Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 69


__ADS_3

"Nah, karena aku tau Ibu kayak gitu makanya aku terima pekerjaan dari Candra. Lagian aku bisa kerja dari rumah kok, gak perlu datang ke kantor tiap hari."


Dina tersenyum bangga sambil mengusap rambut hitam putrinya. "Ibu sekarang senang sekaligus bangga karena kamu bisa menjadi istri, ibu, dan anak yang bertanggung jawab akan tugas serta kewajibannya."


Digenggamnya jari jemari wanita nan telah melahirkannya. "Semua berkat ajaran dan nasehat Ibu," ungkap Kaina. "Juga berkat doa dan kesabaran Ibu dalam menemani aku menjalani kehidupan ini."


"Semoga kedepannya hidup kamu bahagia terus, ya, Nak."


"Aamiin." Kaina kembali memeluk ibunya. "Kalau gitu aku ke supermarket dulu, ya."


"Iya. Titip salam buat suami kamu nanti."


Kaina mengangguk. Dari ruang tamu dia gegas keluar menuju taxi online pesanan yang sudah tiba. 


...🐼🐼🐼🐼...


Kaina disibukkan dengan tugasnya sebagai istri dan ibu dalam mengurus anak dan menjalankan pekerjaan barunya. Tak terasa waktu terus berputar melewati hari demi hari. Meski terbilang sedikit membosankan dengan rutinitas yang itu-itu saja, tapi dia tetap melakukannya dengan hati tulus ikhlas.  


Ada harapan baru yang menantikannya di depan sana. Hal itu yang membuatnya tetap semangat menjalani rumah tangga yang mulai terasa hambar. Tinggal sedikit lagi dia dan Fatih akan berpisah dan selama itu dia akan bersabar. 


“Sibuk, Kai?” sapa Fatih.


Kaina yang sedang fokus pada layar laptop terkejut dengan kedatangan suaminya. “Sedikit, Mas.”


“Gimana kerja sama Candra?” Lelaki itu menarik kursi meja makan untuk didudukinya.


“Sejauh ini saya nyaman. Karena kerja juga dari rumah dan gak menyita waktu.”


“Tapi belakangan saya sering lihat kamu begadang.”


“Saya memang lebih suka kerja pas malam hari, Mas.”


“Gak baik buat kesehatan.”


Kaina kembali menarikan jari-jemarinya di keyboard sambil berkata, “Terima kasih perhatiannya. Saya bisa jaga kesehatan.”


“Oh, ya, Kai, beberapa hari lagi sidang pencabutan hak asuh Kalila akan digelar.”


“Oh, ya?” Kaina langsung menghadap pada sang suami.


“Iya, mudah-mudahan setelah sidang pertama bisa langsung masuk sidang putusan.


“Aamiin. Saya jadi gak sabar deh, Mas.”


Fatih mengangguk. “Sama, saya juga.”

__ADS_1


Kaina tersenyum lebar.


“Kalau begitu saya tinggal ke kamar.” Fatih bangkit dari posisi.


“Iya.”


Kepergian suaminya, Kaina membuang nafas kasar. Entah kenapa dia merasa sedikit kesal ditinggal begitu saja, tapi dia tak tahu sama sekali alasanya apa. Tak mau ambil pusing dengan rasa yang tak dipahami, dia kembali melanjutkan pekerjaan. 


...🐯🐯🐯🐯...


Hari yang dinanti pun tiba. Persidangan pencabutan hak asuh Kalila di gelar pagi ini. Kaina beserta ibunya menghadiri dengan perasaan harap-harap cemas. Beberapa menit jalannya sidang saksi dari pihak penggugat pun dipanggil untuk memberikan keterangan.


Brigita yang duduk di sebelah kuasa hukumnya nan baru, tampak kaget saat melihat pengacara lamanya duduk di kursi kesaksian. Tak ada angin atau hujan tiba-tiba orang itu mengundurkan diri sebagai pendampingnya di persidangan. Namun, yang terjadi malah kini dia datang sebagai saksi dari pihak lawan. 


Ketua hakim mempersilahkan Budi untuk memberikan penjelasan.


“Sebelumnya saya memang kuasa hukum dari Ibu Brigita, membela beliau dalam beberapa kali persidangan pencabutan hak asuh Kalila Jasmine. Namun, kali ini hati nurani saya tergerak setelah Ibu Kaina menyelamatkan atau membantu anak saya dari upaya penculikan. Akhirnya, saya putuskan untuk membeberkan fakta yang sebenarnya bagaimana Ibu Brigita mendapatkan hak asuh putri biologis suaminya,” beber Budi.


