Merindukan Purnama

Merindukan Purnama
Episode 13


__ADS_3

Kaina dan dua anaknya tampak bahagia saat mereka berjalan keluar dari Rumah Sakit. Adit yang sudah menunggu di parkiran, merentangkan kedua tangan untuk menyambut ponakannya. Dini pun tersenyum melihat hal itu sebab merasa seakan kembali kemasa dimana cucunya dalam keadaan yang sehat walafiat.


“Omdit,” sorak Kama dan Kalila. Mereka hendak berlari menghampiri, tapi sang Bunda memegangi satu tangan. 


Akhirnya Adit yang berlari kecil untuk mendekati mereka dan langsung dipeluknya. “Omdit kangen kalian.”


“Sama kita juga kangen,” jawab Kalila.


“Omdit, besok kita mau ke pantai loh,” kata Kama.


“Oh, ya?”


“Iya, Bunda sudah janji.”


Adit mengangkat kepala meminta keterangan dari kakaknya.


“Dokter bolehin asalkan mereka gak kecapekan,” jelas Kaina.


“Terus sekarang kita mau kemana? Mau langsung pulang atau jalan-jalan di taman?” Adit bertanya pada ponakannya.


“Jalan-jalan,” sorak si kembar.


“Boleh, ya, Bunda?” Kama dan Kalila memohon.


“Oke, tapi gak boleh lari-larian, ya.”


“Siap.”


“Ayo!” Adit membimbing Kama dan Kalila menuju mobil meninggalkan Ibu dan Kakaknya di belakang.


...----------------...



...----------------...


Setelah menidurkan dua anaknya, wanita nan memiliki warna kulit kuning langsat itu memeriksa laporan keuangan dari seluruh cabang supermarketnya. Sejak Kama dan Kalila keluar masuk Rumah Sakit pengeluaran jadi sangat banyak membuat beberapa supermarketnya harus ditutup. Apalagi sekarang tampaknya satu cabang supermarket harus ditutup juga. Modal yang ada sudah seperti ekor tikus, makin keujung mulai mengecil dan akhirnya habis.


“Aku sudah putuskan akan berhenti kuliah,” ungkap Adit. Dua saudara itu tengah duduk berdua di meja makan setelah sang Ibu masuk kedalam kamarnya.


“Gak, Dit. Tinggal tiga semester lagi kamu akan lulus. Kakak akan pikirkan cara untuk cari modal tambahan.”


“Cara apa? Mau pinjam uang sama Bank? Aku gak setuju. Itu sama aja kita bikin masalah baru. Lebih baik kakak tutup saja supermarket yang itu, sisa modalnya buat bayar gaji karyawan dan bagunannya di jual.”


Kaina membuang nafas kasar. “Kakak jadi merasa bersalah sama Ayah. Beliau sudah capek-capek kembangin usaha ini dan aku gak bisa menjaganya dengan baik.”


“Ayah pasti ngerti kondisi, Kakak.


“Ini semua gara-gara kelakuan burukku dulu,” sesal Kaina.

__ADS_1


Adit bangkit dari kursi dan mendekati Kakaknya. “Jangan terus menyesali apa yang sudah terjadi. Gak semuanya buruk. Kama dan Kalila adalah hal yang terbaik dalam hidup Kakak.”


Kaina ikut menumpuk tangannya di atas tangan sang adik nan ada di bahu. “Terima kasih.”


“Sudah malam, sebaiknya kita istirahat. Lupakan dulu masalah ini, kita nikmati hari-hari bersama si kembar. Nanti ketika operasi sudah dilakukan, Kakak fokus saja menjaga dan merawat mereka biar aku yang mengurus masalah ini, memikirkan cara agar dua supermarket kita dapat bertahan.”


Bibir Kaina bergetar menahan tangis yang sudah sesak ingin dikeluarkan. Membuat Adit segera merangkul wanita yang selalu terlihat kuat, tapi ternyata sangat rapuh hatinya. 


“Menangislah sampai Kakak merasa lebih baik. Setelah itu kembalilah tersenyum menghadapi getirnya kehidupan.”


Kaina mengangguk dan akhirnya air bah itu tumpah ruah jua membasahi pipi dan juga lengan sang Adik,sosok yang selalu menjadi batu pijakan saat dia terjatuh agar bisa bangkit kembali.


...🐛🐛🐛🐛...


Selesai menunaikan kewajiban di pagi ini, Kaina beranjak dari kamar menuju dapur sambil menggulung rambut ke atas dan dijepit. Waktunya mulai menyiapkan sarapan dan makanan untuk dibawa ke pantai nanti.


Bu Dina pun ikut membantu karena Adit mau membawa bekal ke toko, jadi harus disiapkan terlebih dahulu. 


