Mertua Yang Jahat

Mertua Yang Jahat
Gudang di bobol.


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Rika bekerja di club malam, di mana sahabatnya juga bekerja di sana, yang tak lain adalah Erna.


Suasana di sana sangatlah ramai, karena tiap lantai berbeda fungsi.


Seperti lantai dasar di gunakan sebagai restoran, lantai pertama di gunakan sebagai diskotik, lantai ke dua di gunakan sebagai karouke, lantai tiga berfungsi sebagai salon dan spa, lantai empat berfungsi sebagai ruang meeting dan lantai 5 di gunakan sebagai musholla.


Hari itu Rika bertugas sebagai kasir restoran yang berada di lantai dasar. Karena Rika memiliki pengalaman kerja sebelumnya, banyak kemudahan yang Rika dapatkan.


Setiap kendala yang di hadapi, Rika sudah memahaminya, seperti halnya ada pengunjung yang membayar melalui credit card atau debit, bahkan saat mesin penggesek card rusak, Rika mampu membenahi semua, tanpa bantuan kasir senior. Sedangkan masa traning Rika, kasir senior hanya memantau saja.


Terkadang ada juga yang membayar dengan cara cash, ketika kertas print yang terdapat di mesin penghitung habis, Rika pun sudah mampu menggantinya tanpa bertanya dengan kasir senior.


Rika pun menikmati suasana kerjanya saat itu.


Para pengunjung silih berganti, ada yang datang dengan pasangannya, ada juga dengan keluarganya, bahkan ada juga yang datang beramai ramai.


Ketika ada beberapa pria bertubuh tegap masuk ke dalam club malam tersebut, membuka Rika bergidik, bulu-bulu halusnya berdiri ketika Rika melihat salah satu di antara mereka.


Pria tegap berkulit kuning langsat bercambang tipis, ya, Rika sudah mulai menghafal dengan wajah itu, wajah yang pernah menyekapnya.


Dan kabar bagusnya, pria itu tidak mengenali Rika, lantaran penampilan Rika yang bersolek tebal, rambutnya yang pajang di ikat dan di sanggul agar tidak tergerai, serta tinggi Rika lebih tinggi karena saat bekerja Rika menggunakan sepatu heels.


Semua itu adalah tuntutan dari pekerjaan yang harus Rika lakukan, sedikit berbeda dengan pekerjaan Rika yang sebelumnya.


Jika dulu di tempat kerja Rika sebelumnya, semua karyawan memakai sepatu kets, kaos seragam dan jins, dengan sedikit riasan tipis.


Berbeda dengan yang sekarang, Rika harus bersolek lebih tebal, memakai kemeja tangan pajang dan celana bahan serta sepatu heels.


Rika bertanya pada kasir senior mengenai pria-pria yang baru saja datang,


“Kak Vivi, mereka itu siapa?” tanya Rika.


“Yang mana?” tanya Vivi.


“Itu loh Kak, rombongan yang duduk di ruang VIP, yang di pojok itu,”


Jawab Rika sambil menunjukkan dengan jarinya ke arah rombongan.


“Husss, jangan nunjuk-nunjuk, gak sopan kamu, iya saya tau yang di pojok itu, tapi jangan pake di tunjuk. Mereka itu anak buahnya yang megang saham di sini. Biasanya mereka datang hanya untuk minum-minum, atau sekedar main bilyard, tapi kalo mereka datangnya dengan bos mereka, yang memiliki saham di sini, biasanya ada sesuatu, entah ngurus bisnis mereka atau ada pertemuan, yach gitu deh, saya juga gak terlalu ngerti,” jawab Vivi.


Mendengar penjelasan dari Vivi, Rika hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seolah-olah dia mengerti apa yang Vivi telah jelaskan.


Rika melayani para pengunjung, pada saat pembayaran cash, ternyata kertas print di mesin penghitung habis, Vivi pun menyuruh Rika agar mengambilnya di ruang pak manager di lantai dua. Rika pun segera beranjak ke sana.


Setiap lantai di penuhi oleh para pengunjung, dan cahaya lampu yang membuat kepala Rika terasa pening.


Setelah mengambil kertas print beberapa rol, Rika melewati ruang VIP bilyard. Rika melihat rombongan pria-pria itu sedang asyik bermain di temani para “nona”.


Ya, istilah “nona” di pakai sebagai pekerja yang menemani tamu, di saat tamu tersebut berada di club itu. Sedangkan jika ada pengunjung atau tamu ingin membooking “nona” tersebut, pihak club tidak mengizinkan, karena itu di luar wewenang club.

__ADS_1


Jadi segala keselamatan “nona” saat bekerja, pihak club lah yang menanggungnya.


Rika pun bergegas ke lantai dasar untuk melanjutkan pekerjaannya.


Tiba saatnya Rika pulang. Karena itu adalah hari pertama Rika, dia mendapatkan potongan waktu kerja dari club malam tersebut, jadi Rika tidak perlu pulang pagi.


Rika melangkah ke arah basment, di mana loker karyawan berada sambil memeriksa isi ponselnya. Ada beberapa pesan yang masuk, di antaranya adalah pesan dari Andre, yaitu kekasihnya.