“Silahkan di lanjutkan,” pinta hakim ketua.


“Saat itu Ibu Brigita datang menghadap saya. Dia bilang ingin membuat surat perjanjian hutang piutang dengan Ibu Kaina. Namun, tiba-tiba dia bertanya pada saya apakah dia bisa mendapatkan hak asuh seorang anak yang masih memiliki ibu kandung. Saya menjelaskan sesuai yang saya ketahui. Singkat cerita akhirnya dia meminta saya untuk membuatkan surat penyerahan hak asuh anak. Awalnya saya bingung, tapi karena dia memiliki identitas Bu Kaina saya pun percaya kalau mereka telah setuju di awal.”


“Apa benar yang dikatakan oleh saksi, Bu Brigita?” tanya hakim.


Sebagai pembela Kaina, Fatih pun angkat bicara soal cara Brigita mendapatkan coretan tangan istrinya dalam surat pernyataan itu. Sidang pun berakhir dengan pembacaan kalau putusan akan dilakukan tepat satu minggu lagi. Kaina beserta ibunya keluar dari gedung pengadilan dengan senyum penuh harapan kemenangan. 


“Terima kasih, Pak Budi,” pinta Kaina.


“Sama-sama, Bu. Anggap saja ini sebagai bentuk balas budi saya. Sekali lagi saya dan istri tak akan melupakan perbuatan baik Ibu,” tutur Budi.


Tiba-tiba Brigita datang membawa kemarahannya. “Dasar penghianat!” umpatnya pada mantan kuasa hukum. “Dibayar berapa kamu sama dia, hah? Sampai-sampai kamu dengan mudahnya berubah haluan.”


“Maaf Bu Brigita. Tadi di dalam saya sudah menjelaskan apa alasan saya ingin membantu Bu Kaina. Jadi, saya sama sekali tidak menerima uang sepeserpun dari beliau,” jelas Budi.


“Kamu lihat saja, saya akan sebarkan ke orang-orang kalau kamu bukanlah seorang pengacara yang profesional,” ancam istri dari Candra itu.


“Silahkan lakukan apa yang ingin Anda lakukan, Bu.”


Dengan wajah angkuhnya Brigita memilih pergi tanpa sepatah kata pun pada wanita yang sudah di tipunya. Merasa di tepi kekalahan, tapi gengsinya begitu tinggi untuk menerima kenyataan.


“Saya ikut prihatin jika Brigita benar melakukan hal itu,” ujar Kaina pada Budi.


“Tenang saja, Bu. Selagi kita berbuat baik pasti Allah akan selalu membantu.”


“Semoga karir Pak Budi tetap cemerlang setelah ini.”

__ADS_1


“Aamiin. Kalau begitu saya kembali ke kantor dulu,” izin Budi.


Fatih yang baru saja tiba dekat istri dan mertuanya menyalami rekan seprofesinya itu. “Sekali lagi terima kasih atas bantuan Anda. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan datang temui saya.”


“Baik.”


“Pulang sekarang?” ajak Fatih.


“Saya mau jemput Kalila, Mas,” jawab Kaina.


“Sabar, kita harus tunggu keputusan dulu.”


“Iya, Nak. Kamu harus ikut apa yang Fatih bilang. Jangan sampai nanti tindakan kamu menyalahi aturan dan membuat kita kembali sulit mendapatkan Kalila,” kata Dina pada putrinya.


“Ya, sudah kalau begitu kita pulang.”


“Ayo.”


Ketiganya melangkah menuju parkiran. Mobil pun melaju menuju kediaman Dina.


“Maaf, ya, Bu, cuma bisa sampai sini. Soalnya saya harus balik ke kantor,” jelas Fatih.


“Gak papa, Nak, Ibu paham. Terima kasih sudah diantar pulang.”


“Aku juga mau ke supermarket, ya, bu,” sela Kaina.


“Iya. Kalian berdua hati-hati di jalan,” jawab Dina sebelum turun.


...🦉🦉🦉🦉...


“Sebaiknya kamu siapkan surat perceraian kita, Mas,” kata Kaina.


Fatih yang fokus mengemudi mengerutkan dahi. “Kenapa?”


“Gak papa, lebih cepat lebih baik. Setelah persidangan Kalila selesai saya akan tandatangani surat itu dan langsung pulang ke rumah Ibu.” 


“Bukannya perjanjian kita enam bulan? Masih ada waktu satu bulan lagi loh.”


“Gak perlu, Mas. Saya mau kita pisah secepatnya.”


“Karena?”


“Ya, pengen aja.”


“Kasih saya alasan yang lebih tepat.”

__ADS_1


__ADS_2