamu itu?" Fadilah menatap heran sang putra. "Bisa-bisanya kamu mau memperkosa istri adikmu sendiri. Benar-benar keterlaluan," geramnya.
"Aku, aku cuma bercanda, Pa."
"Bercanda?" Pria tua itu menggeleng tak percaya. "Kamu sudah dewasa Hugo, jangan bertingkah seperti anak kecil yang tak tau mana benar dan salah. Enak saja kamu bilang bercanda, memangnya kamu anak remaja yang baru gede gak tau apa-apa.”
Ayah biologis Kama itu masih tak berani mengangkat kepala.
“Pintar dikit kalau mau cari alasan,” celetuk Fatih.
"Kalau Fatih mau bawa masalah ini ke pengadilan, Papa akan dukung,” putus Fadilah.
"Kenapa masalah ini jadi di besar-besarkan sih, Pa?" Kali ini Hugo berargumen. "Oke, saya salah dan saya mau minta maaf, tapi gak perlu harus sampai ke meja hijau. Kita keluarga, kenapa gak selesaikan secara kekeluargaan?"
"Itu urusan kamu sama Fatih. Papa gak bisa ikut campur."
"Pasti gue bakalan bawa masalah ini ke meja hijau karena lo sudah keterlaluan," ujar Fatih.
"Ayo, lah! Sekali ini saja kasih gue kesempatan. Gue bakalan minta maaf sama Kaina dan juga lo." Hugo mengajak saudaranya negosiasi.
"Kalau lo mau minta maaf silahkan, tapi kasus tetap akan berjalan."
Hugo berdecak kesal. "Oke, gue bakalan lepasin hak asuhnya Kama. Gimana?"
Fatih melirik sang ayah sambil berpikir sejenak. "Sebenarnya tanpa lo mengalah gue bisa dapatkan hak asuh Kama dengan menjadikan masalah ini sebagai bukti kalau lo bukan ayah yang baik."
Frustasi, Hugo mengacak rambutnya. Dia merasa tersudut karena tak dapat menemukan titik damai antara dia dan sang adik. "Katakan! Gue harus apa agar lo gak bawa masalah ini ke jalur hukum? Gue akan memenuhi apa pun yang lo minta."
"Gue gak butuh apa-apa dari lo.” Tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Fatih memutuskan pergi dari sana.
“Silahkan kamu bicarakan masalah ini dengan pengacara kamu. Papa yakin, Fatih akan memenangkan tuntutannya.” Fadilah pun ikut bangkit dari posisi. Meninggalkan sang anak sendirian dengan keresahan yang mulai melanda pikiran.
__ADS_1