“Nanti kalau berangkat, aku disinggahi ya, Kak,” pesan Adit. Sebagai paman sekaligus pengganti sosok ayah untuk si kembar, Adit tak ingin melewatkan waktu berharga bersama keponakannya.


“Kita berangkatnya agak sorean, Dit,” jelas Dina.


“Bagus itu. Jadi, toko bisa aku titip sama karyawan.”


Ibu dan dua anaknya itu menikmati sarapan mereka dalam diam. Kalau si kembar masih tertidur pulas di kamar mereka sebab pengaruh obat.Biasanya akan bangun jam tujuh atau delapan pagi.


“Adit berangkat dulu, assalamualaikum,” pamit Adit.


Kepergian Adit, Bu Dina menuju taman di depan rumah. Menyirami bunga-bunganya yang juga butuh minuman sebagai sarapan. Tengah asyik menyemprotkan air beliau pun mendengar klakson mobil di depan pagar. 


Kran segera diputar agar air mati lalu gegas membukakan pintu pagar.


“Selamat pagi, Bu,” sapa Brigita.


“Pagi. Ada apa pagi-pagi sudah kesini?”


“Mau ketemu Kalila juga Kama. Saya datang bareng Mas Candra.”


“Oh, mari masuk.”


Candra turun dari mobil. Bersama Brigita ia mengikuti langkah kaki wanita yang sebaya dengan Ibunya. Sambil berjalan matanya memperhatikan suasana lingkungan rumahnya Kaina. Rumah yang sangat nyaman, sangat sederhana, tapi membuat siapa yang masuk akan merasa betah.


“Kai,” panggil Bu Dina.


“Ya, Bu,” sahut Kaina dari dapur.


“Di depan ada Candra dan Istrinya.”


“Oh, ya? Kenapa pagi-pagi sudah ke sini?”

__ADS_1


“Katanya mau ketemu si kembar. Sana temani, biar Ibu yang selesaikan masakan.”


Kaina mencuci tangan di wastafel lalu bergegas menuju ruang tamu.


“Maaf, kami mengganggu pagi-pagi,” ujar Brigita.


“Tidak, silahkan duduk.” Ia pun ikut duduk di sofa.


“Si kembar mana?” tanya Candra.


“Belum bangun. Karena pengaruh obat jadi bangunnya siang.”


Candra mengangguk paham. “Kami sengaja kesini pagi-pagi soalnya nanti kalian kan mau berangkat ke pantai.”


“Iya, aku cuma mau bikin anak-anak happy sebelum operasi.”


“Hhhmmm kalau boleh besok kami ajak Kalila jalan,”izin Candra.


“Gimana, ya, aku bukan gak mau kasih izin cuma mereka gak terbiasa pisah. Jadi, kalau mau bawa pergi, ya, harus dua-duanya. Aku sudah jelaskan dari awal.”


“Baik, sekalian Kama boleh ikut.”


“Ya sudah nanti kita bicarakan dengan mereka. Sudah sarapan? Kebetulan aku lagi masak untuk di bawa ke pantai nanti.”


“Belum,” jawab Candra.


“Sudah,” jawab Brigita.


Membuat Kaina mengukir segaris senyuman di bibirnya. Candra pun dibuat terlena, sudah lama dia tak melihat senyuman indah itu. Terakhir ia melihat senyuman itu saat mereka tidur bersama sebelum dia ketahuan selingkuh.


“Jadi yang benar yang mana?” tanya Kaina.


“Aku belum, mungkin Brigita sudah,”jawab Candra dengan cepat.


“Kalau gitu ayo, ke dapur.”


Candra bergegas mengikuti langkah Kaina menuju dapur sebab dia sudah tak sabar ingin segera mencicipi masakan wanita itu. Dulu saat mereka bersama Kaina sama sekali tak bisa memasak makanya kini dia jadi penasaran.


Brigita sendiri tampak bersungut-sungut merasa kesal pada sang suami yang tampak begitu ingin merasakan masakan mantannya. Akhirnya, dengan terpaksa dia pun ikut menyusul ke sana karena tak mau membiarkan Candra semakin dekat dengan Kaina. Ada rasa takut jika nanti suaminya itu berpaling.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayo, jangan pelit mana jempolnya 👍 ... 😉😁😊


...----------------...



Akankah pernikahan mereka akan bertahan setelah Aya tau jika suaminya lebih muda 7 tahun darinya?

__ADS_1


Atau mereka akan berpisah sesuai dengan kesepakatan kertas di atas putih sebelum pernikahan mereka di langsungkan?


jangan lupa mampir 😁😊


__ADS_2