
“ Maksud kamu apa? Maksud kamu semua itu Mama yang biayain? Bagus banget ide kamu Ndre!”
Celoteh mama Lina.
“ Terus Andre mau minta bantuan sama siapa Ma? Andre kan laki-laki, Andre harus bertanggung jawab Mah,”
Rengek Andre.
“ Kalau kamu merasa laki-laki, dan kamu merasa harus bertanggung jawab dan ini tanggung jawab kamu, Kamu dong yang harus bertanggung jawab sepenuhnya, Kenapa harus mama? Kamu kan kerja kamu itu berpenghasilan Bertanggung Jawablah dengan penghasilan kamu, bukan dari hasil orang tua kamu!”
Maki mama Lina.
Andre berpikir kalau penghasilan dia selama ini bekerja di klub tidak dapat memenuhi segala kebutuhannya untuk menikah.
Andre berharap banyak pada mamanya agar mamanya dapat membantu dalam segi materi.
Tapi sepertinya harapan Andre punah karena ia melihat sikap dan jawaban mamanya seperti itu.
Andre diam sejenak ia mengatur nafasnya dan mengendalikan emosinya. Iya berusaha untuk tetap tenang menghadapi sikap mamanya yang sudah mulai marah.
Otaknya pun kembali berpikir bagaimana caranya untuk merayu mamanya agar mau membantunya.
Melihat sikap Andre yang tenang, emosi mama Lina pun menurun, ia kembali duduk dan terdiam sejenak.
Tiba-tiba Andre mempunyai ide untuk menawarkan susu panas pada mama Lina.
“ Ma, Andre mau ke dapur nih, mau ngambil minum, Mama mau Andre bikinin susu panas nggak?” tanya Andre tiba-tiba.
“ Susu panas? Bukannya Dicky udah bikinin buat mama?” tanya mama Lina.
“ Mana? Dicky lupa kali, karena kan Mama tadi bilangnya ntar setelah mama mandi baru bikinin, nah mungkin Dicky nya lupa mah,” jawab Andre dengan niat merayu.
“ Ya udah iya, mama mau susu panas,” sahut mama Lina.
Andre bangkit dari duduknya dan Melangkah dengan gontai dari taman belakang menuju ruang dapur.
Ketika Andre masuk ke dapur dia mendapati Mbok Yem sedang mengamati ke arah Taman belakang. Andre pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum-senyum sendirian.
Lalu Andre memiliki ide usil untuk mengagetkan Mbok Yem.
Sambil menepuk bahu Mbok Yem dari belakang Andre pun berkata sambil berteriak,
“ NGUPING YA!”
Mbok Yem pun melompat karena kaget. Mbok yam kepergok Andre karena ikut mengamati pembicaraan dirinya dengan mamanya.
Wajah Mbok Yem pun tersipu malu.
“Ah, Aden, ngagetin Mbok saja.”
Untuk menutupi rasa malunya, Mbak Yem mengalihkan pembicaraan, ia menanyai keperluan Andre memasuki ruang dapur.
“ Aden ke sini ngapain,” tanya Mbok Yem.
“ Andre mau bikin teh, sekalian bikin susu panas buat mama,” jawab Andre.
Mbok Yem pun segera memanaskan air di panci tangan, tetapi Andre mencegahnya.
__ADS_1
“ udah sini Mbok, Andre aja yang bikin, Andre bisa kok,” kata Andre.
Andre pun mengambil alih pekerjaan yang mbok Yem akan lakukan.
Setelah selesai membuat dua cangkir minuman Andre pun kembali ke taman belakang.
Andre menyuguhkan susu panas pada mama Lina dan berkata,
“ ini mah.”
Mama Lina mengambilnya dari tangan Andre dan langsung diseruputnya. Setelah meminumnya satu teguk, mama Lina bertanya,
“ Susu ini bukan sogokan kan?”
Andre pun tersenyum. Kemudian ia menjawab sambil tersenyum,
“ Sebenarnya sih bukan, Andre tulus kok bikinin mama susu panas. Tapi kalau menurut Mama itu adalah sogokan, Ya bolehlah Andre terima.”
Mama Lina pun tersenyum juga mendengar jawaban dari anaknya. Mama Lina memegang tangan Andre dan berkata,
“ Mama akan bantu Ndre, Tapi semua ada syaratnya.”
Mendengar perkataan mamanya, Andre pun terkejut hatinya merasa babahagia dengan wajah tercengang Andre berkata,
“ Beneran mah? Mama benar-benar mau bantu Andre?”
Mama Lina tersenyum kegirangan, sambil menepuk-nepuk bahu Andre, mama Lina menjawab,
“ Iya Mama bakal bantu kamu, tapi ingat semua ada syaratnya.”
“ Iya Mah Andre setuju, apapun syaratnya Andre bakalan ngelakuin buat mama,”
sahut Andre.