Segera Rika menghubungi Andre.


“Hai, kenapa Dre?” tanya Rika


“Yeee malah nanya, kamu ke mana, dari tadi aku kirim pesan gak di bales,” jawab Andre.


“Ya udah, sekarang mending jemput gue di taman Suropati, gue kasih waktu 15 menit ya,” kata Rika.


“Taman Suropati? kamu ngapain di sa....”


Belum sempat Andre selesai bicara, Rika pun sudah memutuskan sambungan ponselnya. Andre pun bergegas pergi menuju taman Suropati.


Mereka pun bertemu di taman itu. Melihat penampilan Rika, Andre mengernyitkan dahinya karena merasa heran.


Andre pun bertanya pada Rika,


“Ya ampun non, dari mana sih, beda banget penampilannya?”


Rika melangkahkan kakinya mendekati Andre, menarik tangannya dan mengajak duduk di teras taman itu.


Mereka pun berbincang-bincang. Dalam obrolannya, ingin sekali dia menceritakan semua apa yang dia tahu tentang mamanya sang kekasih, tapi Rika berusaha mengurungkan niatnya.


“Dre, alhamdulillah gue udah dapet kerjaan,” kata Rika.


“Oh ya, di mana?” tanya Andre dengan penuh rasa penasaran.


“Gue kerja di club malam, sebagai kasir, gue dapet dari Erna, sahabat gue dulu,” kata Rika.


“Alhamdulillah, tapi kenapa di club malam sih, kenapa gak nyari club yang restoran aja, atau kantoran?” tanya Andre.


“Saat ini gue butuh banget kerjaan Dre, dan cuma ini peluang gue untuk kerja. Sebelumnya juga gue udah nanya temen-temen yang lain, tapi saat ini belom ada, jadi apa salahnya gue coba dulu, jalanin dulu, gue butuh duit Dre buat ngirim ke mami papi gue, da buat bayar rumah yang sekarang gue tempatin,”


kata Rika, mencoba untuk menjelaskan agar kekasihnya mau mengerti.


“Iya, aku ngerti Rik, aku cuma khawatir aja, kehidupan club malam kan agak ngeri,” kata Andre.


“Ya udah , kita pulang yuk, da larut nih. Oh iya, mulai besok jam kerja gue udah full, jadi lo harus ngerti ya kalo gue pulang pagi,” kata Rika.


Andre pun mengangguk tanda dia mengerti.


Sampailah mereka di depan rumah Rika, dan pintu rumah Rika ternyata sudah terbuka.

__ADS_1


Mereka pun masuk dan memberi salam,


“Assalamualaikum”,


“Wa alaikumsalam,” jawab Ando.


Ando yang sedang menonton TV segera bangkit menyambut kepulangan Rika dan Andre. Ando pun mempersilakan Andre untuk masuk.


Sebelum masuk ke dalam rumah, Rika memandang ke sekeliling rumahnya. Merasa aman, Rika pun masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintu.


Di dalam rumah, Ando menyiapkan minum dan makanan ringan untuk Andre, mereka pun berbincang-bincang.


Ponsel Andre pun berbunyi, yang ternyata mam Lina yang menghubunginya.


“Halo Dre, kamu di mana?”


“Di rumah Rika ma, abis jemput Rika pulang kerja, “ kata Andre.


“Oh , Rika udah kerja lagi ya, bilang padanya, selamat ya, nanti kita rayakan. Kamu buat janji deh sama dia, nanti kita makan-makan di restoran Kayangan. Oh ya, entar kamu ke gudang mama dulu ya, coba cek, ada orang gak di sana, jangan lupa kabarin mama.”


“Siap ma.”


Mama Lina segera memutuskan sambungan teleponnya dengan Andre.


Andre pun segera berpamitan pada Rika dan Ando.


“Gak pake cipika-cipiki nih,”


Goda Ando pada Rika dan Andre.


Mereka pun tertawa, dan Andre berkata,


“Gak lah, belom waktunya, he he he.”


##########


Sampailah Andre di depan gerbang gudang milik mama Lina. Andre pun membuka gembok yang menempel di pintu gerbang itu dengan kunci cadangan yang selalu dia bawa.


Setelah itu Andre pun masuk dan menutupnya kembali. Pandangannya melihat ke sekeliling gudang, tapi tak ada satu pun dia menemukan penjaga.


Andre mulai memeriksa bagian pintu depan, dia melihat keadaan aman. Lalu dia mengelilingi bagian sisi gudang sampai pintu belakang.


Ternyata dia menemukan tangga lipat yang masih bersandar di dinding gudang. Andre pun merapikannya.


Tiba-tiba Andre merasa heran dengan adanya tangga lipat itu. Dengan rasa penasaran, dia pun membuka kembali tangga lipat itu dan menyenderkan kembali ke dinding gudang.


Andre menaiki anak tangga lipat itu satu persatu dengan hati-hati.


Sampai di atas, betapa terkejutnya Andre. Dia mendapati beberapa genteng gudang yang tergeser.

__ADS_1


__ADS_2