Mama Lina pun berdiri sambil tersenyum dan mengusap-usap kepala Andre. Lalu mama Lina beranjak hendak meninggalkan Andre menuju kamarnya, sebelumnya ia berkata,
“ Anak baik. Terus ya Ndre jadi anak baik buat mama.”
Andre pun mendongakkan kepalanya dan tersenyum, walau sedikit terheran dengan ucapan mamanya.
Akhirnya mama Lina meninggalkan Andre yang masih menikmati teh panasnya di taman belakang, sementara dirinya melangkah menuju kamarnya, tapi hatinya tetap bergumam,
“ Baguslah kamu tidak menanyakan apa syaratnya.”
Ketika mama Lina hendak memasuki kamar, dia melihat suaminya tengah duduk di kursi ruang tengah bersama Lisa dan Putri. Mereka asyik menikmati acara TV.
Melihat kebersamaan mereka, akhirnya mama Lina memutuskan untuk bergabung.
Lisa pun melihat mamanya berjalan menuju ke arahnya. Dengan wajah semringah, Lisa berteriak,
“ ada Mama! Ayo kita sembunyi!”
Karena tidak ada aling aling, Lisa bersembunyi di balik punggung papanya. Sementara Putri dan om Faisal saling menutup wajahnya dengan telapak tangan mereka.
Melihat tingkah mereka bertiga, mama Lina tersenyum bahagia. Hatinya benar benar bahagia.
Tetapi seketika saja senyumnya terhenti ketika melihat Putri. Mama Lina melihat ada perubahan di wajah Putri, tapi dia tidak dapat merabanya.
__ADS_1
“Ada apa sebenarnya dengan Putri? Apa saat ini dia sedang tidak baik baik saja?”
Bisiknya dalam hati.
Sifat Putri lebih berbeda dengan Andre. Walau lelaki, Andre lebih terbuka ketimbang Putri. Putri yang sifatnya periang, tapi masalah hati, dia mampu menyembunyikan.
Saat itu acara TV tentang sinetron ABG. Tiba tiba saja Lisa bertanya,
“Mah, Lisa boleh pacaran nggak?”
Mendengar pertanyaan Lisa, mama Lina dan om Faisal tercengang. Sedangkan wajah Putri seketika berubah menjadi pucat pasi.
Mama Lina menjawab,
“Anak mama nggak ada yang boleh pacaran, kecuali niatnya menuju ke pernikahan.”
“Ooowh, jadi Lisa boleh pacaran trus langsung nikah, gitu ma?” tanya Lisa sambil menaruh jari telunjuknya di dagunya.
“ Maksud mama, Lisa boleh main sama teman laki laki dan perempuan. Tapi kalo buat suka sukaan, itu nanti kalo Lisa udah gede, udah mau nikah. Lagian umur Lisa sekarang masih 5 tahun kok nanya begituan?” kata om Faisal.
Lalu Lisa menunjuk ke arah TV. “Itu anak SD udah demen demenan Pah,” Sahut Lisa.
Itu kan TV. Namanya juga hiburan, nggak ada ilmu di situ. Jangan di ikutin. Kamu tau kan hiburan? Hanya sebatas tontonan, aja, bukan tuntunan,” kata mama Lina menimpali.
Mama Lina mengangkat tubuh Lisa dan memangkunya. Sikap Putri hanya terdiam tanpa senyum. Auranya datar. Lalu mama Lina mengusap paha Putri, dan mengambil tangannya. Kemudian mama Lina berkata,
“Peluk mama dong kak.”
Putri pun tersenyum, segera Putri memeluk mamanya yang sedang memangku Lisa.
Hati Putri bahagia kala itu. Karena saat saat seperti ini jarang ia dapati, karena mamanya yang selalu sibuk di luar. Sedangkan kasih sayang dari om Faisal tidak dapat sehangat sekarang ini, saat Putri dapat memeluk mama Lina.
Sedangkan di taman belakang, Andre mengeluarkan ponselnya. Dia hendak menghubungi Rika.
“Telpon Rika ah, pasti dia senang dengar kabar ini,” celotehnya.
Saluran telepon pun tersambung,
Andre : “ Halo sweety lagi apa?”
Rika : “ Lagi makan. Ada apa Ndre?”
Andre : Aku Ada kabar gembira nih. Kamu mau tahu nggak?”
Rika : “ Maulah,” jawab Rika, sambil membetulkan duduknya.
Andre : “Ternyata mama mau bantu katanya.”
Rika : “Serius?”
Andre : “Iya, serius. Mama mau bantu kita, buat ongkos ke Lampung.”
Rika : “Wow, amazing!!!”
“ Paling-paling ada udang di balik bakwan,”
gumamnya dalam hati.
__ADS_1